Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

DINAMIKA MONEY POLITIC DALAM PEMILIHAN KEPALA DESA: Kajian Tentang Penerapan Good Governance Musayyidi Musayyidi
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 6 No. 1 (2018): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.946 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v6i1.16

Abstract

Spirit demokrasi terangkum dalam nilai-nilai persamaan dan kebebasan. Prinsip tersebut tidak dapat dipisahkan dan menjadi ciri penting sebuah negara demokratis (Cholisin, 2007: 83). Oleh karenanya selama prinsip tersebut masih tetap dipertahankan maka sampai kapanpun demokrasi akan bergerak dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Harapan yang besar terhadap demokrasi desa melalui Pilkades yang didasari oleh konsepsi politik das sollen, secara faktual menemui tantangan yang luar biasa. Beberapa Pilkades yang dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia sarat dengan permasalahan. Salah satu tantangan besar demokratisasi dalam lingkup desa adalah merebaknya politik uang (money politics) dalam Pilkades. Tidak berbeda jauh dengan Pemilihan Kepala Daerah yang sarat dengan permainan uang untuk mengegolkan dukungan kepada calon yang diajukan partai politik, Pilkades juga disinyalir sarat dengan praktek-praktek penggunaan uang untuk memobilisasi dukungan terhadap calon-calon yang bersaing memperebutkan jabatan puncak dalam pemerintahan desa.
PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER MENURUT SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS Musayyidi Musayyidi
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 5 No. 2 (2017): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.239 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v5i2.18

Abstract

Pendidikan Islam masih sering hanya dimaknai secara parsial dan tidak integral (mencakup berbagai aspek kehidupan), sehingga peran pendidikan Islam di era global sering dipertanyakan. Masih terdapat pemahaman dikotomis keilmuan dalam pendidikan Islam. Pendidikan Islam sering hanya difahami sebagai pemindahan pengetahuan (knowledge) dan nilai-nilai (values) ajaran Islam yang tertuang dalam teks-teks agama, sedangkan ilmu-ilmu sosial (social sciences guestiswissenchaften) dan ilmu-ilmu alam (nature sciences/ naturwissenchaften) dianggap pengetahuan yang umum (sekular). Padahal Islam tidak pernah mendikotomikan (memisahkan dengan tanpa saling terkait) antara ilmu-ilmu agama dan umum. Semua ilmu dalam Islam dianggap penting asalkan berguna bagi kemaslahatan umat manusia. Menurut Al-Attas (1984) percabangan sistem pendidikan tersebut di atas (tradisional-modern) telah membuat lambang kejatuhan umat Islam. Jika hal itu tidak ditanggulangi maka akan mendangkalkan dan menggagalkan perjuangan umat Islam dalam rangka menjalankan amanah yang telah diberikan Allah SWT. Allah telah menjadikan umat manusia di samping sebagai hamba-Nya juga sebagai khalifah di muka bumi, sehingga peranannya disamping mengabdikan diri kepada Allah juga harus bisa mewarnai dunia empiris.
IMPLEMENTASI LAYANAN KONSELING PRIBADI DI MADRASAH ALIYAH NEGERI (MAN) 2 JEMBER TAHUN PELAJARAN 2014/2015 Musayyidi Musayyidi
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 3 No. 1 (2015): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.995 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v3i1.52

Abstract

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Jember merupakan salah satu Madrasah Aliyah Negeri di Jember dengan pelaksanaan proses bimbingan dan konseling 24 jam pembelajaran dalam satu minggu dan sesuai dengan aturan dalam bimbingan dan konseling. Jumlah siswanya kurang lebih 950 siswa dan hanya ada tiga orang guru Bimbingan dan Konseling. Tingkat kedisiplinan seperti menaati aturan madrasah dan penghormatan kepada dewan guru begitu tinggi, dan proses pembelajaran begitu kondusif, para siswa juga kelihatan akrab dengan guru bimbingan dan konseling. Dalam penelitian ini, peneliti mencoba mendeskripsikan dan menganilisis aktifitas yang dilakukan terkait Implementasi Layanan Konseling Pribadi / perorangan di MAN 2 Jember Tahun pelajaran 2014/2015 berupa keterampilan yang dilakukan guru BK di tahap awal, tahap pertengahan dan tahap akhir konseling. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisi model miles dan hubberman, yaitu reduksi data (data reduction), Penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (Conclusing Drawing and verification).Uji keabsahan data menggunakan Trianggulasi Sumber.
Pemikiran Pendidikan Prof. Dr. M. Athiyah Al-Abrasyi Musayyidi Musayyidi
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 6 No. 2 (2018): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.886 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v6i2.91

