Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Implementasi Perbaikan Proses Produksi Air Bersih di Instalasi Pengolahan Air Minum Desrina Yusi Irawati; Agrienta Bellanov; Ravaelino Dimas Eka Narendra
Matrik : Jurnal Manajemen dan Teknik Industri Produksi Vol 24 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/matrik.v24i1.4152

Abstract

Keterbatasan sumber daya air, meningkatnya permintaan air, dan polusi sumber daya air menjadi tugas besar yang perlu di pikirkan oleh Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM). Metode sistematis untuk mengidentifikasi, mengukur, dan menilai aspek dan dampak potensial lingkungan melalui seluruh siklus hidup suatu produk, proses atau aktivitas dapat menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA). Analisis dampak lingkungan yang dihasilkan dari metode LCA dapat menjadi masukan dalam melakukan perbaikan kualitas pengolahan air bersih dari segi lingkungan. Salah satu metode perbaikan kualitas adalah Quality Function Deployment (QFD). penelitian ini bermaksud mengimplementasikan perbaikan yang perlu dilakukan oleh pihak IPAM Babat dalam mengurangi potensi pencemaran lingkungan serta memanfaatkan kembali limbah dari pengolahan IPAM. Perbaikan yang telah diterapkan selanjutnya dianalisis menggunakan LCA untuk mengetahui dampak lingkungan yang ditimbulkan dan membandingkan besar dampak lingkungan sebelum dan setelah perbaikan diimplementasikan. Keseluruhan dampak mengalami penurunan nilai setelah dilakukan pencampuran air lumpur buangan pada proses produksi air bersih selama 30 menit. Hal ini menunjukkan bahwa dalam menghasilkan 1 kg air bersih dengan pengolahan kembali air lumpur buangan dapat mengurangi dampak fossil fuels, carcinogens, respiratory organics, respiratory inorganics, climate change, radiation, ozone layer, excotoxity, acidification/eutropication, land use, dan minerals.
PEMANFAATAN LAHAN NON PRODUKTIF AREA PERKOTAAN DENGAN MEMBANGUN HIDROPONIK Maria Oktaviani Jehanus; Albert Christian Limbong; Valentino Dionna; Agrienta Bellanov
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 3 (2023): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i3.17089

Abstract

ABSTRAKLahan non produktif di area perkotaan cukup banyak dijumpai salah satunya, Kota Surabaya. Kota Surabaya merupakan kota metropolitan yang terus berkembang, sehingga adanya masalah lahan non produktif yang cukup signifikan. Lahan non produktif yang terletak di Sentra Kuliner Sukolilo Surabaya, dahulu sudah dimanfaatkan dengan menanam tanaman hidroponik. Namun, seiringnya berjalannya waktu sistem tanaman hidroponik itupun mengalami kerusakan pada bagian mesin, selang, serta perlu ditambahkan bibit baru serta vitamin untuk dihidupkan kembali. Tim pengabdian bersama ketua RW melakukan sosialisasi kepada masyarakat daerah setempat dilanjutkan dengan mepraktekkan bagaimana cara melakukan perawatan tanaman secara langsung menggunakan sistem hidroponik ini, mulai dari menyiapkan area, media tanam, hingga saluran airnya, metode kegiatan ini dikenal sebagai learning by doing. Dengan adanya kegiatan ini, masyarakat setempat mengaku lebih mengerti pentingnya memanfaatkan lahan non produktif dengan memanfaatkan lahan di sekitar tempat tinggalnya dengan cara membangun sistem hidroponik serta memperhatikkan lingkungan sekitar agar tetap asri meski berada di area perkotaan. Banyak keuntungan yang diperoleh dari sistem ini, salah satunya adalah lingkungan yang asri. Kata kunci: lahan non produktif; hidroponik ABSTRACTThere are quite a lot of non-productive land in urban areas, one of which is the city of Surabaya. The city of Surabaya is a metropolitan city that continues to grow, so there are quite significant non-productive land problems. Non-productive land located in the Sukolilo Culinary Center, Surabaya, has previously been utilized by planting hydroponic plants. However, as time goes by, the hydroponic plant system experiences damage to the machine, hose, and needs to be added with new seeds and vitamins to be revived. The service team together with the RW head carried out outreach to the local community, followed by practicing how to care for plants directly using this hydroponic system, starting from preparing the area, planting media, to the water channels, this method of activity is known as learning by doing. With this activity, local people admitted that they better understand the importance of utilizing non-productive land by utilizing the land around their homes by building a hydroponic system and paying attention to the surrounding environment so that it remains beautiful even though they are in an urban area. There are many benefits to be gained from this system, one of which is a beautiful environment. Keywords:  non-productive land; hydroponics.
Inovasi Perancangan Alat Irat Bambu Sebagai Bentuk Dukungan Pelestarian Produk Anyaman di Trenggalek Bellanov, Agrienta; Nurhayati, Lilis; Valentino, Teofilus
Abditeknika Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/abditeknika.v4i1.3103

