Arief Rahmatulloh
Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang, Jl. Soekarno Hatta No. 9, Malang 65141, Indonesia

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

ANALISIS KEBUTUHAN LUAS PERMUKAAN PEMANAS PADA CALANDRIA PAN UNTUK PROSES KRISTALISASI MASAKAN A DENGAN UMPAN 7.000 KUINTAL Alfina Nur Izza Awdiyah; Arief Rahmatulloh; Pandu Jati Ramadhan
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 12 No. 2 (2026): June 2026
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v12i2.7340

Abstract

Manajemen energi dan efisiensi proses kristalisasi merupakan aspek fundamental dalam industri gula modern yang berdampak signifikan terhadap produktivitas dan keberlanjutan produksi. Kristalisasi menggunakan calandria pan atau vacuum pan menjadi tahap krusial yang memerlukan optimasi transfer energi panas untuk mengontrol kualitas gula dan konsumsi energi. Penelitian ini bertujuan menentukan jumlah vacuum pan yang dibutuhkan untuk mengolah masakan A dan menganalisis perbandingan kebutuhan luas permukaan pemanas teoritis dengan spesifikasi aktual calandria pan. Metode penelitian menggunakan pendekatan eksperimental analitis dengan analisis kuantitatif perpindahan panas, mengumpulkan data spesifikasi teknis peralatan, parameter operasional (tekanan dan temperatur uap, temperatur masakan), serta variabel proses (kapasitas giling 6000 TCD, brix masakan A 93,57%). Analisis dilakukan menggunakan metode Log Mean Temperature Difference (LMTD) dan perhitungan koefisien perpindahan panas. Hasil menunjukkan kebutuhan luas permukaan pemanas untuk mengolah masakan A dengan umpan 7.000 kuintal adalah 436,733 m², sementara tersedia 6 unit calandria pan dengan total luas 1.326 m². Surplus kapasitas sebesar 889,27 m² (67,1%) mengindikasikan proses dapat dilaksanakan optimal dengan mengoperasikan hanya 2 unit calandria pan, memberikan potensi signifikan untuk optimasi manajemen energi dan peningkatan efisiensi operasional dalam industri gula.
ANALISIS KEBUTUHAN LUAS PERMUKAAN PEMANAS QUADRUPLE EFFECT EVAPORATOR PADA STASIUN PENGUAPAN PABRIK GULA MODJOPANGGOONG TULUNGAGUNG Moh Raffi Erina Mauludian; Arief Rahmatulloh; Rizki Dwi Nanto
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 12 No. 2 (2026): June 2026
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v12i2.7979

Abstract

Proses evaporasi merupakan salah satu tahap penting dalam industri pengolahan gula, di mana efisiensi energi menjadi faktor penentu utama keberhasilan operasional. PG Modjopanggoong Tulungagung menerapkan sistem Quadruple effect evaporator untuk meningkatkan efisiensi termal dan menurunkan konsumsi energi. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kebutuhan luas permukaan pemanas pada masing-masing efek evaporator dan mengevaluasi kesesuaian antara hasil perhitungan dengan data aktual di lapangan. Metode pengolahan data dilakukan dengan pendekatan neraca massa, neraca energi, serta perhitungan koefisien perpindahan panas secara teoritis. Hasil menunjukkan bahwa kebutuhan luas permukaan pemanas untuk masing-masing efek adalah A1 sebesar 629,06 m², A2 sebesar 614,20 m², A3 sebesar 672,57 m², dan A4 sebesar 572,19 m², yang seluruhnya masih berada dalam batas spesifikasi peralatan pabrik. Nilai steam economy sebesar 3,93 menunjukkan efisiensi yang baik. Penelitian ini dapat menjadi dasar evaluasi dan perawatan sistem evaporator secara berkala untuk menjamin performa optimal.
EVALUASI KINERJA COOLER-05 PADA CRUDE DISTILLATION UNIT DI PPSDM MIGAS CEPU Virsa Faliolla Tasyakuranti; Rosita Dwi Chrisnandari; Arief Rahmatulloh; Setiyono; Nurul Kamaliya
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 2 (2023): June 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i2.2695

