Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Perkembangan Fasies Sedimen Formasi Mamberamo Berumur Miosen Akhir-Pliosen di Cekungan Papua Utara David Victor Mamengko; Yoga B.Sendjadja; Budi Mulyana; Hermes Panggabean; Iyan Haryanto; Eko Budi Lelono; Juwita Trivianty Musu; Panuju Panuju
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 20 No. 1 (2019): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v20i1.399

Abstract

North Papua Basin is a fore arc basin located in northern coastal of Papua Island. This basin filled by Middle-Upper Miocene turbidite sediment and overlied by Upper Miocene – Quarternary clastic sediment. Upper Miocene – Quaternary clastic sediments (Mamberamo Formation) composed by interbedding conglomerate, sandstone and shale as molasses deposit. A detailed stratigraphic study was performed to identify facies and its association of the Mamberamo Formation to that give a new perspective on the characteristics and development of facies succession of Lower Mamberamo Formation. Result  shows that the Lower Mamberamo Formation consists of three facies: A) cross bedding sandstone (subtidal), B) heterolothic silty shale (intra-tidal), C) carbonaceous shale (supra-tidal) deposited on Late Miocen to Plio-Pleistocene during centra range orogeny (syn-orogeny) as molasses deposits.Keywords: Fore arc basin, North Papua Basin, Mamberamo Formation, molasse deposits.
POTENSI HIDROKARBON SEDIMEN PRA-TERSIER DAERAH ATAMBUA, TIMOR BARAT Eko Budi Lelono; Djoko Sunarjanto; Abdul Kholiq
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 50 No. 2 (2016): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Atambua dan sekitarnya dijumpai rembesan minyak dan gas di beberapa lokasi. Namun eksplorasi migas belumdilakukan secara intensif sehingga potensinya belum banyak terungkap. Penelitian ini difokuskan pada geologibatuan pra Tersier untuk mengetahui dan mengidentifikasi potensi hidrokarbonnya, untuk memastikan daerah inilayak untuk ditawarkan kepada investor. Metode yang dilakukan diawali studi literatur dan penelitian terdahulu,interpretasi data citra satelit, survei lapangan, analisis laboratorium dan integrasi data. Penelitian ini menghasilkantemuan baru berupa sedimen air tawar (diduga danau) produk syn-rift berumur Perm, sehingga terbuka peluangadanya sistem petroleum umur Paleozoikum. Secara umum disimpulkan bahwa elemen-elemen sistem petroleumsudah terbentuk di Wilayah Atambua dan sekitarnya, antara lain: serpih Perm Formasi Bisane dan batulempungTrias Formasi Aitutu berperan sebagai batuan sumber. Batupasir Perm Formasi Bisane dan batupasir Jura FormasiOebaat dapat bertindak sebagai reservoar, sedangkan batulempung Jura Formasi Wailuli berpotensi sebagai penyekat.Perangkap migas yang berhasil diidentifikasi berupa struktur basement involved thrust dan imbricated fault.
