Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Potensi Ekstrak Etanol Daun Keladi Tikus (Typhonium flagelliforme Lodd.) Sebagai Induktor Apoptosis Sel Kanker Lidah Manusia (SP-C1) Rosyid Ridlo, Himmaturojuli; Supriatno, Supriatno; Medawati, Ana; Driana Rahmawati, Atiek
Insisiva Dental Journal Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Typhonium flagelliforme Lodd has been used traditionally to cure breast cancer, lung, colon, rectum, liver, prostate, kidney, cervix, throat, bone, brain, spleen, bladder, leukimia and pancreas cancer. The ethanolic extract of Typhonium flagelliforme Lodd contained active compounds that could inhibit cancer cell growth. One of the active compounds was saponin and phenolic. The aim of study was to examine the potency ethanolic extract of Typhoniumflagelliforme Lodd. as inductor of apoptosis in human oral tongue cancer cell Supris Clone-1 (SP-C1). The desingn of used in this study was pure laboratoris experimental with human oral tongue cancer cells line (SP-C1) as a sample which treated by ethanolic extract of Typhonium flagelliforme Lodd in various concentrations (0, 25, 50, 75, 100, 125 µg/ml) for 48 hours. Apoptosis examination was carrried out by painting with etidium bromide-acridin orange. The result of the study showed that etanolic exstract of Typhonium flagelliforme Lodd. induced apoptotic SP-C1 cell line. Statistical analisis with One Way Anova revealed etanolic extract in various concentration have significant differences (P=0,00) after treated with etanolic extract Typonium flagelliforme Lodd. It also found that the most effective concentration inducing apoptosis of human tongue cancer cells Supris Clone-1 (SP-C1) was the 125 µg/mL. The conclusion of this research, ethanolic extract of Typhonium flagelliforme Lodd. has a potency to induce apoptosis human oral tongue cancer cells (SP-C1).
Hubungan antara Status Gizi dengan Status Erupsi Gigi Insisivus Sentralis Permanen Mandibula The Relationship between Nutritional Status and the Status of the Eruption of Permanent mandibular central incisors Driana Rahmawati, Atiek; Retriasih, Hastami; Medawati, Ana
Insisiva Dental Journal Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Erupsi gigi merupakan gerak normal gigi ke arah rongga mulut dari posisi pertumbuhannya dalam tulangalveolar. Erupsi gigi dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah nutrisi. Nutrisi sangat penting untukpertumbuhan dan perkembangan fisik, termasuk erupsi gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuihubungan antara status gizi dengan status erupsi gigi insisivus sentralis permanen mandibula. Jenis penelitian iniadalah analytic descriptive dengan pendekatan cross sectional yang melibatkan 60 siswa dengan usia 6-7 tahunyang bersekolah di sekolah dasar negeri di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY yang diambil denganmetode consecutive sampling. Subyek penelitian terbagi dalam 2 kriteria status gizi berdasarkan Tinggi Badanmenurut Usia (TB/U), yaitu 30 siswa dengan status gizi pendek dan 30 siswa dengan status gizi normal. Hasilanalisis dengan menggunakan uji statistic chi square menunjukkan hubungan yang signifikan (P<0,05). Kesimpulan terdapat hubungan antara status gizi dengan status erupsi gigi insisivus sentralis permanen mandibula.
Perbedaan antara Kumur Ekstrak Siwak (Salvadora Persica) dan Kumur Infus Siwak terhadap Viskositas Saliva Driana Rahmawati, Atiek; Garry Syahrizal Hanafi, Muhammad
Insisiva Dental Journal Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Insisiva Dental Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Karies atau lubang gigi dapat terjadi apabila faktor yang mengikuti terpenuhi seluruhnya. Faktor-faktor tersebut adalah mikroorganisme, substrat, host atau gigi, waktu dan lingkungan atau saliva. Saliva memiliki peranan penting, karena saliva berfungsi sebagai self cleansing, menjaga kesehatan jaringan lunak maupun keras yang ada di dalam rongga mulut, lubrikasi, anti mikroba dan kapasitas buffer. Hubungan viskositas dengan karies adalah apabila viskositas saliva semakin rendah, maka kemungkinan akan terjadinya karies akan menurun, karena ketika viskositas rendah, maka volume saliva akan meningkat, sehingga kandungan saliva seperti lisosim yang berfungsi sebagai antibakteri juga akan meningkat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan kumur ekstrak siwak dan infus siwak terhadap viskositas saliva. Metode: Penelitian ini adalah eksperimental kuasi dengan pendekatan one group pretest-posttest. Enam belas subjek yang terpilih secara random kemudian berkumur dengan larutan kumur yang mengandung ekstrak siwak (Salvadora persica), infus siwak dan air mineral sebagai kontrol. Penelitian ini memiliki jenis subjek berpasangan dengan wash out periode selama satu minggu. Pengambilan sampel saliva dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan kumur menggunakan ekstrak maupun infus siwak. Kumur dilakukan selama 30 detik. Sampel kemudian diukur viskositasnya dengan menggunakan viscometer Brookfield. Data analisis menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, dan uji homogenitas dengan Levene Variance Test, data dianalisis dengan menggunakan Friedman dengan nilai signifikansi didapat pada p<0,05. Hasil: Dihasilkan pada uji Friedman untuk ketiga kelompok data adalah p=0,271 (p>0,05). Kesimpulan: Tidak ada perbedaan kumur ekstrak siwak (Salvadora persica) dan kumur infus siwak terhadap viskositas saliva secara signifikan.
Pengaruh Frekuensi Penyuluhan di UKGS pada Anak SD terhadap Derajat Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Handayani, Fitri; Rahmawati, Atiek Driana
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2.1603

