Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

APLIKASI TEKNOLOGI BIO-DRYING UNTUK PROSES PENGERINGAN SAMPAH ORGANIK MENJADI BAHAN BAKAR Eko Naryono; Cucuk Evi Lusiani; Ariani Ariani; Khalimatus Sa'diyah; Asrori Asrori
RESWARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v5i1.3740

Abstract

Desa Wringinsongo merupakan desa binaan dari Politeknik Negeri Malang (Polinema) sejak tahun 2020 dan menjadi mitra kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM). Berdasarkan hasil diskusi antara Jurusan Teknik Kimia, Polinema dan warga Desa Wringinsongo, salah satu masalah di desa tersebut yang dapat diselesaikan sesuai dengan bidang ilmu di Jurusan Teknik Kimia adalah pengolahan sampah menjadi bahan bakar. Permasalahan sampah yang mencemari lingkungan di Desa Wringinsongo disebabkan banyaknya sampah yang ditinggalkan oleh pengunjung terutama di daerah wisata pemandian alam. Teknologi bio-drying melalui proses pengeringan sampah menjadi bahan bakar dapat digunakan sebagai alternatif solusi yang ramah lingkungan yang dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan PkM. Hal ini sejalan dengan Rencana Strategis Polinema (Renstra Polinema 2021-2025) di bidang pemeliharaan lingkungan hidup dan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) untuk Desa Binaan Polinema, Wringinsongo, Kec. Tumpang, Kab. Malang. Kegiatan PkM yang dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2022 berjalan lancar dan para peserta sangat antusias untuk mempraktikkan secara langsung pengeringan sampah organik dengan metode teknologi bio-drying untuk dijadikan sebagai bahan bakar alternatif
STUDI LITERATUR: POTENSI SINTESIS Na2CO3 MELALUI ABSORBSI CO2 MENGGUNAKAN NaOH PADA GAS HASIL PIROLISIS SAMPAH PLASTIK Faskaria Siburian; Eko Naryono; Cucuk Evi Lusiani
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 12 No. 2 (2026): June 2026
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v12i2.7362

Abstract

Sampah plastik merupakan salah satu jenis limbah domestik yang jumlahnya terus meningkat dan mendominasi timbulan sampah masyarakat. Namun, pengelolaannya masih belum sebanding dengan laju akumulasinya. Salah satu pendekatan teknologi yang menjanjikan untuk mengolah limbah plastik adalah metode pirolisis, yaitu proses termal yang memecah rantai karbon panjang menjadi senyawa yang lebih sederhana melalui pemanasan tanpa atau dengan sedikit oksigen. Proses ini menghasilkan tiga jenis produk: fraksi padat, cair, dan gas, yang seluruhnya berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Namun demikian, fraksi gas hasil pirolisis masih mengandung karbon dioksida (CO₂) yang bersifat sebagai kontaminan, sehingga menurunkan efisiensi energi sekaligus berdampak terhadap lingkungan jika dilepaskan langsung ke atmosfer. Untuk mengatasi hal tersebut, teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) menawarkan solusi dengan memanfaatkan CO₂ sebagai bahan baku dalam sintesis senyawa kimia seperti natrium karbonat (Na₂CO₃), melalui mekanisme absorpsi menggunakan larutan natrium hidroksida (NaOH). Artikel ini disusun berdasarkan studi literatur, yang terdiri dari identifikasi jenis plastik penghasil CO₂ tertinggi, efektivitas katalis dalam meningkatkan fraksi gas hasil pirolisis, dan penentuan kondisi pH dan konsentrasi NaOH yang optimal untuk pembentukan Na₂CO₃. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa untuk mengoptimalkan sintesis Na2CO3, dapat dicapai melalui pirolisis plastik jenis Polyethylene Terephthalate (PET) yang menghasilkan fraksi gas lebih banyak, penggunaan katalis ZSM-5 untuk mempercepat degradasi, serta penyerapan CO2 oleh NaOH berkonsentrasi lebih tinggi (pH > 10) dalam jumlah berlebih.
ANALISIS KONSUMSI STEAM MENGGUNAKAN PINCH TECHNOLOGY PADA PROCESS HOUSE DI PABRIK GULA MODJOPANGGOONG Erico Saputra Immanuel; Eko Naryono; Rizki Dwi Nanto
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 12 No. 2 (2026): June 2026
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v12i2.7554

