Indah Puspasari Kiay Demak
Department Of Neurology, Medical Faculty, Universitas Tadulako

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

HUBUNGAN STATUS NUTRISI DENGAN KEJADIAN DIARE DI PUSKESMAS KAWATUNA PALU PADA TAHUN 2019 Riswandha, Riswandha; Puspasari Kiay Demak, Indah; Setyawati, Tri
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 6 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.771 KB) | DOI: 10.22487/htj.v6i2.86

Abstract

Diare adalah defekasi encer lebih dari tiga kali sehari, dengan atau tanpa darah dan/atau berlendir dalam feses. Selain faktor infeksi, diare juga dapat disebabkan oleh malabsorbsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan dan faktor psikologis. Infeksi mempengaruhi status gizi melalui penurunan asupan makanan, penurunan absorpsi makanan di usus, meningkatkan katabolisme, dan mengambil nutrisi yang diperlukan tubuh untuk sintesis jaringan dan pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara status gizi dengan kejadian diare di puskesmas kawatuna tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan desain Cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik consecutive sampling. Jumlah sampel 50 orang yang didiagnosis diare dan bukan diare yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Instrumen penelitian menggunakan Timbangan dan Rekam Medik. hubungan antara status gizi dengan kejadian diare di puskesmas kawatuna dianalisis dengan menggunakan uji Koefisiensi Kontingensi. Hasilnya diperoleh mayoritas responden memiliki Status gizi Normal 31 orang (62%).kejadian diare dan bukan diare didapatkan masing-masing sebanyak 25 orang. Pada uji koefisiensi kontingensi nilai p = 0,258 (>0,05) artinya tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan kejadian diare.
HUBUNGAN KEPERCAYAAN DIRI DALAM KEMAMPUAN KOMUNIKASI PADA METODE PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING MAHASISWA KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO Puspasari Kiay Demak, Indah; Andini J. Juraejo, Farah; Kadek Rupawan, I
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 5 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.163 KB) | DOI: 10.22487/htj.v5i1.111

Abstract

Latar Belakang: Pada saat ini seorang dokter dituntut untuk memiliki berbagai macam keterampilan untuk dapat berkomunikasi dengan baik kepada pasien. Menurut SKDI terdapat 7 area kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang dokter di Indonesia, dengan urutan sebagai berikut: profesionalitas yang luhur, mawas diri dan pengembangan diri, komunikasi efektif, pengelolaan informasi, landasan ilmiah ilmu kedokteran, keterampilan klinis dan pengelolaan masalah kesehatan. Berdasarkan hal tersebut di ketahui bahwa seorang dokter harus memiliki keterampilan komunikasi yang efektif. Rasa percaya diri juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan kemampuan seseorang dalam berkomunikasi. Dalam pendidikan kedokteran yang menggunakan metode pembelajaran PBL, rasa percaya diri sangat dibutuhkan oleh individu. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan kepercayaan diri dengan kemampuan komunikasi dalam metode pembelajaran problem based learning pada mahasiswa tahun kedua program studi kedokteran universitas tadulako. Metode: Jenis rancangan penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional (potong lintang). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Total Sampling yang terdiri dari 55 mahasiswa kedokteran untad tahun kedua. Hasil: Berdasarkan 55 sampel yang diteliti, terdiri dari 16 responden berjenis kelamin laki-laki dan 39 responden berjenis kelamin perempuan. Hasil uji statistik menggunakan Gamma diperoleh nilai p = 0,372. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan tingkat kepercayan diri dengan kemampuan komunikasi dalam metode pembelajran Problem Based Learning pada mahasiswa tahun kedua program studi kedokteran universitas tadulako.
HUBUNGAN MOTIVASI BERPRETASI TERHADAP PRESTASI AKADEMIK MAHASISWA KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO Puspasari Kiay Demak, Indah; Putra Gemilang, Anugrah; Andyka Hutasoit, Gina
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 5 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.756 KB) | DOI: 10.22487/htj.v5i2.117

