Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Penerapan Metode 5S Untuk Meminimasi Waste Motion Pada Proses Produksi Seal Brecket Di PT. Nagoya Dengan Pendekatan Lean Manufacturing Aqiilah Khoiriyyah Husnaa; Pratya Poeri Suryadhini; Widia Juliani
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT. Nagoya INA Engineering merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri karet, PVC, dan plastik. Hasil produksi dari perusahaan ini yaitu seal switch, seal pengungkit, seal brecket, cover nut, pengaman regulator, rubber disk, rubber molla, cap water reservoir tank, seal tombol, dan R3. Pada Januari 2018 – Juli 2018 seal brecket memiliki total produksi terbesar, yaitu sebanyak 777. 245 pcs atau 48,72% dari total produksi secara keseluruhan. Tetapi PT. Nagoya mengalami keterlambatan pengiriman produk, produk yang paling sering mengalami keterlambatan pengiriman adalah seal brecket. Untuk mengetahui penyebab keterlambatan pengiriman, dilakukan penelitian pada proses produksi seal brecket yang berlokasi di Nanjung dengan cara pemetaan aliran produksi menggunakan Value Stream Mapping dan Process Activity Mapping . Pada Value Stream Mapping ditemukan NVA time sebesar 88 detik dan lead time selama 1334 detik. Pada Process Activity Mapping didapatkan aktivitas NVA yang tergolong ke dalam waste motion. Berdasarkan waste motion yang ditemukan, dilakukan pencarian akar penyebab masalah menggunakan 5 Why’s. Waste motion diminimasi dengan melakukan usulan perbaikan menggunakan pendekatan lean manufacturing. Usulan perbaikan dirancang menggunakan metode 5S untuk mereduksi waste motion, sehingga dapat mempersingkat lead time. Untuk mencapai tujuan 5S di lakukan pengurangan waktu set up dengan merancang alat bantu produksi usulan. Dari perancangan usulan perbaikan, lead time berkurang sebanyak 32% atau sebesar 909 detik dengan penurunan NVA time sebesar 88 detik dan NNVA time sebesar 336 detik. Kata kunci: PT.Nagoya, Non Value Added Activity, Value Stream Mapping, Process Activity Mapping, Waste Motion, Lean Manufacturing, 5S
Usulan Rancangan Perbaikan Untuk Meminimasi Defect Inklusi Pasir (ip) Pada Proses Pencetakan Shoulder For E-clip Di Pt. Pindad Dengan Metode Dmaic Ayu Vita Rastiti; Wiyono Wiyono; Widia Juliani
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT. Pindad merupakan salah satu perusahaan dibawah naungan BUMN yang memproduksi produk militer dan komersial di Indonesia, salah satunya memproduksi komponen perkeretaapian seperti produk shoulder, base plate dan e-clip. Berdasarkan data historis pada periode Januari 2017 – Desember 2018, diketahui produk shoulder memiliki rata-rata defect paling tinggi dan melebihi batas toleransi yang ditetapkan perusahaan. Toleransi produk defect yang ditetapkan perusahan sebesar 2%, sementara produk shoulder memiliki rata-rata defect sebesar 5,22%. Jenis defect inklusi pasir merupakan salah satu jenis defect yang sering terjadi. Maka dari itu penelitian akan berfokus terhadap proses yang menyebabkan defect inklusi pasir menggunakan metode Six Sigma dengan tahap DMAIC. Terdapat 6 buah CTQ yang diperoleh dari hasil kuesioner delphi untuk tahap definisi masalah. Pada tahap measure dilakukan perhitungan stabilitas proses menggunakan peta kendali P dengan memastikan data berada di dalam batas kendali, dan perhitungan kapabiltas proses untuk menentukan nilai DPMO dan nilai sigma. Nilai sigma yang diperoleh sebesar 4,35 dan masih perlu dilakukan peningkatan agar mendekati 6 sigma. Tahap analyze dilakukan menggunakan fishbone diagram dan 5 why’s yang kemudian didapatkan faktor man, method, cetakan dan material sebagai akar penyebab masalah. Selanjutnya dilakukan analisis FMEA untuk menentukan prioritas perbaikan melalui nilai RPN yang tertinggi. Usulan perbaikan yang dilakukan pada tahap improve yaitu perancangan alarm display dengan Poka-yoke, pembuatan penjadwalan pemeliharaan dan pengecekan pipa air sand mixer dan pembuatan display sebagai pengingat pengecekan gatting system. Kata kunci: Kata Kunci: Shoulder, Inklusi Pasir, Six sigma, DMAIC, CTQ, Poka-yoke Abstract PT. Pindad is one of the companies under the auspices of SOEs that