Rizqy Romadhona Ginting
Program Studi Teknik Kimia, Institut Teknologi Kalimantan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

INOVASI EKSTRAKTOR PEWARNA ALAMI BATIK KHAS KALIMANTAN UNTUK PEMBERDAYAAN PUSAT KERAJINAN BATIK Lusi Ernawati; Rizqy Romadhona Ginting; Rizka Lestari; Mutia Reza
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 3 (2024): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i3.23388

Abstract

Abstrak: Banyak produk adat dan kebudayaan lokal terkenal di Kalimantan Timur, selain kekayaan sumber daya alam, salah satunya adalah pabrik kain batik Shaho. Berdasarkan hasil survei, pusat kerajinan batik Shaho sampai saat ini masih menggunakan pewarna kimia sintetis yang bersifat genotoksik, karsinogen dan merupakan polutan berkategori B3. Tujuan dari kegiatan adalah memperkenalkan rancangan alat ekstraktor untuk produksi pewarna alami kain batik dengan bahan baku serbuk kayu khas hutan Kalimantan (Ulin dan Bangkirai) serta memberikan wawasan dan pengetahuan kepada mitra melalui pengenalan teknologi ekstraksi modern untuk pembuatan pewarna alami kain batik. Mitra pada pengabdian ini adalah pemilik usaha batik Shaho yang berlokasi di kelurahan Batu Ampar, jalan LKMD RT. 5, No. 45 Balikpapan. Peserta terdiri dari pekerja mitra Batik shaho sebanyak 10 orang, pemilik usaha batik 2 orang dan masyarakat sekitar sebanyak 8 orang. Dari kuesioner yang terdiri dari 10 pertanyaan kepada 20 peserta menunjukkan bahwa wawasan pekerja pusat kerajinan batik meningkat tentang pembuatan ekstrak pewarna alami dari serbuk kayu dengan alat ekstraktor sebelum demonstrasi dengan indeks capaian sebesar 60 % naik menjadi 90% sesudah demonstrasi. Peserta memberikan respon positif terutama pada inovasi alat ekstraktor dan produk pewarna kain alami. Produk pewarna cair alami dari ekstrak serbuk kayu ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi produk pewarna padat alami dari serbuk kayu yang pemanfaatannya lebih tahan lama serta dari segi pengemasan lebih ekonomis. Abstract: Many traditional and local cultural products are famous in East Kalimantan, in addition to the wealth of natural resources, one of which is the Shaho batik cloth factory. Based on the survey results, the Shaho batik craft center is still using synthetic chemical dyes that are genotoxic, carcinogenic and are B3 category pollutants. The purpose of the activity is to introduce the design of an extractor tool for the production of natural batik dyes with raw materials from Kalimantan forest sawdust (Ulin and Bangkirai) and to provide insight and knowledge to partners through the introduction of modern extraction technology for making natural batik dyes. The partners in this service are the owners of the Shaho batik business located in Batu Ampar Village, Jalan LKMD RT. 5, No. 45 Balikpapan. Participants consisted of 10 Batik shaho partner workers, 2 batik business owners and 8 people from the surrounding community. From the questionnaire consisting of 10 questions to 20 participants, it showed that the insight of the batik craft center workers increased about making natural dye extracts from sawdust with an extractor tool before the demonstration with an achievement index of 60% increasing to 90% after the demonstration. Participants gave positive responses especially to the innovation of extractor tools and natural fabric dye products. Natural liquid dye products from sawdust extract are expected to be developed into natural solid dye products from sawdust which are more durable and more economical in terms of packaging.
IMPLEMENTASI FILTER CERDAS BERBASIS IoT DENGAN MEDIA CERAMSITE UNTUK PENGOLAHAN AIR SUMUR WISATA EDUKASI KM12 Lusi Ernawati; Rizqy Romadhona Ginting; Riza Alviany; Abdul Kahfi; Catherina San Gabrelia; Elshanda Nur Alifiyani; Ferry Ramadhan; Hafidz Syaifullah; Khairiyah Maulidia Al Faiza; Majesty Heral Torambung
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40422

