Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN MOTIVASI KERJA PEGAWAI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) KOTA PRABUMULIH TAHUN 2014 Suryanda, Suryanda; Cik Wi, Cik Wi
Masker Medika Vol 3 No 1 (2015): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi, sedangkan motivasi menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas kerja meningkat. Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang termotivasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat. Hasil analisis kesahihan butir terhadap angket kecerdasan emosi adalah dari 50 aitem yang disusun, 4 aitem gugur 46 aitem sahih (rbt) bergerak dari 0.816 – 0.177 dengan taraf signifikansi (p) 0.000- 0.049. Sedangkan Hasil analisis kesahihan butir terhadap angket motivasi kerja adalah dari 56 aitem yang disusun 8 aitem gugur dan 48 aitem sahih (rbt) bergerak dari 0.798 – 0.229 dengan taraf signifikansi (p) 0.000- 0.016. Hasil perhitungan uji linieritas hubungan menunjukkan hasil bahwa antara variabel bebas dengan variabel terikat mempunyai F beda Ke3-ke2 = 0.699 pada taraf signifikansi (p) = 0.590 hal tersebut menunjukkan bahwa kedua variabel mempunyai hubungan linier. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang positif antara kecerdasan emosi dengan motivasi kerja diperoleh hasil (rxy sebesar 0.981 pada taraf signifikansi (p) 0.000 p 0.01) semakin tinggi kecerdasan emosi maka semakin tinggi motivasi kerja. Begitu juga sebaliknya semakin rendah kecerdasan emosi maka semakin rendah motivasi kerja. Emotional intelligence is a component makes a clever use of emotion, motivation while creating morale, so that labor productivity increases. Meanwhile, the benefits gained by working with people who are motivated can be solved with the right job. The validity of the results of the analysis point to the questionnaire of emotional intelligence is composed of 50 item, 4 items fall of 46 authentic items ( RBT ) to move from 0,816 - 0.177 with a significance level ( p ) 0.000- 0.049. While the results of the analysis of the validity of the clause on work motivation questionnaire is composed of a 56-item 8-item and 48-item autumn valid (RBT) moves from 0798-0229 with a significance level (p) 0.000- 0.016. The calculation result linearity test results show that the relationship between the independent variable and the dependent variable has a different 3rd-2nd F = 0.699 at the significance level (p) = 0590 it shows that the two variables have a linear relationship. The results showed there was a positive relationship between emotional intelligence and employee motivation result (rxy by 0981 at the significance level (p) 0000 p 0:01) higher emotional intelligence the higher work motivation. conversely , if Improve low emotional intelligence increases the low motivation.
PENGARUHTERAPI BEKAM BASAH TERHADAP PENURUNANTEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI KLINIK ASY-SYIFA PRABUMULIH Suryanda Suryanda; M Amin; Mika Indriani
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 8, No 3 (2017): Juli 2017
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.331 KB) | DOI: 10.33846/%x

Abstract

Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara terapi bekam basah terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi di klinik Asy-Syifa Prabumulih. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan metode cross-sectional. Dilakukan hanya menggunakan satu kelompok dan tidak menggunakan kelompok kontrol. Pengukuran subyek penelitian diambil 15 menit sebelum dan sesudah pembekaman masing-masing sebanyak dua kali kemudian diambil rata-ratanya. Total populasi penelitian 47 orang yang didiagnosa hipertensi dan mendapat terapi bekam basah. Hasil: Analisa statistik menggunakan uji t-berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95 % (a=0.5) menunjukkan penurunan tekanan darah pada subyek penelitian dengan nilai p=0.000. Pengukuran tekanan darah sistol pada 47 subyek sebelum dan setelah terapi bekam didapatkan rerata perbedaan sebesar 9.362 mmHg dengan standar deviasi 7.042 (M±SD) (9.362±7.042). Pada pengukuran tekanan darah diastol pada 47 subyek sebelum dan setelah terapi bekam didapatkan tren rerata perbedaan sebesar 10.319 mmHg dengan standar deviasi 5.843 (M±SD) (10.319±5.843). Kesimpulan: Terapi bekam basah cukup efektif mengatasi dan mengontrol tekanan darah pada pasien hipertensi.Penyebaran informasi tentang manfaat terapi alternatif bekam, manfaat yang di peroleh dapat disebarluaskan. Penelitian-penelitian secara intensif dan lebih besar perlu dilakukan untuk melihat manfaat yang lebih dalam maupun lebih luas.
ANALISIS FAKTOR RESIKO HIPERTENSI SEKUNDER PADA PENGGUNA KONTRASEPSI AKTIF DI PUSKESMAS TANJUNG AGUNG Suryanda Suryanda
Jurnal Riset Kesehatan Vol 6, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.313 KB) | DOI: 10.31983/jrk.v6i2.2628

