This Author published in this journals
All Journal Medika Tadulako
Munir, Muhammad Ardi
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PENGARUH KEAKTIFAN BERORGANISASI TERHADAP INDEKS PRESTASI MAHASISWA DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO TAHUN 2018 Nurfadila, Nurfadila; Munir, Muhammad Ardi; Rasyid, Mariani
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBacground : Organization is the students’ means and mode of developing talents, interests, and self-potential. Being active in organization will significantly affect the students’ insight, mindset, knowledge, and leadership skill. Students participating actively in organization shall definitely maintain a good time management, for it affect their study time and later affecting their academic achievement. Objective: To find out the impact of organizational activities towards students’ grade point average at faculty of medicine tadulako university year 2018. Methods: This is an observational research with a cross sectional approach. Sampling is done by purposive sampling technique with 200 students as respondents and analyzed by using chi square. Results: Based on statistical analysis researcher obtain the value of p<a at 0,002 meaning the approval H1 and the independent variable does affect the dependent variable. Researcher obtain the value of risk ratio at 2,1, meaning students’ actively participating in organization have 2,1 bigger opportunity in achieving better grade point average than those who are not. Conclusion: There is an impact of organizational activities towards students’ grade point average at Faculty of Medicine Tadulako University with significant positive impact. Keywords: Organization, Grade Point Average, Students     ABSTRAK Latar Belakang : Organisasi adalah suatu sarana dan wahana untuk mengembangkan bakat, minat, dan potensi diri bagi mahasiswa. Aktif dalam mengikuti organisasi kemahasiswaan akan berefek pada perubahan yang signifikan terhadap wawasan, cara berpikir, pengetahuan, dan manajemen kepemimpinan. Mahasiswa yang aktif dalam beberapa organisasi tentunya harus melakukan manajemen waktu dengan baik, karena akan mempengaruhi waktu belajar dan akan berpengaruh pada hasil prestasi belajarnya.Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh keaktifan berorganisasi terhadap indeks prestasi mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako tahun 2018.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 200 responden dan di analisis menggunakan uji chi square. Hasil : Berdasarkan analisis statistic didapatkan nilai p<a yaitu = 0,002 yang berarti H1 diterima menunjukkan adanya pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Berdasarkan dari hasil penelitian didapatkan nilai risk ratio 2,1, sehingga mahasiswa yang aktif berorganisasi memiliki peluang sebesar 2,1 kali lebih besar untuk mendapatkan nilai indeks prestasi yang baik dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak aktif berorganisasi.Kesimpulan : Terdapat pengaruh keaktifan berorganisasi terhadap indeks prestasi mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako dengan pengaruh signifikan positif. Kata Kunci : Organisasi, Indeks Prestasi, Mahasiswa
PERBEDAAN RESPON KARDIOVASKULER SELAMA TES PEMBEBANAN ANTARA INDIVIDU OBES DAN NON OBES Basry, Amirah; Munir, Muh. Ardi
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbedaan Respon Kardiovaskuler Selama Tes Pembebanan Antara Individu Obes dan Non Obes. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan respon kardiovaskuler selama tes pembebanan antara individu obes dan non obes.Penelitian ini adalah penelitian perbandingan dua kelompok yang dilaksanakan selama 4 minggu. Masing-masing 8 orang kontrol dan 8 orang sebagai kasus. Subyek ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Al-khirat Palu. Tes pembebanan dilakukan dengan metode alat treadmill EKG, yaitu dengan berjalan/berlari di atas treadmill dengan memasang sandapan EKG. Kecepatan dan beban akan bertambah setiap 2 menit dan kemudian pengukuran tekanan darah sistol, tekanan darah diastol, dan heart rate di periksa secara otomatis. Data dianalisa dengan menggunakan SPSS 17 dengan test paired sampel t-test.Penelitian ini membuktikan bahwa ada perbedaan tekanan darah sistol dan diastol antara individu obes dan non obes  secara bermakna dengan nilai p<0.05 (sistol 0,002 dan diastol 0,014). Pada heart rate tidak membuktikan perbedaan antara individu obes dan non obes secara bermakna dengan nilai p>0,05 (0,825)Dengan tes pembebanan dapat melihat perbedaan respon kardiovaskuler. Disarankan penelitian selanjutnya bisa melakukan tes pembebanan dengan cara lain selain treadmill EKG untuk melihat respon kardiovaskuler.Kata Kunci: Kardiovaskuler, Obes, Non Obes, Pembebanan
ANALISIS FAKTOR RISIKO UTAMA TERHADAP KEJADIAN MALARIA DI WILAYAH PUSKESMAS KAMPUNG BARU LUWUK TAHUN 2013-2015 M. Gusti Talombo, Unun Budiarti; Munir, Muhammad Ardi; Ratih Lintin, Gabriella Bamba
