Haria Nanda Pratama
Institut Seni Budaya Indonesia, Aceh

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISIS MELODI LAGU ANEUK YATIM CIPTAAN RAFLY KANDE Rozak, Abdul; Pratama, Haria Nanda; Gusmanto, Rico
Besaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya Vol 5, No 2
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jsdb.v5i2.1448

Abstract

Aneuk Yatim is a song created in 1999 by Rafly, has a message and meaning of peace in responding to issues of political upheaval in Aceh, and represents the condition of children in Aceh during the conflict. Through lyrics and melody, Rafly is able to create an atmosphere of sadness that can be felt by the community regarding the conditions and situations during the conflict. The vocals in the song Aneuk Yatim, written by Rafly, have a melodic structure and form consisting of musical ornaments, melodic travel arrangements and scales. This study describes the melody in the song Aneuk Yatim written by Rafly Kande using Western music theory. The purpose of this study is to determine the melody analysis method of pop music in Indonesia in general and regional pop music in particular. The approach taken is a qualitative approach, with descriptive analysis methods, assisted by ethical and emic approaches to facilitate the smoothness of the data search process. The selection of methods and approaches is carried out through documentation, observation, and interviews with participants. The form and structure of the melody in the song Aneuk Yatim, written by Rafly Kande, consists of two parts with a tempo of 60 bpm, each of which is divided into two sentences / periods. The sentences are arranged based on various forms of motifs, each of which has a melody and scale that is repeated in the next period / sentence with a slight change in the melody at the end of the figures (closing phrase). The scale used in this song is the Original Minor and Harmonious Minor, with sequences development techniques, diminished, and augmented. The results of this study are expected to become a reference and reference in the perspective of formal objects and material objects, related to the analysis of the form and structure of the melody, the development of melodic patterns discussed in Western music theory.
ANALISIS MELODI LAGU ANEUK YATIM CIPTAAN RAFLY KANDE Abdul Rozak; Haria Nanda Pratama; Rico Gusmanto
Besaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya Vol 5, No 2
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jsdb.v5i2.1839

Abstract

Aneuk Yatim adalah lagu yang diciptakan pada tahun 1999 oleh Rafly, memiliki pesan dan makna perdamaian dalam merespon persoalan gejolak politik di Aceh, serta merepresentasikan kondisi anak-anak di Aceh pada masa konflik. Melalui lirik maupun melodi, Rafly mampu menciptakan suasana kesedihan yang dapat dirasakan oleh masyarakat terhadap kondisi dan situasi di masa konflik. Vokal pada lagu Aneuk Yatim ciptaan Rafly memiliki struktur dan bentuk melodi yang terdiri dari ornamen musik, susunan perjalanan melodi dan scale. Penelitian ini menguraikan melodi pada lagu Aneuk Yatim ciptaan Rafly Kande menggunakan teori musik Barat. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui metode analisis melodi pada musik Pop di Indonesia umumnya dan musik Pop daerah khususnya. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kualitatif, dengan metode analisis deskriptif, dibantu dengan pendekatan etik dan emik untuk mempermudah kelancaran dalam proses pencarian data. Pemilihan metode dan pendekatan dilakukan melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara dengan partisipan. Bentuk dan struktur melodi pada lagu Aneuk Yatim ciptaan Rafly Kande terdiri dari dua bagian dengan tempo 60 bpm, yang masing-masing bagian dibagi dalam dua kalimat/periode. Pada kalimat tersebut disusun berdasarkan bermacam-macam bentuk motif, yang masing-masing motif memiliki melodi dan scale yang diulang pada periode/kalimat selanjutnya dengan sedikit perubahan melodi pada akhir figures (frase penutup). Penggunaan tangganada pada lagu ini adalah Tangganada Minor Asli dan Minor Harmonis, dengan teknik pengembangan sekuen, diminished, dan augmented. Hasil dari penelitian ini diharapkan menjadi acuan dan referensi dalam perspektif objek formal maupun objek material, terkait dengan analisis bentuk dan struktur melodi, pengembangan pola melodi yang dibahas dalam keilmuan musik Barat.
KARAKTERISTIK MUSIKAL PADA FILM TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK Haria Nanda Pratama; Abdul Rozak
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 10, No 2 (2021): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v10i2.29202

