Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

The Realization of Islamic Politics of the Dutch East Indies Governmentand Its Effect on Islam (XIX-XX Century) Samsul Bahri Hasibuan; Asep Achmad Hidayat; Usman Supendi
HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2023): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/hj.v11i2.8437

Abstract

In the era of Dutch colonialism in the XIX-XX centuries, the political legal policies applied had the aim of maintaining imperialism in Indonesia by abolishing Islamic law and prioritizing customary and Western law. This paper aims to find out the realization of Islamic politics in the Dutch administration and its influence on Islam. This research uses the historical method which consists of four stages, namely: heuristics, criticism, interpretation and historiography. Based on the results of the study, it is concluded that there are three pillars of Snouck Hurgronje's Islamic politics used by the Dutch government when expanding Indonesia, namely; 1) religious field, 2) social and community fields, 3) politics. In realizing this Islamic politics, the Dutch initially gave space to Muslims in applying their teachings. Then, gradually the Dutch politicized Muslim law to help the colonization process. Various methods were carried out such as making it difficult for Muslims to perform the hajj pilgrimage, conducting teacher ordinances and supervision ordinances for Islamic education and anticipating all Muslim activities that were indicated by fanatical movements such as Pan Islam and Tarekat.
Keruntuhan Kerajaan Turki Ustmani Serta Implikasinya Terhadap Islam (1566 - 1924) Samsul Bahri Hasibuan; Ading Kusdiana; Wawan Hernawan; M. Boy Al’fazri Tahyat
Gudang Jurnal Multidisiplin Ilmu Vol. 1 No. 3 (2023): GJMI - SEPTEMBER
Publisher : PT. Gudang Pustaka Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/gjmi.v1i3.77

Abstract

Umat Islam mengalami puncak kejayaan kedua pada masa tiga kerajaan besar berkuasa, yakni kerajaan Turki Utsmani, Safawi dan Mughal (India). Namun, setelah mencapai titik zenit pada masa Sultan Sulaiman Al Qanuni (1520-1566 M), Kerajaan Turki Usmani mulai bergerak turun, melemah, dan mundur menuju titik nadir sampai menemui detik-detik kehancurannya. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran kerajaan Turki Usmani baik bersifat militer maupun non-militer. Akibat hal tersebut telah membawa Implikasi terhadap prospek Islam di wilayah tersebut. Tulisan ini betujuan untuk mengetahui dan mengkaji fenomena kemunduran dan kehancuran kerajaan Turki Usmani, mengetahui faktor penyebab kemunduran kerajaan Turki Usmani dan untuk mengetahui implikasinya terhadap prospek Islam. Metode yang digunakan oleh penulis dalam artikel ini adalah metode penelitian sejarah. Metode sejarah yang diguakan dalam artikel ini terdiri dari empat tahapan yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi dan penulisan. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Turki Usmani yaitu melemahnya sistem birokrasi dan kekuatan militer Turki Usmani, kehancuran perekonomian kerajaan dan munculnya kekuatan baru di daratan Eropa serta serangan balik terhadap Turki Usmani. Selanjutnya implikasi terhadap prospek Islam yaitu terjadinya disintegrasi politik dalam dunia islam dan bangkitnya nasionalisme dalam dunia Islam.
Hagiografi Syekh. H. Mustafa Husein Nasution (1886-1955) Asep Achmad Hidayat; Samsul Bahri Hasibuan; Atin Suhartini; Eman Suherman
Gudang Jurnal Multidisiplin Ilmu Vol. 1 No. 3 (2023): GJMI - SEPTEMBER
Publisher : PT. Gudang Pustaka Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/gjmi.v1i3.86

Abstract

Syekh Musthafa Husein Nasution adalah seorang figur ulama yang terkenal dan memiliki pengaruh luas dalam penyebaran agama Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap riwayat hidup Syekh Musthafa Husein Nasution serta perannya dalam gerakan keagamaan. Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah metode sejarah, yang melibatkan tahapan berikut: (1) Heuristik, yaitu pengumpulan sumber-sumber primer dan sekunder. (2) Kritik internal dan eksternal terhadap data yang diperoleh. (3) Interpretasi. (4) Historiografi, yang merupakan penulisan eksplanasi sejarah dalam bentuk karya ilmiah. Hasil penelitian ini mengungkapkan beberapa hal penting. Pertama, Syekh Musthafa Husein Nasution lahir pada tahun 1886 sebagai anak ketiga dari sembilan bersaudara dari pasangan H. Husen Nasution dan Hj. Halimah Lubis. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (Volk School) di Kayu Laut. Kedua, beliau dikenal di masyarakat karena aktif dalam kegiatan pengajian dan dakwah di berbagai lokasi di Mandailing Natal. Dalam bidang sosial, beliau juga aktif dalam berbagai organisasi masyarakat, termasuk menjadi Ketua Syarikat Islam cabang Tanobato pada tahun 1915, Penasehat Majelis Islam Tinggi Sumatera Utara pada tahun 1945, serta Anggota Komite Naional Pusat di Sipaholan. Pada tahun 1952, beliau diangkat sebagai anggota Syuriah NU pusat. Selain itu, Syekh Musthafa Husein Nasution terkenal sebagai seorang ulama dan Syekh di Mandailing Natal, terutama di Purba Baru tempat beliau mendirikan Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru Mandailing Natal yang masih berdiri hingga saat ini.
Polemik Peresmian Wilayah Barus Sebagai Titik Nol Peradaban Islam Nusantara Oleh Presiden Joko Widodo Samsul Bahri Hasibuan; Rizki Hamdan Saputra; Habibunnas h; Pajri Ainul Yakin
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 1, No 8 (2023): September
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.8399746

Abstract

Keputusan penetapan wilayah Barus di Tapanuli Tengah sebagai titik nol Islam Nusantara menimbulkan reaksi beragam dari sejarawan Indonesia. Selama ini yang masyarakat mengetahui Islam pertama kali masuk wilayah Indonesia adalah di Aceh. Tulisan bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai jejak masuknya ajaran Islam dan bukti penetapan Islam Nusantara serta polemik peresmian wilayah Barus sebagai titik nol oleh para sejarawan. Metode yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini yaitu metode penelitian sejarah. Adapun metode sejarah yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari empat tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Barus merupakan wilayah yang mula-mula menerima dan di datangi Islam. Kemudian baru ke wilayah lain, yaitu ke Peureulak dan Pasai. Hanya saja, walaupun Barus yang mula-mula menerima Islam, tetapi umat Islam di sana tidak menghasilkan atau tidak membentuk kekuasaan atau kerajaan Islam sebagai kekuatan politiknya, tetapi masyarakat Islam di Peureulak lah yang sukses mencapai kekuatan politik Islam pertama di Nusantara. Banyak sejarawan yang tidak setuju dengan hal ini karena menganggap bertentangan dengan kesimpulan studi sejarah.