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat didunia termasuk Indonesia. Gejala klinis penyakit malaria khas dan mudah dikenali, karena demam yang naik turun dan teratur disertai menggigil. Sulawesi Tengah merupakan salah satu daerah yang masih terjadi transmisi malaria (Berisiko Malaria/Risk-Malaria), dimana pada tahun 2014 terdapat 4.211 kasus. Tahun 2014 penderita Malaria Klinis di Kabupaten Banggai sebesar 8.513 penderita dan positif malaria sebesar 1,78 % dan diobati sebesar 100 %. Jumlah penderita Malaria Klinis tertinggi berada diwilayah kerja Puskesmas Toili II sebesar 1.187 penderita, sedangkan pada Puskesmas Kampung Baru terdapat 765 penderita. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis faktor risiko utama kejadian Malaria di Wilayah Puskesmas Kampung Baru Luwuk tahun 2013 – 2015. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analisis observasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Total sampel dalam penelitian ini sebanyak 130 yang terdiri dari 63 penderita Malaria dan 67 bukan penderita Malaria. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji chisquare (α=0,05). Hasil: Berdasarkan 130 sapel data yang telah di teliti, kemudian di analisis dan di dapatkan faktor-faktor yang terbukti sebagai faktor risiko terjadinya malaria adalah tingkat pendidikan (OR: 6.11; 95% CI : 2.748 – 13.592), tindakan pencegahan (OR: 4.04; 95% CI : 1.501 – 10.887), sikap responden (OR: 2.65; 95% CI : 1.295 – 5.428), pekerjaan (OR: 1.62; 95% CI : 0.807 – 3.289), tingkat pengetahuan (OR:1.18; 95% CI : 0.583 – 2.389). Kesimpulan: Faktor risiko utama pada kejadian Malaria di Puskesmas Kampung Baru yang signifikan yaitu tingkat pendidikan. Kata Kunci: Malaria, Faktor Risi
CUBITAL TUNNEL SYNDROME Munir, Muh. Ardi
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prior to 1957, ulnar neuropathy was felt to be a "stretch neuritis" caused by cubitus valgus. In fact, the predominant cause of ulnar neuropathy was secondary to elbow injuries. Osborne proposed the concept of compression of the ulnar nerve in 1957, with Feindel and Stratford  defining the "cubital tunnel" the following year. Since the advent of more successful orthopedic management of complex elbow injuries, the more frequent cause of ulnar nerve entrapment has become idiopathic or related to a "susceptible" patient. Nonetheless, it appears that ulnar nerve entrapment is increasing in prevalence (although no data are available), with pain often being a predominant morbidity. In 1898, Curtis performed the first published case of management for ulnar nerve neuropathy at the elbow, which consisted of a subcutaneous anterior transposition. (1,2)It is hoped that the reader may develop an increased awareness of cubital tunnel syndrome and its place in the differential diagnosis of the painful upper extremity. An overview of the diagnostic and treatment options are presented, along with complications that may occur. (1,2)
KARAKTERISTIK PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) PADA RUANG RAWAT INAP ANAK DI RSUD UNDATA PALU TAHUN 2017 Agustini, Ita Indah; Bangkele, Elli Yane; Salman, Muhammad; Munir, Muhammad Ardi
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 3 (2018)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang : Di Indonesia penyakit DBD masih merupakan masalah kesehatan karena masih banyak daerah yang endemik. Daerah endemik DBD pada umumnya merupakan sumber penyebaran penyakit ke wilayah lain. Tujuan peneletian ini adalah Untuk mengetahui bagaimana Karakteristik pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) pada ruang rawat inap Anak di RSUD Undata Palu tahun 2017. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan tehnik pengambilan total sampling sebanyak 49 orang anak yang memenuhi kriteria inklusi diperoleh dari data rekam medis RSUD Undata Palu tahun 2017. Hasil : Ditemukan distribusi penderita DBD anak tertinggi menurut usia >5-14 tahun 37 orang (75%). Jenis Kelamin terbanyak adalah perempuan sebanyak 28 orang (57%). Keluhan utama paling banyak berupa demam, mual, pusing, muntah serta lemah yaitu 29 orang (59%). Manifestasi klinis terbanyak adalah petekie dan pendarahan spontan sebanyak 26 kasus (53%). Jumlah trombosit ≤ 100.000/mm3 sebanyak 32 kasus (65%). Persentase hematokrit paling banyak adalah ≤ 40% 35 orang (71%). Derajat keparahan yang paling banyak dialami yaitu derajat I sebanyak 28 orang ( 57%). Berdasarkan penatalaksanaan paling banyak adalah tidak sesuai standar prosedur medis (SPM) 38 orang (77%). Lama rawat inap yang paling banyak adalah < 7 hari yaitu 42 orang (85%). Kesimpulan : Karakteristik pasien DBD pada ruang rawat inap Anak di RSUD Undata Palu tahun 2017 terbanyak adalah usia tertinggi >5-14 tahun, jenis Kelamin perempuan. Keluhan utama II, Manifestasi klinis II, Jumlah tombosit ≤ 100.000/mm3, Persentase hematokrit ≤ 40%. Derajat keparahan derajat I, Penatalaksanaan tidak sesuai standar prosedur medis (SPM), Lama rawat inap < 7 hari. Kata Kunci : Karakteristik, DBD anak, RSUD Undata Palu