Abstract

The film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck is a drama film released on December 19, 2013. The film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, directed by Sunil Soraya and produced by Ram Soraya, is adapted from a novel by the writer and cultural expert Haji Abdul Malik Karim Amrullah, or commonly known as Buya Hamka. This film tells the story of conflict and conflict due to differences in social status. This is supported by the effect of music in creating an atmosphere in each scene which includes dialogue and action of characters that are supported by the setting of time, place and atmosphere in the film. The object of this research focuses on one of the cinematic elements in the film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, namely music or sound. Music and sound become one of the elements that build the setting of time, place, and atmosphere in the film, which affects the mood of the audience. Music and sound are useful for adding dramatic effects when scenes in the storyline are seen in every shot (shots, scenes, and sequences). The musical characteristics of the film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck which include rhythm, melody, harmony, tempo, song structure and sound color produce a film atmosphere according to the scene in the film which is considered to have an important role in building a dramatic effect on the film that affects the mood of the audience. This research was conducted with a qualitative approach with descriptive analysis method. The data source is direct observation of the film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. The stage of data collection carried out by researchers is to collect documents which include original film VCD and library studies which include books and scientific writings as comparative material related to material objects and formal objects in this study. Based on these data, an analysis of the musical characteristics of the film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck was conducted was conducted. The results of the study will show that music in the use of musical instruments, major or minor scales, dynamics, motifs, and tempos are characteristics in building a dramatic effect on the film.Keywords: tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.AbstrakFilm Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan sebuah film drama yang dirilis pada tanggal 19 Desember 2013. Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang disutradarai Sunil Soraya dan diproduksi oleh Ram Soraya ini diadaptasi dari novel mahakarya sastrawan sekaligus budayawan Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang biasa dikenal dengan Buya Hamka. Film ini mengisahkan tentang pertentangan dan konflik karena perbedaan status sosial. Hal ini didukung oleh efek musik dalam menciptakan suasana di dalam setiap adegan yang meliputi dialog dan aksi tokoh yang didukung oleh latar waktu, tempat serta suasana pada film. Objek penelitian ini berfokus pada salah satu unsur sinematik pada film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, yaitu musik atau suara. Musik dan suara menjadi salah satu unsur yang membangun latar waktu, tempat, dan suasana pada film, yang berpengaruh pada mood penonton. Musik  dan suara tersebut berguna untuk menambah efek dramatis ketika adegan-adegan pada alur cerita yang terlihat di setiap pengambilan gambar (shot, scene, dan sequence). Karakteristik musik pada film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang meliputi irama, melodi, harmoni, tempo, struktur lagu dan warna bunyi menghasilkan suasana film sesuai dengan adegan di dalam film yang dianggap memiliki peran yang penting dalam membangun efek dramatis pada film yang mempengaruhi mood penonton. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Sumber datanya adalah pengamatan langsung atas film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Tahap pengumpulan data dilakukan peneliti adalah mengumpulkan dokumen yang meliputi VCD original film dan studi Pustaka yang meliputi buku dan tulisan ilmiah sebagai bahan komparasi yang berkaitan dengan objek material dan objek formal pada penelitian ini. Berdasarkan data tersebut, dilakukan analisis terhadap karakteristik musikal pada film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Hasil penelitian akan menunjukkan bahwa musik dalam pemakaian instrumen musik, tangganada mayor atau minor, dinamika, motif, dan tempo menjadi karakteristik dalam membangun efek dramatis pada film.Kata Kunci: tenggelamnya kapal Van Der Wijck. Authors:Haria Nanda Pratama : Institut Seni Budaya Indonesia AcehAbdul Rozak : Institut Seni Budaya Indonesia Aceh References:Cresswell, John W. (2010). Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Belajar.Djohan. (2009). Psikologi Musik. Yogyakarta: Penerbit Best Publisher.Kristianto, Y.P, Sumono. (2008). Pengantar Ilmu Akustik Suara dan Pendengaran. Jakarta: Remaja Kosdakaya.Lestarini, Aulia, Anggia. (2014). Perkembangan Internasional British Pop Culture Pasca Perang Dunia Kedua. Skripsi. Surabaya: Universitas Airlangga.Moleong, J, Lexy. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Pratama, Haria Nanda. (2017). Materalistis dan Alur Dramatik pada Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Tesis. Padangpanjang: Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang.Pratista, Himawan. (2008). Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.
IDENTIFIKASI UMAH ADAT PITU RUANG SEBAGAI PRODUK KEBUDAYAAN GAYO. STUDI KASUS: UMAH REJE BALUNTARA DI ACEH TENGAH Fani Dila Sari; Haria Nanda Pratama; Indra Setiawan
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 9, No 2 (2020): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v9i2.22116

