Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Penetapan Kadar Fenolik Ekstrak Etanol Biji Alpukat (Persea americana Mill.) Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis Taufiqurrahman Majid; Rais Razak; Zainal Abidin
BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Vol. 2 No. 2 (2023): BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Avocado (Persea americana Mill.) is a plant that grows in tropical and sub-tropical climates, so it is very easy to grow in Indonesia. The use of avocado (Persea americana Mill.) as a medicinal plant has been widely used. People usually use avocado seeds as traditional medicine. The efficacy obtained is thought to be due to the presence of various phenolic compounds in the plant. This study aims to determine the phenolic content of ethanol extract in the seeds of avocado (Persea americana Mill.). Phenolic compounds in avocado seeds were extracted using the maceration method with ethanol solvent. The phenolic content was determined using the UV-visible spectrophotometry method with Follin-Ciocalteau reagent and gallic acid was used as a comparison. The results showed that the average phenolic content of ethanol extract of avocado seeds was 13.150 mg GAE/g extract.
Analisis Kadar Iodium dalam Garam Bermerek Produksi Sulawesi Selatan yang Beredar di Makassar dengan Metode Iodometri Tahun 2025 Wening Hafada; Rais Razak; Aminah
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 2 (2026): May : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i2.1160

Abstract

Garam beriodium merupakan sumber utama iodium yang berperan penting dalam pencegahan gangguan akibat kekurangan iodium. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar iodium pada garam bermerek produksi Sulawesi Selatan yang beredar di Kota Makassar menggunakan metode iodometri serta menilai kesesuaiannya dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 3556:2024 yaitu 30-80 mg/kg. Sampel penelitian terdiri dari sembilan garam bermerek yang dipilih secara purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu yang memiliki izin edar BPOM dan label fortifikasi iodium. Metode analisis yang digunakan meliputi uji kualitatif, semi kuantitatif, dan kuantitatif. Hasil uji kualitatif menunjukkan bahwa seluruh sampel mengandung iodium, sedangkan uji semi kuantitatif menunjukkan adanya variasi kadar iodium antar sampel. Penentuan kadar iodium secara kuantitatif menggunakan titrasi iodometri menunjukkan bahwa kadar iodium pada sampel berada pada kisaran 2,854–40,912 mg/kg. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa hanya satu merek garam yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Review Artikel: Potensi Antioksidan Daun Kratok (Phaseolus lunatus L.) dalam Pencegahan Stres Oksidatif Putri Yulita Shabana; Andi Amaliah Dahlia; Rais Razak
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 3 (2026): Menulis - Maret
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i3.1066

Abstract

Stres oksidatif merupakan kondisi biologis yang terjadi akibat ketidakseimbangan antara produksi reactive oxygen species (ROS) dan sistem pertahanan antioksidan dalam tubuh. Kondisi ini dapat memicu kerusakan biomolekul seperti lipid, protein, dan DNA yang berkontribusi terhadap berbagai penyakit degeneratif. Antioksidan alami dari tanaman menjadi alternatif yang banyak diteliti karena memiliki potensi aktivitas biologis dengan risiko efek samping yang relatif rendah. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai sumber antioksidan adalah kratok (Phaseolus lunatus L.). Tanaman ini diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti polifenol dan flavonoid yang memiliki kemampuan menangkap radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi biologis daun kratok sebagai sumber antioksidan alami dalam pencegahan stres oksidatif berdasarkan literatur ilmiah. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menganalisis 15 jurnal ilmiah nasional dan internasional yang diperoleh dari Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect. Hasil kajian menunjukkan bahwa spesies Phaseolus lunatus memiliki aktivitas antioksidan yang terukur melalui metode DPPH, ABTS, dan FRAP serta memiliki korelasi dengan kandungan fenolik dan flavonoid. Selain itu, senyawa polifenol pada tanaman juga diketahui mampu memodulasi jalur antioksidan seluler seperti aktivasi jalur Nrf2. Berdasarkan hasil kajian tersebut, daun kratok berpotensi dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami untuk mencegah stres oksidatif, meskipun masih diperlukan penelitian lanjutan untuk validasi praklinis dan klinis.
Review Artikel : Analisis Kandungan Dan Aktivitas Biologis Daun Kratok (Phaseolus lunatus L.) Salwa Sabrina Syamsir; Andi Amaliah Dahlia; Rais Razak
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 3 (2026): Menulis - Maret
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i3.1067