Abstract

Bambu merupakan salah satu hasil alam yang melimpah di Kabupaten Trenggalek, sehingga masih banya ditemukan pengrajin yang bergerak di bidang home industry untuk menghasilkan anyaman tikar, besek, dan lain sebagainya. Seiring dengan berkembangnya zaman, produk anyaman sudah semakin jarang ditemukan, hal inilah yang membuat harga produk anyaman semakin menjanjikan. Setelah melakukan wawancara kepada para pengrajin, dapat disampaikan bahwa para pengrajin mengeluh mudah lelah pada proses irat bambu, proses ini dilakukan untuk mendapatkan lembaran-lembaran tipis dari bambu untuk kemudian di anyam, dengan teknik manual yang dilakukan terkadang lembaran bambu tidak memiliki ukuran ketebalan yang sama, hal ini juga yang akhirnya menurunkan semangat pengrajin untuk melakukan produksi, akibatnya pengiriman produk ke konsumen sering mengalami keterlambatan. Pelaksanaan program dalam kegiatan ini menggunakan metode learning by doing dengan merancang alat irat bambu yang sesuai dengan postur tubuh para pengrajin. Selanjutnya tim juga akan membuatkan jadwal produksi yang sesuai untuk mengurangi keterlambatan pengiriman produk. pelaksaan program dinyatakan berhasil karena para pengrajin merasa sangat teredukasi dan dimudahkan dengan adanya alat irat bambu sederhana tersebut.   Bamboo is one of the abundant natural products in Trenggalek Regency, so you can still find many craftsmen engaged in the home industry to produce woven mats, baskets, and so on. As time goes by, woven products are becoming increasingly rare, this is what makes the prices of woven products increasingly promising. After conducting interviews with the craftsmen, it can be said that the craftsmen complain that they get tired easily during the bamboo woven process, this process is carried out to obtain thin sheets of bamboo which are then woven, using manual techniques, sometimes the bamboo sheets do not have the same thickness.  this also ultimately reduces the enthusiasm of craftsmen to carry out production, as a result product delivery to consumers is often delayed. The implementation of the program in this activity uses the learning by doing method by designing bamboo threading tools that suit the body posture of the craftsmen. The application of the learning by doing method in this context not only provides practical solutions but also enhances the skills, enthusiasm, and motivation of bamboo weavers. Furthermore, the team will also create an appropriate production schedule to reduce delays in product delivery.  Based on the interview results, the craftsmen feel greatly assisted by the bamboo weaving tool, which turns out to be able to cut time faster, approximately around 11 minutes compared to the manual method.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Inovasi Pengembangan Alat Parut Otomatis untuk Meningkatkan Efisiensi Produksi Virgin Coconut Oil di Lingkungan Pedesaan Bellanov, Agrienta; Irawati, Desrina Yusi; Pamolango, Marchello
Abditeknika Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/abditeknika.v4i2.3494