Abstract

AbstrakUmah Adat Pitu Ruang merupakan karya seni bangunan rumah adat Suku Gayo. Struktur bangunannya berupa rumah panggung yang memiliki 36 tiang sebagai penopang dengan ornamen-ornamen berbagai warna yang menghiasi Umah Adat Pitu Ruang. Rumah adat Gayo ini memiliki fungsi tidak hanya sebagai bangunan tempat tinggal, namun sebagai identitas budaya Gayo sekaligus penerapan nilai-nilai estetis bagi masyarakatnya. Identifikasi Umah Adat Pitu Ruang sebagai produk kebudayaan Gayo dibentuk oleh tatanan hidup masyarakatnya.  Salah satu hasil kebudayaan yang masih ada di daerah Takegon Aceh Tengah yaitu Umah Adat Pitu Ruang. Kebudayaan ini diwariskan oleh leluhur suku Gayo yang representasi wujud kehidupan sosial budaya masyarakat Takegon Aceh Tengah. Rumah adat ini merupakan peninggalan bersejarah atau sebuah mahakarya seni yang memiliki filosofi kehidupan yang berlandaskan kepada nilai-nilai sosial masyarakatnya dilihat dari bangunannya. Studi kasus: Umah reje Baluntara di Aceh Tengah dengan metode penelitian kualitatif.  Kata Kunci: gayo, kebudayaan, umah, pitu, ruang.AbstractThe Umah Adat Pitu Ruang is a work of art for the traditional house of the Gayo tribe. The structure of the building is in the form of a house on stilts which has 36 pillars as a support with various colored ornaments that adorn the Umah Adat Pitu Ruang. This Gayo traditional house has a function not only as a residential building, but as a Gayo cultural identity as well as the application of aesthetic values to the community. The identification of the Pitu Ruang Adat Umah as a product of Gayo culture is shaped by the life order of the people. One of the cultural products that still exist in the Takegon area of Central Aceh is the Pitu Room Umah Adat Pitu Ruang. This culture was inherited by the ancestors of the Gayo tribe who represented the socio-cultural life of the Takegon people of Central Aceh. This traditional house is a historical heritage or a masterpiece of art which has a philosophy of life based on the social values of the community as seen from the building. Case study: Umah reje Baluntara in Central Aceh using qualitative research methods.Keywords: gayo, cultural, umah, pitu, ruang. 
PEMBUATAN KREASI LAMPU HIAS DENGAN MEDIA BAMBU DI DESA JANTHO MAKMUR Dedy Afriadi; Saniman Andi Kafri; Hariananda Pratama
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 2, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v2i1.406

Abstract

Jantho merupakan daerah dataran tinggi yang menjadi ibu kota Aceh Besar, kota Jantho menjadi pusat kota dan menjadi pusat administrasi untuk daerah Aceh Besar, meskipun kota Jantho menjadi kota, tetapi kota Jantho masih dominan dengan daerah perhutanan dan perbukitan. Kota Jantho memiliki sumber daya alam yang besar namun belum termanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat dan pemerintah Aceh Besar. Melihat sumber daya alam yang besar menjadi ide dan daya tarik untuk mengolahnya sehingga dapat meningkatkan perekonomian daerah tersebut. Permasalahan yang ada di daerah Jantho adalah kurangnya pembinaan dalam pembuatan kerajinan. Dengan terselenggaranya pengabdian masyarakat diharapkan dapat menambah dan mengembangkan wawasan masyarakat untuk membuat karya yang memiliki nilai jual. Salah satu upaya yang ingin dikembangkan adalah membuat kerajinan lampu hias dengan media bambu, dikarenakan bambu merupakan bahan/ media yang mudah didapatkan di kota ini.Jantho is a highland area that became the capital of Aceh Besar, the city of Jantho became the center of the city and became the administrative center for the Aceh Besar area, even though became a city, but was still dominant with areas of forestry and hills. The city of Jantho has large natural resources but has not been utilized maximally by the community and the government of Aceh Besar. Seeing large natural resources becomes an idea and an attraction to process it so that it can improve the economy of the region. The problem in the Jantho area is the lack of guidance in making crafts. With the implementation of community service, it is expected to be able to add and develop people's insights to create works that have selling value. One effort to be developed is to make decorative lights with bamboo media, because bamboo is a material / medium that is easily available in this city.
Fungsi Musik pada Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (The Function of Music in the Sinking of the Van Der Wijck Ship) Abdul Rozak; Haria Nanda Pratama
MUSICA : Journal of Music Vol 1, No 2 (2021): MUSICA : JOURNAL OF MUSIC
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.161 KB) | DOI: 10.26887/musica.v1i2.2101

