Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Palinomorf Eosen dari Selat Makasar Eko Budi Lelono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 41 No. 2 (2007): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis palinologi yang dilakukan terhadap percontoh serbuk bor yang diambil dari Sumur O interval kedalaman 8100’-11850’ yang ditajak di Selat Makasar memperlihatkan keragaman dan kelimpahan palinomorf rendah (bagian bawah interval) sampai sedang (bagian atas interval). Palinomorf yang ditemukan mencirikan umur Eosen seperti Proxapertites operculatus, Proxapertites cursus, Palmaepollenites kutchensis, Diporoconia iszkaszestgyorgyi dan Cicatricosisporites eocenicus. Dibandingkan dengan Formasi Nanggulan di Yogyakarta, kelimpahan dan keragaman palinomorf Sumur O relatif rendah. Palinomorf yang dijumpai melimpah pada Formasi Nanggulan seperti aff. Beaupreadites matsuokae, Palmaepollenites kutchensis dan Dicolpopollis malesianus memperlihatkan kelimpahan rendah di Sumur O. Hal ini dapat terjadi karena percontoh sedimen di Sumur O interval 8100’-11850’ berada pada level stratigrafi lebih muda dari pada Formasi Nanggulan yang berumur Eosen Tengah. Diperkirakan percontoh sedimen yang diteliti berumur Eosen Akhir. Interpretasi ini didukung oleh kemunculan polenProxapertites operculatus (fine reticulate) yang juga muncul pada Formasi Bayah umur Eosen Akhir di Jawa Barat. Selain itu, kelimpahan sedang polen Restioniidites punctulosus mengindikasikan terbentuknya iklim kering yang menandai umur Eosen Akhir seperti terjadi di Jawa, Eropa Barat dan Amerika Utara.
Penelitian Palinologi pada Sedimen Paleogen di Kawasan Indonesia Bagian Barat Eko Budi Lelono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 39 No. 2 (2005): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Singkapan sedimen umur Paleogen yang terdapat di Indonesia Barat sangat terbatas jumlahnya. Hal ini terutama disebabkan oleh aktivitas tektonik yang intensif yang berlangsung bersamaan dan sesudah umur Paleogen, yang mengakibatkan formasi umur ini tertimbun jauh di bawah permukaan. Sedangkan sedimen Paleogen yang didapat dari pemboran eksplorasi sulit diperoleh karena bersifat rahasia. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau penelitian palinologi terhadap sedimen umur ini masih terbatas jumlahnya. Meskipun demikian, gambaran umum palinologi umur Paleogen sedikit banyak sudah terungkap. Sebagai buktinya beberapa peneliti telah menyusun zonasi polen untuk umur Paleogen seperti Morley (1991) dan Rahardjo dkk. (1994). Penelitian paling lengkap terhadap sedimen Paleogen tertua dilakukan oleh Muller (1968) terhadap Formasi Kayan (dulu bernama Plateau Sandstone) berumur Paleosen- Eosen Awal yang tersingkap di Sarawak. Keragaman polen dari formasi ini rendah dibandingkan dengan keragaman polen masa kini yang ada di Dataran Sunda dan umumnya tidak mempunyai kesamaan dengan spesies modern. Di antara sedimen Paleogen yang paling kaya dengan kandungan palinomorf adalah Formasi Nanggulan berumur Eosen Tengah-Akhir yang tersingkap di desa Nanggulan, D. I. Yogyakarta. Beberapa penelitian dilakukan pada formasi ini antara lain oleh Barton (1988), Morley dan Harley (1995), dan Lelono (2000). Keragaman dan kelimpahan polen pada Formasi Nanggulan sangat tinggi terutama pada sedimen umur Eosen Tengah menunjukkan kondisi iklim basah tropis yang memungkinkan terbentuknya hutan tropis yang lebat. Selain itu, penelitian yang telah dilakukan memperlihatkan kehadiran palinomorf yang berasal dari India. Hal ini membuktikan bahwa telah terjadi migrasi tumbuhan dari India ke wilayah Asia Tenggara karena menyatunya kedua daerah tersebut akibat tumbukan antara Lempeng India dan Lempeng Asia yang diperkirakan berlangsung pada Eosen Tengah (Hall, 1998). Pada Oligosen Awal proses rifting dan subsid- ence (yang sudah dimulai pada Eosen Akhir) terus berlanjut yang ditandai dengan pembentukan pull-apart basin di beberapa daerah seperti Laut Cina Selatan, Sumatra dan Laut Jawa Barat Utara (Morley, 2000). Pada fase awal pembentukan pull-apart basin ditandai oleh terbentuknya endapan danau atau darat lainnya yang dibuktikan dengan dominasi alga air tawar Pediastrum spp. seperti ditemukan pada Cekungan Jawa Barat Utara. Mendekati umur Oligosen Akhir proses penurunan cekungan (subsidence) berlangsung sangat intensif pada area yang luas. Proses ini ditambah dengan kenaikan muka laut menyebabkan penyusutan daratan akibat penggenangan air laut, sehingga sedimentasi umumnya terjadi di lingkungan transisi sampai laut dangkal. Hal ini ditandai oleh kehadiran beragam palinomorf air payau (mangrove dan back- mangrove) pada penampang sumur umur Oligosen Akhir seperti dijumpai di Cekungan Jawa Barat Utara dan Jawa Timur Utara. Secara umum, keragaman dan kelimpahan palinomorf umur Oligosen jauh rendah dari pada umur Eosen. Hal ini disebabkan kondisi iklim lebih kering yang mendominasi umur Oligosen, meskipun di beberapa tempat dipengaruhi oleh iklim basah.