Abstract

Dalam proses pengolahan minyak dan gas bumi di Crude Distillation Unit PPSDM Migas Cepu diperlukan berbagai alat perpindahan panas, salah satunya adalah cooler. Di PPSDM Migas Cepu, Cooler-05 digunakan untuk mendinginkan Pertasol CB hasil keluaran dari kolom fraksinasi C2 sebelum masuk ke separaor S4. Dalam proses produksi Pertasol CB yang berlangsung secara kontinyu, proses produksi ini menyebabkan alat di Crude Distillation Unit harus beroperasi selama 24 jam. Hal ini dapat mempengaruhi kinerja Cooler-05 sehingga perlu dilakukan perhitungan efisiensi untuk mengetahui kinerja alat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja dari Cooler-05 yang ada di Crude Distillation Unit PPSDM Migas Cepu yang didasarkan pada beberapa paramater. Metode evaluasi kinerja Cooler-05 dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mengolah data lapangan serta data literatur. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan nilai Dirt Factor (Rd) sebesar 0,0086 J.ft2.°F/Btu dengan selisih 7% dari Rd minimal, dimana toleransi selisih yang diperbolehkan maksimal sebesar 10%. Pada pressure drop (ΔP) didapatkan untuk sisi shell dan tube berturut-turut sebesar 0,0001 psi dan 0,00805 psi dengan nilai yang diperbolehkan sebesar 10 psi untuk liquid. Didapatkan pula besar efisiensi perpindahan panas (kalor) sebesar 73,16% dimana suatu alat masih optimal beroperasi jika memiliki efisiensi mencapai 80%. Dengan demikian, perlu dilakukan perawatan
PERANCANGAN JALUR PIPA SIRKULASI CHILLER DI PERUSAHAAN KOSMETIK LOKAL INDONESIA Achmad Rifa'i Hamzah; Arief Rahmatulloh
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 3 (2023): September 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i3.3747

Abstract

Sistem pendingin merupakan salah satu sistem yang sangat penting untuk kebutuhan penunjang proses produksi. Penambahan unit chiller juga akan berpengaruh terhadap jalur perpipaan. Headloss pada jalur perpipaan harus dihitung untuk merancang jalur pipa baru pada unit chiller agar supply fluida pada unit chiller tercukupi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas pompa yang dibutuhkan untuk mengalirkan fluida ke dalam jalur pipa sirkulasi chilled water. Pompa yang akan digunakan pada penelitian ini adalah pompa jenis sentrifugal. Perhitungan dilakukan dengan melakukan studi literatur yang berkaitan dengan topik penelitian, dilanjutkan dengan melakukan pengukuran di lapangan untuk kemudian hasil pengukuran diaplikasikan ke dalam gambar sebagai acuan untuk perhitungan headloss pada jalur pipa sirkulasi chilled water. Didapatkan desain jalur pipa sirkulasi chiller berupa gambar 3D dan headloss pada pipa sirkulasi chilled water sebesar 28,006 m dengan minor + major loss sebesar 16,7969 m, panjang pipa adalah 36,27 m, dan elevation head sebesar 5,16 m. Spesifikasi pompa yang diperlukan untuk mengalirkan fluida chilled water harus memenuhi head minimal 28 meter. Spesifikasi pompa yang kurang dari kebutuhan menyebabkan fluida tidak dapat dialirkan dengan maksimal dan kinerja pompa maupun motor semakin berat.
ANALISIS EFISIENSI BOILER FIRE-TUBE PADA PRODUKSI STPP DI PT PETROCENTRAL GRESIK MENGGUNAKAN METODE LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG Sandi Putra Wicaksana; Arief Rahmatulloh; Rachmad Subandi
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 3 (2023): September 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i3.3777

