Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Pola Penggunaan Antibiotik pada Pasien Demam Tifoid di Fasilitas Pelayanan Kesehatan: Literature Review Desi Astri; Citra Yuliyanda Pardilawati; Femmy Andrifianie; Rasmi Zakiah Oktarlina
Sains Medisina Vol 4 No 4 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i4.1070

Abstract

Demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Antibiotik merupakan terapi utama, namun penggunaan yang tidak rasional dapat meningkatkan risiko resistensi bakteri. Menganalisis pola penggunaan antibiotik dan rasionalitas terapi pada pasien demam tifoid di fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode literature review terhadap artikel original research yang diperoleh dari Google Scholar dan PubMed. Kriteria inklusi meliputi artikel open access, full-text, terbit pada tahun 2021–2026, dan relevan dengan topik. Sebanyak 10 artikel dianalisis secara mendalam. Pola penggunaan antibiotik didominasi oleh sefalosporin generasi III, terutama ceftriaxone dan cefixime, yang memiliki efektivitas klinis yang tinggi. Namun, rasionalitas penggunaan masih bervariasi, terutama terkait durasi terapi dan pemilihan antibiotik. Selain itu, peningkatan kasus resistensi Salmonella typhi, termasuk multidrug-resistant (MDR) dan extensively drug-resistant (XDR), menjadi tantangan dalam terapi. Dari aspek farmakoekonomi, ceftriaxone lebih cost-effective dibandingkan antibiotik lain, meskipun beberapa di antaranya memiliki efektivitas klinis yang lebih tinggi. Pola penggunaan antibiotik pada demam tifoid cenderung seragam, namun rasionalitasnya belum optimal. Kepatuhan terhadap pedoman terapi dan evaluasi penggunaan antibiotik perlu ditingkatkan secara berkelanjutan untuk mencegah resistensi dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Potensi Aktivitas Antidiabetes Berbagai Jenis dan Varian Tanaman Mangga (Mangifera spp.) Agnes Monica Murisla; Zulpakor Oktoba; Femmy Andrifianie; Ramadhan Triyandi
Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF) Vol. 3 No. 2 (2025): April : Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF)
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/jrikuf.v3i2.595

Abstract

Diabetes mellitus is a chronic disease with a significantly increasing global prevalence, especially in developing countries. Current treatments use synthetic antidiabetic drugs that are generally expensive and have various side effects. This study aims to examine the potential of mango plants (Mangifera spp.) as antidiabetic agents through a systematic literature review. Literature searches were conducted through the electronic databases PubMed and Google Scholar using the keywords "Mangifera/mango" and "antidiabetic". From the search results, 25 relevant articles were obtained for further review, consisting of 15 articles on in vitro testing and 10 articles on in vivo testing. The search results identified 17 mango plant variants worldwide that have been shown to have antidiabetic activity. Each mango species has unique characteristics and different nutritional content and bioactive compounds. Various parts of the mango plant, including leaves, fruits, seeds, and bark, contain bioactive compounds such as flavonoids, tannins, saponins, and terpenoids. These compounds contribute to antidiabetic activity through several mechanisms, namely inhibition of α-glucosidase and α-amylase enzymes, increased insulin sensitivity, and reduced blood glucose levels. Mango plant secondary metabolites are not only effective, but also have the potential to be an alternative antidiabetic treatment that is more affordable and safe compared to synthetic drugs. It can be concluded that Mangifera spp. has great potential to be developed as an innovative diabetes therapy. Further research through clinical trials is needed to confirm its effectiveness as an antidiabetic agent.
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Tapak Liman (Elephantopus scaber L.) dan Perkembangan Formulasinya Dalam Sediaan Farmasi: Literatur Review Vanesya Naya Larrassati; Afriyani Afriyani; Femmy Andrifianie; Citra Yuliyanda Pardilawati
Sains Medisina Vol 4 No 5 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i5.1368