Abstract

Kelapa merupakan komoditas yang mudah ditemukan di Indonesia dan tumbuh subur terutama di daerah pantai dan tropis. Buah ini berasal dari pohon kelapa (Cocos nucifera). Di Kabupaten Trenggalek, kelapa tumbuh di berbagai jenis lahan, termasuk perkebunan rakyat, perkebunan besar, dan secara alami di sepanjang pantai. Para petani kelapa di daerah ini memiliki peluang besar untuk menghasilkan berbagai produk turunan kelapa seperti air kelapa, santan, kelapa parut, minyak kelapa, dan lainnya. Meskipun Trenggalek menjadi daerah keempat penghasil kelapa terbanyak di Provinsi Jawa Timur, masih banyak hasil panen kelapa yang tidak dimanfaatkan dengan baik dan memiliki nilai jual rendah. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan kelompok PKK dengan keterampilan mengolah kelapa menjadi produk bernilai tambah, seperti minyak kelapa. Pelatihan meliputi pemilihan kelapa yang baik, ekstraksi santan, penyulingan minyak, dan penggunaan alat parut otomatis untuk efisiensi produksi. Selain itu, ibu-ibu PKK diberikan pengetahuan tentang kualitas produk, pengemasan, perhitungan biaya produksi, dan pemasaran online melalui platform seperti Shopee dan Facebook. Dari 15 peserta yang mengikuti dan mengisi tabel evaluasi, seluruhnya merasa sangat puas sehingga ingin mengajarkan kegiatan ini pada kerabat ataupun keluarga dekat, dan sebanyak 67% peserta akan mempraktikkan kegiatan ini lagi dirumah.   Coconut is a commodity that is easily found in Indonesia and grows abundantly, especially in coastal and tropical areas. This fruit comes from the coconut tree (Cocos nucifera). In Trenggalek Regency, coconuts grow on various types of land, including smallholder plantations, large estates, and naturally along the coast. Coconut farmers in this area have great opportunities to produce various coconut derivative products such as coconut water, coconut milk, shredded coconut, coconut oil, and others. Although Trenggalek is the fourth largest coconut-producing region in East Java Province, many coconut harvests are still underutilized and have low economic value.This community service program aims to empower PKK groups with the skills to process coconuts into value-added products, such as coconut oil. The training includes selecting good coconuts, extracting coconut milk, refining oil, and using an automatic grater for production efficiency. Additionally, the PKK women were given knowledge about product quality, packaging, production cost calculation, and online marketing through platforms like Shopee and Facebook. Out of 15 participants who attended and completed the evaluation table, all felt very satisfied and expressed a desire to teach this activity to their relatives or close family members. Furthermore, 67% of the participants indicated that they would practice this activity again at home.      
PENINGKATAN KUALITAS PRODUKSI KAYU DOWEL SAPU DENGAN PENDEKATAN METODE SEVEN TOOLS DAN 5W + 1H Nurhayati, Lilis; Bellanov, Agrienta
JISO : Journal of Industrial and Systems Optimization Vol. 5 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/jiso.v5i1.39-46

