Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Mobilisasi Terhadap Tingkat Nyeri Pada Pasien Post Operasi Orif di RSUD Karsa Husada Batu Nabila Silva Sabrina; Arief Bachtiar; Marsaid Marsaid
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i11.22922

Abstract

ABSTRACT Postoperative pain is a common complication experienced by patients, including those undergoing Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) surgery. If not properly managed, pain can delay the healing process and increase the risk of complications. Early mobilization is a nonpharmacological intervention that can help reduce pain intensity by improving blood circulation, decreasing inflammatory mediators, and shifting the patient's focus away from pain. To determine the effectiveness of early mobilization in reducing pain levels in patients after Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) surgery. This study used a quasiexperimental design with a pre-test and post-test approach in two groups. The sample consisted of 42 respondents. Data were collected using the Numeric Rating Scale (NRS) and analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test and Mann-Whitney test. The results showed a significant decrease in pain levels in the treatment group after early mobilization was administered. The average pain level in the treatment group decreased more significantly than in the control group, which did not receive early mobilization (p 0.05). Early mobilization is proven to be effective in reducing pain levels in post-ORIF surgery patients. This intervention can be an essential part of postoperative nursing care to accelerate recovery and improve patient comfort. Keywords: Early Mobilization, Pain, Postoperative, ORIF, Nursing.  ABSTRAK Nyeri pasca operasi merupakan salah satu komplikasi yang sering dialami oleh pasien, termasuk pada kasus operasi Open Reduction and Internal Fixation (ORIF). Nyeri yang tidak tertangani dengan baik dapat memperlambat proses pemulihan dan meningkatkan risiko komplikasi. Mobilisasi dini merupakan salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat membantu menurunkan intensitas nyeri dengan meningkatkan aliran darah, mengurangi mediator peradangan, dan mengalihkan fokus pasien dari nyeri. Untuk mengetahui efektivitas mobilisasi dini dalam menurunkan tingkat nyeri pada pasien pasca operasi Open Reduction and Internal Fixation (ORIF). Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimental dengan pendekatan pre-test dan post-test pada dua kelompok. Sampel berjumlah 42 responden dan analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank dan Mann- Whitney. Hasil menunjukkan adanya penurunan tingkat nyeri yang signifikan pada kelompok perlakuan setelah dilakukan mobilisasi dini. Rata-rata tingkat nyeri kelompok perlakuan menurun secara bermakna dibanding kelompok kontrol yang tidak mendapat intervensi mobilisasi dini (p 0,05).. Mobilisasi dini terbukti efektif dalam menurunkan tingkat nyeri pada pasien post operasi ORIF. Intervensi ini dapat menjadi bagian penting dari praktik keperawatan postoperatif untuk mempercepat pemulihan dan meningkatkan kenyamanan pasien. Kata Kunci: Mobilisasi Dini, Nyeri, Post Operasi, ORIF, Keperawatan
Hubungan Screen Time Dan Konsumsi Ultra-Processed Food (UPF) Dengan Status Gizi Anak Usia 11-12 Tahun Di SD Negeri 1 Mangliawan Malang Angel Monica Aureliya Listianto; Nurul Hidayah; Marsaid; Arief Bachtiar
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1038

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah meningkatkan durasiscreen time pada anak usia sekolah, yang berpotensi memengaruhi pola konsumsiultra-processed food (UPF) dan berdampak pada status gizi. Anak usia 11–12tahun merupakan kelompok yang rentan terhadap perubahan gaya hidup moderntersebut. Metode: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan screentime dan konsumsi UPF dengan status gizi anak usia 11–12 tahun di SD Negeri 1Mangliawan Malang. Penelitian menggunakan desain kuantitatif denganpendekatan deskriptif analitik. Sampel berjumlah 76 siswa yang dipilihmenggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran screen time dilakukanmenggunakan kuesioner QUEST, konsumsi UPF diukur dengan Food FrequencyQuestionnaire (FFQ), dan status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurutUmur (IMT/U). Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Terdapathubungan yang signifikan antara screen time dengan status gizi anak (p = 0,004)serta antara konsumsi UPF dengan status gizi anak (p = 0,002). Kesimpulan:Screentime dan konsumsi ultra-processed food berhubungan signifikan denganstatus gizi anak usia 11–12 tahun. sebagian besar responden memiliki durasiscreen time yang tinggi dan frekuensi konsumsi ultra-processed food (UPF) yangsering, dengan status gizi yang didominasi oleh kategori gizi lebih. Oleh karenaitu perlu upaya pembatasan screen time, serta pengurangan konsumsi UPF melaluiedukasi gizi kepada anak dan orang tua, serta dukungan lingkungan sekolah yangmendorong pola hidup sehat.
Head-up Position did not Correlated with the Recovery Time of Lower Extremity Motor Function in Spinal Anesthesia Patiens Taufan Arif; Rudi Hamarno; Bisma Surya Bharata; Arief Bachtiar
Journal of Ners and Midwifery Vol 12 No 2 (2025)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v12i2.ART.p115-123

