Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

MULTICULTURAL ISLAMIC EDUCATIONS’ VALUES AND CHARACTER OF HUBBUL WATHON BASED OF MADRASAH’S LOCAL WISDOM Afandi Afandi
Jurnal Ijtihad Vol 5, No 2 (2021): AGUSTUS
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/multikultural.v5i2.12265

Abstract

Madrasah is a national education unit that has an important role in the character education of Hubbul Wathon. Madrasah based Pesantren is a unique model for the archipelago. The integration model of educational institutions provides educational comprehensiveness, especially in the praxis of Multicultural Islamic Education is maintained by madrasas. The purpose of this research is to find out about; the values of Multicultural Islamic education developed in Madrasah Aliyah Nurulhuda Pakandangan Sumenep and Madrasah Aliyah Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan; the integration of the values of Multicultural Islamic Education based of Madrasah’s local wisdom. The research method used is qualitative with a phenomenological approach. Determination of informants was carried out by using a full purpose sample strategy and snow ball sampling. The data network was carried out by observation, in-depth interviews, FGD and documentation. Data analysis used Miles and Hubarman’s analysis, reduction, display and verification. The results of the study show that the values of the Multicultural Islamic Religious Education done by Madrasah are religiosity (al-Rabbaniyah), humanity (al-Insaniyah), social discipline and solidarity, justice. and equality, Tolerance and harmony, Social Care (mutual cooperation), Service, Comprehension (al-Symuliyah), and State Defense, Keywords:  Multicultural Islamic Education, Character, Hubbul Wathon,  Local Wisdom, Madrasah
PARENTING IN THE MILLENNIAL ERA (Analysis of Childcare Models in the Digital Age with Contemporary Islamic Education) Afandi Afandi; Achmad Anwar Abidin
Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 18 No. 2 (2022): September
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Daruttaqwa Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Children are always associated with the parents who give birth to and raise them, because peoplehave the most important role in the child's life in the future.  In the digital era, sources of information are increasingly open and there are almost no restrictions on the information received, including children who are also affected. The digital age has a very positive impact, but it also has a negative impact. In this digital era, parenting or the role of parents is needed to guide and supervise children when they are already addicted to the sophistication of digital technology. It all depends on the parenting of his own parents to keep a child with a disciplined attitude of learning. Differences in parental parenting will have an impact on the child's learning discipline. This research uses the use of qualitative descriptive, and the research method used is a literature study, which is research conducted using several books, journals related to problems and research objectives. Parents play a big role in the development of children, in digital areas parents must accompany and be more careful in parenting patterns by Utilizing Technological Developments In More Organized Parenting, Have a Plan, keep spending time with family and appreciate the child's space. Child Parenting in the Digital Age is divided into three categories, namely: (1) authoritarian parenting; (2) democratic parenting; (3) permissive parenting. All types of parenting have their own advantages and disadvantages. In the analysis from the perspective of contemporary Islamic education, it is found that All parenting patterns in the perspective of Islamic education are directed at how children achieve happiness in the world and the hereafter not only success in their world life but also able to obtain success later in the afterlife whose indicator is to have adequate emotional and spiritual intelligence
MODEL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS KITAB KUNING DI SEKOLAH FORMAL Afandi Afandi; Faisol Faisol; Mo’tasim Mo’tasim
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 6 No. 2 (2023): Volume 6 No. 2 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v6i2.18192