Abstract

Masyarakat pasti memerlukan alat kebersihan berupa sapu. Pegangan sapu umumnya menggunakan bahan dari kayu. Penggunaan material kayu berupa dowel mempunyai beberapa keunggulan yaitu ringan, tidak selip, ramah lingkungan dan murah. Untuk menghadapi persaingan global yang semakin ketat,  CV. Yu Jaya Bersama perlu melakukan peningkatan kualitas terhadap produk kayu dowel sapu  yang diproduksinya. Penurunan kualitas produksi terjadi karena banyaknya terjadi cacat produk. Metode Seven Tools diharapkan dapat mengetahui sebab dan akibat permasalahan yang terjadi dalam usaha pengendalian kualitas produksi kayu dowel sapu. Selanjutnya dengan metode 5W+1H dapat memberikan usulan perbaikan kualitas dengan memprioritaskan pada penyebab cacat yang paling dominan. Dari analisis Seven Tools diketahui bahwa faktor penyebab kegagalan pengolahan kayu dowel diameter 22 mm panjang 90 cm adalah dari kualitas bahan baku yang digunakan serta sumber daya manusia yang kurang terampil dan terlatih. Cacat produk yang paling dominan adalah cacat patah kayu yang mencapai 49,135% dari keseluruhan total jenis cacat. Usulan perbaikan dengan metode 5W+1H adalah dengan mengunakan material kayu kualitas mahoni prima (grade A), ketrampilan asah pisau dan setting roll terhadap bagian mekanik harus ditingkatkan. Selain itu perlu adanya training untuk karyawan saat awal pemilihan sortir bahan dan proses mesin dowel agar lebih terampil, teliti dan terlatih dalam mengerjakan pekerjaannya.ABSTRACT People definitely need a cleaning tool in the form of a broom. The broom handle generally uses wood. The use of wood material in the form of dowels has several advantages, namely lightweight, non-slip, environmentally friendly and inexpensive. To face the increasingly fierce global competition, CV. Yu Jaya Bersama needs to improve the quality of the dowel broom wood products it produces. The decline in production quality occurs due to the number of product defects. The Seven Tools method is expected to be able to find out the causes and effects of problems that occur in an effort to control the quality of dowel broom wood production. Furthermore, the 5W+1H method can provide quality improvement proposals by prioritizing the most dominant causes of defects. From the analysis of Seven Tools, it is known that the factors causing the failure to process dowel wood with a diameter of 22 mm and a length of 90 cm are the quality of the raw materials used and the lack of skilled and trained human resources. The most dominant product defects were wood fractures, which accounted for 49.135% of the total types of defects. The proposed improvement with the 5W+1H method is to use prime quality mahogany wood (grade A). Knife sharpening skills and roll settings for mechanical parts must be improved. In addition, there is a need for training for employees at the beginning of the selection of sorting materials and the dowel machine process so that they are more skilled, thorough and trained in doing their jobs.  
ANALISIS KEPUASAN MASYARAKAT TERHADAP SALAH SATU CUSHION TERLARIS DI SURABAYA DENGAN METODE KANO Wibowo, Dela Putri; Irawati, Desrina Yusi; Andrian, David; Bellanov, Agrienta
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan 2023: Transformasi Riset, Inovasi dan Kreativitas Menuju Smart Technology dan Smart Energy
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penampilan tidak hanya terkait pakaian atau gaya rambut, tetapi juga riasan wajah. Untuk mendukung penampilan wajah diperlukan kosmetik. Kosmetik dapat berupa makeup, contohnya seperti foundation, cushion, blush on, dan sebagainya. Salah satu makeup yang saat banyak digunakan wanita Indonesia adalah cushion. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menganalisis kepuasan konsumen adalah metode KANO. Dengan menggunakan metode KANO, perusahaan dapat memprioritaskan pengembangan produk berdasarkan jenis atribut yang paling penting bagi pelanggan. Aturan kuesioner KANO terdiri dari functional question dan dysfunctional question. Tujuan penelitian untuk menganalisis cushion secara kualitas berdasarkan kepuasan pelanggan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cushion X masuk dalam kategori Must Be dan Indefferent. Atribut yang masuk pada kategori Must Be adalah atribut X1, X2, X3, X7, dan X8. Atribut tersebut harus dipertahankan agar pengguna merasa puas dan menggunakan chusion X kembali. Atribut yang masuk kategori Indefferent adalah atribut X4, X5, X6, X9, dan X10. Sedangkan kategori yang tidak bisa diabaikan masuk pada kategori Indefferent dengan nilai worse tertinggi yaitu X6 dan X7. Tindakan yang perlu dilakukan oleh perusahaan adalah mempertahakankan kategori Must Be dan mengiformasikan kembali kategori yang masuk pada Indefferent terhadap produk kompetitor.
Pemberdayaan Masyarakat Non Produktif Di Desa Babat Melalui Usaha Susu Jagung Irawati, Desrina Yusi; Bellanov, Agrienta; Sumuweng, Filippo Alfandi; Candra, Jason Jeremy
Bakti Cendana Vol 6 No 2 (2023): Bakti Cendana: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/bc.6.2.2023.140-147