Abstract

Tumbuhan obat merupakan sumber senyawa bioaktif yang berperan penting dalam pengembangan terapi berbasis bahan alam. Penggunaan tanaman sebagai obat tradisional terus meningkat secara global karena dianggap lebih aman, mudah diperoleh, serta memiliki potensi efek samping yang relatif lebih rendah dibandingkan obat sintetis. Tanaman diketahui mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, fenolik, tanin, alkaloid, dan saponin yang memiliki aktivitas biologis sebagai antioksidan, antimikroba, antiinflamasi, dan antidiabetik. Kratok (Phaseolus lunatus L.) merupakan tanaman leguminosa yang umumnya dimanfaatkan sebagai bahan pangan, namun bagian daunnya berpotensi sebagai sumber senyawa fitokimia yang memiliki aktivitas biologis. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kandungan fitokimia serta aktivitas biologis daun kratok berdasarkan kajian literatur ilmiah. Metode yang digunakan adalah literature review dengan menelusuri artikel ilmiah dari berbagai database seperti Google Scholar menggunakan kata kunci terkait Phaseolus lunatus, phytochemical, dan antioxidant activity. Hasil kajian menunjukkan bahwa daun kratok mengandung flavonoid, fenolik, alkaloid, tanin, dan saponin dengan aktivitas antioksidan yang kuat berdasarkan metode DPPH, ABTS, FRAP, dan TBARS. Kandungan senyawa polifenol pada daun kratok diketahui berperan sebagai penangkap radikal bebas sehingga berpotensi dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami dan kandidat fitofarmaka.
Review Artikel: Fitokimia dan Aktivitas Biologis Daun Kratok (Phaseolus lunatus L.) Sebagai Sumber Senyawa Bioaktif Nurfathanah; Andi Amaliah Dahlia; Rais Razak
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 3 (2026): Menulis - Maret
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i3.1069

Abstract

Tanaman kratok (Phaseolus lunatus L.) merupakan salah satu tanaman legum yang memiliki potensi sebagai sumber senyawa bioaktif alami. Daun kratok mengandung berbagai metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin yang berperan dalam berbagai aktivitas biologis. Tujuan dari review ini adalah untuk mengkaji kandungan fitokimia serta aktivitas biologis daun kratok berdasarkan berbagai literatur ilmiah terkini. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menganalisis jurnal nasional dan internasional yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa daun kratok memiliki aktivitas antioksidan, antimikroba, dan antiinflamasi yang berkaitan erat dengan kandungan senyawa fenolik dan flavonoid. Senyawa-senyawa tersebut berperan dalam menangkal radikal bebas, menghambat pertumbuhan mikroorganisme, serta memodulasi respon inflamasi. Dengan demikian, daun kratok berpotensi dikembangkan sebagai sumber bahan baku dalam bidang farmasi dan pangan fungsional.
Formulation of Mineral Salt and Milkfish Bone (Chanos chanos) Waste to Prevent Preeclampsia Selpida Handayani; Aminah Aminah; Nurmaya Effendi; Andi Elis; Rais Razak; Wiyuwarmi Wiyuwarmi; Miftahul Khaira; Dedy Putra Wahyudi; Fitriani Umar
Pharmaceutical Reports Vol 5, No 1 (2026): (March) Pharmaceutical Reports
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/pharmrep.v5i1.400

Abstract

The high rate of maternal mortality remains a significant public health concern, highlighting the urgent need to improve maternal health, particularly during pregnancy. One of the major complications contributing to maternal morbidity and mortality is preeclampsia, a pregnancy-related disorder characterized by hypertension, proteinuria, and edema. Nutritional deficiencies, especially in essential minerals such as potassium, magnesium, and calcium, have been identified as contributing factors in the development of preeclampsia. Therefore, ensuring adequate intake of these micronutrients is crucial for prevention and maternal well-being. This study aimed to analyze the mineral content of a formulated mineral salt derived from milkfish (Chanos chanos) bone waste as a potential alternative source of essential nutrients. The research employed an experimental laboratory method, with mineral analysis conducted using an Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). The formulation was evaluated for its potassium, magnesium, and calcium content to determine its potential contribution to daily nutritional requirements. The results showed that a daily intake of 5 grams of the formulated product could provide approximately 1.49% of potassium, 45% of magnesium, and 65.26% of calcium requirements. These findings indicate that the mineral salt formulation derived from milkfish bone waste is particularly rich in calcium and magnesium, both of which play important roles in maintaining vascular function and reducing the risk of hypertensive disorders during pregnancy. In conclusion, the developed mineral salt formulation has promising potential as a non-pharmacological preventive strategy to support micronutrient intake in pregnant women. Its utilization may contribute to reducing the risk of preeclampsia and improving maternal health outcomes. Further studies are recommended to evaluate its safety, bioavailability, and clinical effectiveness.