Abstract

One of the dental health service program in school is promotion of dental health by counseling, which can increase the knowledge of oro-dental health. The elementary school students need a continuing counseling about the importance of oro-dental health because they are in the critical condition of the dental development. The purpose of this study was to know whether there was an influence of the counseling frequency in the school dental service on elementary school students to increase the dental health knowledge. The subject of this study was 38 students of 3rd grade (class A and B) and 4th grade (class A andB) of Inti Sonosewu IIElementary School. As a control, the students were given a pre-test before counseling. The counseling was given once to group A and three times to group B in a month. The post-test was given three days after the counseling. Statistical analysis by paired t-test showed that there was a significant difference (p 0.05) of knowledge between before and after counseling. Mann Whitney test showed that there was no significant difference (p 0.05) of knowledge between group A (once counseling in a month) and B (three times counseling a month).Salah satu program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yaitu promosi kesehatan gigi dan mulut melalui kegiatan penyuluhan yang dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut. Pada anak sekolah dasar perlu usaha penyuluhan secara terus menerus tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, karena pada saat itu pertumbuhan gigi geliginya mengalami kondisi yang kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh frekuensi penyuluhan di UKGS pada anak SD terhadap peningkatan derajat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental, dengan subyek penelitian siswa SD kelas IIIA, IIIB, IVA dan IVB SD Inti Sonosewu II sebanyak 38 anak. Sebelum penyuluhan siswa diberi pretest sebagai kontrol kemudian diberikan penyuluhan 1 kali dalam sebulan untuk kelompok A dan 3 kali untuk kelompok B. Tiga hari setelah penyuluhan siswa diberi postest. Data dianalisa dengan menggunakan uji statistik paired t-test dan Mann Whitney. Uji statistik dengan paired t-test menunjukkan hasil adanya perbedaan signifikan (p 0,05) pada pengetahuan antara sebelum dan sesudah penyuluhan.UjiMann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p 0,05) antara penyuluhan 1 kali dalam sebulan dengan 3 kali dalam sebulan terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak SD.
Hubungan antara Status Gizi dengan Status Erupsi Gigi Insisivus Sentralis Permanen Mandibula The Relationship between Nutritional Status and the Status of the Eruption of Permanent mandibular central incisors Atiek Driana Rahmawati; Hastami Retriasih; Ana Medawati
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v3i1.1724

Abstract

Erupsi gigi merupakan gerak normal gigi ke arah rongga mulut dari posisi pertumbuhannya dalam tulangalveolar. Erupsi gigi dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah nutrisi. Nutrisi sangat penting untukpertumbuhan dan perkembangan fisik, termasuk erupsi gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuihubungan antara status gizi dengan status erupsi gigi insisivus sentralis permanen mandibula. Jenis penelitian iniadalah analytic descriptive dengan pendekatan cross sectional yang melibatkan 60 siswa dengan usia 6-7 tahunyang bersekolah di sekolah dasar negeri di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY yang diambil denganmetode consecutive sampling. Subyek penelitian terbagi dalam 2 kriteria status gizi berdasarkan Tinggi Badanmenurut Usia (TB/U), yaitu 30 siswa dengan status gizi pendek dan 30 siswa dengan status gizi normal. Hasilanalisis dengan menggunakan uji statistic chi square menunjukkan hubungan yang signifikan (P0,05). Kesimpulan terdapat hubungan antara status gizi dengan status erupsi gigi insisivus sentralis permanen mandibula.
Perbedaan antara Kumur Ekstrak Siwak (Salvadora Persica) dan Kumur Infus Siwak terhadap Viskositas Saliva Atiek Driana Rahmawati; Muhammad Garry Syahrizal Hanafi
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v5i1.3708