produce military and commercial products in Indonesia, one of which is producing railway components such as shoulder products, base plates and e-clips. Based on historical data period January 2017 - December 2018, it is known that shoulder products have the highest defect average and exceed the tolerance limit set by the company. The defect product tolerance set by the company is 2%, while the shoulder product has an average defect of 5.22%. Based on historical data in the period January 2017 - December 2018, shoulder products have the highest average defect and exceed the tolerance limit set by the company. The defect product tolerance set by the company is 2%, while the shoulder product has an average defect of 5.22%. Defect of sand inclusion is one type of defect that often occurs. Therefore, the research will focus on the process that causes defect of sand inclusion using the Six Sigma method with the DMAIC stage. There are 6 CTQs obtained from the results of the Delphi questionnaire for defining the problem. In the measure stage, calculation of process stability is carried out using p-control chart by ensuring the data is within the control limit, and calculation of process capability to determine the DPMO value and sigma value. Sigma value is 4.35 and still needs to be increased to approach 6 sigma. Analyze phase uses fishbone diagram and 5 why so that there are man, method, machine and material factors as the root cause of the problem. After that, FMEA analysis to determine the priority of improvement through the highest RPN value. Proposed improvements in the phase are designing alarm displays with Poka-yoke, making scheduling maintenance and checking of sand mixer water pipes and making display as a reminder of checking gatting systems. Keywords: Shoulder, Sand Inclusion, Six sigma, DMAIC, CTQ, Poka-yoke
Designing Electronic Kanban To Reduce Lead Time On Cone Assembly Line In Pt Xyz Nadhifah Aqilah Nugraha; Dida Diah Damayanti; Widia Juliani
eProceedings of Engineering Vol 7, No 1 (2020): April 2020
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract— Airplanes manufacturing are growing along with the increasing demand from consumers. PT XYZ is a manufacturing company of aircraft included the design and development, manufacture, assembly, and services of aircraft. The helicopter's tail called Tailboom is a product of the helicopter division, where the Tailboom assembly line is a pull system. Based on observations of existing conditions that occur at PT XYZ, production is still unable to meet demands of consumers, Lead Time occurs greater than the plan agreed upon by the consumers. In the assembly process, each work station experiences a lack of parts and component needed to assemble. This happens because of the delay in getting the required part information and there is no warning about the availability of parts needed, it makes some parts unavailable in assembly warehouse. The lack of parts and components from the previous work station causes the assembly process to stop and the assembly line also stops at the next station. In its completion, the production time was late and not on schedule. In resolving these problems, controlling process is needed, which is controlling the assembly line to get all components and sub-assembly in the right amount and at the right time. This study applies one of Just In Time tools, namely Kanban and automation should be added as efficiently and effectively communication line becomes Electronic Kanban. The problem can be solved by reducing buffer such as waiting time and idle time. The proposed results of controlling the assembly line of Tailboom result in a smooth assembly line without waiting, reduced lead time and achieving production time according to the schedule agreement with the consumers. Keywords— Kanban, E-Kanban, Lead Time, Pull System. Abstrakt— Manufaktur pesawat terbang tumbuh seiring dengan meningkatnya permintaan dari konsumen. PT XYZ adalah perusahaan manufaktur pesawat yang mencakup dalam desain dan pengembangan, pembuatan, perakitan, dan perawatan pesawat. Ekor helikopter yang disebut Tailboom adalah produk dari