Abstract

Boiler merupakan suatu alat untuk menghasilkan uap (steam). Steam (uap) pada Boiler dihasilkan dengan cara memanaskan air dalam wadah dengan bantuan panas dari bahan bakar. Boiler yang digunakan dalam proses produksi PT Petrocentral merupakan jenis Boiler fire tube. Boiler  dengan  efisiensi  rendah dapat menyebabkan pemborosan konsumsi energi dan bahan bakar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai efisiensi yang dihasilkan dari Boiler di PT Petrocentral dan mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi selisih dari kedua metode perhitungan efisiensi Boiler pada PT Petrocentral. Pada penelitian ini dilakukan analisis efisiensi Boiler berbahan bakar natural gas yang terdapat di PT Petrocentral Gresik dengan metode langsung dan metode tidak langsung. Berdasarkan perhitungan efisiensi pada Boiler yang ada pada PT Petrocental, didapati pada metode langsung (Direct Method) diperoleh efisiensi sebesar 86% dan perhitungan efisiensi pada metode tidak langsung (Indirect Method) diperoleh efisiensi sebesar 80,79%. Faktor penyebab adanya selisih dari kedua metode ini adalah pada metode langsung tidak menghitung panas yang dapat terbuang seperti kehilangan panas yang diakibatkan oleh gas buang kering, penguapan air sebab adanya H2, kehilangan panas oleh kadar air dalam udara, kehilangan panas karena radiasi, dan kehilangan lain yang tidak terhitung. Sedangkan pada metode tidak langsung hanya menghitung kemungkinan panas yang dapat terbuang (heat losses).
PENGARUH PEMBERIAN ASAM AKTIF TERHADAP PH SURFAKTAN SEBAGAI BASE CLEANSER Refrina Charissadi Firdaus; Arief Rahmatulloh
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 4 (2023): December 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i4.4244

Abstract

Kosmetik merupakan kebutuhan penting untuk saat ini, salah satunya adalah cleanser. Cleanser semakin dikembangkan dengan cara pemberian fungsi lain, seperti mencerahkan, menghilangkan kerutan, dan lainnya di samping fungsi utamanya sebagai pembersih, yaitu dengan cara pemberian bahan aktif, seperti asam aktif. Sifat asam aktif yang memiliki pH rendah berbanding terbalik dengan pH umum dari produk cleanser yang mengandung bahan utama berupa surfaktan. Perbedaan pH ini dapat mengakibatkan ketidakseimbangan pH dan dapat berbahaya untuk kulit manusia, sehingga perlu diteliti surfaktan yang memiliki pH stabil setelah diinkorporasikan dengan asam aktif. Pada penelitian ini, digunakan 5 jenis surfaktan berupa cocamidopropyl betainee, sodium olefin sulfonate, sodium lauroyl sarcosinate, sodium methyl cocoyl taurate, dan sodium lauroyl methyl isethionate. Sedangkan asam aktif yang digunakan adalah lactic acid, salisylic acid, glycolic acid, gluconolactone, citric acid, mandelic acid, succinic acid, dan kojic acid. Pengamatan dilakukan dengan tes stabilitas sediaan di dalam kondisi suhu ruang dan suhu oven 50°C selama 7 hari. Dari hasil pengamatan, diketahui bahwa surfaktan yang memiliki pH stabil setelah diinkorporasi dengan asam aktif adalah sodium methyl cocoyl taurate.
PERBANDINGAN ANALISIS PARAMETER MOISTURE CONTENT FLAVOUR POWDER MENGGUNAKAN MOISTURE ANALYZER DAN OVEN Rodhiyah Rodhiyah; Arief Rahmatulloh; Refrina Charissadi Firdaus
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4877

Abstract

Moisture content merupakan kadar air yang dimiliki oleh setiap produk makanan. Moisture atau kadar air dapat mempengaruhi pertumbuhan jamur yang dapat memengaruhi ketahanan suatu produk, oleh karena itu perlu dilakukan analisa moisture content pada produk sebelum produk diedarkan dipasaran. Pada penelitian dilakukan pada sebuah perusahaan yang memproduksi berbagai produk makanan dan perisa rasa. Kemudian parameter moisture content dianalisa menggunakan dua metode drying atau pengeringan yaitu menggunakan alat moisture analyzer dan oven. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memperoleh perbandingan antara nilai moisture content yang dianalisa menggunakan alat moisture analyzer dan oven sehingga dilakukan variasi pada sampel yang digunakan sebagai variabel bebas yaitu massa sampel 1 gram, 2 gram, dan 3 gram serta suhu operasi dari alat yaitu 50°C,60°C, 70°C, 80°C, 90°C, 100°C, 110°C, 120°C, 130°C, dan 140°C. Data yang diperoleh kemudian dilakukan perhitungan dan di plotkan pada grafik untuk mengetahui nilai perbandingan moisture content dari flavour powder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan moisture analyzer lebih efektif dan efesien untuk menganalisa parameter moisture content dibandingkan dengan oven karena dalam proses drying tidak membutuhkan waktu yang lama serta nilai moisture content yang dihasilkan lebih akurat.
PEMANFAATAN TONGKOL JAGUNG SEBAGAI BIOSORBEN TERAKTIVASI ASAM NITRAT (HNO3) PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TEKSTIL Masnia Syarifatul Aimma Dawuriyah; Arief Rahmatulloh; Saifudin Juli Endarto
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 2 (2025): June 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i2.6735

