Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG PERSONAL HYGIENE DAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA PUTRI Nyoman Sri Ariantini; Ayu Purmanasar
Jurnal Spektrum Kesehatan Vol 1 No 2 (2025): Vol. 1 No. 2 Juni 2025
Publisher : PT. Media Ilmiah Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/rum-kes.v1i2.18

Abstract

Masalah kesehatan yang kerap terjadi pada masa remaja adalah masalah kesehatan reproduksi. Masalah kesehatan reprduksi yang sering dialami khususnya oleh remaja putri adalah mengenai kebersihan diri (personal hygiene) saat menglami menstruasi Dampak yang terjadi apabila perilaku personal higyene tersebut tidak dilakukan remaja maka remaja tersebut tidak akan bisa memenuhi kebersihan, penampilan dan kesehatan apalagi kesehatan remaja putri sewaktu menstruasi juga tidak terjaga, sehingga dapat menimbulkan beberapa penyakit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri terkait personal hygiene dan kesehatan reproduksi. Penelitian Deskriptif Kuantitatif, dengan desain penelitian cross sectional. dalam pemilihan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan metode penyebaran kuesioner pada saat pre dan post test untuk mengetahui gambaran pengetahuan siswi tentang personal hygiene dan kesehatan reproduksi.  Sebagian besar responden masih kurang yaitu sebesar 78,3 %. Sedangkan setelah diberikan edukasi dengan metode penyuluhan diperoleh data bahwa pengetahuan sebagian besar siswa remaja putri terkait personal hygiene dan kesehatan reproduksi menjadi 50%. Hal ini dapat dikatakan meningkat dari yang tadinya memiliki pengetahaun baik hanya 5% setelah diberikan edukasi meningkat menjadi 50%, sedangkan sebelum diberikan penyuluhan siswi yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 78,3% setelah diberikan penyuluhan menurun menjadi 16,7%.Dapat disimpulkan dengan diberikannya edukasi dengan metode penyuluhan dapat meningkatkan pengetahuan remaja putri terkait personal hyugine dan kesehatan reproduksi.
Pemberdayaan Masyarakat Dalam Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Mental Pada Lansia Dengan Penyakit Kronis: Literatur Riview Ni Made Dwi Astarina Prajayanti; Eka Lutfiatus Solehah; Nyoman Sri Ariantini; Putu Ayu Lestarini
Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya (JAKMW)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners. Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jakmw.v5i1.1410

Abstract

Kesehatan mental pada lansia dengan penyakit kronis menjadi isu penting yang belum tertangani secara optimal. Lansia dalam kondisi ini rentan mengalami stres psikologis akibat keterbatasan fisik, beban ekonomi, serta kurangnya dukungan sosial dan stigma terhadap gangguan mental. Kajian literatur ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran pemberdayaan komunitas dalam meningkatkan kesadaran kesehatan mental pada lansia dengan penyakit kronis. Metode yang digunakan adalah tinjauan sistematis berdasarkan kerangka SPIDER melalui pencarian pada empat basis data utama: PubMed, ProQuest, Sage, dan Science Direct, dengan 13 artikel terpilih sesuai kriteria inklusi. Hasil menunjukkan bahwa program pemberdayaan berbasis digital, interaksi sosial komunitas, kampanye kesehatan mental, dan pelatihan swakelola dapat meningkatkan kesadaran, memperkuat dukungan sosial, serta mengurangi isolasi dan stigma. Namun, hambatan seperti literasi digital rendah dan keterbatasan akses teknologi masih menjadi tantangan. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan holistik yang menggabungkan teknologi dengan dukungan komunitas dan keluarga sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup lansia secara menyeluruh.
Kader posyandu sebagai ujung tombak deteksi dini masalah gizi pada balita: Posyandu health volunteer as the frontline in early detection of nutritional problems in toddlers Ni Ketut Desi Antari; Desak Putu Risna Dewi; Nyoman Sri Ariantini
Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) Vol. 12 No. 1 (2026): JiKep | Februari 2026
Publisher : UPPM STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33023/jikep.v12i1.2958

Abstract

Masalah gizi pada balita masih menjadi isu kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Desa Tiyingtali, Kecamatan Abang, Karangasem. Tingginya angka stunting dan kurang optimalnya pemantauan pertumbuhan menunjukkan perlunya penguatan deteksi dini di tingkat komunitas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran kader Posyandu dalam deteksi dini masalah gizi balita. Penelitian menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposive, melibatkan 15 informan kunci (kader, ibu balita, perbekel, bidan desa, dan perawat). Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman serta triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kader berperan sebagai pemantau, pencatat, edukator, dan pelacak. Sebagai pemantau, kader melakukan pengukuran antropometri rutin dan mengidentifikasi kasus stunting. Sebagai pencatat, kader mendokumentasikan pengukuran ke KMS, SIP, dan membantu pelaporan E-PPGBM. Sebagai edukator, kader memberikan penyuluhan mengenai ASI eksklusif, MP-ASI, dan grafik pertumbuhan. Sebagai pelacak, kader melakukan kunjungan rumah pada balita yang tidak hadir atau berisiko gizi. Temuan menegaskan peran penting kader Posyandu dalam mendukung deteksi dini dan pencegahan masalah gizi balita.  
Burnout and Patient Safety Culture among Emergency Department Nurses: A Cross-Sectional Analysis Eka Lutfiatus Solehah; Komang Ayu Henny Achjar; Putu Ayu Lestarini; Nyoman Sri Ariantini; Yupin Aungsuroch
Journal Of Nursing Practice Vol. 9 No. 4 (2026): July
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jnp.v9i4.1120

Abstract

Background: Emergency departments (EDs) in major tourist destinations face intensified patient volume and cultural diversity, posing risks to nurse well-being and patient safety. Purpose: This study examined the effects of tourism-pressure workload and intercultural nursing competence on patient safety culture among emergency nurses in Bali, testing burnout as a mediating mechanism within the Job Demands Resources (JD–R) framework. Methods: A quantitative, cross-sectional survey was conducted from May to September 2025, coinciding with Bali’s peak tourist season. Using a total-sampling (census) approach, all eligible emergency nurses in participating public and private hospitals across Bali were invited, yielding 283 fully usable responses. Data were analyzed with partial least squares structural equation modeling (PLS-SEM): measurement quality was tested via Cronbach’s α, composite reliability, average variance extracted, and Fornell Larcker/HTMT discriminant-validity criteria, and structural paths and bootstrapped indirect (mediation) effects were tested with 5,000 resamples and bias-corrected 95% confidence intervals. Results: Tourism-pressure workload strongly increased burnout (β = 0.511, p < .001) and was negatively associated with patient safety culture (β = −0.249, p < .001). Contrary to the hypothesized protective direction, intercultural nursing competence was positively associated with burnout (β = 0.336, p < .001), while directly strengthening patient safety culture (β = 0.382, p < .001) as its strongest predictor. Burnout was negatively related to patient safety culture (β = −0.314, p < .001) and partially mediated the workload–safety relationship; the indirect path from intercultural competence through burnout was small and of the opposite sign to its direct effect (competing partial mediation). The model explained 55.2% of the variance in burnout and 65.6% in patient safety culture. Conclusion: Burnout is a central pathway through which tourism-driven demands erode safety culture, and intercultural competence carries a dual character protecting safety culture directly while imposing emotional demands when organizational support is insufficient. Integrated workload management, structured intercultural training, and burnout prevention are required.