divisi helikopter, dengan lini perakitan Tailboom adalah sistem tarik. Berdasarkan pengamatan terhadap kondisi saat ini di PT XYZ, produksi masih belum dapat memenuhi permintaan konsumen, Lead Time terjadi lebih besar dari rencana yang disepakati oleh konsumen. Dalam proses perakitan, setiap stasiun kerja mengalami kekurangan komponen yang dibutuhkan untuk merakit. Hal ini terjadi karena keterlambatan dalam mendapatkan informasi bagian yang diperlukan dan tidak ada peringatan tentang ketersediaan suku cadang yang dibutuhkan, hal ini membuat beberapa komponen tidak tersedia di gudang perakitan. Kurangnya komponen dari stasiun kerja sebelumnya menyebabkan proses perakitan berhenti dan lini perakitan juga terhenti di stasiun berikutnya. Sehingga, waktu produksi terlambat dan tidak sesuai jadwal. Dalam menyelesaikan masalah ini, diperlukan adanya proses pengendalian, yaitu mengendalikan lini perakitan untuk mendapatkan semua komponen dan sub-perakitan dalam jumlah yang tepat dan pada waktu yang tepat. Penelitian ini menerapkan salah satu alat Just In Time, yaitu Kanban dan ditambahkan otomatisasi sebagai jalur komunikasi yang lebih efisien dan efektif menjadi Elektronik Kanban. Masalah ini dapat diselesaikan dengan mengurangi buffer seperti waktu tunggu dan waktu idle. Hasil yang diusulkan untuk mengontrol jalur perakitan Tailboom menghasilkan jalur perakitan yang lancar tanpa menunggu, mengurangi lead time dan mencapai waktu produksi sesuai dengan perjanjian jadwal dengan konsumen. Kata Kunci- Kanban, E-Kanban, Lead Time, Sistem Tar
Perancangan Electronic Kanban Menggunakan Metode Constant Quantity Withdrawal System Untuk Mengurangi Keterlambatan Pada Assembly Junction Di Pt Dirgantara Indonesia Puput Nidaul Choiriyah; Denny Sukma Eka Atmaja; Widia Juliani
eProceedings of Engineering Vol 8, No 3 (2021): Juni 2021
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT Dirgantara Indonesia merupakan salah satu perusahaan milik Negara yang bergerak dalam bidang kedirgantaraan. Saat ini perusahaan sedang mengalami permasalahan pada keterlambatan dalam pengiriman Tailboom. Tailboom merupakan ekor dari helicopter. Permasalahan ini disebabkan karena keterlambatan pada salah satu komponen Tailboom yaitu Junction. Komponen Junction mengalami keterlambatan pada proses assembly dikarenakan kekurangan part di assembly line. Kekurangan part disebabkan karena tidak lengkapnya work package yang dikirimkan dari fabrikasi. Untuk mengatasi keterlambatan pada assembly Junction dibutuhkan sistem kontrol produksi yang berupa Kanban. Kanban merupakan tools dari Just In Time untuk sistem produksi tarik atau pull system. Dengan menggunakan kanban dapat mengontrol aliran produksi sesuai quantity yang dibutuhkan dan waktu yang tepat. Hasil dari penelitian ini adalah perancangan sistem Electronic Kanban menggunakan metode constant quantity withdrawal system yang diimplementasikan di area fabrikasi, assembly store dan assembly line. Hasil simulasi dengan menggunakan electronic kanban pada assembly Junction mampu mengurangi keterlambatan sebesar 56% yang disebabkan karena factor part. Hal ini disebabkan karena level stock di departemen assembly store dapat terjaga, kemudian material dan kapasitas pada fabrikasi memenuhi.Selain itu, electronic kanban memberikan informasi antar departemen saling terintegrasi sehingga mudah diketahui kesalahan yang terjadi secara realtime. Dengan demikian production control dapat mengambil kebijakan terkait permasalahan yang dideteksi. Electronic kanban dapat menginformasikan apa, berapa, dan kapan harus memproduksi part atau komponen. Kata kunci : Constant Quantity, Electronic Kanban, Junction, Keterlambatan, Tailboom Abstract PT Dirgantara Indonesia is a state-owned company engaged in the field of aerospace. Today company has a problem on delivery Tailboom. Tailboom cannot delivery on time. Tailboom is a tail of helicopter. This problem occurs because late on Tailboom component, Junction. Junction component was late on assembly process due to lack of part on assembly line. This caused by uncomplete work package that delivered from fabrication. To reduce lateness in assembly