Helinida Saragih
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Santa Elisabeth

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Gambaran Dukungan Suami Dalam Pemberian Asi Eksklusif Pada Bayi 0-6 Bulan Di Puskesmas Glugur Darat Kecamatan Medan Timur Tahun 2024 Helinida Saragih; Amnita Ginting; Rahel Ragil Sutrisno
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air susu ibu eksklusif merupakan nutrisi esensial untuk bayi usia 0-6 bulan yang sangat krusial dalam mendukung tumbuh kembang optimal pada 1000 hari pertama kehidupan. Data WHO tahun 2022 menunjukkan hanya 44% bayi menerima ASI eksklusif secara global, sementara di Indonesia berdasarkan RISKESDAS 2021 tercatat 52,5% bayi mendapat ASI eksklusif. Provinsi Sumatera Utara mengalami penurunan cakupan dari 57,83% tahun 2021 menjadi 57,71% tahun 2022. Dukungan suami merupakan faktor eksternal paling signifikan mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif karena berdampak pada kondisi emosi ibu yang secara tidak langsung mempengaruhi 80% produksi ASI melalui hormon oksitosin. Penelitian sebelumnya menunjukkan 56,8%-60,4% ibu tidak mendapatkan dukungan suami akibat kurangnya pengetahuan, persepsi negatif terhadap menyusui, dan budaya patriarki. Di Puskesmas Glugur Darat Kecamatan Medan Timur terdapat 234 ibu dengan bayi usia 6-24 bulan periode Januari-Juli 2024, namun belum ada data spesifik mengenai gambaran dukungan suami dalam pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran dukungan suami dalam pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan di Puskesmas Glugur Darat Kecamatan Medan Timur tahun 2024 untuk memberikan informasi penting bagi pengembangan strategi peningkatan keberhasilan program ASI eksklusif melalui optimalisasi peran suami. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Populasi penelitian adalah 234 ibu dengan bayi usia 6-24 bulan, dengan sampel sebanyak 105 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dukungan suami terdiri dari 24 pernyataan mencakup lima dimensi: pengetahuan, bantuan, apresiasi, kehadiran, dan responsivitas dengan skala Likert dan kategorisasi tinggi, sedang, dan rendah. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif univariat. Hasil penelitian menunjukkan dukungan suami berada pada kategori sangat tinggi di seluruh dimensi dengan rincian: kehadiran 92,4%, responsivitas 91,4%, apresiasi 89,5%, bantuan 88,6%, dan pengetahuan 81,0%. Karakteristik demografi menunjukkan mayoritas ibu berusia 20-44 tahun (95,2%), berpendidikan SMA/SMK (61,9%), tidak bekerja (71,4%), dengan suami berusia 20-44 tahun (95,2%), berpendidikan SMA/STM (56,2%), bekerja (96,2%), dan tinggal dalam keluarga inti (63,8%). Seluruh responden (100%) berhasil memberikan ASI eksklusif. Kesimpulan penelitian menyimpulkan bahwa dukungan suami sangat tinggi di Puskesmas Glugur Darat berkontribusi signifikan terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif, sehingga diperlukan program penyuluhan berkelanjutan untuk mempertahankan dan meningkatkan dukungan suami melalui edukasi pentingnya peran aktif suami, penguatan komunikasi keluarga, dan integrasi keterlibatan suami dalam setiap program kesehatan ibu dan anak.
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Hipertensi Dirumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2024 Helinida Saragih; Sri Martini; Ganda Putra Pardosi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.8464