Abstract

Infeksi bakteri dan resistensi obat merupakan masalah kesehatan global yang semakin meningkat. Salah satu pilihan potensial adalah pemanfaatan tanaman obat, seperti daun tapak liman (Elephantopus scaber L.), yang menunjukkan sifat antibakteri. Studi ini bertujuan untuk menyelidiki kemanjuran antibakteri ekstrak daun tapak liman dan pengembangan formulasinya dalam aplikasi farmasi melalui tinjauan literatur. Pendekatan yang digunakan melibatkan pencarian artikel ilmiah melalui Google Scholar yang mencakup periode dari tahun 2016 hingga 2026. “Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun tapak liman menunjukkan kemanjuran antibakteri terhadap bakteri Gram-negatif, dengan zona inhibisi maksimum 27 mm terhadap Escherichia coli, dan terhadap bakteri Gram-positif, dengan maksimum 20 mm terhadap Staphylococcus aureus. Dalam formulasi farmasi, efikasi maksimum terhadap bakteri Gram-negatif adalah 17,57 mm terhadap Pseudomonas aeruginosa dalam formulasi gel, sedangkan aktivitas tertinggi terhadap bakteri Gram-positif adalah 13,60 mm terhadap Streptococcus mutans dalam formulasi obat kumur. Kesimpulannya adalah daun tapak liman memiliki potensi sebagai agen antibakteri alami dan dapat dikembangkan menjadi formulasi farmasi.
Review Literatur: Green Synthesis Nanopartikel Perak Menggunakan Ekstrak Tanaman sebagai Pendekatan Ramah Lingkungan dalam Terapi Kanker Ardi Widianto; Muhammad Iqbal; Femmy Andrifianie; Ramadhan Triyandi
Sains Medisina Vol 4 No 2 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i2.858

Abstract

Sintesis hijau nanopartikel perak (AgNPs) menggunakan ekstrak tanaman berkembang sebagai pendekatan yang lebih aman dan ramah lingkungan dibanding sintesis kimia yang melibatkan bahan toksik. Penelitian ini bertujuan mengkaji potensi AgNPs berbasis tanaman sebagai agen antikanker melalui tinjauan literatur terkini. Metode yang digunakan adalah literatur review dengan menganalisis artikel nasional dan internasional mengenai karakteristik fisikokimia AgNPs, mekanisme biologis, serta aktivitas sitotoksik terhadap berbagai sel kanker. Hasil kajian menunjukkan bahwa AgNPs yang disintesis dari tanaman seperti Pueraria tuberosa mampu meningkatkan ROS, merusak DNA, menurunkan potensial membran mitokondria, dan mengaktifkan jalur apoptosis, sehingga efektif menghambat proliferasi sel kanker secara dosis-bergantung. Pembahasan menegaskan bahwa interaksi sinergis antara nanopartikel dan metabolit bioaktif tanaman memberikan selektivitas tinggi terhadap sel kanker, meskipun bukti terkait keamanan jangka panjang dan efektivitas in vivo masih terbatas. Simpulan dari kajian ini adalah bahwa AgNPs berbasis tanaman memiliki prospek besar sebagai terapi antikanker berkelanjutan, namun penelitian lanjutan diperlukan untuk memastikan aspek keamanan dan aplikasinya dalam klinis.
Potensi Antibakteri Tanaman Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Terhadap Bakteri Gram Positif Dan Gram Negatif: Literature Review Nikken Ayu Larasati; Muhammad Iqbal; Femmy Andrifianie; Ramadhan Triyandi
Sains Medisina Vol 4 No 2 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i2.886

Abstract

Infeksi yang disebabkan oleh bakteri hingga kini masih menjadi permasalahan global, terutama dengan meningkatnya resistensi antibiotik akibat penggunaan yang tidak rasional. Kondisi ini mendorong pencarian sumber antibakteri alternatif yang berasal dari alam. Salah satu tanaman yang berpotensi adalah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.), yang telah lama digunakan secara tradisional sebagai obat herbal. Artikel ini bertujuan untuk menelaah potensi aktivitas antibakteri daun dan buah belimbing wuluh terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaporkan. Metode yang diterapkan berupa literature review dengan penelusuran artikel ilmiah melalui basis data Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect menggunakan kata kunci terkait. Artikel yang dianalisis merupakan penelitian yang diterbitkan dalam rentang tahun 2016–2025 dan mengevaluasi aktivitas antibakteri belimbing wuluh menggunakan metode difusi maupun dilusi. Hasil penelaahan menunjukkan bahwa ekstrak daun dan buah belimbing wuluh memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan berbagai bakteri uji, antara lain Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Propionibacterium acnes, Escherichia coli, dan Salmonella typhi, dengan tingkat aktivitas yang bervariasi. Aktivitas antibakteri cenderung lebih tinggi terhadap bakteri Gram positif dibandingkan Gram negatif serta meningkat seiring bertambahnya konsentrasi ekstrak. Efek antibakteri tersebut diduga berkaitan dengan kandungan metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan senyawa fenolik. Oleh karena itu, belimbing wuluh berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber antibakteri alami, meskipun masih diperlukan penelitian lanjutan guna memastikan efektivitas dan keamanannya.
Literature Review: Potensi Aktivitas Farmakologi Senyawa Resveratrol Anugrah Fasha; Ramadhan Triyandi; Femmy Andrifianie; Muhammad Iqbal
Sains Medisina Vol 4 No 3 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i3.922