Abstract

Patients who are delayed in recovery after spinal anesthesia will be transferred to the post anesthesia care unit (PACU) which can lead to increased service costs and patient dissatisfaction. Lower extremity motor function recovery time after spinal anesthesia is the time it takes for patients to be able to move from the recovery room to the patient's original room. The purpose of this study was to determine the correlation of Head-up position to the recovery time of lower extremity motor function in spinal anesthesia patients in the recovery room. The design of the study was correlation with a “cross-sectional” approach. The population was post-spinal anesthesia patients in the recovery room who meet the criteria. The study used "purposive sampling" with 96 post-spinal anesthesia patients. The independent variable was the head-up position, while the dependent variable was the recovery time of lower extremity motor function. The analysis test used the Pearson correlation test. The results of the correlation test showed no correlation between head-up position and recovery time of lower extremity motor function in spinal anesthesia patients with p-value = 0.099 (>0.05). This was due to the longer the duration of surgery, the faster the effect of spinal anesthesia drugs will run out. It is recommended to apply the results of this study as a review of SOPs related to the intervention of giving a head-up position to post-spinal anesthesia patients in the recovery room.
Hubungan Perilaku Caring Perawat Berdasarkan Teori Jean Watson dengan Tingkat Stres Pasien Ulkus Diabetikum di RSUD Mardi Waluyo Blitar Namira Laksanti Putri; Arief Bachtiar; Nurul Pujiastuti; Tri Anjaswarni
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61350

Abstract

Pasien ulkus diabetikum sering mengalami stres berat akibat nyeri berkepanjangan, kekhawatiran amputasi, dan beban ekonomi. Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa perawat cenderung lebih berfokus pada aspek fisik seperti perawatan luka dan pemberian pengobatan, sehingga perhatian terhadap aspek psikologis, emosional, dan spiritual pasien belum optimal. Kondisi ini menunjukkan rendahnya perilaku caring perawat saat memberi asuhan keperawatan holistik. Penelitian ini tujuannya guna menguji kaitan diantara perilaku caring perawat berdasarkan teori Jean Watson atas tingkatan stres pasien ulkus diabetikum. Penelitian ini menerapkan desain korelasional cross-sectional. Populasi nya yakni seluruh pasien ulkus diabetikum dirawat di RSUD Mardi Waluyo Blitar tanggal 25 Agustus-25 September 2025. Jumlah sampel ditentukan menggunakan G*Power diperoleh sebanyak 48 responden dipilih menggunakn teknik purposive sampling. Penelitian menggunakan instrumen Kuesioner Perilaku Caring Perawat (KPCP) dan Perceived Stress Scale (PSS-10). Analisis data memakai uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian meliputi perilaku caring perawat berdasarkan teori Jean Watson pada kategori cukup, tingkat stres pasien ulkus diabetikum pada kategori sedang, nilainya (p = 0.001; r = −0.646), membuktikan adanya korelasi kuat diantara perilaku caring perawat berdasar teori Jean Watson dengan tingkatan stres pasien ulkus diabetikum. Penerapan teori caring Jean Watson secara konsisten diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis pasien.
Hubungan Gaya Hidup Sehari-Hari Dengan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Yang Mendapat Pengobatan Enna Azizah Rachmawati; Imam Subektii; Arief Bachtiar; Maria Diah Ciptaning Tyas
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1089

Abstract

Gaya hidup memiliki peran penting dalam pengelolaan DM tipe 2. Gaya hidup yang tidak sehat masih menjadimasalah utama dalam pengelolaan diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2), terutama pada pasien yang sudahmenjalani pengobatan namun tetap mengalami kesulitan menjaga kadar gula darah dalam batas normal.Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan gaya hidup sehari-hari dengan kadar gula darah pada penderitadiabetes melitus tipe 2 yang mendapat pengobatan di Puskesmas Mulyorejo Kota Malang pada bulan Oktober2025. Penelitian menggunakan desain deskriptif korelasional yang menggunakan dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 74 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data variabelgaya hidup sehari-hari diukur menggunakan kuesioner yang diadopsi dari Septiyani (2020) mencakup aspek polamakan, aktivitas fisik, tingkat stres, dan perilaku merokok. Sedangkan variabel kadar gula darah diukur melaluipemeriksaan gula darah puasa. Analisis hubungan antarvariabel dilakukan menggunakan uji Spearman Rankdengan tingkat signifikansi < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki gaya hidupkurang baik sebanyak 59 orang (79,7%) dan kadar gula darah tinggi (>126 mg/dL) sebanyak 62 orang (83,8%).Hasil uji Spearman Rank menunjukkan nilai p = 0,000 (p<0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikanantara gaya hidup sehari-hari dengan kadar gula darah pada penderita DM tipe 2 yang mendapat pengobatan.Diharapkan puskesmas melibatkan aktif penderita DM tipe -2 untuk memantau gula darah dan gaya hidup secaramandiri untuk membantu pasien mengontrol kadar gula secara efektif.