Abstract

Latar Belakang: Karies atau lubang gigi dapat terjadi apabila faktor yang mengikuti terpenuhi seluruhnya. Faktor-faktor tersebut adalah mikroorganisme, substrat, host atau gigi, waktu dan lingkungan atau saliva. Saliva memiliki peranan penting, karena saliva berfungsi sebagai self cleansing, menjaga kesehatan jaringan lunak maupun keras yang ada di dalam rongga mulut, lubrikasi, anti mikroba dan kapasitas buffer. Hubungan viskositas dengan karies adalah apabila viskositas saliva semakin rendah, maka kemungkinan akan terjadinya karies akan menurun, karena ketika viskositas rendah, maka volume saliva akan meningkat, sehingga kandungan saliva seperti lisosim yang berfungsi sebagai antibakteri juga akan meningkat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan kumur ekstrak siwak dan infus siwak terhadap viskositas saliva. Metode: Penelitian ini adalah eksperimental kuasi dengan pendekatan one group pretest-posttest. Enam belas subjek yang terpilih secara random kemudian berkumur dengan larutan kumur yang mengandung ekstrak siwak (Salvadora persica), infus siwak dan air mineral sebagai kontrol. Penelitian ini memiliki jenis subjek berpasangan dengan wash out periode selama satu minggu. Pengambilan sampel saliva dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan kumur menggunakan ekstrak maupun infus siwak. Kumur dilakukan selama 30 detik. Sampel kemudian diukur viskositasnya dengan menggunakan viscometer Brookfield. Data analisis menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, dan uji homogenitas dengan Levene Variance Test, data dianalisis dengan menggunakan Friedman dengan nilai signifikansi didapat pada p0,05. Hasil: Dihasilkan pada uji Friedman untuk ketiga kelompok data adalah p=0,271 (p0,05). Kesimpulan: Tidak ada perbedaan kumur ekstrak siwak (Salvadora persica) dan kumur infus siwak terhadap viskositas saliva secara signifikan.
Potensi Ekstrak Etanol Daun Keladi Tikus (Typhonium flagelliforme Lodd.) Sebagai Induktor Apoptosis Sel Kanker Lidah Manusia (SP-C1) Himmaturojuli Rosyid Ridlo; Supriatno Supriatno; Ana Medawati; Atiek Driana Rahmawati
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v1i2.530

Abstract

Typhonium flagelliforme Lodd has been used traditionally to cure breast cancer, lung, colon, rectum, liver, prostate, kidney, cervix, throat, bone, brain, spleen, bladder, leukimia and pancreas cancer. The ethanolic extract of Typhonium flagelliforme Lodd contained active compounds that could inhibit cancer cell growth. One of the active compounds was saponin and phenolic. The aim of study was to examine the potency ethanolic extract of Typhoniumflagelliforme Lodd. as inductor of apoptosis in human oral tongue cancer cell Supri's Clone-1 (SP-C1). The desingn of used in this study was pure laboratoris experimental with human oral tongue cancer cells line (SP-C1) as a sample which treated by ethanolic extract of Typhonium flagelliforme Lodd in various concentrations (0, 25, 50, 75, 100, 125 µg/ml) for 48 hours. Apoptosis examination was carrried out by painting with etidium bromide-acridin orange. The result of the study showed that etanolic exstract of Typhonium flagelliforme Lodd. induced apoptotic SP-C1 cell line. Statistical analisis with One Way Anova revealed etanolic extract in various concentration have significant differences (P=0,00) after treated with etanolic extract Typonium flagelliforme Lodd. It also found that the most effective concentration inducing apoptosis of human tongue cancer cells Supri's Clone-1 (SP-C1) was the 125 µg/mL. The conclusion of this research, ethanolic extract of Typhonium flagelliforme Lodd. has a potency to induce apoptosis human oral tongue cancer cells (SP-C1).
Pengaruh Frekuensi Penyuluhan di UKGS pada Anak SD terhadap Derajat Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Fitri Handayani; Atiek Driana Rahmawati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2.1603