Zonasi Polen Tersier Indonesia Timur Eko Budi Lelono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 41 No. 1 (2007): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah Indonesia yang tersusun dari berbagai lempeng kerak bumi ternyata berpengaruh terhadap jenis flora yang hidup di kepulauannya sepanjang waktu geologi. Kawasan yang berasal dari Lempeng Asia, dihuni tumbuhan khas Asia, sedangkan kawasan yang terbentuk dari Lempeng Australia, ditumbuhi tanaman yang punya kekerabatan dengan tumbuhan Australia. Sebagai konsekuensinya palinomorf yang dihasilkannya pun beragam sesuai asal lempeng-lempeng tersebut. Oleh karenanya zonasi polen satu daerah dapat berbeda dengan daerah lain. Di kawasan timur Indonesia, hal ini terbukti dengan adanya perbedaan zonasi polen Tersier antara Sulawesi dan Papua. Zonasi polen Sulawesi mirip dengan zonasi polen Jawa yang dipublikasikan oleh Rahardjo, dkk (1994). Hal ini disebabkan karena Sulawesi, terutama bagian baratnya merupakan bagiandari Daratan Sunda (Sundaland), sehingga tumbuhannya adalah khas Asia. Sebaliknya Papua yang merupakan bagian dari Lempeng Australia didominasi oleh tumbuhan yang berasal dari Australia. Zonasi polen Tersier Indonesia Timur yang pernah dipublikasikan adalah untuk Sulawesi dan Papua (Lelono, dkk., 1996). Meskipun demikian zonasi tersebut masih harus disempurnakan karena perconto batuan yang digunakan dalam penelitian belum mewakili batuan sedimen yang terbentuk di kedua pulau tersebut, akibat keterbatasan waktu penelitian. Selain zonasi polen Tersier, dibutuhkan pula zonasi polen umur pra-Tersier, bahkan jika mungkin disusun biostratigrafi pra-Tersier untuk kawasan timur Indonesia karena belum ada yang melakukannya, disamping umumnya sedimen pra-Tersier menjadi target utama eksplorasi migas di kawasan timur Indonesia.
Palinomorf Eosen dari Selat Makasar Eko Budi Lelono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 41 No. 2 (2007): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis palinologi yang dilakukan terhadap percontoh serbuk bor yang diambil dari Sumur O interval kedalaman 8100’-11850’ yang ditajak di Selat Makasar memperlihatkan keragaman dan kelimpahan palinomorf rendah (bagian bawah interval) sampai sedang (bagian atas interval). Palinomorf yang ditemukan mencirikan umur Eosen seperti Proxapertites operculatus, Proxapertites cursus, Palmaepollenites kutchensis, Diporoconia iszkaszestgyorgyi dan Cicatricosisporites eocenicus. Dibandingkan dengan Formasi Nanggulan di Yogyakarta, kelimpahan dan keragaman palinomorf Sumur O relatif rendah. Palinomorf yang dijumpai melimpah pada Formasi Nanggulan seperti aff. Beaupreadites matsuokae, Palmaepollenites kutchensis dan Dicolpopollis malesianus memperlihatkan kelimpahan rendah di Sumur O. Hal ini dapat terjadi karena percontoh sedimen di Sumur O interval 8100’-11850’ berada pada level stratigrafi lebih muda dari pada Formasi Nanggulan yang berumur Eosen Tengah. Diperkirakan percontoh sedimen yang diteliti berumur Eosen Akhir. Interpretasi ini didukung oleh kemunculan polenProxapertites operculatus (fine reticulate) yang juga muncul pada Formasi Bayah umur Eosen Akhir di Jawa Barat. Selain itu, kelimpahan sedang polen Restioniidites punctulosus mengindikasikan terbentuknya iklim kering yang menandai umur Eosen Akhir seperti terjadi di Jawa, Eropa Barat dan Amerika Utara.