Abstract

Resveratrol merupakan senyawa polifenol golongan stilbenoid yang banyak ditemukan pada bahan alam dan telah dilaporkan memiliki berbagai aktivitas farmakologis. Senyawa ini menarik perhatian karena potensi bioaktivitasnya yang luas serta risiko toksisitas yang relatif rendah, sehingga berpeluang dikembangkan sebagai senyawa bioaktif berbasis bahan alam dan pendukung terapi. Tujuan dari kajian literatur ini adalah untuk menganalisis potensi aktivitas farmakologis resveratrol berdasarkan hasil penelitian praklinik yang telah dilaporkan. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan deskriptif kualitatif terhadap artikel nasional dan internasional yang diperoleh dari basis data ilmiah daring seperti PubMed, MDPI, ScienceDirect, Google Scholar, Sinta, dan Garuda. Hasil kajian menunjukkan bahwa resveratrol memiliki aktivitas farmakologis yang beragam, meliputi efek antidiabetes preventif, antioksidan, antiaritmia, antikanker, antiinflamasi, analgesik, dan antiplasmodium. Mekanisme kerja resveratrol terutama berkaitan dengan penghambatan stres oksidatif, modulasi jalur inflamasi, induksi apoptosis sel patologis, serta perlindungan fungsi sel dan jaringan, khususnya pada sistem kardiovaskular dan metabolik. Simpulan dari kajian ini menegaskan bahwa resveratrol memiliki potensi besar sebagai agen preventif dan pendukung terapi berbagai penyakit degeneratif dan infeksi. Namun demikian, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk meningkatkan bioavailabilitas serta mengonfirmasi efektivitas dan keamanannya melalui uji klinis.
Literature review: Perbandingan Efektivitas dan Keamanan Penggunaan Obat Off-label Misoprostol dengan Oksitosin Sebagai Induksi Persalinan Raisati Hikmah Faliha; Nurma Suri; Femmy Andrifianie
Sains Medisina Vol 4 No 3 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i3.933

Abstract

Perubahan fisiologis selama kehamilan memengaruhi farmakokinetik dan farmakodinamik obat, sehingga penggunaan obat pada ibu hamil memerlukan kehati-hatian. Misoprostol, analog prostaglandin E1 dengan indikasi resmi yang diperbolehkan oleh FDA untuk terapi tukak lambung akibat pemakaian obat antiinflamasi non-steroid (AINS), sering diresepkan secara off-label sebagai agen induksi persalinan, sementara oksitosin merupakan agen resmi untuk induksi persalinan. Artikel ini bertujuan meninjau efektivitas dan keamanan misoprostol dibandingkan oksitosin dalam induksi persalinan. Kajian ini merupakan literature review, penelusuran artikel melalui PubMed, Google Scholar, dan ResearchGate. Kriteria inklusi meliputi artikel yang menggunakan misoprostol atau oksitosin sebagai objek, tujuan penggunaan misoprostol dan oksitosin untuk induksi persalinan, desain studi eksperimental, berbahasa Inggris atau Indonesia, dan diterbitkan pada tahun 2015-2025. Kriteria eksklusi meliputi artikel yang tidak dapat diakses secara lengkap. Hasil kajian menunjukkan bahwa misoprostol memiliki efektivitas yang sebanding hingga lebih baik dibandingkan oksitosin, terutama dalam mempercepat waktu persalinan (p<0,05), meningkatkan keberhasilan induksi, dan meningkatkan kepuasan ibu (p<0,001). Angka persalinan pervaginam dan seksio sesarea bervariasi antarstudi. Berdasarkan aspek keamanan, misoprostol lebih sering dikaitkan dengan demam dan mual, sedangkan oksitosin memiliki risiko lebih tinggi terhadap takisistol (p=0.002) dan hiperstimulasi uterus (p=0.003). Luaran neonatal umumnya tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Kesimpulannya misoprostol memberikan efektivitas dan keamanan yang sebanding hingga lebih baik dari pada oksitosin dalam menginduksi persalinan serta mempercepat proses persalinan.