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang disebut "the silent killer" karena sebagian besar penderita tidak menyadari kondisinya hingga terjadi komplikasi serius seperti gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal kronik. Data World Health Organization tahun 2021 menunjukkan 1,28 miliar penderita hipertensi di dunia dengan proyeksi mencapai 1,5 miliar pada tahun 2025. Di Indonesia, prevalensi hipertensi mencapai 34,1% dengan Kota Medan mencatat 65.904 penderita pada tahun 2022. Kepatuhan minum obat antihipertensi menjadi faktor krusial dalam manajemen hipertensi yang dapat menurunkan 20-25% risiko infark miokard, 30-40% kejadian stroke, dan lebih dari 50% gagal jantung kongestif. Dukungan keluarga berperan signifikan dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan melalui pemberian motivasi, bimbingan, informasi mengenai penyakit, serta dukungan finansial dan emosional. Di RS Santa Elisabeth Medan terdapat 442 pasien hipertensi rawat inap dengan rata-rata 44 pasien per bulan, namun belum ada data spesifik mengenai hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di RS Santa Elisabeth Medan tahun 2024 untuk memberikan informasi penting bagi pengembangan strategi peningkatan kepatuhan pengobatan dan outcome kesehatan pasien hipertensi. Metode penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan teknik purposive sampling. Populasi penelitian adalah 442 pasien hipertensi rawat inap, dengan sampel 40 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dukungan keluarga (12 pertanyaan) dan Morisky Medication Adherence Scales-8 dengan skala Likert. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif univariat dan uji Fisher Exact untuk analisis bivariat. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden mendapat dukungan keluarga baik sebesar 85,0%, namun tingkat kepatuhan minum obat rendah dengan 52,5% responden tidak patuh. Uji Fisher Exact menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat (p-value = 0,186). Kesimpulanpenelitian menyimpulkan bahwa kepatuhan minum obat lebih dipengaruhi faktor status ekonomi, kesibukan pekerjaan, pengetahuan pasien, aksesibilitas layanan kesehatan, dan motivasi intrinsik sehingga diperlukan intervensi komprehensif melalui edukasi berkelanjutan, konseling manajemen penyakit, dan strategi pengingat minum obat.
Gambaran Activity Daily Living (Adl) Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2024 Friska Sembiring; Helinida Saragih; Angel Cicilia Ginting
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.8631

Abstract

Gagal ginjal kronik merupakan kondisi penurunan fungsi ginjal secara progresif yang mengakibatkan akumulasi sisa metabolisme berupa uremia dan gangguan keseimbangan cairan elektrolit permanen, sehingga memerlukan terapi hemodialisa jangka panjang. Penelitian sebelumnya menunjukkan mayoritas pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa mengalami gangguan activity daily living berkisar 50,6%–68,7%, dipengaruhi oleh faktor usia lanjut, durasi hemodialisa, komorbiditas diabetes melitus dan hipertensi, serta dampak fisiologis dan psikologis prosedur dialisis. Di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tercatat 65 pasien aktif menjalani hemodialisa pada periode Januari hingga Juli 2024, namun belum tersedia data spesifik mengenai gambaran kemandirian activity daily living pasien tersebut. Keterbatasan ADL yang tidak tertangani secara komprehensif dapat memperburuk kualitas hidup, meningkatkan ketergantungan total, memicu depresi, isolasi sosial, serta berkontribusi terhadap peningkatan risiko mortalitas pada populasi pasien hemodialisa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran activity daily living pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2024, guna memberikan informasi berbasis bukti bagi pengembangan intervensi keperawatan yang tepat dan holistik. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling. Populasi sekaligus sampel penelitian berjumlah 65 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Indeks Katz terdiri dari 17 pertanyaan mencakup enam item aktivitas dasar yaitu mandi, berpakaian, BAB/BAK, berpindah tempat, pengambilan keputusan, dan makan, dengan kategorisasi mandiri total (skor 12–17), dibantu (skor 6–11), dan bergantung (skor 0–5). Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif univariat. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berada pada kategori ADL dibantu sebesar 44,6% (29 orang), mandiri total 36,9% (24 orang), dan bergantung 18,5% (12 orang). Karakteristik demografi menunjukkan dominasi kelompok usia 56–65 tahun (35,4%), berjenis kelamin laki-laki (61,5%), berprofesi wiraswasta (40,0%), dan telah menjalani hemodialisa lebih dari 24 bulan (36,9%). Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa kemandirian activity daily living pasien gagal ginjal kronik perlu ditingkatkan melalui program fisioterapi terstruktur, edukasi perawatan diri, dukungan psikososial, serta penguatan peran keluarga guna mengoptimalkan kemandirian fungsional dan kualitas hidup pasien hemodialisa secara berkelanjutan.