Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Profil Gula Darah Penderita Diabetes Mellitus Tipe II Pada Pasien Yang Mengkonsumsi Jus Apel Rome Beauty Di Wilayah Kerja Puskesmas Janti Hilmia Maula Dewi; Rudi Hamarno; Joko Wiyono; Maria Diah Ciptaningtyas
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.381

Abstract

Diabetes Melitus Tipe 2 merupakan masalah kesehatan global yang memerlukan pendekatan manajemen holistik, termasuk intervensi non-farmakologis. Apel varietas Rome Beauty, kaya akan pektin dan flavonoid, diyakini berpotensi membantu mengendalikan kadar glukosa darah. Penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional ini bertujuan untuk mengetahui profil kadar gula darah sewaktu pada 24 pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Janti yang mengonsumsi jus apel Rome Beauty pada Mei 2025. Hasil pengukuran menunjukkan adanya penurunan rata-rata kadar gula darah sewaktu dari 229,58 mg/dL menjadi 212,42 mg/dL setelah tujuh hari konsumsi. Temuan ini mengindikasikan bahwa konsumsi jus apel Rome Beauty berpotensi memberikan dampak positif terhadap kestabilan glukosa darah. Disimpulkan bahwa terdapat perubahan kadar glukosa darah yang dapat diamati selama periode konsumsi. Untuk memastikan hubungan kausal, penelitian lanjutan dengan desain eksperimental dan kontrol yang ketat sangat direkomendasikan.
PERBEDAAN INTENSITAS NYERI ANTARA PEMBERIAN TERAPI BACK MASSAGE DENGAN RELAKSASI GENGGAM JARI PADA PASIEN POST LAPARATOMI Rizky Tiara Damayanti; Isnaeni .; Joko Wiyono
Jurnal Keperawatan Terapan Vol 5 No 1 (2019): JURNAL KEPERAWATAN TERAPAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31290/jkt.v5i1.671

Abstract

Laparatomy is a frequent abdominal surgical procedure. The mostly problem during post surgery is pain accompanied by the appearance of physiological response. One of the nursing self care actions for non pharmacologic pain management and relaxing effects is back massage therapy and fingerhold relaxation. This study aims to determine the difference in pain intensity between back massage therapy with finger hold relaxation in patients undergoing laparotomy surgery at RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. This research has been done ethical clearance test before result test. Design the research used comparative study with two groups pre test post test without control design. The sampling technique used is purposive sampling with 2 groups with 17 respondents each other. The test used in this study is the Paired T Test and Independent test. The results showed that the mean intensity of pain prior to back massage therapy was 4.21 and after back massage therapy to 3.19 whereas the mean intensity of pain before finger hold relaxation was 4.01 and after finger hold relaxation to 2.94. The result of paired t test statistic test showed that there was significant difference of pain intensity before and after back massage therapy and finger hand hold relaxation with p value is 0.000 and in independent test statistic test showed that there was no significant difference to the intensity pain between back massage therapy with finger hold relaxation with p value is 0.312 which means therapy and relaxation is able to decrease the intensity of pain. Thus back massage therapy and finger hand relaxation can be a reference and nursing intervention in the handling of post operative patients, especially Laparotomy. Keywords: Post Laparatomy, Pain Intensity, Back Massage Therapy, Finger Hold Relaxation. Laparatomi merupakan prosedur pembedahan pada abdomen yang sering dilakukan. Masalah yang sering timbul saat post operasi adalah nyeri sehingga timbul respons fisiologis. Salah satu tindakan mandiri keperawatan untuk manajemen nyeri secara non farmakologis dan memberikan efek relaksasi adalah terapi back massage dan relaksasi genggam jari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan intensitas nyeri antara pemberian terapi back massage dengan relaksasi genggam jari pada pasien yang mengalami pembedahan laparatomi di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Penelitian ini sudah dilakukan uji kelayakan etik sebelum uji hasil. Desain Penelitian ini menggunakan comparative study dengan pendekatan two group pre test post test without control design. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan sampel 2 kelompok masing-masing kelompok berjumlah 17 responden. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Paired T Test dan uji Independent Test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata intensitas nyeri sebelum terapi back massage adalah 4,21 dan sesudah terapi back massage menjadi 3,19 sedangkan rata-rata intensitas nyeri sebelum relaksasi genggam jari adalah 4,01 dan sesudah relaksasi genggam jari menjadi 2,94. Hasil uji statistik paired t test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan intensitas nyeri yang signifikan sebelum dan sesudah terapi back massage dan relaksasi genggam jari dengan nilai p sebesar 0,000 dan pada uji statistik independent test menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna terhadap intensitas nyeri antara pemberian terapi back massage dengan relaksasi genggam jari dengan nilai p sebesar 0,312 yang berarti terapi dan relaksasi ini mampu menurunkan intensitas nyeri. Dengan demikian terapi back massage dan relaksasi genggam jari dapat menjadi referensi dan intervensi keperawatan dalam penanganan pasien post operasi khususnya Laparatomi. Kata Kunci: Post Laparatomi, Intensitas Nyeri, Terapi Back Massage, Relaksasi Genggam Jari
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Lama Menderita Dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Hipertensi Pada Lansia Hipertensi Di Wilayah Puskesmas Mulyorejo Kota Malang Malika Amalia Putri Susanto; Joko Wiyono
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1099