Abstract

Kitab kuning adalah warisan Ulama’ atau intelektual muslim yang harus dilestarikan secara aktif melalui praksis pendidikan Islam. Artikel ini mendiskusikan bagaimana model pembelajaran berbasis kitab kuning dan bagaimana kitab kuning dapat diajarkan tidak hanya di pesantren. Dengan pendekatan penelitian kepustaakaan (library research) dan analisis isi (content analisys) dengan mengambil beberapa referensi dari beberapa jurnal ilmiyah. Hasil  kajian ini menemukan bahwa  Model pembelajaran berbasis kitab kuning sebenarnya dapat dilakukan dengan menjadikan kitab kuning sebagai sumber utama dalam pendidikan tidak hanya di pesantren, namun juga di lembaga pendidikan formal lainnya. Kitab kuning sebagai tradisi ulama terutama ulama’ nusantara yang telah banyak berkontribusi melalui karya kitab kuning sejatinya harus menjadi semangat dan motivasi para generasi berikutnya untuk menghidupkan kitab kuning sebagai sebuah karya yang harus dilestarikan dan dikembangkan. Saat ini kitab kuning sebagai sebuah karya warisan literasi dalam dunia pesantren menurut penulis mengalami krisis baik sebagai sumber belajar maupun sebagai sebuah karya. Model pembelajaran kitab kuning juga dapat dilakukan dengan strategi ekstrakurikuler kitab kuning. Ini adalah upaya merevitalisasi kitab kuning sebagai sebuah pembelajaran di sekolah dengan manajemen ekstrakurikuler,
PENDAMPINGAN MASYARAKAT DALAM PENGUATAN MODERASI BERAGAMA DI DESA BATU KERBUY PASEAN PAMEKASAN Ach. Sayyi; Afandi Afandi
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023): Volume 4 Nomor 4 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i4.18964

Abstract

Realitas sosial masyarakat desa Batu Kerbuy dapat dikatagorikan sebagai masyarakat multikultural, maskipun secara keseluruhan penduduknya adalah pemeluk agama Islam. Sebab di desa ini terdapat beberapa afiliasi paham keagamaan yang berkembang dan diamalkan dalam kehidupan sehari, yaitu Nahdlatul Ulama’ (NU), Muhammadiyah, Serikat Islam, FPI, Al-Irsyad, Persis, dan Hidayatullah. Fenomena ini cendrung akan terjadi konflik atar satu kelompok dengan yang lainnya jika tidak diberikan pemahaman dan pendampingan akan pentingnya sikap saling menghomati, inklusif dan toleran. Tujuan pendampingan moderasi beragama ini adalah untuk menciptakan tatanan sosial kemasyarakatn yang rukun, damai, harmonis dengan menunjukkan sikap saling menghomati dan saling menghargai perbedaan yang terjadi di masyarakat. Metode pendampingan dalam penguatan moderasi beragama adalah metode PAR (participatory action research) yang didahului dengan sosialisasi rencana pendampingan, pelaksanaan, monitoring FGD dan evaluasi program pendampingan penguatan moderasi beragama. Hasil pengabdian menujukkan adanya perubahan sikap dan pola pikir masyarakat ke arah yang inklusif dan toleran dengan menujukkan kesediaan dan kesiapan hidup berdampingan secara damai dan harmonis dalam perbedaan.
KHULAFAUR RASYIDIN DAN ANATOMI-DIALEKTIK PENDIDIKAN POLITIK PENGUASA Afandi
AL - IBRAH Vol 3 No 2 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.368 KB)

Abstract

Pendidikan pada masa Khalifah Abu Bakar tidak jauh berbeda dengan Pendidika pada masa Rasulullah. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab Pendidikan sudah lebih meningkat di mana pada masa Umar guru-guru sudah diangkat dan digaji untuk mengajar ke daerah-daerah yang baru ditaklukkan. Pada masa Khalifah Ustman bin Affan, Pendidikan diserahkan kepada rakyat dan sahabat tidak hanya terfokus di Madinah saja, tetapi sudah dibolehkan ke daerah-daerah untuk mengajar. Pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, Pendidikan kurang mendapat perhatian, ini disebabkan pemerintahan Ali selalu dilanda konflik yang berujung kepada kekacauan
DINAMIKA DAN PERUBAHAN SOSIO-RELEGIO KULTURAL PONDOK PESANTREN SALAFIYAH DAN SALAFI Afandi; Moh Amiril Mukminin; Ishaq Syahid
AL - IBRAH Vol 6 No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/alibrah.v6i1.124