Abstract

One of the dental health service program in school is promotion of dental health by counseling, which can increase the knowledge of oro-dental health. The elementary school students need a continuing counseling about the importance of oro-dental health because they are in the critical condition of the dental development. The purpose of this study was to know whether there was an influence of the counseling frequency in the school dental service on elementary school students to increase the dental health knowledge. The subject of this study was 38 students of 3rd grade (class A and B) and 4th grade (class A andB) of Inti Sonosewu IIElementary School. As a control, the students were given a pre-test before counseling. The counseling was given once to group A and three times to group B in a month. The post-test was given three days after the counseling. Statistical analysis by paired t-test showed that there was a significant difference (p0.05) of knowledge between before and after counseling. Mann Whitney test showed that there was no significant difference (p0.05) of knowledge between group A (once counseling in a month) and B (three times counseling a month).Salah satu program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yaitu promosi kesehatan gigi dan mulut melalui kegiatan penyuluhan yang dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut. Pada anak sekolah dasar perlu usaha penyuluhan secara terus menerus tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, karena pada saat itu pertumbuhan gigi geliginya mengalami kondisi yang kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh frekuensi penyuluhan di UKGS pada anak SD terhadap peningkatan derajat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental, dengan subyek penelitian siswa SD kelas IIIA, IIIB, IVA dan IVB SD Inti Sonosewu II sebanyak 38 anak. Sebelum penyuluhan siswa diberi pretest sebagai kontrol kemudian diberikan penyuluhan 1 kali dalam sebulan untuk kelompok A dan 3 kali untuk kelompok B. Tiga hari setelah penyuluhan siswa diberi postest. Data dianalisa dengan menggunakan uji statistik paired t-test dan Mann Whitney. Uji statistik dengan paired t-test menunjukkan hasil adanya perbedaan signifikan (p0,05) pada pengetahuan antara sebelum dan sesudah penyuluhan.UjiMann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p0,05) antara penyuluhan 1 kali dalam sebulan dengan 3 kali dalam sebulan terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak SD.
Correlation between age and dental arch dimension of Javanese children Atiek Driana Rahmawati; Iwa Sutardjo Rus Sudarso; Dibyo Pramono; Eggi Arguni
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol. 53 No. 2 (2020): June 2020
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga https://fkg.unair.ac.id/en

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v53.i2.p93-98

Abstract

Background: Dental arch form and dimension are fundamental factors in orthodontic diagnosis and treatment planning. Its dimension will increase, due to the eruption of teeth, and is also affected by ethnicity, nutrition, systemic disease, hormonal factors, and gender. Many teeth are erupting in 8–10-year-old children. Purpose: This study aimed to assess the correlation between age and dental arch dimension of Javanese children in good nutritional status for consideration of orthodontic treatment. Methods: This was a cross-sectional study with 66 children aged 8–10 years in a normal dentoskeletal relationship, grouped based on age as the subject. Each group consisted of 22 pairs of dental study models, male and female. Anterior and posterior size of dental arch length were measured by digital sliding calipers from the midpoint between the right and left permanent central incisors perpendicular to the inter-canines and inter-molars. The width was measured at the inter-canines and inter-molars. Results: Pearson’s correlation test showed that there were significant correlations between age and maxillary dental arch lengths (p = 0.01, r = 0.31 for anterior, and p = 0.043, r = 0.249 for posterior). Conclusion: Based on this study, it can be concluded that there was a positive correlation between age and dental arch length of 8–10-year-old Javanese children in good nutritional status, especially in maxillary dental arch length.
Pembentukan Tim Rukti Jenazah dan Peningkatan Standar Kesehatan dalam Pengelolaan Erlina Sih Mahanani; Atiek Driana Rahmawati; Ana Medawati
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2022: 3. Kesehatan Keluarga dan Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/ppm.53.1113

Abstract

Risiko tingkat kematian usia lanjut secara teori lebih besar dari usia muda. Sementara itu, kematian merupakan hak Sang Pencipta kepada makhluk-Nya. Peristiwa kematian akan dialami oleh semua makhluk hidup, termasuk manusia. Apabila dalam masyarakat ada yang meninggal dunia, keluarga akan mengurus jenazahnya dari memandikan, mengafani, mensalatkan, sampai menguburkan. Agama Islam mengajarkan sebagai sesama muslim akan saling membantu dan mengurus jenazah sesama muslim. Apalagi bila yang meninggal tidak ada keluarga dekat yang berada di rumah atau disekitar rumah, tetangga akan saling bantu membantu untuk mengurusnya. Nilai positif dalam masyarakat ini perlu dikembangkan. Pentingnya nilai-nilai positif dalam masyrakat ini perlu dilakukan pelatihan dan pembentukan tim rukti jenazah dan diseminasi peningkatan pengelolaan standar kesehatan. Pengabdian kepada masyarakat dilakukan di RT 10 RW 04 Blunyahrejo, Karangwaru, Yogyakarta dengan kegiatan pelatihan rukti jenazah, penyuluhan dan pelatihan peningkatan standar kesehatan untuk tim rukti jenazah dan masyarakat umum, pembentukan tim rukti jenazah wanita dan tim rukti jenazah laki-laki, pemberian bantuan dari tim pengmas. Pelaksanaan pengabdian memberi manfaat besar bagi masyarakat dengan terbentuknya tim rukti jenazah dan langsung dapat dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat. Rukti jenazah langsung dilakukan dengan standar kesehatan dalam pengelolaannya, termasuk limbahnya. Tim merasa lebih percaya diri karena telah mendapat materi dan pelatihan sampai mengkafani jenazah. Implikasi kegiatan ini adalah dapat meningkatkan nilai-nilai positif dalam masyarakat dan bisa langsung dipraktikkan secara nyata