Abstract

Muhammad Athiyah al-Abrasyi adalah seorang tokoh pendidikan yang hidup pada masa pemerintahan Abd. Nasser yang memerintah Mesir pada tahun 1954-1970. Beliau adalah satu dari sederetan nama yang tidak boleh dilupakan oleh para cendekiawan Arab dan muslimin. Beliau adalah penulis tentang pendidikan keislaman dan pemikiran, umurnya yang mendekati 85 tahun akan selalu terasa pengaruhnya bagi generasi sesudahnya. Beliau dilahirkan pada awal April tahun 1897 dan wafat pada tanggal 17 Juli 1981. Beliau memperoleh gelar diploma dari Universitas Darul Ulum tahun 1921, dan tahun 1924 beliau terbang ke Inggris, disana beliau mempelajari ilmu pendidikan, psikologi, sejarah pendidikan, kesehatan jiwa, bahasa Inggris berikut sastranya. Pada tahun 1927 beliau memperoleh gelar sarjana pendidikan dan psikologi dari universitas Ekstar. Seperti diketahui pada zaman kejayaan Islam, Negeri Mesir dikenal sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan di samping Baghdad, Damaskus, Cordova dan lain-lain. Tetapi kemudian ketika dunia Islam mengalami kemunduran, Mesirpun turut merasakannya, lebih-lebih setelah negeri ini berturut-turut di jajah Perancis dan Inggris. Akibatnya Mesir mengalami kemunduran di bidang pemikiran pada umumnya dan pendidikan pada khususnya. Di dorong kenyataan pahit inilah Muhammad Athiyah al-Abrasyi mencoba kembali menggali nilai-nilai dan unsur-unsur pembaharuan yang terpendam dalam khazanah perkembangan pendidikan Islam di masa jayanya. Ia mencoba mencari titik persamaan dasar pendidikan Islam dan pendidikan modern.
Konsep Pendidikan Pluralisme Dalam perspektif Nurcholish Madjid Musayyidi; Rasuki
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 7 No. 2 (2019): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.642 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v7i2.116

Abstract

Allah SWT. menciptakan manusia dengan bermacam-macam perbedaan agar saling berinteraksi mengenal antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan bangsa dan suku tentu akan melahirkan bermacam budaya yang ada di masyarakat. Keragaman dan perbedaan dalam kehidupan manusia merupakan sunnatullah. Al-Qur’an sebagai representasi pesan-pesan Allah untuk menjadi panduan umat manusia, sesungguhnya telah memberikan beberapa isyarat penting, baik secara eksplisit maupun implisit tentang eksistensi keragaman dan perbedaan tersebut. Pelaksanaan pendidikan Islam berbasis dan berwawasan pluralisme tersebut semakin dirasakan urgen dan mendesak jika dikorelasikan dengan kenyataan bahwa kemajemukan agama dan kemajemukan lainnya, seperti kemajemukan etnis, antar golongan dan kemajemukan lainnya belakangan ini telah menjadi suatu hal yang memancing eskalasi konflik yang sedemikian mengental pekat
Menyoal Komersialisasi Pendidikan di Indonesia Musayyidi Musayyidi
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 8 No. 1 (2020): Pendidikan dan Kesilaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.517 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v8i1.134

Abstract

Privatisasi pendidikan oleh Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan miskin.  Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membiayai? Dalam hal ini Pemerintah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu
Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam : (Urgensi Dan Pengaruhnya Dalam Implementasi Kurikulum 2013) Musayyidi Musayyidi; Anwar Rudi
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 8 No. 02 (2020): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.109 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v8i02.152

Abstract

Kementerian Pendidikan Nasional telah mulai mensosialisasikan penerapan model pendidikan berbasis karakter di seluruh institusi pendidikan tingkat dasar dan menengah di Indonesia, yaitu dengan diterbitkannya Surat Edaran Menteri Pendidikan Nasional Nomor : 384/MPN/LL/2011 tanggal 18 Juli 2011. Rupanya kebijakan ini ditargetkan menjadi solusi atas problem kompleks pendidikan nasional yang disinyalir disebabkan oleh kegagalan dalam pendidikan, rapuhnya pendidikan agama dan lemahnya penanaman nilai-nilai karakter pada peserta didik. Istilah ’pendidikan karakter’ mulanya muncul ke permukaan sebagai reaksi atas keprihatinan berbagai pihak atas berbagai gejolak dan problem global yang menggerogoti bangsa ini. Berbagai masalah tersebut mulai dari korupsi, ketidakadilan hukum, pertikaian wakil-wakil rakyat, kerusuhan antar-masyarakat, bullying, kenakalan remaja, hingga masalah yang berkaitan dengan kualitas pengembangan sumber daya manusia. Melemahnya potensi bangsa ini rupanya disinyalir disebabkan oleh semakin rendahnya karakter generasi kita serta kurang mengabaikan aspek-aspek nilai moral dan nilai luhur kemanusiaan.
Manajemen Pendidikan Islam Multikultural di Tengah Masyarakat Plural Musayyidi Musayyidi; Siful Arifin
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 9 No. 2 (2021): Jurnal Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.068 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v9i2.193

