Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Ekstrak Air Buah Pepaya Muda (Carica papaya.L) terhadap Gambaran Folikel Sekunder, De Graaf dan Korpus Luteum Ovarium Tikus Betina (Rattus norvegicus) Satria, Okti; Meiriza, Wira
JURNAL KESEHATAN PERINTIS Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan Perintis
Publisher : LPPM UNIVERSITAS PERINTIS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33653/jkp.v11i1.1081

Abstract

Pepaya mengandung polisakarida, alkaloid, saponin, flavonoid yang diduga mampu mengakibatkan gangguan jalur hipotalamus hipofise yang mengakibatkan gangguan sekresi GnRH yang berpengaruh terhadap pembentukan, perkembangan dan pematangan folikel. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pemberian ekstrak air buah pepaya muda (Carica papaya L.) terhadap gambaran folikel sekunder, folikel de graaf dan korpus luteum ovarium tikus betina (Rattus novergicus). Jenis penelitian adalah eksperimental dengan desain Post Test Only Control Group. Jumlah sampel sebanyak 24 ekor tikus betina berumur 12 minggu, berat 200-300 gram, dibagi secara acak dalam 4 kelompok. Setiap kelompok dilebihkan 2 ekor untuk mengantisipasi terjadi kematian, sehingga jumlah seluruh sampel 32 ekor. Kelompok (K-) tanpa diberikan perlakuan. Kelompok (P1) diberi ekstrak air buah pepaya muda 47 mg/200 gr BB. Kelompok (P2) diberi ekstrak air buah pepaya muda 93 mg/200 gr BB. Kelompok (P3) diberi ekstrak air buah pepaya muda 189 mg/200 gr BB. Setelah 20 hari perlakuan, dilakukan perhitungan jumlah folikel sekunder, folikel de graaf dan korpus luteum. Hasil analisis statistik menggunakan uji ANOVA dan Kruskal-Wallis didapatkan tidak ada pengaruh secara sinifikan pemberian ekstrak air buah pepaya muda terhadap jumlah folikel sekunder (p = 0,083), tidak ada pengaruh secara signifikan pemberian ekstrak air buah pepaya muda terhadap jumlah folikel de graaf (p = 0,069), ada pengaruh pemberian ekstrak air buah pepaya muda terhadap jumlah korpus luteum (p= 0,000). Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian ekstrak air buah pepaya muda tidak berpengaruh terhadap jumlah folikel sekunder dan folikel de graaf, namun berpengaruh terhadap jumlah korpus luteum dengan dosis 189 mg/200 grBB.
Keberagaman Makanan Terhadap Kejadian Wasting Pada Bayi Usia 0-59 Bulan Di Kabupaten Pasaman Triveni; Okti Satria
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.443

Abstract

Wasting merupakan salah satu bentuk malnutrisi yang memiliki resiko kematian tertinggi dari semua masalah gizi pada anak. Angka prevalensi wasting di Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. Namun, pada tahun 2022, angka tersebut mengalami peningkatan sebesar 0,6 poin dibandingkan dengan tahun sebelumnya, menjadi sebesar 7,7 persen. Salah satu faktor penyebab wasting adalah asupan makan. Asupan makan balita wasting dapat dipengaruhi oleh pola pemberian makan yang tidak tepat dan keragaman makan yang rendah. Wasting berdampak pada balita seperti adanya gangguan kognitif bahkan menyebabkan risiko kematian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan deskripsi dan analisis terhadap kejadian wasting pada balita (0-59 bulan) di Kabupaten Pasaman. Penelitian ini adalah penelitian survey analitik dengan desain case control. Penelitian dilakukan di puskesmas Kabupaten Pasaman. Sampel kuantitatif 116 orang dengan menggunakan teknik proportionate stratified sampling. Analisis data uji chi-square. Hasil uji statistic menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan anatara kejadian wasting dengan keberagaman makanan (0.000, OR 5.359) di Kabupaten Pasaman. Balita yang wasting banyak terjadi pada balita yang konsumsi makanan yang tidak beragam, walaupun pada balita yang wasting ada yang pola konsumsi makanan yang beragam. Hal ini disebabkan oleh factor lain seperti penyakit infeksi. Hasil penelitian keberagaman makanan dengan kejadian wastingdi Kabupaten Pasaman memiliki pengaruh yang signifikan, oleh karena itu diperlukan kerjasama lintas sektor dalam meningkatkan keberagaman makanan pada bayi dalam mencegah wasting.