Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit pernapasan kronis progresif yang ditandai dengan hambatan aliran udara akibat retensi sputum. Penumpukan sekret menyebabkan masalah utama bersihan jalan napas tidak efektif, yang jika tidak ditangani dapat memperburuk ventilasi paru serta mengganggu pola tidur pasien. Salah satu intervensi nonfarmakologis mandiri yang efektif untuk membersihkan jalan napas adalah terapi Active Cycle of Breathing Technique (ACBT), yang terdiri dari tiga tahapan: breathing control, thoracic expansion exercise, dan forced expiration technique (huffing). Karya Ilmiah Akhir Ners ini bertujuan untuk memaparkan hasil asuhan keperawatan komprehensif dengan penerapan terapi ACBT pada dua pasien kelolaan PPOK di Ruangan Interne RSI Ibnu Sina Bukittinggi tahun 2026. Metode penulisan yang digunakan adalah studi kasus klinis yang dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2026. Pengkajian pada pasien I (Tn. J, 69 tahun) dan pasien II (Ny. Y, 77 tahun) menunjukkan keluhan utama yang serupa berupa sesak napas, batuk produktif dengan sputum kental yang sulit dikeluarkan, suara serak, ronki, takipnea (24-25 x/menit), saturasi oksigen rendah (93%), serta gangguan pola tidur akibat batuk malam hari. Diagnosa keperawatan utama yang ditegakkan adalah bersihan jalan napas tidak efektif, gangguan pola tidur, dan defisit pengetahuan. Implementasi dilakukan selama 3 hari berturut-turut dengan memberikan terapi ACBT selama 15–20 menit sehari sebelum pemberian nebulizer atau obat oral, dikombinasikan dengan edukasi kesehatan dan pengaturan posisi fowler.Hasil evaluasi asuhan keperawatan setelah 3 hari menunjukkan perbaikan signifikan pada kedua pasien kelolaan. Kemampuan batuk efektif meningkat, jumlah sputum berkurang, ronki minimal, frekuensi napas membaik menjadi 19 x/menit, dan saturasi oksigen meningkat hingga 99% tanpa bantuan oksigen nasal kanul. Gangguan pola tidur teratasi setelah dikombinasikan dengan terapi relaksasi otot autogenik dan modifikasi lingkungan, serta masalah defisit pengetahuan teratasi sepenuhnya. Kesimpulan studi kasus ini menunjukkan bahwa penerapan terapi ACBT sangat efektif dalam membantu mobilisasi dan pengeluaran sekret, mengurangi sesak napas, memperbaiki fungsi ventilasi paru, dan meningkatkan kualitas istirahat pasien PPOK. Disarankan bagi tenaga keperawatan di RSI Ibnu Sina Bukittinggi untuk menerapkan ACBT sebagai intervensi nonfarmakologis standar dalam asuhan keperawatan pasien PPOK dengan masalah retensi sekret.