Abstract

Suara atau musik merupakan salah satu untur sinematik pada film, musik menjadi hal terpenting dalam membangun efek dramatis pada setiap adegan pada film untuk mempengaruhi mood penonton. Artinya musik pada film merepresentasikan efek pendengaran terhadap pengalaman visual. Objek material pada penelitian ini yaitu Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, sedangkan objek formal yaitu fungsi musik yang menjadi pendukung dalam membangun suasana serta mempengaruhi mood penonton. Tujuan Penelitian ini adalh untuk mengetahui fungsi musik dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini berupa metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini antara lain menutup suara yang tak diinginkan (noise); menjaga kesinambungan antar shots; menuntun perhatian kepada hal-hal penting dalam film melalui struktur atau hal-hal yang kongruen; mempengaruhi perasaan meskipun digunakan untuk mengiringi hal yang tidak berhubungan (dengan emosi); menyampaikan maksud kelanjutan cerita, khususnya dalam situasi (adegan) yang membingungkan; berintegrasi dengan film dan memungkinkan simbolisasi terhadap masa lalu dan masa depan melalui teknik leitmotiv; meningkatkan rasa nyata dari sebuah film; dan menambah nilai seni dari sebuah film.Kata Kunci: Fungsi; Musik; Film Tenggelamnya Kapal Van Der WijckABSTRACTSound or music is one of the cinematic elements in the film, music is the most important thing in building a dramatic effect on every scene in the film to affect the mood of the audience. This means that the music in the film represents the auditory effect on the visual experience. The material object in this study is the film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, while the formal object is the function of music which is a supporter in building the atmosphere and influencing the mood of the audience. The purpose of this study was to determine the function of music in the film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. The research method used in this study is a qualitative method. The results of this study include closing unwanted sounds (noise); maintain continuity between shots; directing attention to important things in the film through congruent structures or things; affect feelings even if used to accompany things that are not related (with emotions); convey the meaning of the continuation of the story, especially in a confusing situation (scene); integrates with film and enables symbolization of the past and future through leitmotiv techniques; enhance the real feel of a film; and add to the artistic value of a film.Keywords: Function; Music; The Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Movie
Bentuk Penyajian Musik Kesenian Nandong pada Upacara Khitanan di Desa Lataling Kecamatan Teupah Selatan Kabupaten Simeulue Abdul Rozak; Haria Nanda Pratama; Nadra Akbar Manalu
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 5, No 2 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v5i2.1935

Abstract

Kesenian Nandong adalah seni vokal yang diwariskan secara turun-tumurun pada masyarakat Simeulue. Kesenian Nandong merupakan sejenis seni tutur yang syair-syairnya berisikan karangan yang mengandung nasehat, sindiran, rintihan yang dilantunkan dengan iringan alat musik yaitu kedang/gendang dan biola. Nandong  dilantunkan menggunakan bahasa Devayan khas bahasa Simeulue, namun dalam kesenian Nandong juga menggunakan bahasa Aneuk Jamee. Keunikan Nandong selain terdapat dalam bahasa Aneuk Jamee yaitu dilantunkan dengan nada yang tinggi dan melengking serta saling bersahut-sahutan oleh pria dengan suara tinggi dan melengking. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yang berusaha mengaplikasikan teori untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi pada objek penelitian. Metode dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif yang diwujudkan dalam bentuk keterangan atau gambar tentang kejadian atau kegiatan yang dilakukan menyeluruh dengan mendatangi langsung di Desa Lataling, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue. Adapun langkah tersebut dilakukan dengan tahapan yaitu: penentuan subjek penelitian; pemilihan setting dan instrumen penelitian, teknik, dan analisis data. Hasil penelitian akan menunjukkan bahwa terdapat analisis terhadap fenomena musik pada kesenian ini. Fenomena tersebut seperti pemakaian timbre low, disusul timbre high dengan berbagai intensitas kemunculan, serta diperoleh deskripsi tangga nada (scale), dan pengurutan nada-nada yang terdapat dalam Nandong tersebut dimulai dari nada terendah sampai nada yang tertinggi.
Konsep Pertunjukan Tari Tulo-Tulo di Kota Sabang Nadra Akbar Manalu; Abdul Rozak; Haria Nanda Pratama
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 5, No 2 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v5i2.1936

