Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK LIMBAH KELAPA SAWIT TERHADAP SIFAT KIMIA TANAH SERTA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI SAWAH TADAH HUJAN PUPUT IMANIAR SHOLEHA; YULIUS B. PASOLON; NAMRIAH NAMRIAH; DARWIS DARWIS; DEDI ERAWAN; RESMAN RESMAN
Jurnal Agroteknos Vol 13, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56189/ja.v13i2.43332

Abstract

Rainfed rice fields are rice fields whose irrigation systems rely heavily on rainfall, this type of rice fields only produces in the rainy season. This rainfed rice field is categorized as marginal land lacking in nutrients. So this study aims to determine the effect of organic fertilizer from palm oil waste on the chemical properties of rainfed lowland rice, on the growth and production of rainfed lowland rice plants, as well as which fertilizer provides the best growth and production of rainfed lowland rice. This study used a completely randomized design (CRD) which consisted of one treatment, with 22% and 11% of different tangkos ashes, namely; 1) The dose of MF 22 consists of 5 levels, namely: P0 = Without treatment, P1 = 22% tangkos ash plus 6.25 g/plot organic fertilizer, P4 = 22% tangkos ash plus 124 g/plot organic fertilizer, P7 Tangkos ash = 22% added with organic fertilizer 166 g/plot, P10 = 22% tangkos ash added with organic fertilizer 207 g/plot, 2) Dosage of MF 11 consists of 5 levels, namely: P0 = Without Treatment, P1 = 11% tangkos ash added with organic fertilizer 6.25 g/plot, P4 = 11% tangkos ash added with organic fertilizer 124 g/plot, P7 = 11% tangkos ash added with organic fertilizer 166 g/plot, P10 = 11% tangkos ash added with organic fertilizer 207 g/plot. The results showed that organic fertilizer from palm oil waste was able to increase the nutrient content of organic N, P, K, C, CEC and pH in paddy soil. The application of organic fertilizer from oil palm waste had an effect on plant height, number of tillers, number of panicles, number of panicles and the weight of 1000 grains, but had no effect on the number of panicle branches, straw wet weight, straw dry weight, and the dose of organic fertilizer from palm oil waste. the best is 22% tangkos ash added with organic fertilizer 207 g/plot is better than other treatments.
ANALISIS TINGKAT PENGETAHUAN PETANI JAGUNG TENTANG PENGOLAHAN LIMBAH JAGUNG MENJADI PUPUK KOMPOS DI DESA KAMBAWUNA KECAMATAN KABAWO KABUPATEN MUNA Muhammad Aswar Limi; Muhammad Tufaila; Dedi Erawan; Eka Febrianti
JAS (Jurnal Agri Sains) Vol 9, No 2: Desember 2025
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jas.v9i2.1920

Abstract

Produksi jagung di Desa Kambawuna menghasilkan volume limbah pertanian yang cukup besar, namun pemanfaatannya sebagai pupuk kompos belum optimal akibat rendahnya pengetahuan sebagian petani mengenai teknik pengolahan limbah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pengetahuan petani jagung tentang pengolahan limbah jagung menjadi pupuk kompos di Desa Kambawuna, Kecamatan Kabawo, Kabupaten Muna. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 23 responden yang dipilih melalui teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan melalui kuesioner berisi 15 pertanyaan benar–salah terkait pengetahuan pengomposan dan dianalisis menggunakan skoring serta pengelompokan kategori pengetahuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 47,83% petani memiliki tingkat pengetahuan tinggi, 30,43% berada pada kategori sedang, dan 21,74% berada pada kategori rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar petani telah memahami dasar-dasar pengomposan, meskipun masih terdapat kelompok yang memerlukan peningkatan pemahaman. Penelitian ini menegaskan pentingnya penyuluhan berkelanjutan dan pelatihan praktis untuk memperkuat kemampuan petani dalam memanfaatkan limbah jagung secara optimal sebagai pupuk kompos guna mendukung pertanian berkelanjutan.
STRATEGI PEMANFAATAN LIMBAH JAGUNG UNTUK MITIGASI IKLIM DAN PENGUATAN AGRIBISNIS LOKAL Muhammad Aswar Limi; M. Tufaila Hemon; Dedi Erawan; Eka Febrianti
GANESHA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tunas Pembangunan Surakarta (UTP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/ganesha.v6i2.6466

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Kambawuna, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, berfokus pada pemanfaatan limbah jagung pasca panen yang selama ini cenderung dibakar sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan, kerusakan tanah, serta meningkatkan emisi gas rumah kaca. Melalui program ini, masyarakat dan petani diberikan pemahaman mengenai dampak negatif pembakaran limbah serta dibimbing secara teknis untuk mengolah limbah jagung menjadi pupuk bokashi yang ramah lingkungan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari sosialisasi, penyuluhan, pelatihan, hingga pendampingan praktik langsung pembuatan pupuk bokashi berbahan limbah jagung, pupuk kandang, dedak, dan larutan EM4. Masyarakat terlibat aktif dengan partisipasi mencapai 95% yang menunjukkan antusiasme tinggi baik dalam diskusi, praktek lapangan, maupun penerapan hasil. Pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola limbah meningkat signifikan, serta muncul kesadaran baru akan pentingnya praktik pertanian berkelanjutan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa limbah jagung dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai pupuk bokashi yang tidak hanya meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman, tetapi juga membuka peluang pengembangan usaha lokal berbasis produk ramah lingkungan. Luaran program mencakup publikasi di media online dan YouTube, penyusunan draft publikasi ilmiah, serta inovasi teknologi tepat guna berupa penerapan bokashi berbasis limbah jagung. Secara umum, program ini telah berhasil memberikan dampak nyata bagi masyarakat dengan meningkatkan kesadaran lingkungan, memperkuat kemandirian petani, serta memperkenalkan teknologi sederhana namun bermanfaat untuk mitigasi perubahan iklim. Ke depan, model pengelolaan ini diharapkan dapat diperluas tidak hanya untuk peningkatan kesuburan tanah, tetapi juga integrasi dengan sistem budidaya, pengendalian hama dan penyakit, serta evaluasi kesesuaian lahan guna mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan di wilayah pedesaan.