Perkembangan industri digital di Indonesia menuntut tenaga kerja yang memiliki kompetensi teknis sekaligus kemampuan beradaptasi dan kemandirian belajar, namun kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan industri masih menjadi tantangan. Coding bootcamp hadir sebagai alternatif, meski kesiapan kerja peserta dipengaruhi oleh kualitas desain instruksional dan self-regulated learning (SRL). Penelitian ini menganalisis hubungan antara keduanya dengan kesiapan kerja peserta Coding Camp powered by DBS Foundation pada learning path Front-End dan Back-End Developer, menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan desain cross-sectional survey terhadap 366 responden melalui purposive sampling. Instrumen divalidasi ahli menghasilkan rata-rata Aiken's V = 0,762, melampaui ambang batas 0,70 sehingga seluruh butir dinyatakan valid. Uji Kolmogorov–Smirnov menghasilkan p < 0,01 yang berarti data tidak berdistribusi normal sehingga analisis menggunakan korelasi Spearman. Hasil menunjukkan tiga hubungan positif, signifikan, dan berkategori kuat: desain instruksional dengan kesiapan kerja (ρ = 0,740), menunjukkan semakin baik desain instruksional maka semakin tinggi kesiapan kerja; SRL dengan kesiapan kerja (ρ = 0,789) sebagai hubungan terkuat yang menunjukkan peserta dengan regulasi diri tinggi memiliki kesiapan kerja paling tinggi; serta desain instruksional dengan SRL (ρ = 0,733) yang mengindikasikan desain terstruktur mendorong regulasi diri peserta. Temuan ini menegaskan pentingnya kolaborasi desain instruksional berkualitas dan penguatan SRL dalam meningkatkan kesiapan kerja lulusan coding bootcamp.