Junction, kanban is needed as production control system. Kanban is a tools of Just In Time for pull production system. Using kanban system can control the production according to the quantity needed and in the right time. The results of this study is design Electronic Kanban system using constant quantity withdrawal system method which is implemented in fabrication, assembly store and assembly line. Constant quantity withdrawal system method is used to calculate the required kanban. The result from simulation using electronic kanban in assembly Junction can reduce lateness for 56% that caused by part faktor. It caused level stock in assembly store is maintained, material and capacity in fabrication is available. In other that, electronic kanban give the information flow between department is integrated with each other so it easy to know what errors that occur in real time. Based on that reason, production control can make a decision related on that problem. Electronic kanban can inform what, how, and when to produce parts or component. Keywords: Constant Quantity, Electronic Kanban, Junction, Lateness, Tailboom
Penerapan Metode 5s Untuk Meminimasi Waste Motion Pada Proses Produksi Roti Kadet Di Cv. Sri Rejeki Dengan Pendekatan Lean Manufacturing Dandi Muhammad Alim; Wiyono Wiyono; Widia Juliani
eProceedings of Engineering Vol 8, No 4 (2021): Agustus 2021
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

CV. Sri Rejeki merupakan salah satu perusahaan yang bergerak pada bidang penghasil roti. Pada proses produksi di perusahaan masih ditemukan beberapa waste. Pada proses produksi roti kadet, ditemukan waste motion yang mempengaruhi lamanya waktu produksi sehingga menimbulkan terjadinya masalah ketidaktercapaian target produksi dan waktu pengiriman. untuk mengurangi waste motion yang terjadi digunakan penerapan metode 5S dengan pendekatan lean manufacturing, dilakukan pemetaan aliran produksi dan aliran informasi serta identifikasi dengan value stream mapping dan process activity mapping. Identifikasi waste diawali dengan penggambaran current state map, lalu dilakukan analisis waste ke dalam kategori 7 waste (Liker,2006). Setelah itu dilakukan analisis akar penyebab timbulnya waste menggunakan fishbone diagram dan 5 Whys. Rekomendasi perbaikan yang diberikan terkait pada waste yang teridentifikasi adalah penerapan 5S dan merancang tools box yang dapat mengurangi gerakan operator dan lead time. Dari usulan rancangan perbaikan yang dibuat, kemudian memetakan proses produksi pada value stream mapping future state dan didapatkan hasil lead time yang berkurang menjadi 23065,49 detik. Kata Kunci : Lean Manufacturing, Gerakan Pemborosan, Sistem 5S
Perancangan Konsep Usulan Alarm Peringatan Menggunakan Metode Quality Function Deployment Untuk Meminimasi Defect Retak Pada Proses Pembelahan Slat Pensil 7a1 Di Pt Xylo Indah Pratama Msy Cahaya Dinda Pamungkas; Wiyono Wiyono; Widia Juliani
eProceedings of Engineering Vol 7, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT Xylo Indah Pratama merupakan perusahaan swasta nasional yang memproduksi barang setengah jadi berupa slats atau lempengan pensil. Slat yang diproduksi terdiri dari beberapa jenis salah satunya adalah grade 7A1 dengan jumlah produksi yang paling banyak. Data historis perusahaan pada tahun 2019 menunjukkan terjadinya jumlah cacat yang melebihi batas toleransi yang ditetapkan. Di mana, rata-rata persentase jumlah defect sebesar 2% sedangkan perusahaan menetapkan toleransi sebesar 1%. Terdapat 17 jenis cacat yang tidak sesuai dengan spesifikasi produk 7A1. Diketahui dari data historis perusahaan, cacat yang paling banyak terjadi adalah cacat retak yang terjadi pada proses pembelahan. Dengan menggunakan tool fishbone diagram diketahui faktor penyebab cacat dari beberapa faktor. Penentuan faktor dominan dilakukan menggunakan tool FMEA dan didapatkan bahwa penyebab utama cacat retak adalah faktor method dengan mode kegagalan pengisian slat di dalam box penampung tidak sesuai prosedur (diisi sampai slat tumpah/jatuh). Sehingga diberikan usulan perbaikan berupa alarm peringatan. Penyusunan konsep rancangan alarm peringatan