Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Mengelola Stres Menggunakan Teknik Mindfulness: Survei Pada Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Pabuaran, Bogor. Siti Aminah Alfalathi; Ani Safitri; Siti Sopiah
TERAPUTIK: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 7, No 1 (2023): TERAPUTIK : Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Pusat Kajian Bimbingan dan Konseling FIPPS Unindra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26539/teraputik.711846

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui awal tingkat stres, kemampuan mengatasi stres, dan pemahaman praktis terhadap mindfulness yang dimiliki ibu rumah tangga di Kelurahan Pabuaran Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor yang telah mengikuti seminar “Mengelola Stres Menggunakan Teknik Mindfulness”. Pengumpulan data primer dengan menyebarkan tiga angket yang terdiri dari angket Perceived Stress Scale, Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ), dan Stress Coping Resources Inventory kepada peserta seminar adapun data sekunder didapatkan dari sumber lain seperti buku dan literatur yang mendukung. Pada penilaian angket Perceived Stress Scale bahwa sebesar 75% peserta mengalami gejala stres sedang dan 25% peserta lainnya mengalami gejala stres rendah, dan tidak didapati peserta yang mengalami gejala stres berat atau tinggi. Berikutnya, pada skala Coping Resources Inventory didapati bahwa 60% peserta memiliki kemampuan mengatasi stres di atas rata-rata (rentang skor 2.5-3.4), sedangkan 40% lainnya memiliki kemampuan mengatasi stres tingkat rata-rata (rentang skor 1.5-2.4), dan tidak terdapat peserta yang memiliki kemampuan mengatasi stres dalam kategori unggul (rentang skor 3.5-4) atau pun di bawah rata-rata (rentang skor <1.5). Sedangkan pada penilaian Lima Aspek mindfulness atau Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) mendapati hasil bahwa sebesar 68% peserta sangat memahami, 25% secara praktis telah memahami dan mampu menerapkan teknik mindfulness dan sebesar 7% sisanya kurang memahami. Kesimpulan dari penelitian bahwa perubahan yang tidak cukup signifikan antara keadaan peserta sebelum dan sesudah kegiatan, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Oleh karena itu seminar dengan tema yang serupa layak dilakukan kembali, namun dengan perbaikan dan peningkatan pada beberapa aspek  sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Penguatan Wawasan Program Inklusi melalui Layanan Informasi di SMAN 51 Jakarta Cindy Marisa; Siti Aminah Alfalathi; Sara Sahrazad
Jurnal PkM (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol 6, No 2 (2023): Jurnal PkM: Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jurnalpkm.v6i2.17884

Abstract

Pendidikan inklusif merupakan pendidikan yang diselenggarakan pada anak berkebutuhan khusus untuk memberikan kesempatan belajar di sekolah umum sebagai upaya pemerataan hak Pendidikan bagi Warga Negara Indonesia. Kolaborasi layanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan upaya Pendidikan sistematis yang membantu siswa mencapai tugas perkembangan sesuai dengan potensinya. Pemberian penguatan program inklusi melalui layanan informasi ini bertujuan untuk menambah pengetahuan, keahlian dan keterampilan guru dalam menangani anak inklusi dan sebagai langkah pencegahan dalam kesalahan penanganan pada siswa inklusi di sekolah. Pemberian layanan informasi pada kegiatan PkM ini dilakukan melalui metode seminar yang melibatkan guru-guru di SMAN 51 Jakarta sebanyak 31 orang. Berdasarkan data diperoleh simpulan bahwa setelah kegiatan dilakukan guru memperoleh perubahan positif yang dibuktikan dengan nilai signifikansi 0,001<0,005. Layanan informasi yang diberikan diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan program inklusi bagi siswa di sekolah sehingga siswa dengan kebutuhan khusus dapat mengembangkan potensi dan kemampuan yang dimilikinya.
Mindful Parenting dan Emotional Linguistic Input untuk Penguatan Kelekatan Aman dan Pencegahan Gangguan Kesehatan Mental pada Anak Neng Triyaningsih Suryaman; Siti Aminah Alfalathi; Zara Mayra; Marsa Triana Ayu
Jurnal Pengabdian Masyarakat, Ilmu, dan Aksi Vol. 2 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat, Ilmu, dan Aksi (ABDIMASIA)
Publisher : Asosiasi Asesmen Pendidikan (AAP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63203/abdimasia.v2i1.513