Abstract

Industri tekstil terus berkembang dengan adanya permintaan pasar yang terus meningkat secara signifikan. Banyaknya permintaan akan diikuti terjadinya peningkatan risiko kerusakan lingkungan  yang ditimbulkan dari  pembuangan limbah jika tidak didasari dengan cara pengolahan yang benar dan hanya dilepaskan secara langsung ke badan sungai. Berbagai metode dilakukan untuk pengolahan limbah cair tekstil salah satunya adalah adsorpsi dengan bantuan adsorben. Biosorben merupakan adsorben alami yang berasal dari alam. Salah satu bahan yang bisa digunakan sebagai biosorben adalah tongkol jagung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis efektivitas biosorben tongkol jagung yang teraktivasi asam nitrat (HNO3) terhadap penurunan nilai PtCo, TSS, dan COD pada pengolahan limbah cair PT Behaestex Pandaan. Variabel yang digunakan adalah lama aktivasi tongkol jagung dengan aktivator HNO3 (24 jam dan 48 jam),serta massa biosorben tongkol jagung setelah dilakukan proses aktivasi (150, 170, dan 200 gram). Proses adsorpsi yang digunakan adalah secara batch dengan kecepatan pengadukan 250 rpm. Analisis yang digunakan adalah uji daya serap iodin, uji TSS, COD, dan kadar warna (PtCo). Hasil penelitian menunjukkan kondisi terbaik biosorben tongkol jagung terhadap penurunan kadar warna, COD, dan TSS adalah biosorben tongkol jagung yang teraktivasi menggunakan HNO3 selama 48 jam dengan massa adsorben 175 gram.
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR TEKSTIL DENGAN MEMANFAATKAN TONGKOL JAGUNG SEBAGAI KARBON AKTIF MENGGUNAKAN AKTIVATOR NATRIUM HIDROKSIDA (NaOH) Larisa Maharani Susanto; Arief Rahmatulloh; Saifudin Juli Endarto
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 11 No. 1 (2025): March 2025
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v11i1.6893

Abstract

Indonesia memiliki beragam aktivitas industri, dan hampir semua kegiatan industri tersebut menghasilkan berbagai jenis limbah termasuk limbah padat, limbah cair, limbah gas, serta limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Terutama hal ini berlaku pada industri tekstil PT Behaestex, industri ini sering memanfaatkan zat pewarna untuk menciptakan warna pada produksi pembuatan sarung. Terdapat berbagai cara dalam penanggulangan masalah limbah cair tekstil baik secara fisika maupun kimia, salah satunya adalah adsorpsi. Adsorpsi merupakan salah satu metode penyerapan fluida, cairan maupun gas dimana zat terserap (adsorbat) terikat oleh zat penyerap (adsorben) pada permukaannya. Salah satu bahan yang bisa digunakan sebagai adsorben adalah tongkol jagung. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menganalisis efektivitas adsorben tongkol jagung yang diaktivasi dengan natrium hidroksida (NaOH) dalam mengurangi nilai kadar warna (PtCo), TSS, dan COD pada pengolahan limbah cair industri. Variabel yang dianalisis meliputi waktu aktivasi tongkol jagung dengan NaOH serta massa adsorben tongkol jagung setelah proses aktivasi. Metode yang digunakan adalah adsorpsi batch dengan kecepatan pengadukan 250 rpm. Analisis yang dilakukan meliputi uji daya serap iodin, pengujian TSS, COD, serta pengukuran kadar warna (PtCo). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karbon aktif dari tongkol jagung efektif dalam mengurangi nilai TSS dan COD dalam limbah cair tekstil. Penurunan nilai COD dan TSS terbesar terjadi pada karbon aktif yang diaktivasi dengan NaOH selama 48 jam dengan massa adsorben 200 gram.