Windi Zamrudy
Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang, Jl. Soekarno Hatta No. 9, Malang 65141, Indonesia

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

STUDI KELAYAKAN PEMANFAATAN LIMBAH (BLOTONG, AMPAS TEBU, TETES) SEBAGAI BIOBRIKET Ahmad Haris Firmansyah; Windi Zamrudy; Eko Naryono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 3 (2023): September 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i3.3798

Abstract

Peningkatan produksi gula di Indonesia sebanding dengan limbah yang dihasilkan, salah satunya adalah limbah blotong. Limbah jenis ini menyebabkan pencemaran lingkungan dan menimbulkan bau menyengat yang menganggu masyarakat sekitar sehingga perlu diolah lebih lanjut. Pemanfaatan limbah blotong dipadukan dengan ampas tebu dan tetes sebagai biobriket diharapkan dapat menjadi solusi penanganan limbah industri dan untuk pencarian energi alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan variasi arang blotong dan ampas tebu terbaik dalam pembuatan biobriket limbah produksi gula dan mengetahui kelayakan biobriket dari blotong tebu ditinjau dari aspek ekonomi dan sosial. Pembuatan biobriket dilakukan dengan metode kuantitatif eksperimental diawali dengan pengeringan, dilanjutkan dengan karbonisasi dan pembriketan. Pembuatan biobriket dilakukan dengan variasi perbandingan bahan baku arang blotong dan ampas tebu sebesar  100:0, 95:5, 90:10, 85:15, 80:20. Hasil terbaik biobriket diperoleh pada variasi perbandingan blotong dan ampas tebu (90:10) yang menghasilkan kadar air briket 4,35%, laju pembakaran 0,107 g/menit dan nilai kalor 3.2520 kal/g.  Analisis ekonomi yang telah dilakukan menunjukkan adanya prospek ekspor yang cukup besar diberbagai negara. Selain itu,  produksi biobriket ini diproyeksikan menghasilkan laba bersih sebesar Rp  1.676.372.932,60 dan titik impas sebesar 75% dengan waktu pengembalian modal selama 2,1 tahun. Analisis aspek sosial lingkungan menunjukkan adanya peningkatan mutu hidup dan penyerapan tenaga kerja untuk masyarakat sekitar.  Studi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa bisnis biobriket berbahan baku blotong dan ampas tebu layak dilakukan jika ditinjau dari segi ekonomi dan sosial.
SUBSTITUSI TANAH LIAT MENGGUNAKAN CAMPURAN SLUDGE IPAL DAN BOTTOM ASH TERHADAP PREDIKSI KUALITAS CLINKER DENGAN METODE RAW MIX DESIGN Elsa Damayanty; Windi Zamrudy; Ilham Dirga Laksono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 4 (2024): December 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i4.6639

Abstract

Sludge Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) merupakan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang semakin menumpuk di Indonesia. Meskipun dikategorikan sebagai limbah B3, sludge IPAL memiliki kemiripan dengan tanah liat sebesar 45,17%.  Hal tersebut tentu menjadi solusi untuk dapat memanfaatkan sludge IPAL kawasan industri Dumai sebagai pengganti tanah liat pada industri semen khususnya pada PT Semen Gresik Pabrik Rembang melalui unit Alternatif Fuel, Raw Material (AFR) & Waste Management. Dengan adanya unit ini, sludge IPAL akan digunakan sebagai alternatif raw material. Namun, dikarenakan kandungan air yang cukup besar sludge IPAL memerlukan treatment khusus seperti dicampur dengan alternatif raw material yang sudah ada yaitu bottom ash. Hal ini yang mendasari penelitian terkait substitusi tanah liat menggunakan campuran sludge IPAL dan bottom ash terhadap bahan baku utama pembuatan semen yaitu clinker. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis seberapa besar sludge IPAL dan bottom ash dapat menyubstitusi tanah liat ditinjau dari segi prediksi kualitas clinker dengan menggunakan metode raw mix design. Substitusi tanah liat dengan menggunakan campuran sludge IPAL dan bottom ash dilakukan dengan persentase yaitu 10; 20; 30; 40; dan 50%.  Penggunaan campuran sludge IPAL dan bottom ash mulai dari 10 – 50% terjadi penurunan prediksi kualitas clinker yang ditinjau dari C3S; C2S; C3A; dan C4AF, tetapi substitusi hingga 50% tersebut masih memenuhi prediksi kualitas clinker dengan kandungan C3S; C2S; C3A; dan C4AF sebesar 65,471; 9,826; 8,985; dan 10,642%.
EVALUASI PENGARUH KONDISI OPERASI KOLOM FRAKSINASI C-1 TERHADAP KUALITAS PRODUK SOLAR DI PPSDM MIGAS CEPU Rizqi Dwinanda Amalia; Niken Larasati; Windi Zamrudy; Dwi Purwanto
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 2 (2025): June 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i2.6715

