Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

DINAMIKA DAN PERUBAHAN SOSIO-RELEGIO KULTURAL PONDOK PESANTREN SALAFIYAH DAN SALAFI Afandi; Moh Amiril Mukminin; Ishaq Syahid
AL - IBRAH Vol 6 No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/alibrah.v6i1.124

Abstract

Eksistensi pesantren memang telah tumbuh jauh sebelum kemerdekaan Indonesia.Pertumbuhan dan perkembangan pesantren sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan Agama Islam di Indonesia.Perjalanan pesantren sebagai lembaga pendidikan sangat menakjubkan.Pada era berdirinya kerajaan Islam, pesantren memperoleh tempat utama sebagai tempat masyarakat belajar berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi serta ilmu agama Islam.Selanjutnya di jaman penjajahan, Belanda memperkenalkan sistem pendidikan barat yang dinamakan sekolah. Sekolah ini yang kemudian dipandang masyarakat sebagai sarana untuk menuju masyarakat modern, sedangkan pesantren dianggap mempertahankan tradisi kolot. Kondisi ini sengaja diciptakan untuk menggerus pengaruh pesantren, karena pesantren oleh penjajah dianggap sebagai basis para pejuang kemerdekaan. Sedangkan pondok pesantren secara terminologi adalah lembaga pendidikan agama Islam, umumnya kegiatan tersebut diberikan dengan cara non klasikal (bandongan dan sorogan) dimana seorang kyai mengajar para santrinya berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh para ulama besar sejak abad pertengahan, sedangkan para santri biasanya tinggal di asrama tersebut. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam pertama di Indonesia. Menurut Agus Sunyoto, Menjelang akhir Majapahit, pesantren-pesantren yang menggantikan asrama dan dukuh Syiwa-buddha telah tumbuh berkembang menjadi lembaga pendidikan tempat siswa menuntut ilmu. Menurut Abdurrahman Wahid pesantren adalah lembaga yang diambil dari sistem mandala, lembaga pendidikan pra Islam di jaman Majapahit. Pondok pesantren Salafiyah (PPS) oleh para Sosiolog sering disebut dengan pondok pesantren “tradisional”, artinya pondok pesantren yang selalu melestarikan tradisi masa lalu, sebagai istilah yang lebih menunjukkan pada makna yang lebih umum dan mungkin juga lebih dominannya warna lokal dari pada Timur Tengah. Sedangkan gerakan pondok pesantren Salafi tidak lepas dari istilah gerakan Wahabi. Nama gerakan Wahabi adalah sebuah kelompok yang di-nisbah-kan kepada Muhammad ibn Abdul Wahāb. Asimilasi sosio-kultural yang dilakukan adalah membumikan Islam sesuai budaya setempat, mengislamkan anasir Hindu, memanfaatkan ajaran Kapitayan.Mendirikan lembaga pendidikan seperti asrama syiwa-budha yang nanti disebut pesantren, mengubah ajaran Bhairawa-Tantra dan mengubah kebiasaan dan tradisi keagamaan.
URGENSI PENDIDIKAN LITERASI KEUANGAN PADA ANAK Ishaq Syahid
JEMI Vol 1 No 1 (2023)
Publisher : STIT Al-Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/jemi.v1i1.309

Abstract

Artikel ini membahas mengapa dan bagaimana literasi keuangan penting diterapkan pada anak sedini mungkin. Menanamkan nilai-nilai literasi keuangan pada anak sedini mungkin berdampak besar terhadap pemahaman dan pengetahuan literasi keuangan serta tingkat kesejahteraannya di masa depan. Kemampuan kognitif anak yang masih konkrit dan terus berkembang sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai literasi keuangan. Keluarga sebagai komunitas pertama merupakan wadah yang sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai literasi keuangan. Peran sekolah juga sangat penting dalam memberikan informasi literasi keuangan kepada anak. Menumbuhkan nilai-nilai literasi keuangan melalui keluarga atau sekolah memerlukan komitmen bersama dan sinergi dari semua pihak.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN QUR’AN HADITS BERBASIS PROBLEM POSING DALAM MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA Syaiful Rohman; Ishaq Syahid
JEMI Vol 2 No 1 (2024)
Publisher : STIT Al-Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/jemi.v2i1.357

Abstract

In this research there are three problem formulations, namely: 1) What is the process of developing Islamic education learning based on problem posing in increasing the creativity of basic education students at MI Nurul Karomah. 2) What is the validity and practicality of developing Islamic education learning based on problem posing in increasing the creativity of basic education students. 3) How is student creativity after learning problem posing in basic education. This type of research is development research because the aim of this research is to produce learning tools in the form of lesson plans and worksheets. This development research uses the Thiagarajan design model. The Thiagarajan model consists of 4 stages known as the 4-D model (four D model). The four stages are the definition stage, design stage, development stage and disseminate stage. To obtain research data, 5 data collection techniques were used, namely: interviews, expert validation, observation, questionnaires and tests. Interviews were used to obtain data about the problem posing-based Islamic education learning development process. Expert validation is used to obtain data about the validity and practicality of the lesson plan and student worksheet. Observation is used to obtain data during the testing process which includes student activities, implementation of lesson plan syntax, and observation of student creativity. Student response questionnaires were used to obtain data during the trial process. The research data was analyzed and the results obtained showed that the lesson plan and student worksheet could be categorized as valid and practical so they were suitable for use. Meanwhile, student creativity based on the results of the pre-test and post-test shows that the creativity of medium and high students has increased in the post test.Keywords: Student creativity, problem posing learning.
Pelatihan Stimulasi dan Deteksi Perkembangan Balita Menggunakan KPSP Pada Kader Posyandu Luluk Alfiya; Ishaq Syahid
BAHRI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2024)
Publisher : STIT Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/muljeh.v1i2.510

Abstract

The important period in child development is at the age of under five years because at that age it influences and determines the child's further development. Early stimulation itself is a stimulation that is carried out since being in the womb, carried out every day, to stimulate all sensory systems from hearing, sight, touch, smell, taste. During this toddler period, the development of language skills, creativity, social awareness, emotional and intelligence runs very quickly as the foundation for subsequent development, so that any abnormalities or deviations, no matter how small, if not detected and not handled properly. Children who receive targeted and regular stimulation will develop faster than those who receive less or no stimulation at all. The brain tissue of children who receive a lot of stimulation will develop to 80% by the age of 3 years. If the child is never given stimulation, the brain tissue will decrease, this has a tendency to reduce the quality of human resources in the future. Stimulation of infant/toddler growth and development using the Pre-Screening Questionnaire for Development (KPSP) is one of the stimulation methods that can be used to detect toddler growth and development. Therefore, it is very important to improve the skills of Posyandu Cadres in using KPSP. The output from the use of KPSP will be one of the indicators of the success of fostering toddler growth and development at Posyandu, not only improving the health and nutritional status of toddlers but also the mental, emotional, social and independence of toddlers developing optimally.