Penelitian Palinologi pada Sedimen Paleogen di Kawasan Indonesia Bagian Barat Eko Budi Lelono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 39 No. 2 (2005): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Singkapan sedimen umur Paleogen yang terdapat di Indonesia Barat sangat terbatas jumlahnya. Hal ini terutama disebabkan oleh aktivitas tektonik yang intensif yang berlangsung bersamaan dan sesudah umur Paleogen, yang mengakibatkan formasi umur ini tertimbun jauh di bawah permukaan. Sedangkan sedimen Paleogen yang didapat dari pemboran eksplorasi sulit diperoleh karena bersifat rahasia. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau penelitian palinologi terhadap sedimen umur ini masih terbatas jumlahnya. Meskipun demikian, gambaran umum palinologi umur Paleogen sedikit banyak sudah terungkap. Sebagai buktinya beberapa peneliti telah menyusun zonasi polen untuk umur Paleogen seperti Morley (1991) dan Rahardjo dkk. (1994). Penelitian paling lengkap terhadap sedimen Paleogen tertua dilakukan oleh Muller (1968) terhadap Formasi Kayan (dulu bernama Plateau Sandstone) berumur Paleosen- Eosen Awal yang tersingkap di Sarawak. Keragaman polen dari formasi ini rendah dibandingkan dengan keragaman polen masa kini yang ada di Dataran Sunda dan umumnya tidak mempunyai kesamaan dengan spesies modern. Di antara sedimen Paleogen yang paling kaya dengan kandungan palinomorf adalah Formasi Nanggulan berumur Eosen Tengah-Akhir yang tersingkap di desa Nanggulan, D. I. Yogyakarta. Beberapa penelitian dilakukan pada formasi ini antara lain oleh Barton (1988), Morley dan Harley (1995), dan Lelono (2000). Keragaman dan kelimpahan polen pada Formasi Nanggulan sangat tinggi terutama pada sedimen umur Eosen Tengah menunjukkan kondisi iklim basah tropis yang memungkinkan terbentuknya hutan tropis yang lebat. Selain itu, penelitian yang telah dilakukan memperlihatkan kehadiran palinomorf yang berasal dari India. Hal ini membuktikan bahwa telah terjadi migrasi tumbuhan dari India ke wilayah Asia Tenggara karena menyatunya kedua daerah tersebut akibat tumbukan antara Lempeng India dan Lempeng Asia yang diperkirakan berlangsung pada Eosen Tengah (Hall, 1998). Pada Oligosen Awal proses rifting dan subsid- ence (yang sudah dimulai pada Eosen Akhir) terus berlanjut yang ditandai dengan pembentukan pull-apart basin di beberapa daerah seperti Laut Cina Selatan, Sumatra dan Laut Jawa Barat Utara (Morley, 2000). Pada fase awal pembentukan pull-apart basin ditandai oleh terbentuknya endapan danau atau darat lainnya yang dibuktikan dengan dominasi alga air tawar Pediastrum spp. seperti ditemukan pada Cekungan Jawa Barat Utara. Mendekati umur Oligosen Akhir proses penurunan cekungan (subsidence) berlangsung sangat intensif pada area yang luas. Proses ini ditambah dengan kenaikan muka laut menyebabkan penyusutan daratan akibat penggenangan air laut, sehingga sedimentasi umumnya terjadi di lingkungan transisi sampai laut dangkal. Hal ini ditandai oleh kehadiran beragam palinomorf air payau (mangrove dan back- mangrove) pada penampang sumur umur Oligosen Akhir seperti dijumpai di Cekungan Jawa Barat Utara dan Jawa Timur Utara. Secara umum, keragaman dan kelimpahan palinomorf umur Oligosen jauh rendah dari pada umur Eosen. Hal ini disebabkan kondisi iklim lebih kering yang mendominasi umur Oligosen, meskipun di beberapa tempat dipengaruhi oleh iklim basah.
Analisis Palinologi Kuantitatif Endapan Delta Mahakam Umur Miosen Kalimantan Timur Eko Budi Lelono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 38 No. 2 (2004): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis biostratigrafi resolusi tinggi saat ini sudah menjadi tuntutan banyak perusahaan minyak untuk memahami kondisi stratigrafi secara akurat. Dalam tulisan ini analisis biostratigrafi resolusi tinggi dikerjakan dengan cara menghitung semua individu palinomorf yang muncul pada preparat mewakili percontoh batuan tertentu (metode kuantitatif). Sedangkan metode konvensional dikerjakan dengan mengamati kemunculan dan kepunahan palinomorf indeks untuk rekonstruksi zone palinologi (metode kualitatif).
