Ahmad Abdan Syakur
Universitas Nahdlatul Wathan

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Analisis Teks Iklan Rokok A Mild : Kajian Semiologi Roland Barthes Ahmad Abdan Syakur; Purnawarman Purnawarman
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 8, No 2: July 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v8i2.17195

Abstract

 Abstrak: Peneltian ini bertujuan untuk: 1) menemukan penanda (signifier) dan petanda (signified) yang terdapat pada iklan rokok A Mild. 2) Memahami makna simbol iklan rokok  A Mild menurut kajian semiologi Roland Barthes. Data dalam penelitian ini adalah teks iklan rokok A Mild. Metode pengumpulan data yang digunakakan adalah studi pustaka kemudian dianalisis secara deskriptif. Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat penanda (signifier),  petanda (signified) dan Mitos dalam Iklan Rokok A Mild yang digambarkan melalui konsep-konsep tentang gaya, kesenangan, dan percaya diri. Di dalam tataran mitos, yakni sistem semiologis lapis kedua, penanda berupa “gaya” ini merujuk pada petanda berupa aktualisasi diri: kesenangan, kenikmatan, percaya diri, dan keberanian. Dalam tataran inilah kemudian peneliti melihat bahwa konsep aktualisasi diri berupa: kesenangan, kenikmatan, percaya diri, dan keberanian menjadi mitos dari kenyataan hidup. Analogi inilah yang ditemukan peneliti hadir dalam iklan rokok A Mild berdasarkan kajian semiologi Roland BarthesAbstract: This research aims to: 1) find signifiers and signifiers contained in A Mild cigarette advertisements. 2) Understand the meaning of the A Mild cigarette advertising symbol according to Roland Barthes' semiological studies. The data in this study is the text of A Mild cigarette advertisements. The data collection method used is a literature study and then analyzed descriptively. The results showed that there are signifiers, signifieds and myths in A Mild cigarette advertisements that are described through concepts about style, fun, and confidence. In the mythical level, the second-layer semiological system, these markers of "style" refer to signs of self-actualization: pleasure, enjoyment, confidence, and courage. It is at this level that researchers then see that the concept of self-actualization in the form of: pleasure, enjoyment, confidence, and courage becomes a myth of the reality of life. This analogy is what researchers found present in the A Mild cigarette advertisement based on Roland Barthes' semiological studies                   
Verba Keadaan Tipe Melihat Bahasa Bima, Kajian Metabahasa Semantik Alami Rabiyatul Adawiyah; Ahmad Abdan Syakur
Jurnalistrendi : Jurnal Linguistik, Sastra dan Pendidikan Vol 7 No 2 (2022): Edisi November 2022
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v7i2.1385

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur semantik dalam verba keadaan Bahasa Bima tipe `melihat` dengan menggunakan teori Metabahasa Semantik Alami yaitu pemetaan dan eksplikasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan sumber data berupa data lisan, dan data tulis yang dikumpukan dari buku cerita bahasa Bima, data bahasa lisan diambil dari informan kunci. Teknik yang digunakan adalah wawancara dan studi literatur. Metode pengumpulan data menggunakan metode verifikasi, metode analisis data dengan metode agih dalam penerapan teknik ubah ujud dan sisip atau paraphrase yang dipakai untuk mengungkapkan makna asali dengan 65 butir yang dikenal dengan eksplikasi. Verba keadaan dengan tipe `melihat` terdiri dari subtype melihat dan merasakan, subtype melihat dan mengetahui, melihat dan mengatakan, serta melihat dan memikirkan.
PERBANDINGAN KONFLIK SOSIAL DALAM FILM TOBA DREAMS YANG DISUTRADARAI OLEH BENI SETIAWAN DENGAN FILM SANG PRAWIRA YANG DISUTRADARAI OLEH PONTI GEA Purnawarman, Purnawarman; Syakur, Ahmad Abdan
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 9, No 1: January 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v9i1.21472

