Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Durasi Jam Kerja Penyiar Radio Dengan Gejala Permasalahan Suara (Vocal Misuse) Di Surakarta Luluk Nur Latifah; Sinar Perdana Putra
Jurnal Terapi Wicara dan Bahasa Vol. 1 No. 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59686/jtwb.v1i2.50

Abstract

Latar belakang: Suara di radio merupakan elemen penting dalam komunikasi. Penggunaan suara sebagai instrumen utama untuk mentransmisikan teks eksplisit, durasi jam kerja pada penyiar radio yang berlebih menyebabkan penyiar radio menggunakan suara secara berlebihan pula dan ditakutkan akan menyebabkan gangguan suara. Tujuan: Mengetahui adakah hubungan antara durasi jam kerja penyiar radio dengan gejala permasalahan suara (vocal misuse) di Surakarta. Metode: Berdasarkan jenis data, penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan bersifat cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah judge purposive sampling. Uji statistik yang digunakan adalah uji koefisien kontingensi. Hasil penelitian: Hasil analisis diperoleh durasi jam kerja penyiar radio menunjukan nilai lebih dari 5 jam (53,3%) dan permasalahan suara berada pada nilai di bawah rata-rata sebanyak (53,3%). Hubungan antara durasi jam kerja dan permasalahan suara dengan nilai P value = 0,001 dan r = 0.519 Maka dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan durasi jam kerja penyiar radio dengan permasalahan suara di Surakarta. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara durasi jam kerja dengan gejala permasalahan suara vocal misuse di Surakarta. Durasi jam kerja penyiar radio dapat berpengaruh pada kesehatan seseorang, karena semakin lama durasi menyiar akan menyebabkan permasalahan suara. Peningkatan suara menyebabkan dampak negatif pada pembicara dimana mengalami hiperfungsi pada kebiasaan suara yang meningkat intensitas dan frekuensinya. Peningkatan ini dapat membuat regangan pada pita suara, peningkatan pada subglottal, dan memiliki resiko mengalami kerusakan pada pita suara. Kata Kunci: Durasi Jam Kerja, Permasalahan Suara, Vocal Misuse
Pemberdayaan Masyarakat tentang Penggunaan Alat Augmentative and Alternatif Communications dalam Mempermudahkan Komunikasi pada Anak Autisme Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar Sinar Perdana Putra; Dian Atnantomi Wiliyanto; Rizki Husadani
Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/ba-jpm.v6i2.4589

Abstract

Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) secara umum mengalami gangguan dalam kemampuan komunikasi, baik secara verbal maupun nonverbal, sehingga berdampak pada keterbatasan interaksi sosial dan penyampaian kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut menyebabkan perlunya strategi komunikasi alternatif yang dapat membantu anak berinteraksi secara lebih efektif dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah penerapan Augmentative and Alternative Communication (AAC) melalui media komunikasi berbasis gambar maupun alat bantu komunikasi lainnya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru serta orang tua dalam penggunaan alat AAC untuk mendukung kemampuan komunikasi anak autisme di SLB BCD Autis YPALB Sroyo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar. Metode pelaksanaan dilakukan melalui tahapan persiapan, penyusunan buku panduan dan alat AAC, sosialisasi, pelatihan penggunaan alat, pendampingan, serta evaluasi program. Sasaran kegiatan adalah guru dan orang tua peserta didik autisme yang terlibat secara langsung dalam proses pendampingan anak. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai penggunaan AAC sebagai media komunikasi alternatif bagi anak autisme. Selain itu, tersedianya buku panduan dan alat AAC diharapkan dapat menjadi sarana pendukung yang berkelanjutan dalam proses pembelajaran dan komunikasi anak di lingkungan sekolah maupun rumah. Program ini diharapkan mampu memperkuat peran keluarga dan guru dalam mengoptimalkan perkembangan komunikasi anak autisme secara lebih efektif dan adaptif.
Speech Therapists Roles in Multisectoral Collaboration for Children with Special Needs: A Case Study in Indonesian Special Schools Dian Atnantomi Wiliyanto; Rizki Husadani; Sinar Perdana Putra
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Luar Biasa Vol 12, No 2 (2025): December
Publisher : Department of Special Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um029v12i22025p%p

Abstract

To improve their communication skills, children with special needs (CSN) need a system that combines education and therapy, including speech therapy. This study aims to outline the role of speech therapists in working with teachers, parents, healthcare professionals, and others in special schools. We used a case study design and a mixed-methods approach for the research. The study involved 54 participants. We collected data through an online survey created with Google Forms. The survey results show that speech therapists in schools have six key roles: identifying and assessing needs, planning programs together, implementing integrated interventions, communicating and coordinating efforts, evaluating progress, and advocating for students. The advocacy role scored the highest, with an average of 4.50 (SD = 0.50), which is considered very high. The descriptive data also highlighted other challenges, including a lack of proper infrastructure and materials, poor coordination among different sectors, and limited government support for including speech therapy in schools.