p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Menara Medika
Legabina Adzkia
Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENERAPAN PROGRAM BINA KELUARGA BALITA (BKB) TERHADAP STUNTING DI KABUPATEN PASAMAN Legabina Adzkia; Evi Hasnita; Rahmat Saputra
Menara Medika Vol 6, No 1 (2023): VOL 6 NO 1 SEPTEMBER 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mm.v6i1.4699

Abstract

Pendahuluan: Stunting merupakan bentuk kegagalan dalam tumbuh kembang pada anak balita atau bayi akibat kekurangan gizi yang nilai z-skornya kurang -2SD. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, ditemukan bahwasanya Kabupaten Pasaman memiliki persentase tertinggi kasus stunting yaitu (40,6%). Tujuan: untuk mengetahui pengaruh program bina keluarga balita terhadap stunting pada balita di Kabupaten Pasaman. Metode: penelitian menggunakan desain quasi experimental design dengan pendekatan one-group pre-test post-test, dan desain eksperimennya time series design, dengan sampel penelitian memakai total sampling. Penelitian ini dilakukan dalam rentang waktu bulan Januari–Februari tahun 2020. Data diolah kemudian dianalisis sampai tahap multivariat dengan uji statistic T-test dependent dan times series analysis untuk melihat peningkatan status pertumbuhan responden yang diamati beberapa kali sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Dapat disimpulkan bahwa sebelum penyuluhan pengetahuan 10,70 dengan SD2,49, sesudah penyuluhan 15,05 dengan SD1,46, sebelum penyuluhan makanan sehat 7,05 dengan SD1,23 dan sesudah penyuluhan 8,45 dengan SD0,51, sebelum penyuluhan pengaturan pola makan 13,90 dengan SD1,51 sesudah penyuluhan 17,30 dengan SD1,12 dan APE sebelum penyuluhan 8,55 dengan SD1,84 dan sesudah penyuluhan 8,65 dengan SD1,30, dan terdapat pengaruh program bina keluarga balita terhadap stunting pada balita dengan nilai p value = 0,0005. Times series analysis didapatkan 6 responden dengan peningkatan status pertumbuhan setelah dilakukan intervensi. Kesimpulan dan Saran: Penyuluhan pengaturan pola makan merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap stunting dengan nilai mean 17,30. Diharapkan Puskesmas dapat menerapkan dan melaksanakan program bina keluarga balita (BKB) dalam menangani kejadian stunting. 
PERILAKU PEGAWAI ADMINISTRASI DALAM PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) DI INSTALASI GIZI DI RUMAH SAKIT Legabina Adzkia; Silvia Adi Putri; Sylvi Nezi Azwita; Tarissa Tarissa
Menara Medika Vol 9, No 1 (2026): VOL 9 No 1 SEPTEMBER 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mm.v9i1.8494

Abstract

Pendahuluan: Standar Operasional Prosedur (SOP) merupakan pedoman penting dalam pelaksanaan pekerjaan di rumah sakit untuk menjamin pelayanan yang efektif, efisien, dan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Instalasi Gizi memiliki peran dalam mendukung pelayanan pasien, termasuk kegiatan administrasi yang membutuhkan ketelitian dan kepatuhan terhadap SOP. Perilaku pegawai administrasi menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan penerapan SOP di lingkungan kerja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pegawai administrasi dalam penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Madina Bukittinggi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 20 pegawai administrasi yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan tindakan dalam penerapan SOP. Data dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Berdasarkan karakteristik responden, mayoritas berjenis kelamin perempuan sebanyak 15 responden (75,0%), berusia 26–35 tahun sebanyak 9 responden (45,0%), berpendidikan Diploma (D3) sebanyak 11 responden (55,0%), serta memiliki masa kerja lebih dari 5 tahun sebanyak 12 responden (60,0%). Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pegawai administrasi memiliki perilaku penerapan SOP dalam kategori baik, yaitu sebanyak 16 responden (80,0%). Sebanyak 3 responden (15,0%) memiliki perilaku kategori cukup dan 1 responden (5,0%) memiliki perilaku kategori kurang. Diskusi: Sebagian besar pegawai administrasi telah memiliki perilaku yang baik dalam penerapan SOP. Namun, masih diperlukan sosialisasi, pembinaan, pengawasan, dan evaluasi secara berkala untuk meningkatkan kepatuhan terhadap SOP secara optimal