Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Model STIND dalam Pembelajaran PAI: Argumentasi dan Pemahaman Konseptual Mahasiswa Figo Zulfan Alfaraby; Nur Ali; Helmi Syaifuddin; Ali Muchasan
Academicus: Journal of Teaching and Learning Vol. 5 No. 1 (2026): Teaching and Learning
Publisher : Perkumpulan Dosen Tarbiyah Islam, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59373/academicus.v5i1.114

Abstract

Pendidikan tinggi dituntut tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk kemampuan argumentasi dan pemahaman konseptual mahasiswa, sementara pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di perguruan tinggi masih cenderung didominasi metode ceramah yang kurang mendorong keterlibatan kognitif secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model Structured Thematic Interactive Notation and Discussion (STIND) dalam pembelajaran PAI, mengidentifikasi pola argumentasi mahasiswa, dan menjelaskan bagaimana pemahaman konseptual mahasiswa terbentuk melalui model tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus intrinsik di IAI Hasanuddin Pare, melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, yang dianalisis secara interaktif melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa STIND diterapkan secara sistematis melalui tahapan segmentasi tematik, notasi manual, presentasi mahasiswa, diskusi sejawat, disiplin HP-off, dan sintesis reflektif. Model ini berkontribusi pada perkembangan kemampuan argumentasi mahasiswa, terutama dalam menyusun claim, data, dan warrant, meskipun unsur rebuttal masih terbatas. Selain itu, STIND juga memperkuat pemahaman konseptual mahasiswa, yang tampak dari kemampuan menafsirkan, memberi contoh, mengklasifikasikan, menyimpulkan, dan menjelaskan konsep secara lebih runtut. Dengan demikian, STIND dapat dipahami sebagai model pembelajaran alternatif yang tidak hanya meningkatkan keaktifan kelas, tetapi juga membentuk nalar yang lebih argumentatif, konseptual, dan reflektif dalam pembelajaran PAI di perguruan tinggi.
Empowering Senior Santri as Peace Educators: Developing a Community-Based Peer Mentorship Model to Prevent Violence in Islamic Boarding Schools Ali Muchasan; Salim Ashar; Moch Naufal
Engagement: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 10 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Asosiasi Dosen Pengembang Masyarajat (ADPEMAS) Forum Komunikasi Dosen Peneliti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29062/engagement.v10i1.2263

Abstract

Background: This study addresses the critical social issue of violence and bullying within Islamic educational institutions. It focuses on the role and potential of senior santri (students) as peer mentors in Islamic boarding schools (pesantren) in Kediri, Indonesia, to act as agents of peace and change. Purpose of the Study: The purpose is to examine how values grounded in education and empathy can mitigate violence, specifically through the peer mentoring practices of senior santri. The objective is to understand the nature of this mentorship to inform the development of a community-based violence prevention model. Methods: This community service program (Pengabdian kepada Masyarakat - PkM) employs a participatory action research (PAR) approach and a qualitative phenomenological design. The method involved collaborative engagement with ten senior santri through participatory observation, in-depth interviews, and documentation. Data were analyzed using the Moustakas phenomenological method. Results: The analysis identified seven core themes defining the mentorship, including its role as moral leadership, a shift from authority to empathy, and its function as a reflective, spiritual practice for violence prevention. The findings position peer mentorship as a foundational element for humanistic education (tarbiyah Islamiyah) and provide a basis for developing ethical training models to foster safe, non-violent educational environments.
Evaluating the 2026 Computer-Based Academic Ability Test in Kediri Elementary Schools: Procedural Compliance and Infrastructure Readiness Ali Muchasan; Desy Putri P; Inchinia Angger Rowin; Joko Irianto; Sanusi
JURNAL PENDIDIKAN DASAR NUSANTARA Vol 12 No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/jpdn.v12i1.28798

Abstract

The transition of primary education assessment toward Computer-Based Testing (CBT) requires not only student readiness but also procedural compliance, adequate devices, reliable internet connectivity and electricity, and sufficient technical support at the school level. Differences in capacity across educational institutions may result in unequal implementation, particularly among schools located in peripheral areas. Against this background, the research problem concerns the extent of procedural compliance and technical infrastructure readiness among elementary schools in implementing the CBT-based Academic Ability Test (Tes Kemampuan Akademik—TKA) in Kediri Regency in 2026. This study aimed to evaluate the implementation of the elementary-level TKA in relation to these two aspects. A descriptive quantitative approach was employed using a structured survey based on a monitoring instrument developed by the Kediri Regency Education Council. The study involved 22 sampled schools across 10 districts, comprising 18 public elementary schools and four private/Islamic elementary schools, with 853 registered participants. The instrument consisted of a 29-item dichotomous checklist and a five-point Likert scale covering the preparation and implementation dimensions. The findings revealed a participant attendance rate of 99.88%; all schools independently administered online CBT; checklist compliance reached 95.5%; and the mean scores for preparation, implementation, and overall performance were 4.503, 4.257, and 4.380, respectively, all of which were classified as excellent. The primary constraint was the absence of an uninterruptible power supply (UPS) or generator in four schools (18%). The study concludes that the initial implementation of the elementary-level TKA was highly successful; however, further improvements are needed in electrical infrastructure, support for schools in peripheral areas, and the institutionalization of annual monitoring.
EVALUASI PENDIDIKAN NON FORMAL: INTEGRASI SPIRITUALITAS DAN PSIKOTERAPI ISLAM SEBAGAI INTERVENSI Muhammad Syahrul Munir; Ali Muchasan; Wildan Habibi
INOVATIF: Jurnal Penelitian Pendidikan, Agama, dan Kebudayaan Vol. 12 No. 1 (2026): INOVATIF Februari 2026
Publisher : Center for the Research and the Communicator Service of IAI Hasanuddin Pare-Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55148/0s4hzx61

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas integrasi spiritualitas dan psikoterapi Islam sebagai bentuk intervensi dalam pendidikan non formal, khususnya bagi peserta didik yang rentan secara psikososial. Latar belakang studi ini didasari oleh banyaknya peserta didik di lembaga pendidikan non formal, seperti PKBM, yang mengalami gangguan kesehatan mental seperti stres, kecemasan, dan rendahnya harga diri. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dan metode studi evaluasi, penelitian ini menganalisis dampak dari program yang menggabungkan praktik-praktik keagamaan seperti dzikir, muhasabah, dan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dengan teknik psikoterapi Islami. Penelitian ini merupakan penelitian Evaluasi dengan pendekatan kualitatif. Analisis datanya adalah dengan model deskriptif-analisis. Lokasi penelitiannya adalah di PKBM Al Kautsar Kediri. Metode pengumpulan datanya berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pisau analisis yang digunakan adalah teori tentang Spiritualitas dan Psikoterapi Islam. Yang mana tujuan dari penelitian ini adalah deskriptif-analisis: integrasi spiritualitas dan psikoterapi islam dalam pendidikan non formal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi ini secara signifikan meningkatkan ketenangan batin, pengendalian emosi, serta kesadaran spiritual peserta didik. Peserta juga mengalami peningkatan motivasi belajar, empati sosial, dan kepercayaan diri. Dari evaluasi kuantitatif menggunakan instrumen DASS-21 dan observasi kualitatif, ditemukan penurunan tingkat stres dan kecemasan secara nyata setelah program dijalankan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi spiritualitas dan psikoterapi Islam merupakan pendekatan yang efektif dan relevan dalam pendidikan non formal untuk mendukung pemulihan mental dan pembentukan karakter spiritual peserta didik.