Abstract

Meningkatnya prevalensi permasalahan kesehatan mental pada anak berkaitan dengan pola pengasuhan yang kurang adaptif, lemahnya kelekatan aman (secure attachment), serta keterbatasan komunikasi emosional dalam keluarga. Kondisi tersebut dapat berdampak pada rendahnya kemampuan regulasi emosi, harga diri, dan relasi sosial anak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mencegah gangguan kesehatan mental pada anak melalui penerapan mindful parenting dan penguatan emotional linguistic input pada orang tua. Metode pelaksanaan dilakukan melalui psikoedukasi, pelatihan, dan praktik langsung yang meliputi pengenalan prinsip mindful parenting, strategi membangun secure attachment, keterampilan komunikasi emosional, latihan regulasi emosi, pengembangan empati, serta stimulasi bahasa dalam interaksi orang tua dan anak. Hasil kegiatan menunjukkan adanya pemantapan pemahaman orang tua mengenai pengasuhan sadar, menguatkan kesadaran emosional, serta kemampuan orang tua dalam merespons kebutuhan emosional anak secara lebih positif dan suportif. Implikasi kegiatan ini menunjukkan bahwa penerapan mindful parenting dan emotional linguistic input dapat memperkuat peran keluarga dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis anak secara preventif.
Gambaran Pemahaman Pelecehan Seksual Pada Mahasiswa Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Ibnu Khaldun Bogor Siti Aminah Alfalathi; Ani Safitri; Bella Yugi Fazny; Siti Sopiah
TERAPUTIK: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 8, No 1 (2024): TERAPUTIK: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Pusat Kajian Bimbingan dan Konseling FIPPS Unindra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26539/teraputik.812778

Abstract

Belakangan ini masalah terkait pelecehan seksual marak terjadi di lembaga pendidikan salah satunya adalah lingkungan kampus. Penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui gambaran pemahaman mahasiswa terkait pelecehan seksual itu sendiri. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan jenis penjelasan deskriptif. Responden penelitian merupakan mahasiswa di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Ibn Khaldun Bogor yang berjumlah sebanyak 153 orang, yang terdiri dari 92 perempuan dan 61 laki-laki. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner yang terdiri atas 48 butir pernyataan yang terbagi dalam 7 indikator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) responden penelitian belum memahami perbuatan pelecehan seksual (2) pelecehan seksual tidak dikaitkan dengan gender dan keadaan individu (3) jenis pelecehan yang paling ditemui di lingkungan kampus yaitu penampilan dan gerak tubuh yang menjurus ke arah seksual yang tidak diinginkan serta tatapan dan ucapan lelucon menggoda dengan sengaja, atau komentar tentang seks (4) tanggapan perilaku pelecehan seksual yaitu dengan menghindari kontak dengan pelaku pelecehan, misalnya bolos kelas/mengubah kursus/dipindahkan ke fakultas/program studi lain; akan mengambil tindakan lebih lanjut; akan menghadapi pelaku; akan berbicara dengan keluarga/teman dan rekan/sesama mahasiswa dan berbicara dengan konselor/psikolog/psikiater sebagai tanggapan atas pelecehan seksual yang dialami (5) tanggapan emosional terhadap perilaku pelecehan seksual ditunjukkan dengan perasaan tidak aman di kampus, rasa memiliki yang buruk terhadap kampus, murung,  kepercayaan diri/citra diri menjadi rendah, takut berinteraksi, merasa diperlakukan tidak sama di kampus, tidak bisa konsentrasi belajar, tidak ada respon kuat/respon emosional negatif dan merasa lelah/tidak berdaya/tidak puas (6) alasan tidak melapor ke pengawas atau universitas saat mengalami pelecehan seksual karena tidak ingin kejadian tersebut dibicarakan dan tidak ingin membuat situasi belajar mereka tidak menyenangkan dan (7) hanya sebagian kecil mahasiswa yang mengetahui adanya lembaga bantuan dan layanan antisipasi kekerasan seksual yang tersedia di Kampus UIKA Bogor.
Analysis of Attachment Styles and Relationship Dynamics in Early Adulthood: Implications for the Need for Premarital Counseling Siti Aminah Alfalathi; Zara Mayra; Neng Triyaningsih Suryaman; Rindang Wahjuningtijas; Dery Saefudin
ProGCouns: Journal of Professionals in Guidance and Counseling Vol. 6 No. 2 (2025): Progcouns: Journal of Professionals in Guidance and Counseling
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/progcouns.v6i2.90347

Abstract

Premarital counseling is increasingly recognized as important in Indonesia, yet the influence of attachment styles and relationship conditions on counseling needs among young adults is not well understood. This study examined the distribution of attachment styles, relationship conditions, and demographics, and their effect on the perceived need for premarital counseling. A cross-sectional survey was conducted with 480 young adults aged 18–40 using self-report questionnaires, and rare-event penalized logistic regression accounted for the highly unbalanced outcome. Results showed moderate levels of secure, disorganized, anxious, and avoidant attachment, with secure attachment slightly more common. Almost all participants (99.4%) reported needing premarital counseling. Regression analysis indicated that higher secure attachment scores were positively associated with counseling needs (OR = 1.82). Most participants were single, without children, and reported neutral to positive relationship conditions. These findings suggest young adults recognize the value of premarital counseling for emotional preparation and relational skill development, highlighting the need for interventions tailored to individual attachment profiles. Counseling programs should be culturally sensitive, adaptable, and attachment-informed, emphasizing communication, conflict resolution, and self-reflection to support long-term relationship satisfaction. Future research should adopt longitudinal and mixed-method approaches to better understand motivations and counseling needs.