KNOWLEDGE LEVEL AND ATTITUDE OF PATIENTS FRACTURE THAT CHOOSE TRADITIONAL TREATMENT (Bone Setter) BEFORE TREATING TO POLYCLINIC ORTHOPAEDIC AND TRAUMATOLOGIC AT UNDATA GENERAL REGION HOSPITAL PALU PERIOD OF NOVEMBER-DECEMBER 2016 Wulandari, Hanif Iga; Munir, Muhammad Ardi; Hutasoit, Gina Andyka
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: In most cases neglected fracture occurs in people who are educated and under socioeconomic status. In addition to using health centers by medical personnel, not a few people are more confident in traditional medicine, so a few patients with fractures who came to the hospital are already experiencing complications due to first treatment is not appropriate, in accordance with the principles of correct bone treatment. The classic reason that delays patients with fracture was to the hospital is an economic factor.Methods: This study design is carried out by using an observational study design. The sampling technique in this research is intentional sampling consisting of 64 respondents. Data collection through questionnaires.Result: From the 64 samples studied, the results of the level of knowledge about bone fractures in the good categories 11 respondents, enough category 41 respondents, less category 12 respondents, and the attitude of the patient fracture for the treatment of the fractures in good category 41 respondents, enough category 7 respondents, and less category 16 respondentsConclusion: Based on the level of knowledge and attitude of fractures in traditional medical research carried out by the patient before treatment in the clinical orthopedic surgery hospital Undata has the result of the level of knowledge (know) enough and a Positive attitude towards an initial treatment of fractures. Keywords: Knowledge level, Attitude, Fracture Latar Belakang: Pada umumnya neglected fracture terjadi pada orang yang berpendidikan dan berstatus sosio-ekonomi rendah. Selain memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan oleh tenaga medis, tidak sedikit masyarakat yang lebih percaya kepada pengobatan tradisional, sehingga tidak sedikit pula pasien patah tulang yang berobat ke Rumah Sakit pada saat datang sudah mengalami komplikasi akibat penanganan pertamanya yang tidak baik atau tidak sesuai dengan prinsip penanganan patah tulang yang benar. Adapun alasan klasik pasien patah tulang yang terlambat berobat ke Rumah Sakit adalah faktor ekonomi.Metode: Jenis rancangan penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain penelitian observasional deskriptif. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling yang terdiri dari 64 orang responden. Pengumpulan data dengan menggunakan kuisioner.Hasil: Berdasarkan 64 sampel yang diteliti, hasil tingkat pengetahuan responden tentang patah tulang pada kategori baik 11 responden, cukup 41 responden, kurang 12 responden, dan sikap pasien fraktur terhadap penanganan patah tulang kategori baik 41 responden, cukup 7 responden, dan kurang 16 responden.  Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang dilakukan tingkat pengetahuan dan sikap pasien fraktur yang berobat di pengobatan tradisional sebelum berobat di poliklinik bedah tulang RSUD Undata memiliki hasil tingkat pengetahuan (Know) cukup dan sikap yang positif terhadap penanganan awal patah tulang. Kata Kunci: Tingkat Pengetahuan, Sikap, Fraktur
THE COMPARISON OF INHIBITORY EFFECT BETWEEN ANTISEPTIC SOAP WITH BETEL LEAF EXTRACT (Piper betle Linn) ON THE GROWTH OF Escherichia coli Tiroyo, Amelia Julianty; Munir, Muhammad Ardi; Hutasoit, Gina Andhyka
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background. Infectious diseases are still a major cause of morbidity and mortality in developing countries. One of the most commonly way to prevent the spread of infectious diseases is washing hands with antiseptic soap. Recently, lifestyle back to nature is widely used by the public which is they using herbs. Betel leaves can be used as an antibacterial because it contains 4.2% of essential oil. Escherichia coli bacteria are the primary pathogens that cause infections in humans.Method. This research is a true laboratorial experimental research post test only control group. The test material used are LB soap, DT soap, 25% and 50% betle leaf extract, 1% povidone iodine as positive control and distilled water as negative control. Each treatment was replicated four times. Antibacterial effect determine by the extent of the inhibition zone formed.Result. The result shows that the average of inhibition highest test material is LB soap is 49,875 mm, followed by 50%, 25 % betel leaf extract and DT soap with each zone of inhibition formed is 27,05 mm, 23,525 mm, and 22,25 mm. For the positive control group had inhibitory zone is 29,525 mm, and the negative control was not formed inhibition zones. Statistical test results using Kruskal-Wallis had significance value p<0,05, which means there is a significant difference from the sixth treatment given to the growth of Escherichia coli.Conclusion. There are differences between the inhibition of antiseptic soap and betle leaf extract (Piper betle Linn) to the growth of Escherichia coli. Keyword. Antiseptic soap, Betel leaf extract (Piper betle Linn), Escherichia coli, antibacterial, inhibitory effect