Metode Alikuot dalam Preparasi Palinologi Eko Budi Lelono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 1 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Interpretasi palinologi dengan menerapkan metode alikuot atau volumetrik jauh lebih akurat dibandingkan dengan menggunakan metode konvensional karena residu yang dipakai dalam pembuatan preparat (slide) terukur volumenva dan berasal dari percontoh batuan yang juga terukur beratnva. Oleh karena itu, metode alikuot memungkinkan ahli palinologi untuk menghitung jumlah absolut palinomorf dalam percontoh batuan dengan hanya menghitung jumlah palinomorf yang muncul di preparat. Hal ini sangat bermanfaat dalam analisis lingkungan pengendapan yang membutuhkan akurasi konsentrasi palinomorf (palynomorph concentration) dalam suatu percontoh batuan untuk menghindari salah penafsiran. Selain itu metode alikuot menghasilkan korelasi stratigrafi yang terpercaya karena konsentrasi palinomorf yang ada dalam setiap percontoh berasal dari percontoh yang sama beratnya dan residu yang sama volumenya. Hasil penghitungan palinomorf dalam preparat menunjukkan penyebaran palinomorf yang tidak merata karena residu di bagian tepi cover slip kering lebih awal dari residu di bagian tengah sehingga palinomorf cenderung tertarik ke tengah cover slip. Fakta ini menuntut strategi pengamatan preparat yang dapat merepresentasikan konsentrasi palinomorf dalam preparat yaitu dengan membuat jalur pengamatan (transect) di tiga bagian preparat yang berbeda antara lain di bagian tepi (kiri dan kanan atau (atas dan bawah) dan di bagian tengah. Tulisan ini juga membahas teknik pembuatan preparat memakai propoxy resin 154 sebagai mounting media yang menghasilkan preparat dengan mutu jauh lebih baik dari pada preparat yang dibuat menggunakan mounting media lain.
Afta 2003: Peluang dan Tantangan Self-assessment Kelompok Stratigrafi, Eksplorasi Analisis Data Jasa Teknologi 1997-2001 Eko Budi Lelono; Nur Hasjim; Arifin
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 3 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahun 2003 akan diberlakukan perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara yang dikenal dengan AFTA (The Aean Free Trade Agrement). Akan tetapi gaung peristiwa ini di LEMIGAS nyaris tak terdengar, khususnya di Kelompok Stratigrafi, Kelompok Riset Eksplorasi. Tulisan ini membahas kesiapan Kelompok Stratigrafi dalam menghadapi era perdagangan bebas tersebut, termasuk tantangan yang mungkin dihadapi dan peluang yang mungkin diperoleh dalam era tersebut. Kajian data kontrak Jasa Teknologi selama lima tahun terakhir (1997-2001) memperlihatkan kecenderungan nilai kontrak yang meningkat sampai tahun 1999, tetapi sejak tahun 2000 menunjukkan penurunan. Nilai kontrak tertinggi dicapai tahun 1999 pada saat krisis ekonomi mencapai puncaknya. Data tahun 1997-2001 juga memperlihatkan hanya dua pelanggan (clients) yang dikategorikan sebagai pelanggan setia yang memberi konstribusi terbesar pada Kelompok Stratigrafi, yaitu UNOCAL Indonesia Company (pelanggan asing) dan PERTAMINA (pelanggan domestik). Terbatasnya jumlah pelanggan setia berakibat pada penurunan nilai kontrak akibat kejenuhan dan pada saat yang sama tidak ada kontrak yang signifikan dengan pelanggan lain. Jelas hal ini memerlukan perhatian khusus pihak manajemen Eksplorasi jika ingin tetap mempertahankan pendapatan dari Kelompok ini atau bahkan meningkatkannya. Salah satu kiat yang perlu dilakukan adalah diversifikasi pelanggan dengan cara lebih mengintensifkan usaha dalam memasarkan Kelompok ini ke industri hulu migas. Satu hal yang dapat dianggap sebagai unsur yang menguntungkan dalam menghadapi persaingan global adalah kualitas sumber daya Kelompok Stratigrafi yang sangat memadai.