Abstract

Desa Babat merupakan daerah di Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Di desa Babat masih terdapat masyarakat nonproduktif secara ekonomi yaitu kelompok ibu rumah tangga. Bahan pangan yang banyak ditemukan di wilayah Babat adalah jagung. Ketersediaan jagung yang melimpah menjadi peluang besar bagi warga Babat, khususnya ibu rumah tangga, untuk menghasilkan produk inovasi yang sehat. Peluang usaha tersebut ditindaklanjuti melalui pendampingan pada pengembangan produk berupa susu jagung. Kegiatan pengabdian meliputi pelatihan dan pendampingan terkait perintisan usaha, produksi susu jagung, serta pengemasan susu jagung sesuai harga jual produk. Manfaat yang dirasakan ibu-ibu dari kegiatan pengabdian adalah ibu-ibu memiliki usaha baru untuk menambah pendapatan serta kesibukan, menambah pengetahuan terkait inovasi produk yang sehat, terbiasa mengolah makanan atau minuman yang bersih, mengerti pentingnya kemasan serta pemasaran dalam keberhasilan usaha. Keseluruhan kegiatan pengabdian berjalan lancar dengan dukungan dari ibu-ibu RT 1 RW 7 Desa Babat. Ibu-ibu kooperatif dalam kegiatan pengabdian, terbukti dengan keikutsertaannya dalam menyediakan alat dan bahan produksi susu jagung. Hambatan yang terjadi pada kegiatan pengabdian adalah kegiatan hanya diikuti beberapa ibu-ibu dan terjadi beberapa kali kesalahan cetak label kemasan botol. Sampai saat ini ibu-ibu konsisten memproduksi dan menjual susu jagung, produksi dilakukan setiap dua hari sekali.
Improving Eco Enzyme Product Quality with Seven Tools and 5W+1H Methods Nurhayati, Lilis; Widari, Nyoman Sri; Bellanov, Agrienta
Jurnal SENOPATI : Sustainability, Ergonomics, Optimization, and Application of Industrial Engineering Vol 6, No 2 (2025): Jurnal SENOPATI Vol 6, No 2
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.senopati.2025.v6i2.7432

Abstract

Eco-enzyme is a fermentation product of organic materials, which is beneficial to the environment, but often suffers from defects in its production. This research aims to improve the quality of eco-enzymes using the Seven Tools and 5W+1H methods. Seven Tools identifies the causes of defects, while 5W+1H formulates improvement strategies. The analysis results show that color defects or black mold is the main problem with a percentage of 46.15%. Causal factors include poor quality raw materials, low labor skills, and suboptimal processing methods. Improvements were made by selecting fresh organic ingredients, 20% leafless vegetable composition, 30-minute soaking, and more optimal stirring. This strategy is expected to improve product quality and reduce the level of defects in eco-enzyme production.
Inovasi Perancangan Alat Irat Bambu Sebagai Bentuk Dukungan Pelestarian Produk Anyaman di Trenggalek Bellanov, Agrienta; Nurhayati, Lilis; Valentino, Teofilus
Abditeknika Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/abditeknika.v4i1.3103

Abstract

Bambu merupakan salah satu hasil alam yang melimpah di Kabupaten Trenggalek, sehingga masih banya ditemukan pengrajin yang bergerak di bidang home industry untuk menghasilkan anyaman tikar, besek, dan lain sebagainya. Seiring dengan berkembangnya zaman, produk anyaman sudah semakin jarang ditemukan, hal inilah yang membuat harga produk anyaman semakin menjanjikan. Setelah melakukan wawancara kepada para pengrajin, dapat disampaikan bahwa para pengrajin mengeluh mudah lelah pada proses irat bambu, proses ini dilakukan untuk mendapatkan lembaran-lembaran tipis dari bambu untuk kemudian di anyam, dengan teknik manual yang dilakukan terkadang lembaran bambu tidak memiliki ukuran ketebalan yang sama, hal ini juga yang akhirnya menurunkan semangat pengrajin untuk melakukan produksi, akibatnya pengiriman produk ke konsumen sering mengalami keterlambatan. Pelaksanaan program dalam kegiatan ini menggunakan metode learning by doing dengan merancang alat irat bambu yang sesuai dengan postur tubuh para pengrajin. Selanjutnya tim juga akan membuatkan jadwal produksi yang sesuai untuk mengurangi keterlambatan pengiriman produk. pelaksaan program dinyatakan berhasil karena para pengrajin merasa sangat teredukasi dan dimudahkan dengan adanya alat irat bambu sederhana tersebut.   Bamboo is one of the abundant natural products in Trenggalek Regency, so you can still find many craftsmen engaged in the home industry to produce woven mats, baskets, and so on. As time goes by, woven products are becoming increasingly rare, this is what makes the prices of woven products increasingly promising. After conducting interviews with the craftsmen, it can be said that the craftsmen complain that they get tired easily during the bamboo woven process, this process is carried out to obtain thin sheets of bamboo which are then woven, using manual techniques, sometimes the bamboo sheets do not have the same thickness.  this also ultimately reduces the enthusiasm of craftsmen to carry out production, as a result product delivery to consumers is often delayed. The implementation of the program in this activity uses the learning by doing method by designing bamboo threading tools that suit the body posture of the craftsmen. The application of the learning by doing method in this context not only provides practical solutions but also enhances the skills, enthusiasm, and motivation of bamboo weavers. Furthermore, the team will also create an appropriate production schedule to reduce delays in product delivery.  Based on the interview results, the craftsmen feel greatly assisted by the bamboo weaving tool, which turns out to be able to cut time faster, approximately around 11 minutes compared to the manual method.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Inovasi Pengembangan Alat Parut Otomatis untuk Meningkatkan Efisiensi Produksi Virgin Coconut Oil di Lingkungan Pedesaan Bellanov, Agrienta; Irawati, Desrina Yusi; Pamolango, Marchello
Abditeknika Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/abditeknika.v4i2.3494