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk-bentuk konflik sosial dan perbandingan konflik sosial dalam film Toba Dreams dengan film Sang Prawira. Untuk mengetahui konflik dan perbandingan konflik sosial, digunakan teori konflik Ralf Dahrendorf. Data yang digunakan berupa kutipan dialog dan adegan yang menggambarkan adanya konflik dan perbandingan konflik sosial. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode observasi dan dokumentasi, sedangkan metode analisis yang digunakan yaitu metode analisis isi (content analysis). Hasil penelitian ini yaitu, konflik terjadi karena adanya ketidakadilan yang dilakukan oleh kelompok yang berkuasa sebagai pemegang otoritas terhadap kelompok yang dikuasai. Bentuk konflik yang terjadi adalah, 1) konflik tokoh utama dengan mafia 2) konflik antara tokoh utama dengan keluarga 3) konflik antara kelompok mafia dengan pebisnis lain 4) konflik antara mafia dengan satuan kepolisian. Konflik tersebut ditemukan dalam kedua film sehingga layak untuk diperbandingkan. Perbandingan konflik sosial ditemukan beberapa persamaan dan perbedaan. Perbandingan konsep dua wajah masyarakat yaitu konflik dan konsensus dengan teman tokoh utama dalam struktur sosial, praktik kekuasaan dan wewenang yaitu otoritas yang dimiliki oleh Ayah sebagai kepala keluarga pada masing-masing film, konsep kelompok yang terlibat konflik yaitu tokoh utama termasuk dalam kelompok kepentingan, dan konsep pengendalian konflik terdapat adanya kesepakatan dan tidak menemui kesepakatan dalam penyelsaian konflik.
Arkatipe Tokoh Utama dalam Novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur Karya Muhidin M Dahlan Tinjauan Psikologi Jung Syakur, Ahmad Abdan; Purnawarman, Purnawarman
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 9 No 1 (2024): Edisi April 2024
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v9i1.2234

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan konflik psikologis tokoh utama dalam novel Tuhan izinkan aku menjadi pelacur menggunakan arkatipe Carl Gustav Jung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskreptif dalam mendiskipsikan konflik psikologis tokoh utama dalam novel Tuhan izinkan aku mencadi pelacur karya Muhidin M Dahlan. Berdasarkan hasil penelitian terdapat lima arkatipe yang diurakan melalui karakter tokoh Nidah Kirani sebagai tokoh utama. Adapun arkatipe tersebut terdiri dari: persona lima kutipan, shadow sepuluh kutipan, anima tiga kutipan, animus tiga kutipan, dan self delapan kutipan. Jadi berdasarkan data konflik psikologis yang di alami tokoh Nidah Kirani adalah konflik shadow, karena shadow lebih banyak ditemukan dari keempat arketipe.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS CERITA PENDEK BERMUATAN KEARIFAN LOKAL SUKU SASAK DENGAN MEDIA FILM PENDEK PADA SISWA KELAS XI MA RAUDLATUTTHOLIBIN NW PAOKMOTONG Syakur, Ahmad Abdan; Purnawarman, Purnawarman
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 10, No 2: July 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v10i2.31066

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis cerita pendek bermuatan kearifan lokal Suku Sasak dengan media film pendek pada siswa kelas XI MA Raudlatuttholibin NW Paokmotong. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang berlangsung selama dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap observasi dan evaluasi, serta tahap refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MA Raudlatuttholibin NW Paokmotong. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Perbedaan antara siklus I dan siklus II terletak pada sarana dan prasarana serta langkah-langkah pembelajaran. Langkah pembelajaran yang dilakukan pada siklus I belum maksimal dan dioptimalkan pada siklus II.Hasil akhir kemampuan menulis cerita pendek pada siklus I, 16,5% siswa mendapat nilai sangat baik, 18,5% mendapat nilai baik, 62.5% mendapat nilai cukup, dan 12,5% mendapat nilai kurang. Pada siklus II terjadi peningkatan yang signifikan yaitu 73% siswa memperoleh nilai sangat baik dan 27% memperoleh nilai baik. Kearifan lokal suku Sasak yang termuat dalam cerpen siswa pada siklus I dan II yaitu saling jot/saling perasaq, saling sapaq, dan saling peliwat. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis cerita pendek bermuatan kearifan lokal suku Sasak pada siswa kelas XI MA Raudlatuttholibin NW Paokmotong mengalami peningkatan. Abstract: This research aims to improve the ability to write short stories containing local wisdom of the Sasak Tribe using short films as a medium for class XI MA Raudlatuttholibin NW Paok cut students. This research is classroom action research which lasted for two cycles. Each cycle consists of four stages, namely the planning stage, implementation stage, observation and evaluation stage, and reflection stage. The subjects in this research were class XI students at MA Raudlatuttholibin NW Paok cut. Data collection was carried out by interviews, observation and documentation. The difference between cycle I and cycle II lies in the facilities and infrastructure as well as the learning steps. The learning steps carried out in cycle I were not optimal and were optimized in cycle II.The final results of the ability to write short stories in cycle I, 16.5% of students got a very good score, 18.5% got a good score, 62.5% got a fair score, and 12.5% got a poor score. In cycle II there was a significant increase, namely 73% of students got very good grades and 27% got good grades. The local wisdom of the Sasak tribe contained in the students' short stories in cycle I and II is mutual jot/mutual affection, greeting each other, and passing each other. Based on the results of this research, it can be concluded that the ability to write short stories containing local wisdom of the Sasak tribe in class.