Analisis Palinologi Kuantitatif Endapan Delta Mahakam Umur Miosen Kalimantan Timur Eko Budi Lelono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 38 No. 2 (2004): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis biostratigrafi resolusi tinggi saat ini sudah menjadi tuntutan banyak perusahaan minyak untuk memahami kondisi stratigrafi secara akurat. Dalam tulisan ini analisis biostratigrafi resolusi tinggi dikerjakan dengan cara menghitung semua individu palinomorf yang muncul pada preparat mewakili percontoh batuan tertentu (metode kuantitatif). Sedangkan metode konvensional dikerjakan dengan mengamati kemunculan dan kepunahan palinomorf indeks untuk rekonstruksi zone palinologi (metode kualitatif).
Metode Alikuot dalam Preparasi Palinologi Eko Budi Lelono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 1 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Interpretasi palinologi dengan menerapkan metode alikuot atau volumetrik jauh lebih akurat dibandingkan dengan menggunakan metode konvensional karena residu yang dipakai dalam pembuatan preparat (slide) terukur volumenva dan berasal dari percontoh batuan yang juga terukur beratnva. Oleh karena itu, metode alikuot memungkinkan ahli palinologi untuk menghitung jumlah absolut palinomorf dalam percontoh batuan dengan hanya menghitung jumlah palinomorf yang muncul di preparat. Hal ini sangat bermanfaat dalam analisis lingkungan pengendapan yang membutuhkan akurasi konsentrasi palinomorf (palynomorph concentration) dalam suatu percontoh batuan untuk menghindari salah penafsiran. Selain itu metode alikuot menghasilkan korelasi stratigrafi yang terpercaya karena konsentrasi palinomorf yang ada dalam setiap percontoh berasal dari percontoh yang sama beratnya dan residu yang sama volumenya. Hasil penghitungan palinomorf dalam preparat menunjukkan penyebaran palinomorf yang tidak merata karena residu di bagian tepi cover slip kering lebih awal dari residu di bagian tengah sehingga palinomorf cenderung tertarik ke tengah cover slip. Fakta ini menuntut strategi pengamatan preparat yang dapat merepresentasikan konsentrasi palinomorf dalam preparat yaitu dengan membuat jalur pengamatan (transect) di tiga bagian preparat yang berbeda antara lain di bagian tepi (kiri dan kanan atau (atas dan bawah) dan di bagian tengah. Tulisan ini juga membahas teknik pembuatan preparat memakai propoxy resin 154 sebagai mounting media yang menghasilkan preparat dengan mutu jauh lebih baik dari pada preparat yang dibuat menggunakan mounting media lain.
Afta 2003: Peluang dan Tantangan Self-assessment Kelompok Stratigrafi, Eksplorasi Analisis Data Jasa Teknologi 1997-2001 Eko Budi Lelono; Nur Hasjim; Arifin
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 3 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahun 2003 akan diberlakukan perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara yang dikenal dengan AFTA (The Aean Free Trade Agrement). Akan tetapi gaung peristiwa ini di LEMIGAS nyaris tak terdengar, khususnya di Kelompok Stratigrafi, Kelompok Riset Eksplorasi. Tulisan ini membahas kesiapan Kelompok Stratigrafi dalam menghadapi era perdagangan bebas tersebut, termasuk tantangan yang mungkin dihadapi dan peluang yang mungkin diperoleh dalam era tersebut. Kajian data kontrak Jasa Teknologi selama lima tahun terakhir (1997-2001) memperlihatkan kecenderungan nilai kontrak yang meningkat sampai tahun 1999, tetapi sejak tahun 2000 menunjukkan penurunan. Nilai kontrak tertinggi dicapai tahun 1999 pada saat krisis ekonomi mencapai puncaknya. Data tahun 1997-2001 juga memperlihatkan hanya dua pelanggan (clients) yang dikategorikan sebagai pelanggan setia yang memberi konstribusi terbesar pada Kelompok Stratigrafi, yaitu UNOCAL Indonesia Company (pelanggan asing) dan PERTAMINA (pelanggan domestik). Terbatasnya jumlah pelanggan setia berakibat pada penurunan nilai kontrak akibat kejenuhan dan pada saat yang sama tidak ada kontrak yang signifikan dengan pelanggan lain. Jelas hal ini memerlukan perhatian khusus pihak manajemen Eksplorasi jika ingin tetap mempertahankan pendapatan dari Kelompok ini atau bahkan meningkatkannya. Salah satu kiat yang perlu dilakukan adalah diversifikasi pelanggan dengan cara lebih mengintensifkan usaha dalam memasarkan Kelompok ini ke industri hulu migas. Satu hal yang dapat dianggap sebagai unsur yang menguntungkan dalam menghadapi persaingan global adalah kualitas sumber daya Kelompok Stratigrafi yang sangat memadai.