Abstract

Motivasi adalah kekuatan dari dalam diri individu yang menggerakan dan mengarahkan ataumembawa tingkah laku ke tujuan.Sedangkan prestasi akademik adalah penguasaan pengetahuanketrampilan terhadap mata pelajaran yang dibuktikan melalui tes. Melihat banyaknya mahasiswasering mengalami kegagalan dalam ujian praktikum ataupun ujian blok sehingga menyebabkan terjadipenurunan motivasi untuk belajar pada blok - blok selanjutnya. Penelitian ini menggunakan desaincross-sectional.Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan jumlahsampel 56 mahasiswa kedokteran tahun pertama Universitas Tadulako. Instrumen yang digunakanadalah kuesioner dan transkrip nilai. Analisis menggunakan ujiSpearman Test. Hasil uji SpearmanTest menunjukkan nilai p = 0,226. Artinya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara motivasiberprestasi terhadap prestasi akademik pada mahasiswa Program Studi Kedokteran Tahun pertamaFakultas Kedokteran dan Universitas Tadulako. Tidak terdapat hubungan yang signifikan anataramotivasi berprestasi terhadap prestasi akademik.
Pengaruh Peer Assessment dalam Meningkatkan Keterampilan Anamnesis di Skills Laboratory Indah Puspasari Kiay Demak; Amitya Kumara; Efrayim Suryadi
Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia: The Indonesian Journal of Medical Education Vol 2, No 2 (2013): JULI
Publisher : Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.252 KB) | DOI: 10.22146/jpki.25159

Abstract

Background: Peer assessment is a breakthrough innovation in assessment method where students assess their fellows. The benefits of it are feedback, cognitive and metacognitive gain, motivation, collaborative learning, self-regulated learning and performance enhancement. Learning in skills laboratory, students are expected to be able to master not only knowledge but also skills. Peer assessment is expected to make students be more motivate in learning and enhance performance. The aim of this study is to find out whether peer assessment can enhance students’ medical interview skills in skills laboratory.Method: The method was a quasi-experiment study with matching-only pretest posttest control group design. The subjects were third-year students in Medical School of Tadulako University which were divided into 2 experiment groups and 2 control groups. Before giving treatment, the skills of students in all group were assessed (pre test). After the treatment, post test was held as an evaluation tool. The raising score from pre test to post test will be analyzed with student t test.Results: P value for raising score was 0,907 (á > 0.05) with mean difference -0.091, which means statistically not significant. The negative number of mean difference indicate that the raising score in experiment group was lower than in control group.Conclusion: Raising score in control group was higher than in experiment group, but not significance statistically. Application of peer assessment in skills laboratory should be more concern in students ability in assessing which can be obtain by intense training and continuous monitoring and feedback from instructor. 
TUTOR’S ABILITY IN IMPLEMENTATION PROBLEM-BASED LEARNING IN A MEDICAL FACULTY Indah Puspasari Kiay Demak; Puspita Sari; Andi Alfia Muthmainnah Tanra
Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia: The Indonesian Journal of Medical Education Vol 8, No 2 (2019): Juli
Publisher : Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.703 KB) | DOI: 10.22146/jpki.45408