Abstract

Pemakaian steam (uap panas) pada industri gula relatif besar, khususnya pada unit process house yang terdiri dari proses pemurnian, penguapan, kristalisasi, dan puteran. Pemakaian steam yang berlebihan menyebabkan inefisiensi energi. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsumsi steam di PG Modjopanggoong dengan metode pinch technology untuk meningkatkan efisiensi energi. Metode yang digunakan terdiri dari dua tahap yaitu pengumpulan data dari unit process house, perhitungan, dan analisis data. Pengumpulan data meliputi suhu, kapasitas aliran bahan, dan perhitungan entalpi dari aliran panas dan dingin. Data dianalisis menggunakan pendekatan composite curve untuk menentukan pinch point dan kebutuhan minimum energi (Qmin). Penerapan pinch technology efektif untuk mengidentifikasi kondisi optimum penggunaan energi panas, layak diterapkan untuk teknik evaluasi peningkatan efisiensi energi di pabrik gula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pinch point berada pada suhu 115°C, dengan nilai heat recovery mencapai 72,714 MW dari potensi maksimum 75,211 MW. Kebutuhan utilitas pemanas eksternal sebesar 0 MW, dan kebutuhan utilitas pendingin minimum sebesar 2,497 MW. Nilai Steam on Cane (SOC) sebesar 43% menunjukkan bahwa konsumsi steam berada di bawah ambang batas efisiensi industri, yang menandakan efisiensi energi yang baik tanpa kebutuhan bahan bakar tambahan selain bagasse.
PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK DAN KERTAS DI JURUSAN TEKNIK KIMIA DENGAN MENGGUNAKAN METODE DEKOMPOSISI TERMAL SISTEM INDIRECT Shelly D.P Agustin; Fina Rasyada; Eko Naryono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v5i2.48

Abstract

Sampah merupakan permasalahan global yang dapat mencemari lingkungan. Indonesia memproduksi sebanyak 65 juta ton sampah pada tahun 2017, di Teknik Kimia Politeknik Negeri Malang memproduksi campuran sampah plastik dan kertas sebanyak ±30 kg per hari. Sampah plastik dan kertas dapat diolah dengan metode dekomposisi termal. Dekomposisi termal adalah proses perubahan senyawa kimia kompleks menjadi senyawa kimia yang lebih sederhana yang disebabkan adanya panas. Tahapan proses dalam degradasi termal adalah drying, pirolisis, gasifikasi dan pembakaran. Penelitian ini menghasilkan energi panas yang dapat digunakan untuk memanaskan air dengan tujuan mengetahui pengaruh laju alir udara dan pengaruh perbandingan rasio kertas plastik terhadap energi panas yang dihasilkan. Variabel yang digunakan adalah rasio massa kertas : plastik yaitu 1:4, 1:3, 1:2, 1:1 dengan variabel 2 L/Min, 3 L/Min, 4 L/Min, 5 L/Min, 6 L/Min. Laju alir udara yang terbaik dalam proses dekomposisi termal adalah 2 L/min dengan rasio 1:3 yang dapat memanaskan air hingga suhu 75 oC
PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK DAN KERTAS DI JURUSAN TEKNIK KIMIA DENGAN MENGGUNAKAN METODE DEKOMPOSISI TERMAL SISTEM DIRECT Fina Rasyada; Shelly D.P. Agustin; Eko Naryono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v5i2.35

