Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PERLINDUNGAN WARGA SIPIL DALAM KONFLIK BERSENJATA TERHADAP PENGGUNAAN DRONE TEMPUR DAN SISTEM SENJATA BERBASIS ARTIFICIAL INTELLIGENCE Ismed Richoawan; Galih Darmawan; Dwi Imroatus Sholikah
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 13, No 2 (2026): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v13i2.2026.497-510

Abstract

Perkembangan pesat teknologi militer modern, khususnya penggunaan drone tempur dan senjata berbasis kecerdasan buatan, telah mengubah secara fundamental karakter konflik bersenjata kontemporer. Perubahan ini membawa implikasi serius terhadap perlindungan warga sipil, yang semakin terekspos sebagai kelompok paling rentan dalam peperangan modern. Meskipun Hukum Humaniter Internasional (HHI) telah menetapkan prinsip-prinsip perlindungan warga sipil, terdapat kesenjangan penelitian yang signifikan terkait sejauh mana prinsip-prinsip tersebut mampu diterapkan secara efektif dalam konteks penggunaan senjata berbasis teknologi canggih. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kemanusiaan penggunaan senjata modern terhadap warga sipil serta menilai relevansi dan kecukupan prinsip-prinsip HHI dalam menghadapi tantangan perang modern. Penelitian ini menggunakan metode yuridis-normatif dengan pendekatan konseptual dan regulatif, melalui analisis terhadap perjanjian internasional, hukum kebiasaan internasional, laporan ICRC dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta literatur akademik bereputasi internasional. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi militer modern berkontribusi terhadap meningkatnya korban sipil akibat salah identifikasi sasaran, penderitaan psikologis yang berkepanjangan, kerusakan infrastruktur sipil vital, pengungsian paksa, serta dampak jangka panjang terhadap generasi mendatang dan lingkungan hidup. Penelitian ini menegaskan bahwa tanpa penguatan ?penerapan prinsip kehati-hatian, kontrol manusia yang bermakna, dan mekanisme akuntabilitas hukum yang jelas, kemajuan teknologi militer justru berpotensi menggerus nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar HHI. Oleh karena itu, perlindungan warga sipil harus tetap menjadi prioritas utama dalam pengembangan dan penggunaan teknologi persenjataan modern. 
Stop Diam, Saatnya Peduli Kekerasan Seksual dan Perundungan Melalui Pendidikan Karakter SMKN 1 Mojosongo: Penelitian Eny Lintang Suryani; Erlita Andriyani; Eva Aulia Savira; Fajar Dwi Santosa; Dwi Imroatus Sholikah
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4765

Abstract

Sexual violence and bullying in educational settings are social problems that seriously impact the psychological, social, and academic development of students. Lack of understanding, permissive attitudes, and a culture of silence are factors that reinforce the continuation of these behaviors. The implementation of this activity aims to increase students' awareness, knowledge, and concern regarding the issues of sexual violence and bullying through strengthening educational character. The methods used include educational outreach, presentation of material using presentation media, presentation of educational videos, interactive discussions, and evaluation through pretests and posttests. The results of the activity showed a significant increase in students' understanding regarding the forms, impacts, and efforts to prevent sexual violence and bullying. In addition, there was a change in attitude marked by increased courage of the students educated to express concern, reject acts of violence, and report cases that occur in the school environment. This activity proves that character education is effective as a preventive approach in building a safe, inclusive, and equitable school culture.
KORELASI ANTARA PRINSIP ITIKAD BAIK (GOOD FAITH) SEBAGAI FONDASI NORMATIF DENGAN PENERAPAN KEWAJIBAN PACTA SUNT SERVANDA DALAM DINAMIKA HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL Bunga Imelda; Dwi Imroatus Sholikah
Journal of Social and Economics Research Vol 7 No 2 (2025): JSER, December 2025
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v7i2.1221

Abstract

Prinsip itikad baik (good faith) dan pacta sunt servanda merupakan pilar hukum perjanjian internasional. Pasal 26 Konvensi Wina 1969 mewajibkan negara menaati perjanjian secara itikad baik. Penelitian ini menganalisis hubungan kedua prinsip dalam dinamika hukum internasional, termasuk konsekuensi pelanggaran serta interaksi dengan jus cogens dan rebus sic stantibus. Metode penelitian hukum normatif digunakan melalui pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan yurisprudensi. Hasil penelitian menunjukkan itikad baik berfungsi sebagai fondasi kualitatif yang mentransformasikan ketaatan formal menjadi kepatuhan substansial serta menjaga keseimbangan antara stabilitas perjanjian dan keadilan normatif dalam praktik hukum internasional kontemporer.
Integration of International Legal Principles into the Indonesian National Legal System Dadang Satria Wibawa; Dwi Imroatus Sholikah
IBLAM LAW REVIEW Vol. 6 No. 1 (2026): IBLAM LAW REVIEW
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM IBLAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52249/ilr.v6i1.645

Abstract

This study aims to analyze how principles of international law are integrated into Indonesia's national legal system—including the status of international principles, integration mechanisms (ratification, incorporation, transformation), as well as the challenges and implications. The method used is normative juridical with statute, conceptual, and historical approaches. The research results indicate that Indonesia has normatively accommodated the integration of international law principles; however, there are obstacles such as a status that is not yet fully automatic (dualistic), low regulatory harmonization, and resistance to external influence. It is recommended that the harmonization of national regulations with international obligations be strengthened, and that international law literacy within national institutions be improved.
Implikasi Hukum Internasional Terhadap Sengketa Kepemilikan Data Digital Antara Negara dan Korporasi Global Javan Agustian Setyagraha; Ida Kuntalasari; Dwi Imroatus Sholikah
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 2 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i2.2961