Abstract

Background: Problem-based learning is a student-centered learning approach. PBL activities include an implementation of tutorial discussions that will be facilitated by the tutor. The active role of students to search the learning resources and describe it in tutorial discussion until desired learning objectives and expected competencies reached can not be separated from the role of tutor. The aim of this study was to evaluate tutor’s ability in implementation problem-based learning in Medical Faculty Tadulako University.Methods: This was a cross sectional study with quantitative descriptive approach. The subjects were all students in second, third and fourth year. Data collected from 5 likert scale questionnaire of tutor’s ability.Results: The highest score of tutor’s ability was helping students’ comprehend principles theories in constructive learning, make conclusion in self directed learning, and got constructive feedback in collaborative learning. In contextual learning, for second and fourth year students was to apply knowledge in similar situation, while for third year was to apply knowledge in cases discused.Conclusion: Tutor’s ability was high for all PBL aspects, which contextual learning was the highest, while constructive leaning was the lowest. 
HUBUNGAN UMUR, JENIS KELAMIN MAHASISWA DAN PENDAPATAN ORANG TUA DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA MAHASISWA PENDIDIKAN SARJANA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FKIK UNIVERSITAS TADULAKO Indah Puspasari Kiay Demak; Suherman Suherman
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 menjelaskan bahwa di Indonesia prevalensi gangguan jiwa sekitar 4,6%, sedangkan gangguan  mental emosional jauh (kecemasan), lebih besar yakni sebesar 11,6%. Tingginya angka gangguan emosional tersebut mengindikasikan bahwa individu  mengalami suatu perubahan  emosional yang apabila tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi patologi.Metode : Rancangan penelitian cross sectional, sampel berjumlah 110 orang yang terdiri dari mahasiswa pendidikan sarjana tahun ajaran pertama. Data dianalisis menggunakan uji Chi square. Variabel penelitian ini adalah umur, jenis kelamin mahasiswa  dan pendapatan orang tua.Hasil : Dari hasil pengelolahan data Chi square, menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara umur dengan tingkat tingkat kecemasan yang memiliki p- value lebih dari 0,05. Untuk variabel jenis kelamin menunjukan adanya hubungan dengan tingkat kecemasan dimana p-value kurang dari 0,05 dan pada variabel pendapatan orang tua menunjukan tidak terdapat hubungan dengan tingkat kecemasan dimana p-value lebih dari 0,05.Keseimpulan :Tidak terdapat hubungan antara umur dengan tingkat kecemasan (p=0,064) dengan (α= 0,05 ). Terdapat hubungan antara jenis kelamin mahasiswa dengan tingkat kecemasan (p=0,000) dengan (α= 0,05 ). Tidak terdapat hubungan antara pendapatan orang tua dengan tingkat kecemasan (p = 0,166 ) dengan (α= 0,05).Kata kunci : Kecemasan, umur, jenis kelamin, dan pendapan orang tua.
Learning media development of the cheap skin-based model for medical faculty students at Tadulako University Wisnu Yusron Muhlasin; Fitriah Handayani; Indah Puspasari Kiay Demak; Yuli Fitriana
Research and Development in Education (RaDEn) Vol. 2 No. 1 (2022): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.426 KB) | DOI: 10.22219/raden.v2i1.19875

Abstract

A model is a learning media that is used instead of the real human body to increase students' knowledge and can also practice medical skills, which are impossible to apply to real patients. Learning using models is the first order in learning clinical skills before students proceed to the next stage, namely practicing with friends and the last one is going directly to the community. The purpose of this study was to design, create and analyze a skin model made from cheap raw materials like wood so that it can be used as a learning aid at the Faculty of Medicine, Tadulako University. This research applied a qualitative approach with the Research and Development method. The sampling technique as the informant was taken through purposive sampling. The informants consisted of a dermatologist and sex expert, a medical education expert, and a histology lecturer. Data was collected through in-depth interviews and observation. Data analysis was carried out by analyzing the opinions of the informants using questionnaires to help guide the interview. The cheap leather model shows a fairly realistic mannequin shape with colors that can distinguish each layer and can be used as a learning aid for students in the histology department. Learning media development of the cheap leather model shows a fairly realistic mannequin shape with colors that can distinguish each layer and can be used as a learning aid for students in the histology department.
FACTORS INFLUENCING PROFESSIONAL IDENTITY DEVELOPMENT ON MEDICAL STUDENTS IN INDONESIA Indah Puspasari Kiay Demak; Ria Sulistiana
Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia: The Indonesian Journal of Medical Education Vol 11, No 4 (2022): Desember
Publisher : Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpki.71620