dilakukan menggunakan metode QFD (Quality Function Deployment) dengan terlebih dahulu mengetahui VOC (Voice of Customer). Customer need diterjemahkan ke dalam technical responses dan ditentukan keterkaitan hubungannya menggunakan HOQ (House of Quality). Terdapat tiga alternatif konsep alarm peringatan yang dikembangkan berdasarkan technical responses pada tahap concept generation. Pemilihan konsep terbaik dilakukan pada tahap concept screening. Didapatkan konsep rancangan alarm peringatan berdasarkan prinsip poka-yoke yang dilengkapi dengan sensor, program counter pada PLC, serta output berupa suara dan cahaya peringatan untuk mencegah terjadinya cacat retak pada PT XIP. Kata Kunci: Slat, Defect, QFD, Voice of Customer, House of Quality Abstract PT Xylo Indah Pratama is a company that produces semi-finished goods in the form of slats or pencil slabs. Slat produced consists of several types, one of which is grade 7A1 with the most production. Historical company data in 2019 shows the number of defects that exceed the established tolerance limits. Where, the average percentage of the total defect is 2% while the company sets a tolerance of 1%. There are 17 types of defects that are incompatible with product 7A1 specifications. It is known from the company's historical data, the most common defects are crack defects that occur in the cleavage process. By using the fishbone diagram tool, it is known the factors that cause defects from several factors. Determination of the dominant factor is done using the FMEA tool and it is found that the main cause of the crack defect is a method factor with the failure mode of filling the slat in the container box not according to the procedure (filled until the slat spills / falls). So that the proposed improvement in the form of a warning alarm. The concept of warning alarm design is done using the QFD (Quality Function Deployment) method by first knowing the VOC (Voice of Customer). Customer needs are translated into technical responses and relationships are determined using HOQ (House of Quality). There are three alternative warning alarm concepts developed based on technical responses at the concept generation stage. The best concept selection is done at the concept screening stage. The concept of warning alarm design is based on the poka-yoke principle which is equipped with sensors, program counter on PLC, and outputs in the form of sound and warning light to prevent the occurrence of crack defects in PT XIP. Keywords: Slat, Defect, QFD, Voice of Customer, House of Quality
Rancangan Kanban Elektronik Untuk Mereduksi Keterlambatan Pada Proses Perakitan Komponen Rudder Di Pt Dirgantara Indonesia Thamara Thamara; Dida Diah Damayanti; Widia Juliani
eProceedings of Engineering Vol 7, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT. Dirgantara Indonesia (Indonesian Aircraft Industries) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur pesawat terbang dan merupakan satu – satunya perusahaan yang memproduksi pesawat di Indonesia dan sudah menerapkan Just In Time (JIT). PT Dirgantara Indonesia menacakup dalam desain dan pengembangan, pembuatan, perakitan, dan perawatan pesawat. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada bagian helikopter yaitu ekor atau yang biasa disebut Tailboom pada komponen rudder di lini perakitan. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukkan terhadap kondisi saat ini PT Dirgantara Indonesia masih belum dapat menyelesaikan proses perakitan pada waktu yang telah ditentukan, ini terjadi karena adanya keterlambatan sehingga menyebabkan job stop pada lini perakitan rudder. Keterlambatan pada lini perakitan diakibatkan pula oleh sub - assy penyusun rudder yang disebabkan kurang nya sistem kontrol pada area lini perakitan serta informasi mengenai bagian yang diperlukan pada proses perakitan. Maka dari itu, untuk menyelesaikan masalah keterlambatan komponen atau sub - assydiperlukannya sistem kontrol serta pengendalian untuk mengontrol dan mengendalikan semua komponen dan sub - assy dalam jumlah dan waktu yang tepat. Salah satu alat dari Just In Time ini yaitu dengan menggunakan Sistem Kanban