Abstract

Abstrak : Analisis Faktor Resiko Hipertensi Sekunder Pada Pengguna Kontrasepsi Aktif Di UPTD Puskesmas Tanjung Agung. Tujuan penelitian menganalisis faktor resiko hipertensi sekunder pada pengguna kontrasepsi Aktif di UPTD Puskesmas Tanjung Agung. Merupakan penelitian deskriptif analitik dengan metode cross-sectional . Populasi adalah wanita pengguna kontrasepsi aktif yang datang ke Poliklinik KIA dan KB  tahun 2016. Menggunakan tekhnik accidental sampling, didapatkan 45 orang responden. Data dengan kuisioner berbentuk check list dan pertanyaan terbuka. Usia responden pada kisaran 18 tahun hingga 47 tahun, pengguna kontrasepsi aktif dengan kelompok varitas tertinggi adalah  3 – 4 anak 15 responden (33,3 %), kelompok terendah lebih dari 5 anak 3 responden (6,7%). Kelompok terpapar asap rokok 26 reponden (57,7%), kelompok tidak terpapar 19 responden (42,2%). Responden hipertensi 14 responden (31,1%),  yang tidak hipertensi 31 responden (68,9%). Penggunaaan Kontrasepsi hormonal lebih banyak, yaitu 23 responden (51,1%) dari pada non hormonal, yaitu 22 responden (48,9%). Terdapat  hubungan bermakna antara pemakaian kontrasepsi hormonal dengan kejadian hipertensi, dengan nilai p.value 0,001. Tidak terdapat hubungan bermakna antara paparan asap rokok pada pengguna kontrasepi dengan kejadian hipertensi, nilai p.value 0,057. Perlunya edukasi  PHBS terkait paparan asap rokok dan bahaya hipertensi kepada masyarakat.
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN MENARCHE PADA SISWA DI SDN 02 KOTA PRABUMULIH Suryanda Suryanda
Jurnal Riset Kesehatan Vol 6, No 1 (2017): MEI 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.7 KB) | DOI: 10.31983/jrk.v6i1.2262

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status gizi dengan kejadian menarche Siswi SDN02 Kota Prabumulih tahun 2016. Merupakan penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan metodecross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswi kelas V terdiri dari 4 kelas dan VI terdiri dari 4kelas berjumlah 211 siswi yang bersekolah di SDN 02 Kota Prabumulih tahun 2016. Sedangkan besaransampel setelah dihitung didapatkan 64 siswi. Data diperoleh melalui kuisioner berbentuk check list danpengukuran Indeks Masa Tubuh. Didapatkan hasil 43 orang (67,2%) telah mengalami menarche dan 21orang belum mengalami menarche ( 32,8%), sedangkan 38 (59,4%) orang status gizi normal dan 26 orang(31,6%) status gizi tidak normal, yaitu obesitas 11 orang (42,3%) sedangkan kurus 15 orang (57,7%). Ujistatistik menggunakan chi square dengan tingkat kepercayaan 95 % (a=0.5) menunjukkan terdapathubungan antara status gizi dengan kejadian menarche di SDN 02 Kota Prabumulih. Status gizi dapatmempengaruhi kejadian menarche pada siswi SDN 02 Kota Prabumulih, sehingga orang tua dan keluargawajib mengetahui dan memahami pentingnya nilai gizi bagi perkembangan kesehatan reproduksi anak.Peran serta berbagai pihak perlu ditingkatkan mengingat masih banyak faktor yang mempengaruhi prosestumbuh kembang anak.
Analisis Faktor Resiko Hipertensi Sekunder pada Pengguna Kontrasepsi Aktif di Puskesmas Tanjung Agung Kabupaten Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan Suryanda Suryanda
Jurnal Kesehatan Vol 8, No 3 (2017): Jurnal Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.335 KB) | DOI: 10.26630/jk.v8i3.562