Abstract

Background: Professional identity plays a vital role for medical students, as it grows along with the year students spend time in faculty and the workplace. Professional identity allows a doctor to consider the medical code of ethics and behave professionally. This study aimed to explore factors influencing professional identity development on undergraduate medical students at Tadulako UniversityCase discussion: The case study was a qualitative study, that was conducted on the second, third and fourth year students, consisting of 18 students. The sampling technique used was purposive sampling. Data collection was carried out through focus group discussions using the Zoom meeting platform. The data obtained were analysed qualitatively by conducting a thematic analysis. The results obtained are the formation of professional identity occurs at the individual level, the relational level and the collective level. At the individual level, professional identity is influenced by factors of personal character, self-confidence, motivation, and belonging of the profession. At the relational level there is a peer factor. While at the collective level, there are factors of lecturers, organization, educational environment and systems, and learning methods.Conclusion: Most of the factors that influence professional identity development occur in the educational environment. Therefore, the faculty should be able to design curricula and make regulations to create an academic environment and atmosphere that can optimally support the formation of students' professional identities. 
Sinovac Adverse Event Following Immunization (AEFI): Correlation to Gender and History Aefi in Students Mellybeth Indriani Louis; Merlionarsy Tammuan; Novita Wiratasia Parimpun; Gisel Pali Pasulu; Indah Puspasari Kiay Demak
Sriwijaya Journal of Medicine Vol. 5 No. 1 (2022): Vol 5, No 1, 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v5i1.121

Abstract

As one of the nations impacted by the COVID-19 pandemic, Indonesia adopting a vaccination policy for its population. After vaccination, there will be a chance to have an AEFI that influenced by gender and the history of AEFI from the previous vaccination. This research designed using a cross-sectional approach. Sample is taken from 365 students of Tadulako University. The questionnaire was developed using information based on Indonesia Ministry of Health and the World Health Organization. All data collected was analyzed using the Contingency Coefficient test. There was a significant relationship between gender and pain (p = 0.004, r = 0.148), redness (p = 0.041, r = 0.107), swelling at the injection site (p = 0.037, r = 0.109), cellulitis (p = 0.037, r = 0.109), and headache (p = 0.006, r = 0.143). There was a significant relationship between history of AEFI and pain (p = 0.000, r = 0.182), redness (p = 0.000, r = 0.274), swelling at the injection site (p = 0.001, r = 0.178), cellulitis (p = 0.000, r = 0.249), fever (p = 0.000, r = 0.382), myalgia (p = 0.000, r = 0.239), arthralgia (p = 0.000, r = 0.268), asthenia (p = 0.000, r = 0.254), and headache (p = 0.000, r = 0.218). More students did not get AEFI than did. AEFI was more common experienced by females and students who had no previous history of AEFI. Most of all AEFI will improve in less than a day.
Persepsi Masyarakat Terhadap Vaksinasi Covid-19 Di Area Kerja Puskesmas Donggala Virgiana, Virgiana; Munawwir, Abdul; Kiay Demak, Indah Puspasari
Preventif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 12 No. 2 (2021): Volume 12 No.2 (2021)
Publisher : Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/preventif.v12i2.450

Abstract

Salah satu faktor yang memengaruhi lambatnya proses vaksinasi Covid-19 adalah adanya persepsi negatif masyarakat terhadap vaksin Covid-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap vaksinasi Covid-19 di area kerja Puskesmas Donggala. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling diperoleh 116 orang responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner persepsi masyarakat terhadap vaksinasi Covid-19. Analisis data dilakukan secara deskriptif dari masing-masing variabel yang diteliti dengan tabel distribusi frekuensi disertai penjelasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang setuju untuk mendapatkan vaksinasi berdasarkan persepsi terkait keberhasilan tujuan vaksinasi berjumlah 76 orang (65,5%), berdasarkan persepsi terkait keamanan vaksin berjumlah 71 orang (61,2%), berdasarkan persepsi terkait efektivitas vaksin berjumlah 73 orang (62,9 %), dan berdasarkan persepsi terkait pandangan agama berjumlah 81 orang (69,8 %). Persepsi masyarakat terhadap vaksinasi Covid-19 sangat bervariasi dan berdasarkan persepsi tersebut diketahui bahwa rata-rata persentase responden yang setuju untuk mendapatkan vaksinasi adalah 64,7%.