yang berbasis elektronik serta di otomatisasikan sebagai salah satu sistem yang dapat mengontrol aliran informasi serta aliran material pasa setiap komponen maupun sub – perakitan. Hasil yang diusulkan dari rancangan Sistem Kanban Elektronik ini untuk mengontrol lini perakitan rudder sehingga menghasilkan lini perakitan yang lancar tanpa adanya keterlambatan dan job stop. Kata kunci: Just In Time, Sistem Kanban, Kanban Elektronik, Keterlambatan, Job Stop. ISSN : 2355-9365 e-Proceeding of Engineering : Vol.7, No.2 Agustus 2020 | Page 6329 Abstratct PT. Dirgantara Indonesia (Indonesian Aircraft Industries) is a company engaged in manufacturing airplanes and is the only company that manufactures aircraft in Indonesia and has implemented Just In Time (JIT). PT Dirgantara Indonesia cover in the design and development, manufacture, assembly, and maintenance of aircraft. Based on the observation that has been done on the helicopter part of the tail or commonly called the Tailboom on the rudder component in the assembly line. Based on the observations that have been made to the current condition of PT Dirgantara Indonesia is still not able to complete the assembly process at a predetermined time, this occurs due to delays causing a job stop in the rudder assembly line. The delay in the assembly line is also due to sub – the rudder assembly that caused less control system in the assembly line area as well as information on the necessary parts of the assembly process. Therefore, to solve the problem of delays in components or sub-assembly the system needs control and control to control and control all components and sub-assembly in the amount and the right time. One of the tools of Just In Time is that using the electronic-based Kanban system as well as in automatisated as one system that can control the flow of information and the flow of material in each component or sub – assembly. The proposed result of the design of this electronic Kanban system to control the rudder assembly line resulted in a smooth assembly line with no delays and a job stop. Keyword : Just In Time, Kanban System, Electronic Kanban, Delay, Job Stop
Designing Of Electronic Kanban As One Of The Ways To Reduce Delays On A Production Process For Assembly Line Of Elevator At Pt. Dirgantara Indonesia Tyara Silva Sagita; Dida Diah Damayanti; Widia Juliani
eProceedings of Engineering Vol 7, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The Aircraft industry consists of several players those are the sellers as the original equipment manufacturers (OEMs), which include the aircraft and part manufacturers for Boeing, Airbus, etc. PT Dirgantara Indonesia or Indonesian Aerospace is an Indonesian aerospace company that engages in the field of aircraft design and development and manufacture. Currently PT Indonesian Aerospace is conducting an elevator project for an aircraft to meet a demand from customers. An Elevator is a pitch altitude controller of an aircraft, and therefore the angle of attack and the lift of the wing. Based on observations, there are still delays in the process of assembling the elevator. This happened because there are still mismatches between the planning process and actual process due to the lack of information of each worker, especially on an assembly line area, and also there is lateness in parts coming to the assembly line area. So, this research is focused on the parts that caused of delay of the assembling process because there are incomplete work package. To obtain these components and parts that are needed and to control the production system in the right item, right amount, and right time, the appropriate control system that can be used is Kanban. This research proposed to design the Electronic Kanban system to tackle the problem. Electronic Kanban also is known as e-Kanban includes all the features of the traditional Kanban system, using a mixture of technology to replace traditional elements such as Kanban cards in a way to reduce the delay and to achieving production time according to the schedule agreed with the customers. Keywords: Aircraft, Elevator, Electronic Kanban, Kanban, Delay.