Abstract

This study examines the implications of international law on digital data ownership disputes between states and global corporations, focusing on the interaction among state sovereignty, multinational corporate responsibility, and the protection of individual digital rights. In the era of global digital integration, data has become a strategic asset that transcends national jurisdictions. The disparity between national regulations centered on data sovereignty and cross-border corporate operations has created a legal lacuna that weakens the position of states in protecting citizens’ data. Using a literature review method and a normative-comparative approach, this research explores several legal instruments such as the General Data Protection Regulation (GDPR), OECD Privacy Guidelines, and Indonesia’s Law No. 27 of 2022 on Personal Data Protection (PDP Law). The findings reveal the absence of a comprehensive international convention governing digital data ownership, resulting in overlapping jurisdictions, weak corporate accountability, and limited cross-border law enforcement. Moreover, technological developments that outpace legal adaptation have intensified digital human rights issues, particularly concerning the right to privacy and personal data control. The study emphasizes the importance of establishing harmonized international legal frameworks that balance the interests of states, corporations, and individuals through the principles of digital sovereignty, accountability by design, and cross-border cooperation mechanisms to ensure the protection of rights and data sovereignty in the era of global digitalization.
Potensi Pelanggaran Prinsip Timeliness dalam ICESCR: Analisis Layanan JKN di Indonesia Willy Johan; Ragil Barry Prastiyo; Dwi Imroatus Sholikah
AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. 6 No. 1 (2026): AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis
Publisher : Perhimpunan Sarjana Ekonomi dan Bisnis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37481/jmh.v6i1.1792

Abstract

The persistent problem of long waiting times in Indonesia’s National Health Insurance (JKN) services has raised concerns about the fulfillment of the right to health guaranteed under Article 12 of the International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR). Although the AAAQ framework Availability, Accessibility, Acceptability, and Quality does not explicitly mention timeliness, delays in medical services directly affect accessibility and quality. This study aims to examine whether service delays within JKN indicate potential non-compliance with Indonesia’s international human rights obligations. Using a normative legal method supported by targeted case illustrations, this research analyzes the alignment between ICESCR standards and the implementation of JKN policies, particularly regarding disparities in service delivery and prolonged waiting times. The findings show that unequal distribution of health facilities, inconsistent service quality between insured and non-insured patients, and extended queues at primary and referral facilities undermine the substantive elements of accessibility and quality. These conditions may constitute a potential breach of the core obligations outlined in ICESCR, despite the absence of a binding enforcement mechanism. Strengthening facility capacity, improving digital service systems, and ensuring equitable distribution of health personnel are identified as essential measures to ensure timely, non-discriminatory, and rights-based health services.
PERAN AHLI GIZI DALAM REALISASI HAK ATAS PANGAN DAN KESEHATAN: STUDI KOMPARATIF KEBIJAKAN GIZI DI JEPANG, BRASIL DAN FINLANDIA Achmed Forest Khan; Stanly Harimisa; Dwi Imroatus Sholikah
Journal of Social and Economics Research Vol 7 No 2 (2025): JSER, December 2025
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v7i2.1204

Abstract

Hak atas pangan yang memadai dan hak atas kesehatan merupakan hak ekonomi, sosial, dan budaya yang dijamin oleh International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR). Namun, dalam wacana hukum, kontribusi profesi non hukum khususnya ahli gizi dalam mewujudkan kewajiban negara berdasarkan hukum hak asasi manusia internasional masih minim diakui. Padahal, ketika ahli gizi merancang menu sekolah yang inklusif, mengedukasi masyarakat tentang pola makan sehat, atau memastikan intervensi gizi responsif terhadap kelompok rentan, mereka secara nyata menerapkan prinsip non diskriminasi, partisipasi, dan keadilan sosial inti dari pendekatan berbasis HAM. Melalui pendekatan yuridis normatif dan studi komparatif, artikel ini menganalisis bagaimana Jepang, Brasil, dan Finlandia secara struktural mengintegrasikan ahli gizi dalam kebijakan publik, sehingga tidak hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga merealisasikan prinsip-prinsip ICESCR. Di Jepang, program Kyūshoku menjadikan makan siang sebagai ruang pendidikan karakter; di Brasil, PNAE menghubungkan gizi dengan keadilan sosial dan ekonomi lokal; sementara di Finlandia, akses universal tanpa stigma menjadi wujud penghormatan terhadap martabat manusia.Bagi Indonesia, kehadiran Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan membuka landasan normatif kuat untuk mengakui ahli gizi sebagai aktor hak asasi manusia non tradisional. Namun, pengakuan ini perlu diwujudkan melalui regulasi turunan dan kebijakan yang mengintegrasikan prinsip HAM dalam setiap intervensi gizi. Temuan penelitian menegaskan bahwa pemenuhan HAM bisa dimulai dari hal yang paling mendasar: satu piring makanan yang bergizi dan di baliknya, selalu ada peran strategis seorang ahli gizi.