SOUTH NATUNA BASIN RECONFIGURATION BASED ON RECENT SEISMIC AND GRAVITY SURVEYS Tatang Padmawidjaja; Yusuf Iskandar; Andy Setyo Wibowo; Eko Budi Lelono
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 42 No 2 (2019)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.42.2.377

Abstract

The Geological Survey Center has conducted a seismic survey in the southern Natuna Sea region to obtain geological information below relating to the potential energy resources of the area. The area research is located in the western part and outside the Singkawang Basin area (BG, 2008), which is separated by a Metamorf ridge. 2D seismic survey results show 3 different rock units, namely shallow marine sedimentary rocks, tertiary sedimentary rocks and pre-Tertiary sedimentary rocks, with pre-Tertiary sediment depths of less than 2000 ms. Interpretation of seismic data shows the pattern of graben structures that form sub-basins. strong refl ectors seen in seismic record can distinguish pre-rift, syn-rift and post-rift deposits. There are 2 wells, namely Datuk 1X and Ambu 1X. Datuk 1X has a depth of 1187 meters, and The Ambu 1X has a depth of 880 meters that is crossed by a seismic line. Both drilling has obtained Tertiary aged sandstone that covers pre-Tertiary bedrock.Gravity anomaly data in the seismic region shows anomaly values between 10 to 54 mgal which form the anomaly ridge and basinThe ridge anomaly extends as an anticline, while the anomaly basin also rises to form a syncline. Sincline and anticline trending southwest - southeast, with widening and narrowing patterns.Based on its geological model, the depth of the sediment is relatively shallow between 1500 to 2000 meters. While the integration between seismic, gravity and geomagnetic data shows the discovery of new basins that have never been described before.Finally, the integration of seismic and gravity data succeed discovers a new basin which has never been delineated before. In addition, it shows the continuity of the regional geological structure spanning from the studied area to the West Natuna Basin which is well known to be rich in hydrocarbon potential.
PERMO-TRIASSIC PALYNOLOGY OF THE WEST TIMOR Eko Budi Lelono; L. Nugrahaningsih; Dedi Kurniadi
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 39 No 1 (2016)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.39.1.529

Abstract

Fifteen surface samples were examined to analyze palynology of the Permo-Triassic sediments of West Timor. The studied samples were collected from the clastic sediment of Bisane Formation which is considered to be the oldest formation. It derives from the Australian continent (Gondwana) following thecollision with the Banda volcanic arc. The Bisane Formation generally comprises thick calcareous sandstone (0.3-5 meters) with shale alternation and abundant marine microfossil of Chrinoid. The appearance of Chrinoid may indicate Permian age and shallow marine environment. Meanwhile, other Bisane sediment shows different lithology in which it is composed of the intercalation of non-calacreous, dark gray to black shale and siltstone showing papery structure and rich in sulphur. Generally, palynological assemblage of the studied samples characterises Permo-Triassic age as indicated by the existence of common striate-bisaccate pollen including Protohaploxypinus samoilovichii, P. fuscus, P. goraiensis, Striatopodocarpidites phaleratus, Pinuspollenites globosaccus and Lunatisporites pellucidus. However, the appearance of trilete-monosaccate spores of Plicatipollenites malabarensis and Cannanoropollis janakii within the non-calcareous shale samples de􀂿 nes the age as Permian or older for these samples. Interestingly, marine dino􀃀 agellates appear to mark calcareous samples suggesting the in􀃀 uence of a marine environment. They disappear from the non-calcareous samples indicating a freshwater environment. By integrating this palynological analysis and Permian tectonic event which is marked by rifting, it can be interpreted that the non-calcareous samples were formed during early syn-rift as evidenced by the occurrence of freshwater deposit (may be lacustrine). Subsequently, following sea level rises during post rift, the depositional environment shifted to shallow marine as indicated by the existence of calcareous Permo-Triassic samples. If this is the case, the appearance of Permo-Triassic sediments provides an opportunity to 􀂿 nd a new petroleum system in the Paleozoic series of West Timor. Source rock is represented by black shale, whereas reservoir is represented by thick sandstone.