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang banyak dialami olehlansia dan memerlukan pengobatan jangka panjang. Kepatuhan minum obatantihipertensi menjadi faktor utama dalam pengendalian tekanan darah danpencegahan komplikasi. Tingkat pengetahuan lansia mengenai hipertensi serta lamamenderita penyakit diduga memengaruhi kepatuhan dalam menjalani terapi, namunpada praktiknya masih ditemukan lansia yang belum patuh minum obat secarateratur. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungantingkat pengetahuan dan lama menderita hipertensi dengan kepatuhan minum obatantihipertensi pada lansia hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo KotaMalang. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatifkorelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruhlansia hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Mulyorejo Kota Malang sebanyak 394orang. Sampel penelitian berjumlah 80 responden yang diambil menggunakanteknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner tingkatpengetahuan, lama menderita hipertensi, dan kuesioner MMAS-8 untuk mengukurkepatuhan minum obat. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. HasilPenelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar respondenmemiliki tingkat pengetahuan cukup, lama menderita hipertensi lebih dari limatahun, dan tingkat kepatuhan minum obat berada pada kategori sedang. Analisisbivariat menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengankepatuhan minum obat antihipertensi serta terdapat hubungan antara lamamenderita hipertensi dengan kepatuhan minum obat antihipertensi pada lansia.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan lama menderitahipertensi dengan kepatuhan minum obat antihipertensi pada lansia hipertensi diwilayah kerja Puskesmas Mulyorejo Kota Malang. Saran: Tenaga kesehatandiharapkan dapat meningkatkan edukasi kesehatan dan pendampingan terapi yangberkelanjutan serta disesuaikan dengan tingkat pengetahuan dan lama menderitahipertensi pada lansia guna meningkatkan kepatuhan minum obat.
The Effect of a Combination Progressive Muscle Relaxation and Foot Massage on Improving Sleep Quality in the Elderly Nabila Putri Wahyuni; Joko Wiyono; Dyah Widodo
PROFESSIONAL HEALTH JOURNAL Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) STIKES Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/phj.v8i1.1298

Abstract

A periodic and continuous lack of sleep can have a direct impact on the health of the elderly. Both pharmacological and non-pharmacological therapies can be utilized to treat poor sleep quality in this population. Progressive Muscle Relaxation and Foot Massage are relaxation therapies that are often utilized to address poor sleep quality among the elderly. The purpose of this study was to determine the effect of a combination of progressive muscle relaxation and foot massage on improving sleep quality in the elderly. The research design used was pre-experimental, with a sampling method used purposive sampling and 20 respondents. The instrument used was the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). The results showed that before the combined therapy was administered, all respondents experienced poor sleep quality. After the combined therapy was given to the respondents seven times over one week, all respondents experienced good sleep quality. Wilcoxon pre-test and post-test showed a Sig. (2-tailed) value of 0.000 < 0.05, indicating that the research hypothesis was acknowledged. Therefore, the combination of progressive muscle relaxation and foot massage had a significant effect on improving sleep quality in the elderly. This therapy is recommended to be carried out routinely and further studied to explore other variables and factors that affect sleep quality in the elderly.
Efektivitas Kombinasi Meditasi Dzikir Dan Konsumsi Teh Rosella Dalam Menurunkan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Putri Arinda Nuraningrum; Marsaid Marsaid; Joko Wiyono; Wiwin Martiningsih
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 11 No 2 (2026): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Hypertension remains a significant public health concern and is one of the primary risk factors contributing to cardiovascular morbidity and mortality. Besides pharmacological management, the implementation of non-pharmacological approaches, including relaxation-based techniques and herbal interventions, is important in supporting optimal blood pressure regulation. Dzikir meditation and roselle tea are complementary therapies known for their potential calming and blood pressure lowering properties; however, evidence regarding the effectiveness of their combined application is still limited. Objective: To identify the effectiveness of a combination of dzikir meditation and roselle tea consumption on reducing blood pressure in patients with hypertension in RW 2, Temas Subdistrict, Batu City. Methods: This article was derived from a quasi-experimental study with a pretest–posttest control group design involving 40 hypertensive patients selected by purposive sampling and divided into an intervention group (n = 20) and a control group (n = 20). The intervention group received dzikir meditation and roselle tea, while the control group received standard pharmacological therapy. Blood pressure was measured before and after the intervention and analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test and Mann–Whitney U Test. Results: The results showed a significant reduction in systolic and diastolic blood pressure in the intervention group after the intervention (p < 0.05). In contrast, the control group did not show a significant change in blood pressure (p > 0.05). Furthermore, there was a significant difference in blood pressure reduction between the intervention and control groups for both systolic and diastolic pressure (p < 0.05). Conclusion: The combination of dzikir meditation and roselle tea consumption is effective in reducing blood pressure in patients with hypertension and can be considered as a complementary therapy alongside pharmacological treatment.