Abstract

Each year, hypertension causes 1 of 7 deaths worldwide and causes heart, eye, brain, and kidney damage. In addition to smoking, the use of pill contraceptives is one of the risk factors for hypertension. This study aimed to analyze the risk factors of secondary hypertension in active contraceptive users in Tanjung Agung Public Health Center with the analytical descriptive using cross-sectional method. The population was active women using active contraceptives who come to Public Health Center period September-December 2016, amounting to 45 people. The data was taken using the questionnaire in the form of a checklist and open question. The age of respondents in the range of 18 years to 47 years, active contraceptive users with the highest group of varieties were 3-4 children 15 respondents (33.3%), the lowest group >5 children 3 respondents (6.7%). The group was exposed to cigarette smoke 26 respondents (57.7%), the group was not exposed 19 respondents (42.2%). Respondent hypertension 14 respondents (31,1%), which is not hypertension 31 respondent (68,9%). Usage Hormonal contraceptives more, ie 23 respondents (51.1%) than non-hormonal, ie 22 respondents (48.9%). There was a significant correlation between hormonal contraception use and hypertension incidence, with p-value 0,001. There was no significant relationship between exposure to cigarette smoke to contraceptive users with hypertension incidence, p-value 0,057. The need for PHBS education concerning exposure to cigarette smoke and the danger of hypertension to the community.
HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN MOTIVASI KERJA PEGAWAI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) KOTA PRABUMULIH TAHUN 2014 Suryanda Suryanda; Cik Wi Cik Wi
Masker Medika Vol 3 No 1 (2015): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi, sedangkan motivasi menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas kerja meningkat. Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang termotivasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat. Hasil analisis kesahihan butir terhadap angket kecerdasan emosi adalah dari 50 aitem yang disusun, 4 aitem gugur 46 aitem sahih (rbt) bergerak dari 0.816 – 0.177 dengan taraf signifikansi (p) 0.000- 0.049. Sedangkan Hasil analisis kesahihan butir terhadap angket motivasi kerja adalah dari 56 aitem yang disusun 8 aitem gugur dan 48 aitem sahih (rbt) bergerak dari 0.798 – 0.229 dengan taraf signifikansi (p) 0.000- 0.016. Hasil perhitungan uji linieritas hubungan menunjukkan hasil bahwa antara variabel bebas dengan variabel terikat mempunyai F beda Ke3-ke2 = 0.699 pada taraf signifikansi (p) = 0.590 hal tersebut menunjukkan bahwa kedua variabel mempunyai hubungan linier. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang positif antara kecerdasan emosi dengan motivasi kerja diperoleh hasil (rxy sebesar 0.981 pada taraf signifikansi (p) 0.000 p 0.01) semakin tinggi kecerdasan emosi maka semakin tinggi motivasi kerja. Begitu juga sebaliknya semakin rendah kecerdasan emosi maka semakin rendah motivasi kerja. Emotional intelligence is a component makes a clever use of emotion, motivation while creating morale, so that labor productivity increases. Meanwhile, the benefits gained by working with people who are motivated can be solved with the right job. The validity of the results of the analysis point to the questionnaire of emotional intelligence is composed of 50 item, 4 items fall of 46 authentic items ( RBT ) to move from 0,816 - 0.177 with a significance level ( p ) 0.000- 0.049. While the results of the analysis of the validity of the clause on work motivation questionnaire is composed of a 56-item 8-item and 48-item autumn valid (RBT) moves from 0798-0229 with a significance level (p) 0.000- 0.016. The calculation result linearity test results show that the relationship between the independent variable and the dependent variable has a different 3rd-2nd F = 0.699 at the significance level (p) = 0590 it shows that the two variables have a linear relationship. The results showed there was a positive relationship between emotional intelligence and employee motivation result (rxy by 0981 at the significance level (p) 0000 p 0:01) higher emotional intelligence the higher work motivation. conversely , if Improve low emotional intelligence increases the low motivation.
Analisis Determinan Kejadian Anemia di Rumah Sakit Kota Baturaja Suryanda; Eni Folendra Rosa; Nelly Rustiati
Cendekia Medika: Jurnal Stikes Al-Ma`arif Baturaja Vol. 6 No. 2 (2021): Cendekia Medika
Publisher : LPPM STIKES Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.106 KB) | DOI: 10.52235/cendekiamedika.v6i2.90