Abstract

Pendidikan merupakan sesuatu yang sifatnya berubah dan mengalami proses penyempuranaan sebagai bagian dari ciri masyarakat yang majemuk yang menuntut kompleksitas sesuatu. Maka sebagai usaha menjadikan pendidikan tetap beririring bersama dengan kompleksitas tuntutan masyarakat tersebut telah melahirkan munculnya pendidikan multikultural yakni sebuah model yang menekankan pentingnya persoalan keberagaman budaya kehdiupan semua lapisan masyarakat dan mengahapus semua jenis diskriminasi menjadikan masyarakat yang demokratis adil, inklusif, pluralis, dan menjunjung tinggi kemanusiaan (humanis). Dengan kata lain, sebagai jawaban dari persoalan kompleksitas tuntutan masyarakat terhadap pendidikan tersebut, maka diperlukan model pendidikan yang basicly multikultural untuk mengakomodir bermacam- macam persoalan dan tuntutan masyarakat yang beraneka ragam tersebut. Dalam konteks keIndonesiaan, hakekat pendidikan multikultural tidak bisa dijauhkan dari sejarah tentang peran penting Ki Hajar Dewantara sebagai perintis dasar pendidikan di indonesia yang berasaskan keanekaragaman kebudayaana di indonesia yang kemudian dikembangkannya dalam perspektif modern dengan tiga prinsip utama, yakni (1) Adat istiadat sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari fenomena kebudayaan, (2) masyarakat mulai sadar tentang pentingnya kehidupan berbudaya, dan (3) asimilasi budaya yang terjadi. Pandangan banyaknya masyarakat bahwa tugas sekolah hanya persoalan ta’dib dan ta’lim dalam proses belajar mengajar saja, padahal persoalan ta’dib dan ta’lim dalam proses belajar mengajar tersebut dapat dicapai secara maksimal, pengelola sekolah atau madrasah wajib hukumnya melaklukan manajemen dengan baik, dengan implementasi fungsi-fungsi manajamen dalam persoalan manajemen kurikulum, manajemen tatalaksana, manajemen organisasi, manajemen siswa, manajemen hubungan masyarakat HUMAS), dan , manajemen sarana-prasarana Islam mengajarkan kita bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan adil, yakni menempatkan sesuatu sesuai pada tempat dan waktunya, teratur, tertib, rapi dan sistematis. Dalam konteks pendidikan juga demikian, pelakasanaannya tentu harus dilakukan dengan sistematis dengan melaksanakan fungsi-fungsi manajerial : planning, organizing, actuating dan controlling (POAC) secara efektif dan efisien.
METODOLOGI STUDI ISLAM: Ijtihad sebagai Pintu Wacana baru dalam manajemen Studi Islam mustafidz azmi; musayyidi
Kariman: Jurnal Pendidikan Keislaman Vol. 10 No. 2 (2022): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1432.251 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v10i2.239

Abstract

Hukum Islam diturunkan Allah SWT guna mengatur seluruh gerak gerik manusia, baik yang bersifat vertikal atau berhubungan tuhannya, maupun horizontal dengan sesama manusia. Salah satu keistimewaan hukum Islam adalah mampu menghadapi perkembangan zaman. Berangkat dari pemikiran inilah maka hukum Islam harus senantiasa mampu menjawab persoalan yang dihadapi oleh pemeluknya. Dikarenakan kemampuan interpretasi masyarakat yang berbeda, maka para ulama dengan berpedoman pada hadis nabi, menetapkan hukum baru yang dinamakan Ijtihad.  Membincang ijtihad, sama saja kita membahas tentang hukum yang sumbernya dari Rahim Islam sendiri. Karena mujtahid (pegiat Ijtihad) harus berbekal ilmu keIslaman yang cukup untuk menetapkan suatu konteks. Ilmu yang dimaksud adalah, Ilmu Qur’an dan Tafsirnya, ilmu hadis, ilmu sejarah, ilmu bahasa dan sebagainya.  
PENERAPAN MODEL JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS V DI SDN LARANGAN BADUNG 1 PALENGAAN PAMEKASAN Matlani, Matlani; Musayyidi, Musayyidi
Abuya: Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 1 No. 2 (2023): Abuya: Jurnal Pendidikan Dasar
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52185/abuyaVol1iss2Y2023335

Abstract

Model Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif yang fleksibel, yang menekankan kerjasama dalam kelompok, sehingga model pembelajaran kooperatif Model Jigsaw ini mampu mengatasi masalah rendahnya motivasi belajar siswa. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: pertama Apakah penerapan model jigsaw dapat meningkatkan Motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas V? Kedua Bagaimana peningkatan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS setelah menerapkan Model Jigsaw? Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus yang terdiri dari 2 kali pertemuan. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Larangan Badung. pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan perpaduan antara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian pada siklus I pertemuan pertama menunjukkan rata-rata persentase motivasi belajar siswa tergolong dalam kategori kurang sekali yaitu 37,5% dan pada pertemuan kedua rata-rata persentase motivasi belajar siswa mencapai 57,5%. Pada siklus II pertemuan pertama rata-rata persentase motivasi belajar siswa sudah mengalami peningkatan meskipun masih belum mencapai indikator keberhasilan yaitu 75% dalam kategori cukup. Pada pertemuan kedua rata-rata persentase motivasi belajar siswa mengalami peningkatan yang sangat signifikan yaitu mencapai 85% dengan kategori baik sekali.