Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN INSEKTOFORA (Nepenthes sp) DI KAWASAN HUTAN BATIKNAU, BENGKULU UTARA Rusdi Hasan; Lilis Suryani; Nopriyeni
Jurnal Riset dan Inovasi Pendidikan Sains (JRIPS) Vol. 3 No. 1 (2024): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jrips.v3i1.6193

Abstract

Batiknau merupakan kawasan hutan sekunder yang kaya akan berbagai jenis vegetasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis Nepenthes sebagai tumbuhan insektivora yang memiliki modifikasi daun menjadi bentuk yang sangat menarik di kawasan hutan tersebut. Penelitian dilakukan dengan metode jelajah pada lokasi penelitian yang merupakan habitat tumbuhan Nepenthes. Hasil penelitian menunjukkan bahawa kawasan hutan Batiknau, Bengkulu Utara memiliki lima jenis Nepenthes, yaitu Nepenthes gracilis, Nepenthes gracilis var. angustifolia, Nepentes gracilis var. arenaria, Nepenthes gracilis var. elongata, Nepenthes gracilis var. lower pitcher, Nepenthes gracilis var. xneglecta, Nepenthes khasiana, Nepenthes mirabilis, Nepenthes mirabilis var. echinostoma, Nepenthes mirabilis var. smilesii, Nepenthes mirabilis var. anamensis, Nepenthes mirabilis var. exotica, Nepenthes rafflesiana var. alata, Nepenthes reinwardtiana. Kata kunci : Insektivora, keanekaragaman, Nepenthes.
Uji Antimikroba Minyak dengan Variasi Katalisator Hasil Pengolahan Limbah Medis Padat Pasca Sterilisasi Secara Pirolisis terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Vania Aramintana Alam; Rusdi Hasan; Keukeu Kaniawati Rosada; Novi Fitria
JURNAL BIOEDUKASI Vol 7, No 2: Jurnal Bioedukasi Edisi Oktober 2024
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/bioedu.v7i2.8365

Abstract

Semakin hari peningkatan limbah medis semakin bertambah seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Pengolahan limbah medis dapat dilakukan dengan metode insinerasi, microwaving, hingga pirolisis. Dalam proses pirolisis diperlukan katalisator untuk mempercepat reaksinya. Hasil pirolisis dapat berupa cair, padat, dan gas. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis perbedaan uji resistensi antimikroba dari minyak kontrol dan dengan variasi katalisator hasil pengolahan limbah medis padat pasca sterilisasi dengan metode pirolisis menggunakan bakteri Staphylococcus aureus yang tidak dapat mendegradasi hidrokarbon. Minyak hasil pirolisis limbah medis padat kemudian di uji antimikroba dengan bakteri S. aureus dengan metode sumuran. Metode yang digunakan dengan mengukur zona bening yang terbentuk pada media lalu dianalisis dengan uji anova satu arah. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata zona bening yang terbentuk dari minyak kontrol, etilen glikol, dan N-Heksana adalah 15,88 mm, 15,06 mm, dan 13,56 mm dimana termasuk ke dalam kategori kuat. Hal ini menunjukkan bahwa sampel minyak hasil pirolisis memiliki aktivitas sensitivitas kuat terhadap bakteri S. aureus dan bakteri tidak mendegradasi senyawa hidrokarbon. Hasil analisis statistik menunjukkan nilai 0,247 yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan secara signifikan antara minyak kontrol, minyak etilen glikol, dan minyak N-Heksana terhadap zona bening yang terbentuk dengan bakteri uji.    Kata kunci: Antimikroba, limbah medis padat, pirolisis, Staphylococcus aureus
The Accumulation of NaCl in The Coastal Plant Leaves of Mangrove, Bariongtonia, and Pes-Caprae Formations Rusdi Hasan; Tia Setiawati; Marheny Lukitasari; Nopriyeni Nopriyeni
Florea : Jurnal Biologi dan Pembelajarannya Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/florea.v12i1.22210

Abstract

This study aims to compare the salt content (NaCl) in the leaves of several types of coastal plants that grow in different formations, namely Mangrove, Barringtonia, and Pres-Caprae. The study was conducted in the coastal area of Lais District, North Bengkulu Regency using direct survey methods in the field and laboratory analysis using a refractometer. The results showed that there were 10 species of coastal plants from three formations, namely Barringtonia, Mangrove, and Pes-Caprae. The highest salt content was found in the Acanthus species ilicifolius (2.75‰) from the Mangrove formation, while the lowest levels were found in Canavalia maritima (0.75‰) from the Pes-Caprae formation. The difference in salt content is thought to be influenced by the location of its habitat in the coastal area and its ability to adapt both structurally and physiologically so that it can survive in an environment with extreme salt content. The results of this study provide important information about the adaptation of coastal plants to salinity and can be the basis for further research on salt concentration in coastal plants.