Abstract

Kelapa merupakan komoditas yang mudah ditemukan di Indonesia dan tumbuh subur terutama di daerah pantai dan tropis. Buah ini berasal dari pohon kelapa (Cocos nucifera). Di Kabupaten Trenggalek, kelapa tumbuh di berbagai jenis lahan, termasuk perkebunan rakyat, perkebunan besar, dan secara alami di sepanjang pantai. Para petani kelapa di daerah ini memiliki peluang besar untuk menghasilkan berbagai produk turunan kelapa seperti air kelapa, santan, kelapa parut, minyak kelapa, dan lainnya. Meskipun Trenggalek menjadi daerah keempat penghasil kelapa terbanyak di Provinsi Jawa Timur, masih banyak hasil panen kelapa yang tidak dimanfaatkan dengan baik dan memiliki nilai jual rendah. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan kelompok PKK dengan keterampilan mengolah kelapa menjadi produk bernilai tambah, seperti minyak kelapa. Pelatihan meliputi pemilihan kelapa yang baik, ekstraksi santan, penyulingan minyak, dan penggunaan alat parut otomatis untuk efisiensi produksi. Selain itu, ibu-ibu PKK diberikan pengetahuan tentang kualitas produk, pengemasan, perhitungan biaya produksi, dan pemasaran online melalui platform seperti Shopee dan Facebook. Dari 15 peserta yang mengikuti dan mengisi tabel evaluasi, seluruhnya merasa sangat puas sehingga ingin mengajarkan kegiatan ini pada kerabat ataupun keluarga dekat, dan sebanyak 67% peserta akan mempraktikkan kegiatan ini lagi dirumah.   Coconut is a commodity that is easily found in Indonesia and grows abundantly, especially in coastal and tropical areas. This fruit comes from the coconut tree (Cocos nucifera). In Trenggalek Regency, coconuts grow on various types of land, including smallholder plantations, large estates, and naturally along the coast. Coconut farmers in this area have great opportunities to produce various coconut derivative products such as coconut water, coconut milk, shredded coconut, coconut oil, and others. Although Trenggalek is the fourth largest coconut-producing region in East Java Province, many coconut harvests are still underutilized and have low economic value.This community service program aims to empower PKK groups with the skills to process coconuts into value-added products, such as coconut oil. The training includes selecting good coconuts, extracting coconut milk, refining oil, and using an automatic grater for production efficiency. Additionally, the PKK women were given knowledge about product quality, packaging, production cost calculation, and online marketing through platforms like Shopee and Facebook. Out of 15 participants who attended and completed the evaluation table, all felt very satisfied and expressed a desire to teach this activity to their relatives or close family members. Furthermore, 67% of the participants indicated that they would practice this activity again at home.