Abstract

Salah satu faktor yang tidak dapat diabaikan dalam mempengaruhi kualitas sumber daya manusia adalah masalah gizi. Salah satu hambatan pemenuhan gizi anak di Indonesia dari non keuangan adalah kurangnya nutrisi yang layak, yang ditandai dengan kasus anemia. Di Indonesia kasus anemia (46,3%) dari keseluruhan kasus penyakit menular, pada 12 Propinsi ditemukan anemia yang dirawat di rumah sakit sebanyak 3.251 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan asupan gizi dan pola makan dengan kejadian Anemia pada Anak di Baturaja Kabupaten OKU. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimental dengan uji statistik chi-squre. Sampel adalah anak berusia kurang dari 2 tahun hingga 4 tahun, sebanyak 46 responden yang diambil menggunakan accidental sampling. Hasil uji statistik Chi-square di dapatkan p value = 0,000 (<0,05), yang  berarti ada hubungan yang bermakna  antara asupan gizi, pola makan dan umur anak dengan kejadian anemia pada anak. Sedangkan antara  jenis kelamin dengan kejadian anemia pada anak didapatkan hasil  uji statistik Chi-square  p value = 0,235 (>0,05)  yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna dua variable tersebut
PELAYANAN TERAPI BEKAM PADA ANGGOTA MAJELIS TAKLIM ASY SYIFA BATURAJA Sujati Ni Ketut; Harsanto D Eka; Saprianto Saprianto; Suryanda Suryanda
Jurnal Abdi Masyarakat Kita Vol 1 No 1 (2021): Jurnal Abdi Masyarakat Kita
Publisher : APDFI (Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (999.246 KB) | DOI: 10.33759/asta.v1i1.122

Abstract

Health services are currently growing towards naturalist and herbalist services. Public interest in health services originating from eastern medicine is increasing. Included include Cupping. For nurses, Cupping is part of holistic nursing, which has entered the standard of Nursing intervention. The goal of cupping service is the elderly who complain about non-specific complaints along with the degeneration process in the elderly. Suryanda (2016) reported that the application of cupping in the nursing care of a hypertensive client provides comfort and reduces neck pain complaints to the client. This community service aims to provide direct services to the community (members of the Islamic Boarding School Asy syifa Baturaja) who need cupping therapy servants. Activities in the form of counseling about the disease of the elderly and the benefits of cupping and contra indication cupping. Activities carried out in the even semester of the 2019 budget year. The results of cupping therapy are quite effective in high blood pressure patients. Activity outputs are publications in the online media kabarkite.com and activity videos.
ANALISIS FAKTOR KELUARGA DALAM PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK PENYEBAB MALARIA Suryanda Suryanda; Eni Folendra Rosa; Nelly Rustiati
NURSING UPDATE : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan P-ISSN : 2085-5931 e-ISSN : 2623-2871 Vol 13 No 3 (2022): SEPTEMBER
Publisher : NHM PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36089/nu.v13i3.788