Abstract

Abstrak: Air sumur bor di Kebun Wisata Edukasi KM 12 selama ini digunakan tanpa pengolahan memadai, sehingga kualitasnya sangat bergantung pada kondisi alami yang sering berubah, ditandai dengan kekeruhan tinggi, kandungan padatan terlarut (TDS) tinggi, serta belum adanya sistem pemantauan real-time. Kegiatan pengabdian ini menerapkan filter cerdas berbasis IoT dengan media ceramsite, melalui perancangan dan pemasangan unit filtrasi, integrasi sensor pH dan TDS, pengujian kinerja, serta sosialisasi dan pelatihan kepada pengelola dan masyarakat. Evaluasi dilakukan melalui dua pendekatan: (1) evaluasi teknis berupa pengukuran kualitas air sebelum dan sesudah filtrasi menggunakan parameter pH, TDS, dan kekeruhan, serta (2) evaluasi sosial menggunakan kuesioner skala Likert 1-5 yang mengukur kepuasan, kemudahan penggunaan, dan dampak program terhadap 21 responden. Hasil implementasi menunjukkan peningkatan signifikan: pH meningkat ke rentang netral 7,1–7,4 (memenuhi standar), TDS turun 63,7% dari 512 mg/L menjadi 186 mg/L, dan kekeruhan turun 100% dari 5 NTU menjadi 0 NTU. Sistem IoT memungkinkan monitoring real-time melalui platform digital mudah diakses. Evaluasi terhadap 21 responden menunjukkan kepuasan tinggi (skor 4,62 dari 5,00); 93,3% menyatakan bermanfaat, 90 % merasakan peningkatan kualitas, dan 96,7% mendukung keberlanjutan. Teknologi ini efektif dan berpotensi direplikasi di wilayah lain.Abstract: At KM 12 Educational Tourism Garden, well water has been used untreated, making its quality dependent on fluctuating natural conditions, marked by high turbidity, high Total Dissolved Solids (TDS), and no real-time monitoring. This program implemented an IoT-based smart filter using ceramsite media, covering filtration unit design, pH and TDS sensor integration, performance testing, and community training for managers and locals. Evaluasi dilakukan melalui dua pendekatan: (1) evaluasi teknis berupa pengukuran kualitas udara sebelum dan sesudah filtrasi menggunakan parameter pH, TDS, dan kekeruhan, serta (2) evaluasi sosial menggunakan kuesioner skala Likert 1-5 yang mengukur kepuasan, kemudahan penggunaan, dan dampak program terhadap 21 responden. Results showed major improvements: pH rose to 7.1–7.4 (meeting standards), TDS dropped by 63.7% from 512 mg/L to 186 mg/L, and turbidity fell by 100% from 5 NTU to 0 NTU. The IoT system enabled real-time monitoring via an accessible digital platform. Surveys from 21 respondents indicated high satisfaction (average score 4.62/5.00); 93.3% found it beneficial, 90 % perceived quality enhancement, and 96.7% supported program continuity. This technology is effective and replicable for similar clean water challenges in other regions.
PENGOLAHAN SAMPAH PADAT TPAS MANGGAR MENJADI PRODUK BIOPELLET (REFUSE-DERIVED FUEL) DENGAN MESIN PELLETIZER BERBASIS SISTEM PENGGERAK ROLLER Lusi Ernawati; Rizqy Romadhona Ginting; Rizka Lestari; Muhammad Raihan; Hizkia Gunawan Parulian Sianturi; Diniar Mungil Kurniawati; Apip Amrullah; Obie Farobie; Pandji Prawisudha
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 3 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i3.31314

Abstract

Abstrak: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan memperingatkan bahwa kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Manggar diperkirakan akan mencapai batas maksimal pada tahun 2026 apabila tidak dilakukan upaya pengelolaan yang lebih optimal. Beberapa cara mengkonversi limbah padat menjadi bahan bakar telah dilakukan untuk mengurangi volume sampah padat yang semakin meningkat. Namun, tidak menunjukkan hasil yang signifikan, sehingga upaya pengolahan sampah padat terus dilakukan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat, khususnya komunitas pengelola sampah TPAS Manggar, dengan melatih mereka membuat produk biopellet menggunakan mesin pelletizer yang berbasis sistem penggerak roller. Kegiatan pengabdian dilakukan dengan melibatkan 25 peserta dari komunitas pengelola sampah TPAS Maggar. Kegiatan ini mencakup penyampaian materi teori, yang meliputi sosialisasi mengenai sampah padat, pemilahan sampah, dan manajemen pengolahannya. Selain itu, dilakukan demonstrasi penggunaan alat pelletizer, praktik langsung pembuatan biopellet, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Dengan menggunakan analisis statistik Paired Two Sample for Means, terdapat peningkatan yang signifikan dalam tingkat pengetahuan serta keterampilan anggota kelompok pelatihan. Perbedaan rerata skor pre-test dan post-test yang secara statistik signifikan mengindikasikan bahwa program pelatihan tersebut memiliki dampak yang positif terhadap kemampuan para peserta. Dengan hasil evaluasi ini, pelatihan serupa diharapkan dapat direplikasi di komunitas lain sebagai upaya peningkatan kesadaran lingkungan dan penerapan teknologi ramah lingkungan dalam pengelolaan sampah.Abstract: The Balikpapan Environmental Agency (DLH) has issued a warning that the Manggar Final Waste Processing Site (TPAS) may reach full capacity by 2026 unless more effective waste management strategies are implemented. Although various methods of converting solid waste into fuel have been attempted to address the growing waste volume, these efforts have yet to produce significant results. Consequently, solid waste processing initiatives remain ongoing.In response, a community service program was initiated to enhance the capabilities of local residents, particularly members of the Manggar TPAS waste management team. This initiative focused on training participants in the production of biopellets using a pelletizer machine equipped with a roller drive system. A total of 20 community members took part in this program. The training included the presentation of theoretical material covering topics such as solid waste management, sorting procedures, and waste processing techniques. It also featured hands-on sessions where participants practiced operating the pelletizer and producing biopellets. To assess the program’s effectiveness, participants underwent pre- and post-training evaluations. Using the Paired Two Sample for Means statistical method, the data revealed a significant improvement in the participants’ knowledge and skills. The measurable increase in average test scores demonstrates the positive impact of the training. Based on these findings, it is advisable to implement similar initiatives in other communities to encourage environmental awareness and the use of sustainable waste management technologies.