Abstract

Sampah merupakan permasalahan global yang dapat mencemari lingkungan. Indonesia memproduksi sebanyak 65 juta ton sampah pada tahun 2017, di Teknik Kimia Politeknik Negeri Malang memproduksi campuran sampah plastik dan kertas sebanyak ±30 kg per hari. Pengolahan sampah plastik dan kertas dapat dilakukan dengan metode dekomposisi termal. Dekomposisi termal adalah proses perubahan senyawa kimia kompleks menjadi senyawa kimia yang lebih sederhana yang disebabkan adanya panas. Tahapan proses dalam degradasi termal adalah drying, pirolisis, gasifikasi dan pembakaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh laju alir udara dan pengaruh perbandingan rasio kertas plastik terhadap energi panas yang dihasilkan yang dapat digunakan untuk memanaskan air. Variabel yang digunakan adalah rasio massa kertas : plastik yaitu 1:4, 1:3, 1:2, 1:1 dengan variabel laju alir udara 2 L/min, 3 L/min, 4 L/min, 5 L/min, 6 L/min. Laju alir udara yang terbaik dalam proses dekomposisi termal adalah 6 L/min dengan rasio 1:4 yang dapat memanaskan air hingga temperatur 90oC.
PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK DARI RUMAH PKD TLOGOMAS DENGAN KOTORAN SAPI DAN EM 4 SEBAGAI BIOGAS Olivia Izzati Atiqa; Rahajeng Arum Mayang; Eko Naryono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah Pilah Kompos Daur ulang (PKD) Tlogomas Salah satu tempat pembuangan sampah yang berpotensi sebagai tempat penyedia sampah organik seperti sayuran dan limbah rumah tangga yang dapat menghasilkan biogas dalam jumlah yang cukup besar. Biogas adalah suatu gas yang terdiri dari beberapa unsur gas seperti gas metana (CH4), karbon dioksida (CO2), hidrogen sulfida (H2S) dan amoniak (NH3) serta memiliki sifat mudah terbakar yang dapat dihasilkan dari berbagai macam limbah organik melalui proses fermentasi. Percobaan dilakukan dalam digester anaerobik berukuran 6 liter, bahan baku yang digunakan adalah limbah sayuran, kotoran sapi, penambahan EM4 sebesar 0%, 1% dan 2% serta penambahan jumlah air sebesar 5%,10% dan 15%. Fermentasi dilakukan secara batch dengan pengukuran gas (tekanan, suhu, pH, serta massa) yang dilakukan pengamatan setiap 6 hari sekali sampai hari ke-24. Hasil penelitian menunjukkan pada penambahan EM4 sebesar 0% menghasilkan volume biogas tertinggi sebesar 0,21L dengan yield sebesar 0,044%. Produksi volume biogas terbanyak terjadi pada penambahan jumlah air sebanyak 10%, faktor yang menyebabkan produksi biogas tinggi yaitu pH proses mencapai optimum.
PENGARUH KOTORAN SAPI DAN UKURAN PARTIKEL TERHADAP PEMBENTUKAN BIOGAS Rahajeng Arum Mayang; Olivia Izzati Atiqa; Eko Naryono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v5i2.18

Abstract

Energi alternatif yang berpeluang untuk dikembangkan adalah energi biogas karena dapat diolah dari berbagai macam sumber bahan organik dan ramah lingkungan. Salah satu tempat pembuangan sampah yang berpotensi sebagai tempat penyedia sampah organik adalah Rumah Pilah Kompos Daur ulang (PKD) Tlogomas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh ukuran partikel dan jumlah kotoran sapi terhadap produksi biogas. Penelitian dilakukan melalui proses fermentasi selama 24 hari dalam alat digester tipe batch dengan volume 6 L pada variasi pencacahan ±2 cm, ±4 cm, dan ±6 cm serta rasio limbah sayuran dan kotoran sapi yaitu 1:0,1; 1:0,3, dan 1:0,5. Hasil menunjukkan peningkatan jumlah kotoran sapi dapat meningkatkan produksi biogas. Pada pencacahan ±2 cm, ±4 cm, ±6 cm, produksi biogas tertinggi ditunjukkan pada rasio 1:0,5 berturut-turut sebesar 1,1 L, 1,2815 L, dan 0,4091 L. Selain itu, diketahui bahwa volume biogas tertinggi dihasilkan pada limbah sayuran dengan pencacahan ±4 cm.
STUDI LITERATUR PENAMBAHAN GLISEROL PADA PENGUAPAN VINASSE SEBAGAI ANTI KERAK Mifta Rahmidinna; Eko Naryono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i2.119

