Anita Dyah Listyarini
Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH AROMA TERAPI LAVENDER TERHADAP PENURUNAN SKALA NYERI PADA PASIEN POST ORIF DI RSI SUNAN KUDUS Anita Dyah Listyarini; Sri Hindriyastuti; Vera Fitriana; Alvi Ratna Yuliana; Hanik Aslikhatin
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 13, No 1 (2026): Jurnal Profesi Keperawatan (JPK)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v13i1.241

Abstract

Latar belakang : Fraktur terjadi karena adanya benturan langsung ketika tulang mengalami fraktur maka struktur disekitarnya akan mengalami gangguan. Penanganan fraktur salah satunya yaitu dengan dilakukannya pembedahan Open Reduction and Internal Fixation (ORIF). Pasca dilakukan tindakan operatif pasien akan merasakan nyeri yang menimbulkan ketidaknyamanan. Tatalaksana pada pasien dengan nyeri dengan non farmakologi seperti menggunakan aromaterapi lavender. Terapi ini dapat mengurangi keluhan nyeri hal ini karena lavender memiliki kegunaan untuk menambah kemampuan otot, kesehatan psikologis, dan menenangkan pikiran. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Rancangan penelitian menggunakan metode eksperimen one group Pretest-Posttest Design yang dilakukan terhadap satu kelompok tanpa adanya kelompok kontrol. Sampel sebanyak 26 pasien dengan metode accidental sampling. Pengukuran nyeri menggunakan VAS (Visual Analogue Scale). Hasil : Rata-rata skala nyeri responden sebelum diberikan aromaterapi lavender adalah 5,23 setelah diberikan aromaterapi lavender menjadi 3,88. Ada 24 responden yang mengalami penurunan skala nyeri serta ada 2 responden yang nyerinya tetap. Hasil uji statistik wilcoxon didapatkan nilai P value = 0,000 maka dapat disimpulkan ada perbedaan skala nyeri sebelum dan sesudah pemberian. Simpulan : Ada pengaruh aroma terapi lavender terhadap penurunan skala nyeri pada pasien post ORIF di RSI Sunan Kudus
Optimalisasi Peran Remaja Putri dalam Memutus Rantai Stunting Sejak Dini di Desa Soco Kecamatan Kabupaten Kudus Anita Dyah Listyarini; Devi Setya Putri; Afifah Aulia Romadhoni; Dayinta Tyas Hapsari; Elsa Puji Yohana Putri; Hany Afrianing Tyas; Ika Aryanti; Linda Wahyu Setya Ningsih
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v9i1.599

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang tidak hanya terjadi pada balita, tetapi juga dapat dialami oleh remaja putri sebagai akibat dari kekurangan gizi jangka panjang. Remaja putri merupakan kelompok rentan karena berada pada fase pertumbuhan cepat serta persiapan menuju masa reproduksi, sehingga kondisi gizi yang tidak optimal dapat berdampak pada kesehatan diri dan generasi selanjutnya. Kurangnya pengetahuan tentang stunting, anemia, pola makan seimbang, serta perilaku hidup sehat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingginya risiko stunting pada remaja. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman remaja putri mengenai stunting, meliputi pengertian, penyebab, tanda dan gejala, dampak, serta upaya pencegahan dan penatalaksanaannya. Metode yang digunakan adalah pendidikan kesehatan berbasis komunitas melalui penyuluhan dengan pendekatan ceramah, diskusi, dan tanya jawab yang dilaksanakan selama 45 menit kepada remaja putri di lingkungan masyarakat. Media yang digunakan meliputi leaflet dan presentasi visual untuk mempermudah pemahaman materi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terkait konsep stunting, faktor risiko, serta pentingnya pemenuhan gizi seimbang, konsumsi zat gizi mikro, pencegahan anemia, dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Peserta juga mampu menjelaskan kembali materi yang disampaikan dan menunjukkan antusiasme selama kegiatan berlangsung. Pembahasan ini menegaskan bahwa edukasi kesehatan yang terstruktur dan interaktif efektif dalam meningkatkan kesadaran remaja putri terhadap pencegahan stunting sejak dini. Simpulan dari kegiatan ini adalah bahwa penyuluhan kesehatan berperan penting dalam upaya pencegahan stunting pada remaja putri sebagai langkah strategis untuk memutus siklus stunting antargenerasi dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di masa depan.
Penyuluhan Bahaya Hipertensi bagi Lansia Devi Setya Putri; Anita Dyah Listyarini; Gardha Rias Arsy; Luluk Cahyanti; Nila Putri Purwandari
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 8, No 4 (2025): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v8i4.584

Abstract

Peningkatan usia penduduk menimbulkan tantangan besar di bidang kesehatan, terutama karena kelompok lansia (? 60 tahun) cenderung mengalami berbagai perubahan fisiologis yang mempengaruhi sistem kardiovaskular. Salah satu kondisi yang sangat umum dijumpai pada lansia adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Hipertensi pada lansia memiliki karakteristik berbeda dibandingkan pada populasi muda karena didasari oleh perubahan struktural dan fungsional pembuluh darah, serta komorbiditas yang lebih banyak. Faktor?faktor seperti usia yang terus bertambah, riwayat keluarga, obesitas, riwayat merokok, konsumsi garam tinggi, kurang aktivitas fisik, dan penyakit penyerta (komorbiditas) ikut memperkuat risiko hipertensi pada lansia. Selain itu, penanganannya pun lebih kompleks karena lansia sering memiliki penurunan fungsi ginjal, gangguan vaskular dan frailty yang memerlukan pendekatan individual dalam pengobatan. Dengan demikian, upaya skrining, edukasi, modifikasi gaya hidup, dan terapi yang sesuai sangat penting dilakukan untuk kelompok lansia. Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan pendidikan kesehatan dan pemeriksaan tekanan darah pada kelompok lansia sebagai upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi. Sebelum kegiatan dimulai, peserta diberikan kuesioner pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal tentang hipertensi. Hasil pre- test menunjukkan bahwa sebagian besar peserta (sekitar 68%) belum memahami secara mendalam mengenai faktor risiko, tanda dan gejala, serta cara pencegahan hipertensi. Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan tekanan darah, peserta diberikan post test sebagai bentuk evaluasi. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor pengetahuan sebesar 30% dibandingkan sebelum kegiatan. Hal ini menunjukkan bahwa penyuluhan yang dilakukan mampu meningkatkan pemahaman lansia mengenai pentingnya deteksi dini dan pengendalian tekanan darah. Hasil ini sejalan dengan penelitian (Wijaya et al.,2025) yang menyatakan bahwa pemberian edukasi kesehatan secara langsung mampu meningkatkan perilaku pencegahan hipertensi pada kelompok lansia. Selain itu, kegiatan ini berpotensi menjadi model program berkelanjutan yang dapat dilakukan oleh kader Posyandu Lansia dan tenaga kesehatan des