Abstract

Malaria is still a major public health problem worldwide, transmitted by mosquitoes that carry the Plasmodium parasite. All people and age groups can be affected by this disease, men or women. Almost all regions of Indonesia, especially the eastern part, have the highest cases. In South Sumatra there are 10 regencies/cities that are endemic for malaria, one of the regencies that still has malaria transmission cases is Muara Enim, which is 3215 cases in 2019. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge, attitudes and family behavior in eradicating mosquito nests. (PSN) malaria in Lubay Ulu District, Muara Enim Regency. Methods The research is a quantitative analytic survey with a cross sectional design, a sample of 238 families. It was found that 37 of 77 respondents suffered from malaria, 71.4% of respondents had good knowledge, 28.6% were not good, 57.1% had a positive attitude and 42.9% have a negative attitude in the prevention and eradication of malaria. there are 59.7% of respondents who have made efforts to prevent and eradicate malaria, and 40.3% who have not made these efforts. The bivariate test showed that there was no relationship between knowledge and action with malaria cases, but there was a significant relationship between attitudes and the incidence of malaria in the working area of ​​the Beringin Public Health Center, Muara Enim.
Pengetahuan dan Sikap Keluarga dalam Pencegahan Kekambuhan Rematik Suryanda Suryanda; Asmawi Nazori; Zanzibar Zanzibar
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 5, No 1 (2019): JANUARI 2019
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.97 KB) | DOI: 10.30602/jvk.v5i1.134

Abstract

Abstract: Knowledge and Family Attitude in Prevention of Rematical Devices. Rheumatism belongs to a group of rheumatic diseases showing a painful and stiff condition that attacks the limbs or the musculoskeletal system, ie joints, muscles, bones, and tissues around the joint. This study aims to determine the characteristics of family, knowledge and family attitudes in prevention of rheumatic recurrence in Prabumulih 2017. Descriptive analytics with cross-sectional method with Purposive sampling involving all families of rheumatic patients who visited visited Sukajadi Public Health Center East Prabumulih District October to December 2017, amounting 92 person. Sample as many as 87 respondents. Data obtained through questionnaire in the form of checklist and study documentation. Most of the female respondents, high school educated, have the highest average income of Rp 2,000,000 - Rp.3,000,000, self-employment, age of respondent most between 21 years to 30 years.71.1% rheumatic family members rarely relapse, the rest only 29 , 9% often relapse. Knowledge of respondents less 58,6%, 41,3% good. Response respondents 56.3% support efforts to prevent rheumatic recurrence and 43.7% less supportive. The results of chi-square analysis showed a signifcant relationship between family knowledge with rheumatic recurrence in elderly and family attitude with rheumatic recurrence in elderly.Abstrak: Pengetahuan dan Sikap Keluarga dalam Pencegahan Kekambuhan Rematik. Rematik termasuk dalam kelompok penyakit reumatologi yang menunjukkan suatu kondisi nyeri dan kaku yang menyerang anggota gerak atau system musculoskeletal, yaitu sendi, otot, tulang, maupun jaringan disekitar sendi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik keluarga, pengetahuan dan sikap keluarga dalam pencegahan kekambuhan rematik di Prabumulih tahun 2017. Deskriptif analitik dengan metode cross-sectional dengan Purposive sampling melibatkan seluruh keluarga penderita rematik yang tercatat berkunjungke Puskesmas Sukajadi Kecamatan Prabumulih Timur bulan Oktober hingga Desember 2017, berjumlah 92 orang. Sampel sebanyak 87 responden. Data diperoleh melalui kuisioner berupa ceklist dan studi dokumentasi. Sebagian besar responden wanita, berpendidikan SMA, berpenghasilan rata-rata tertinggi Rp 2.000.000 – Rp.3.000.000,pekerjaan wiraswasta, usia responden terbanyak antara 21 tahun hingga 30 tahun.71,1% rematik anggota keluarganya jarang kambuh, sisanya hanya 29,9% sering kambuh. Pengetahuan responden kurang 58,6%, 41,3 % baik. Sikap responden 56,3% mendukung upaya pencegahan kekambuhan rematik dan 43,7% kurang mendukung. Hasil uji analisis chi-square menunjukkan adanya hubungan signifkan antara pengetahuan keluarga dengan kekambuhan rematik pada lansia dan sikap keluarga dengan kekambuhan rematik pada lansia.