Abstract

Eksistensi pesantren memang telah tumbuh jauh sebelum kemerdekaan Indonesia.Pertumbuhan dan perkembangan pesantren sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan Agama Islam di Indonesia.Perjalanan pesantren sebagai lembaga pendidikan sangat menakjubkan.Pada era berdirinya kerajaan Islam, pesantren memperoleh tempat utama sebagai tempat masyarakat belajar berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi serta ilmu agama Islam.Selanjutnya di jaman penjajahan, Belanda memperkenalkan sistem pendidikan barat yang dinamakan sekolah. Sekolah ini yang kemudian dipandang masyarakat sebagai sarana untuk menuju masyarakat modern, sedangkan pesantren dianggap mempertahankan tradisi kolot. Kondisi ini sengaja diciptakan untuk menggerus pengaruh pesantren, karena pesantren oleh penjajah dianggap sebagai basis para pejuang kemerdekaan. Sedangkan pondok pesantren secara terminologi adalah lembaga pendidikan agama Islam, umumnya kegiatan tersebut diberikan dengan cara non klasikal (bandongan dan sorogan) dimana seorang kyai mengajar para santrinya berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh para ulama besar sejak abad pertengahan, sedangkan para santri biasanya tinggal di asrama tersebut. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam pertama di Indonesia. Menurut Agus Sunyoto, Menjelang akhir Majapahit, pesantren-pesantren yang menggantikan asrama dan dukuh Syiwa-buddha telah tumbuh berkembang menjadi lembaga pendidikan tempat siswa menuntut ilmu. Menurut Abdurrahman Wahid pesantren adalah lembaga yang diambil dari sistem mandala, lembaga pendidikan pra Islam di jaman Majapahit. Pondok pesantren Salafiyah (PPS) oleh para Sosiolog sering disebut dengan pondok pesantren “tradisional”, artinya pondok pesantren yang selalu melestarikan tradisi masa lalu, sebagai istilah yang lebih menunjukkan pada makna yang lebih umum dan mungkin juga lebih dominannya warna lokal dari pada Timur Tengah. Sedangkan gerakan pondok pesantren Salafi tidak lepas dari istilah gerakan Wahabi. Nama gerakan Wahabi adalah sebuah kelompok yang di-nisbah-kan kepada Muhammad ibn Abdul Wahāb. Asimilasi sosio-kultural yang dilakukan adalah membumikan Islam sesuai budaya setempat, mengislamkan anasir Hindu, memanfaatkan ajaran Kapitayan.Mendirikan lembaga pendidikan seperti asrama syiwa-budha yang nanti disebut pesantren, mengubah ajaran Bhairawa-Tantra dan mengubah kebiasaan dan tradisi keagamaan.
HAK ASASI MANUSIA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Afandi Afandi; Muksin Muksin
AL - IBRAH Vol 7 No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61815/alibrah.v7i1.189