Abstract

Kolom fraksinasi yang berada di PPSDM MIGAS Cepu mengalami keterlambatan dalam maintenance dengan umur pemakaian yang sudah lama, sehingga untuk mengetahui alat dapat berjalan baik atau tidak maka diperlukan evaluasi kinerja kolom fraksinasi untuk menghindari terjadinya losses yang menimbulkan kerugikan perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi cara mengevaluasi kinerja dan efisiensi pada kolom fraksinasi C-1 kilang PPSDM MIGAS Cepu serta mengetahui pengaruh kondisi operasi kolom fraksinasi C-1 berdasarkan uji analisis kualitas (Density, Distilasi 90% Volume Penguapan, Flash Point, Pour Point, dan Color). Penggunaan metode dalam penelitian ini adalah kuantitatif dan percobaan. Pendekatan kuantitatif untuk melihat hubungan 2 variabel antara kondisi operasi kolom fraksinasi C-1 dengan hasil produk solar. Hasil data yang dikumpulkan secara kuantitatif dilihat untuk menghitung presentase efisiensi dari kolom fraksinasi C-1 yang dilihat hubungannya dengan hasil analisa produk solar berdasarkan 5 uji parameter yang dibandingkan berdasarkan keputusan spesifikasi DIRJEN MIGAS No. 146.K/10/DJM/2020. Pengujian tersebut terdiri dari density, distilasi 90% vol. penguapan, flash point, pour point, color. Hasil perhitungan yang diperoleh dari efisiensi panas pada kolom fraksinasi C-1 pada 2022 sebesar 73,08% dan heat lossnya sebesar 26,92%, sehingga kolom fraksinasi C-1 masih bekerja cukup baik karena batas minimum efisiensi panas pada kolom fraksinasi adalah 70% dengan batas maksimal heat loss sebesar 30%, sehingga kolom fraksinasi C-1 masih berjalan normal dan layak digunakan mengingat umur alatnya yang sudah kuno. Hasil analisis uji laboratorium produk solar pada tanggal 21-27 Februari 2022 menunjukkan bahwa produk solar dalam keadaan on spec.
ANALISIS KELAYAKAN RDF (REFUSE DERIVED FUEL) SEBAGAI BAHAN BAKAR PENGGANTI BATUBARA DI PT SEMEN GRESIK PABRIK REMBANG Marsanda Aqillah Naura; Windi Zamrudy; Ilham Dirga Laksono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 2 (2025): June 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i2.6717

Abstract

Produksi semen memiliki beberapa tahapan produksi, salah satunya yaitu proses pembakaran yang menggunakan bahan bakar utama batubara. Kebutuhan batubara di pabrik semen berkisar antara 1.600 – 1.800 ton per harinya. Oleh karena itu, pabrik semen berinovasi untuk mengganti bahan bakar ini dengan harga yang lebih ekonomis, dan mudah didapat. Refuse Derived Fuel (RDF) yang merupakan bahan bakar alternatif yang berasal dari sampah perkotaan yang tercampur dengan memisahkan sampah non-combustible untuk menghasilkan campuran yang homogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan RDF terhadap kestabilan proses meliputi temperatur stage 5 preheater, torsi kiln, dan pressure inlet kiln, serta kualitas klinker pada parameter freelime, C3S, dan C2S yang dihasilkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif - kuantitatif dengan mengolah data dari Control Room PT Semen Gresik Rembang. RDF yang dihasilkan dapat menjadi bahan bakar alternatif karena memenuhi syarat dengan nilai kalor sebesar 4.811 kkal/kg, dan nilai moisture sebesar 9,5%. Hasil analisis kestabilan operasi setalah pemasukan RDF pada parameter temperatur stage 5 preheater menunjukkan kondisi yang stabil, torsi kiln menunjukkan kondisi yang fluktuatif dengan nilai standar deviasi yang lebih rendah, pressure inlet kiln menunjukkan kondisi yang fluktuatif, hingga indeks kebutuhan batubara yang menurun sebesar 0,01 ton batubara/ton klinker. Analisis kualitas klinker menunjukkan hasil yang semakin baik setelah pemasukan RDF apabila ditinjau dari parameter freelime yang nilainya berkisar dari 1 – 1,5% kurang dari batas maksimal (2%), serta kuat tekan semen yang semakin baik ditinjau dari kandungan C3S dan C2S-nya. Oleh karena itu, RDF dapat memenuhi klasifikasi sebagai bahan bakar alternatif pengganti batubara.
PENGARUH KONSENTRASI NaOH DAN WAKTU ELEKTROLISIS TERHADAP KADAR KLORIN DALAM PRODUKSI SODIUM HIPOKLORIT DARI AIR LAUT Siti Nur A'ini; Ernia Novika Dewi; Windi Zamrudy; Arif Eko Prasetyo
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 4 (2025): December 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i4.7985

Abstract

PT PLN Nusantara Power UP Tanjung Awar-Awar merupakan PLTU berbahan bakar batu bara berkapasitas 2 × 350 MW yang memanfaatkan sistem pendingin kondensor dengan air laut. Untuk mencegah pertumbuhan biota laut pada sistem ini, diperlukan injeksi sodium hypochlorite (NaOCl) melalui metode shock dosing. Namun, fluktuasi pasang surut air laut menyebabkan konsentrasi NaOCl menurun, sehingga efektivitasnya berkurang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh elektroda karbon grafit dalam produksi NaOCl dari air laut serta menentukan konsentrasi NaOH dan durasi elektrolisis optimal. Produksi NaOCl dari air laut  dimulai dengan pengukuran pH dan konduktivitas, dilanjutkan elektrolisis menggunakan elektroda karbon grafit dengan variasi konsentrasi NaOH (0; 0,5; dan 1 N) dan waktu elektrolisis (10–60 menit). Kadar klorin dianalisis dengan titrasi iodometri. Hasil menunjukkan bahwa elektroda karbon grafit cenderung terdegradasi pada kondisi basa kuat dan suhu tinggi, serta menghasilkan larutan yang keruh. Kondisi optimal diperoleh pada penambahan NaOH 1 N dengan durasi elektrolisis 60 menit, menghasilkan kadar klorin tertinggi sebesar 550,34 mg/L, yang memenuhi kebutuhan aplikasi shock dosing pada sistem pendingin PLTU.