HUBUNGAN KADAR ASAM URAT DALAM DARAH TERHADAP KEJADIAN UROLITHIASIS DI RSUD UNDATA PALU TAHUN 2014-2016 Az-Zahra, Haifa; Munir, Muhammad Ardi; Rupawan, I Kadek
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Asam urat adalah hasil metabolisme purin, peningkatan asupan purin akan menyebabkan akumulasi kristal urat. Hiperurisemia adalah kondisi kadar asam urat yang tinggi dalam darah. Beberapa penelitian menunjukkan hiperurisemia dapat menjadi faktor risiko untuk pembentukan urolithiasis. Sekitar 5-10% dari batu yang terbentuk berasal dari asam urat. Penyakit batu saluran kemih juga dikenal sebagai urolithiasis adalah penyakit ketiga di bidang urologis yang paling umum ketiga disamping benign prostat hiperplasia dan infeksi saluran kemih. Urolithiasis adalah salah satu penyakit utama dari bidang urologi yang merupakan sumber utama morbiditas. Telah dilaporkan bahwa prevalensi urolitiasis adalah 1-12% di dunia, dan 1-5% di Asia. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kadar asam urat dalam darah terhadap kejadian urolithiasis di RSUD Undata Palu tahun 2014-2016. Metode: Pada penelitian ini, jenis penelitian yang di pakai adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan non probability sampling yaitu purposive sampling. Sampel terdiri dari 38 pasien dengan urolithiasis dan 14 pasien non urolithiasis yang melakukan pemeriksaan kadar asam urat dalam darah. Analisis data dilakukan dengan menggunakan univariat, bivariat dengan uji chi-square (α = 0,05) Hasil: Berdasarkan 52 sampel data yang telah di teliti, kemudian data di analisis menggunakan uji Chi Square Yates Correction dan di dapatkan nilai p 0.037 untuk hubungan kadar asam urat dalam darah terhadap kejadian urolithiasis di RSUD Undata Palu 2014-2016. Kesimpulan: Adanya hubungan yang bermakna antara kadar asam urat dalam darah terhadap kejadian urolithiasis di RSUD Undata Palu 2014-2016, pada penelitian ini meningkatnya kadar asam urat dalam darah berpotensi meningkatkan kejadian urolithiasis. Kata Kunci: asam urat, hiperurisemia, urolithiasis.
THE KITE FLAP IN THE TREATMENT OF FINGER TIP AMPUTATIONS Case Report Munir, Muh. Ardi
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background. Fingertip injuries are extremely common. Out of the various available reconstructive options, one needs to select an option which achieves a painless fingertip with durable and sensate skin cover. The present analysis was conducted to evaluate the management and outcome of fingertip injuries. In contrast to amputations of a single finger, bone shortening and wound closure usually should not be considered for thumb soft tissue defects. In general, the thumb should never be shortened. The flap has a consistent arterial supply, good sized veins, and terminal branches of the superficial radial nerve.Case report. Male 42 years old with traumatic amputation at the right thumb. Suffered since 5 days before admitted to the hospital due to livestock string roll attraction that happens suddenly. There is thumb tip loss at the level of IP joint, bony expose, swelling, skin and soft tissue defect at the level of mid shaft of the proximal phalanx. Radiographic study shown that there is loss of distal phalanx of thumb.Procedure. The kite flap for thumb tip defect or amputation. Flap is raised from the dorsum of the first phalanx of the index finger, including the metacarpophalangeal (MTP) joint.Conclusion. The treatment needs to be individualized and all possible techniques of reconstruction must be known to achieve optimal recovery. The results showed preservation of finger length and contour, retention of sensation and healing without significant complication. Thumb tip defects should be aggressively treated to preserve thumb length, which is more important to the thumb's overall contribution to hand function than joint flexibility, in contradistinction to the fingers. Accordingly, the rectangular volar advancement is the preferred option for small thumb tip defects as it brings sensate durable skin to the thumb tip. Larger full-thickness defects of the thumb require sensate resurfacing with either the dorsum of the first phalanx of the index finger or kite flap.Keywords: Fingertip injury, thumb tip defect/amputation, kite flap.