Abstract

Bioetanol diproduksi melalui proses fermentasi dan destilasi, proses destilasi menghasilkan limbah yang berwarna coklat pekat yang dikenal dengan istilah vinasse. Pada pembuatan 1 liter etanol akan menghasilkan limbah vinasse sebanyak 13 liter (1:13). Vinasse dapat mencemari air, udara, dan tanah apabila langsung dibuang ke lingkungan. Vinasse perlu diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan. Salah satu metode pengolahan yang dapat dilakukan adalah dengan cara evaporasi. Proses evaporasi menghasilkan sisa padatan yang dapat digunakan sebagai bahan bakar. Penguapan vinasse akan menimbulkan kerak dan dapat mengakibatkan saluran pada evaporator tersumbat. Pada penelitian ini digunakan gliserol sebagai anti-scaling agent agar tidak timbul kerak pada evaporator. Penelitian ini bertujuam untuk mempelajari pengaruh penambahan gliserol pada penguapan vinasse, mempelajari pengaruh jumlah penguapan air pada penguapan vinasse agar tidak terjadi kerak, dan mempelajari pengaruh konsentrasi gliserol terhadap massa kerak yang dihasilkan.Penelitian dilakukan dengan cara mencampurkan gliserol pada vinasse dengan gliserol sebanyak 0,06 ppm, 0,11 ppm, dan 0,16 ppm kemudian diuapkan. Hasil penelitian dievaluasi berdasarkan studi literatur kemudian massa kerak yang didapatkan dari literatur diinterpolasi dengan variabel penambahan gliserol sebanyak 0,06 ppm, 0,11 ppm, dan 0,16 ppm untuk mengetahui jumlah pembentukan kerak selama penguapan vinasse. Dan diperoleh hasil kerak yang terbentuk dengan penambahan gliserol dengan kosentrasi 0,06 ppm, 0,11 ppm, dan 0,16 ppm menghasilkan kerak sebesar 1,108 gram, 1,1057 gram, dan 1,1035 gram.
STUDI LITERATUR POTENSI BLENDING RESIDU OIL MBC – PTCF UNTUK MFO LOW SULPHUR SEBAGAI BAHAN BAKAR KAPAL DI PT. PERTAMINA Ega Yanuar Rizqi; Eko Naryono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i2.121

Abstract

International Maritime Organization mengeluarkan peraturan untuk mengurangi kandungan sulphur pada bahan bakar kapal menjadi maksimal 0.5 wt% per 1 Januari 2020. Artinya, penggunaan High Sulphur Fuel Oil sebagai bahan bakar kapal harus diganti dengan Low Sulphur Fuel Oil. Salah satu jenis LSFO yang dapat diproduksi menjadi bahan bakar kapal jenis MFO Low Sulphur adalah PTCF dari PT. TPPI. Namun nilai viskositas PTCF tergolong rendah, sehingga diperlukan proses melalui metode blending dengan MBC dari PPSDM Cepu yang merupakan residu jenis Low Sulphur Waxy Residue dengan nilai pour point tinggi. Berdasarkan review jurnal, dilakukan penentuan titik optimal blending yang bertujuan untuk mengetahui komposisi blending yang tepat melalui perhitungan terhadap viskositas dan pour point blending dengan metode refutas dan biaya blending MBC:PTCF. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh blending terhadap viskositas, pour point, dan komposisi blending yang optimal terhadap karakteristik produk MFO LS yang mengacu pada SK Dirjen Migas No. 0179.K/10/DJM.S/2019. Variabel yang digunakan adalah persentase rasio MBC:PTCF sebesar 20:80; 25:75; 30:70; 35:65; 40:60; 50:50 dan diperoleh komposisi optimal pada komposisi 30:70 dengan viskositas sebesar 18.1 cst, pour point sebesar 25.6 oC, dan biaya sebesar 59.4027 usd/bbl.
STUDI LITERATUR PEMANFAATAN CAMPURAN MINYAK JELANTAH DAN PLASTIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTERISTIK BAKAR SAMPAH ORGANIK DENGAN METODE FRYING Feby Sisilia Watu; Eko Naryono
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i2.126

Abstract

Sampah organik merupakan bahan buangan dari kegiatan rumah tangga, kegiatan komersial, industri atau aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar setelah dikeringkan terlebih dahulu. Pengeringan dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi kadar air serta meningkatkan nilai panas pada sampah organik. Nilai kadar air maksimum untuk bahan bakar padat adalah 15% sedangkan untuk nilai kalor minimum bahan bakar padat adalah 20.920 kJ/kg (SNI 01-6235-2000). Salah satu metode pengeringan sampah adalah metode frying. Metode frying mengeringkan sampah dengan cara kontak langsung menggunakan minyak panas sehingga mampu mengeringkan sampah dengan cepat dan menghasilkan produk kering yang aman untuk dibakar. Pengeringan sampah dengan metode frying dapat menurunkan kadar air 80-90% dan meningkatkan nilai kalor hingga lebih dari 20.000 kJ/kg. Hasil terbaik diperoleh pada kisaran suhu 140 – 150°C dan waktu pengeringan 5 – 10 menit yang menghasilkan nilai kadar air dibawah 5% dan nilai kalor lebih dari 20.000 kJ/kg.