Abstract

Kajian ini bertujuan mendiskripsikan hak asasi manusia dalam perpektif Pendidikan Islam dengan pendekatan kuaitatif jenis pustaka. Hasil kajian ini adalah pertama bahwa Pendidikan Islam harus mempertahankan pendidikan yang mengakui dan mengedepankan nilai dan hak asasi manusia karenameletakkan dasar-dasar hak yang jelas yaitu ada lima hak dalam Islam yang harus dipelihara. Kedua Pendidikan Islam harus memerhatikan dan mengedepankan nilai kemanusiaan seperti keadilan dan kesetaraan, toleransi dan moderasi, KetigaPendidikan Islam mengedepankan paham multicultural dalam interaksi manusia di dalam al-Qur’an This study aims to describe human rights in the perspective of Islamic education with a qualitative approach to the type of literature. The results of this study are first that Islamic education must maintain an education that recognizes and prioritizes human values and rights because Islam is a religion that was revealed by Allah to His Apostle to be conveyed to humans. Second, Islamic education must pay attention to and prioritize human values such as justice and equality, tolerance and moderation. Third, Islamic education prioritizes multicultural understanding in human interaction in the Qur'an.
RELEVANSI KURIKULUM MERDEKA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM SYED MUHAMMAD NAQUIB AL- ATTAS Afandi Afandi; Muksin Muksin; Risa Fadatul M.
Atthiflah: Journal of Early Childhood Islamic Education Vol. 10 No. 2 (2023): Juni
Publisher : Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Institut Agama Islam Daruttaqwa Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Education in Indonesia has undergone curriculum changes caused by the ever-changing and developing state of society, so that many new life problems are needed, so the Ministry of Education and Culture launched the Independent Curriculum and researchers associated it with Syed Muhammad Naquib al-Attas, as a figure who has a well-known and brilliant Islamic education thought and this research adheres to the rationale contained in it. This research uses a descriptive qualitative approach to content analysis with the type of library research, collecting data using documentation methods or records as data sources. From the results of the discussion and research, it was concluded that the Islamic education thought of Syed Muhammad Naquib alAttas and its relevance to  the Independent Curriculum is first, the concept of ta'dib is in line with the principles of designing the Independent Curriculum and the development policy of the Independent Curriculum. Second, the objectives of al-Attas' Islamic education are aligned with the Merdeka Curriculum.
PARENTING IN THE MILLENNIAL ERA (Analysis of Childcare Models in the Digital Age with Contemporary Islamic Education) Afandi Afandi; Achmad Anwar Abidin
Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 18 No. 2 (2022): September
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Daruttaqwa Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Children are always associated with the parents who give birth to and raise them, because peoplehave the most important role in the child's life in the future.  In the digital era, sources of information are increasingly open and there are almost no restrictions on the information received, including children who are also affected. The digital age has a very positive impact, but it also has a negative impact. In this digital era, parenting or the role of parents is needed to guide and supervise children when they are already addicted to the sophistication of digital technology. It all depends on the parenting of his own parents to keep a child with a disciplined attitude of learning. Differences in parental parenting will have an impact on the child's learning discipline. This research uses the use of qualitative descriptive, and the research method used is a literature study, which is research conducted using several books, journals related to problems and research objectives. Parents play a big role in the development of children, in digital areas parents must accompany and be more careful in parenting patterns by Utilizing Technological Developments In More Organized Parenting, Have a Plan, keep spending time with family and appreciate the child's space. Child Parenting in the Digital Age is divided into three categories, namely: (1) authoritarian parenting; (2) democratic parenting; (3) permissive parenting. All types of parenting have their own advantages and disadvantages. In the analysis from the perspective of contemporary Islamic education, it is found that All parenting patterns in the perspective of Islamic education are directed at how children achieve happiness in the world and the hereafter not only success in their world life but also able to obtain success later in the afterlife whose indicator is to have adequate emotional and spiritual intelligence
MEMBUMIKAN NILAI NILAI AKHLAQ DALAM KITAB AL-FIYAH IBNU MALIK DI PONDOK PESANTREN ROUDHLATUL MUTAALLIMIN AL AZIZIYAH II SEBANEH BANCARAN BANGKALAN Afandi; Moh. Lutfi
Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 17 No. 02 (2021): September
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Daruttaqwa Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54069/attaqwa.v17i02.157

Abstract

The word moral comes from Arabic which has become an uptake language. It is the plural form of Khuluqun which means "temperament, character, custom, and so on. While the notion of morals according to the term is the will of the human soul that gives rise to an action easily because of habit without requiring consideration of the mind first. Ibn Malik's book of alfiyah is an Arabic grammar, syntext, and morphology compiled by the famous scholars' Sheikh Jamaluddin muhammad Bin Abdullah Bin Malik Al Andalusi. This research has a focus on discussing the value of akhlaq value contained in the book of alfiyah ibn malik. This study was conducted at Pondok Pesantren Roudhlatul Muta'allimin Al Aziziyah II Sebaneh, Bancaran, Bangkalan using descriptive qualitative research, data sources produced through unstructured interviews, participant observations and documentation. The informant was the caretaker and Manager of Pondok Pesantren Roudhlatul Mutaallimin al-Aziziyah II Sebaneh Bancaran Bangkalan. The results of the study show that: contained in the book of Alfiyah Ibn Malik not only qoidhah gramatic Arabic but the beauty of language and beauty of stacking can absorb some knowledge by understanding the lafad lafad baitnya and by living the meaning of the express will arise the meaning of the meaning implied in it.