p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal ZOOTEC
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi pengetahuan masyarakat Desa Taratara dan Woloan mengenai tikus ekor putih Sulawesi Utara J.T. Geruh; S.C. Rimbing; H.J. Kiroh; R.S.H. Wungow; P.R.R.I. Montong
ZOOTEC Vol. 43 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tikus ekor putih adalah salah satu kekayaan alam yang ada di Sulawesi Utara. Di desa Taratara dan Woloan tikus ekor putih dikenal dengan nama lokal kulo ipus. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tingkat pengetahuan masyarakat desa Taratara dan Woloan terhadap kelestarian tikus ekor putih Sulawesi Utara, untuk menggali informasi terhadap ketertarikan masyarakat desa Taratara dan Woloan dalam usaha penangkaran dan budidaya tikus ekor putih. Penelitian ini dilakukan di desa Taratara dan Woloan Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara, pada tanggal 25 Maret - 15 Mei 2021. Menggunakan metode survey dengan menggunakan objek masyarakat sebanyak 1.329 responden di desa Taratara dan sebanyak 1.695 responden di desa Woloan. Teknik pengambilan data yaitu dengan cara mendatangi rumah-rumah masyarakat memberikan kuisioner kepada masyarakat yang menjadi responden yang berusia 17-60 tahun untuk di isi, selanjutnya melakukan wawancara secara langsung kepada responden. Variabel yang diamati yaitu pengetahuan mengenai tikus ekor putih sebagai satwa endemik, tingkat pemahaman masyarakat mengenai tikus ekor putih, pengetahuan masyarakat mengenai instansi badan konservasi alam dinas kehutanan. Hasil penelitian di kedua desa menunjukan bahwa pengetahuan tentang tikus ekor putih sebanyak (36,74%) dan (34,80%), tahu tentang jenis-jenis tikus ekor putih yang dimakan sebanyak (26,85%) dan (35,93%) tahu tentang bentuk dan warna dari jenis tikus ekor putih (39,35%) dan (40,57%). Mengetahui tentang konservasi (36,43%) dan (30,64%), tahu tikus ekor putih dilindungi UU konservasi No 5/1990  (25,64%) dan (29,02%). Mengetahui adanya instansi badan konservasi alam dinas kehutanan (36,31%) dan (33,72%). Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat dasa Taratara dan Woloan rata-rata sudah mengetahui tentang tikus ekor putih. Oleh karena itu perlu adanya penyuluhan tentang nilai ekonomis dan nilai gizi dari tikus ekor putih serta usaha untuk melestarikanya sehingga tikus ekor putih tidak punah, mengingat masyarakat minahasa sangat menyukai kuliner dari tikus ekor putih. Kata Kunci : Masyarakat, Taratara, Woloan, Tikus ekor putih
Identifikasi kelelawar di sekitar Gunung Lolombulan desa Pakuure Kecamatan Tenga Kabupaten Minahasa Selatan G.V. Liudongi; T.A. Ransaleleh; S.C. Rimbing; I. Wahyuni; M. Kawatu; J. Onibala
ZOOTEC Vol. 43 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi jenis-jenis kelelawar hasil tangkapan pemburu di Gunung Lolombulan Desa Pakuure Kecamatan Tenga Kabupaten Minahasa Selatan. Sampel yang digunakan sebanyak 100 ekor kelelawar pemakan buah. Metode yang digunakan yaitu deskriptif. Pengamatan dilakukan secara langsung pada kelelawar, untuk mengamati ciri-ciri morfologi kelelawar. Prosedur pengambilan sampel dilakukan dengan mempersiapkan semua peralatan yang digunakan untuk melakukan identifikasi, menemui pemburu untuk mengambil sampel, setelah itu melakukan identifikasi. Data yang diperoleh ditabulasi kemudian dibahas secara deskriptif. Variabel morfologi yang diamati yaitu bobot badan, ciri-ciri tubuh, ukuran morfometri. Berdasarkan pada morfologi maka kelelawar yang ditemukan di sekitar Gunung Lolombulan yaitu lima spesies dari lima genus yang berbeda, yaitu Thoopterus nigrescens, Rousettus amplexicaudatus, Cynopterus minutus, Nyctimene cephalotes dan Dobsonia exoleta. Dari kelima spesies tersebut, terdapat dua spesies endemik sulawesi yaitu, T. nigrescens dan D. exoleta Kata Kunci: Identifikasi, Gunung Lolombulan, Kelelawar