Abstract

Tari Tulo-tulo merupakan kesenian yang berasal dari masyarakat Nias yang menetap di Kota Sabang. Tari Tulo-tulo memiliki keunikan dimana tari ini kental dengan semangat perjuangan dalam penyajiannya. Saat ini Tari Tulo-tulo sebagai tari hiburan pada masyarakat di Kota Sabang. Konsep dalam penggarapan Tari Tulo-tulo berawal dari rasa kerinduan masyarakat Nias akan tanah kelahirannya. Dengan demikian konsep penyajian pada tari Tulo-tulo identik dengan tari peperangan. Konsep Tari Tulo-tulo terbagi menjadi tujuh bagian, dimana setiap bagian memiliki kesinambungan antara bagian satu dengan bagian lainnya. Pada penelitian ini akan mengidentifikasi konsep dan bentuk pertunjukan Tari Tulo-tulo melalui bentuk penyajian yang meliputi, gerak, pola lantai, musik, properti, tata rias dan kostum. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan konsep dan bentuk penyajian Tari Tulo-tulo di Kota Sabang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah anilisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tahap-tahap yang digunakan dalam penelitian ini yaitu; Studi Pustaka, observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini adalah menjabarkan dan mengkaji tujuh bagian dari Tari Tulo-tulo yaitu Sereu, Talifusei, Haru manbaluse, Faliga Baluse, Bamaina, Simate mila menemali, dan Belatu terlak. Tari Tulo-tulo ditarikan oleh kaum pria berjumlah genap dan satu orang sebagai raja/syeh.
Konsep Pertunjukan Tari Tulo-Tulo di Kota Sabang Nadra Akbar Manalu; Abdul Rozak; Haria Nanda Pratama
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 5, No 2 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v5i2.1936

Abstract

Tari Tulo-tulo merupakan kesenian yang berasal dari masyarakat Nias yang menetap di Kota Sabang. Tari Tulo-tulo memiliki keunikan dimana tari ini kental dengan semangat perjuangan dalam penyajiannya. Saat ini Tari Tulo-tulo sebagai tari hiburan pada masyarakat di Kota Sabang. Konsep dalam penggarapan Tari Tulo-tulo berawal dari rasa kerinduan masyarakat Nias akan tanah kelahirannya. Dengan demikian konsep penyajian pada tari Tulo-tulo identik dengan tari peperangan. Konsep Tari Tulo-tulo terbagi menjadi tujuh bagian, dimana setiap bagian memiliki kesinambungan antara bagian satu dengan bagian lainnya. Pada penelitian ini akan mengidentifikasi konsep dan bentuk pertunjukan Tari Tulo-tulo melalui bentuk penyajian yang meliputi, gerak, pola lantai, musik, properti, tata rias dan kostum. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan konsep dan bentuk penyajian Tari Tulo-tulo di Kota Sabang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah anilisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tahap-tahap yang digunakan dalam penelitian ini yaitu; Studi Pustaka, observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini adalah menjabarkan dan mengkaji tujuh bagian dari Tari Tulo-tulo yaitu Sereu, Talifusei, Haru manbaluse, Faliga Baluse, Bamaina, Simate mila menemali, dan Belatu terlak. Tari Tulo-tulo ditarikan oleh kaum pria berjumlah genap dan satu orang sebagai raja/syeh.
DIFUSI KEBUDAYAAN PADA KESENIAN TULO-TULO DI KOTA SABANG Haria Nanda Pratama; Nadra Akbar Manalu; Abdul Rozak
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.38329

Abstract

Tulo-tulo is an art created by the people of Nias who transmigrated to Sabang City. The people of Nias settled and lived in the area and then presented their culture in the form of Tulo-tulo art. Tulo-tulo became an art that was adopted by the people of Sabang City and was able to survive in a new area. The existence of Tulo- tulo is a cultural attribute that is able to play a role as an element of building the identity of the people of Sabang City. The occurrence of this did not escape the process of cultural diffusion where it was possible that a group of people brought their culture to a new area. This process can be seen through the history of the birth of tulo-tulo art, until its existence in the midst of the people of Sabang City, it can be identified through the concept of performance and the form of presentation of the art of Tulo-tulo. To dissect the diffusion process in Tulo-tulo art, the researcher uses the diffusion theory according to Koentjaraningrat. The purpose of this study is to identify the process of cultural diffusion in Tulo-tulo art as a form of community identity in Sabang City. The workings of this research use qualitative methods with the following stages: Literature Study, Observation, Interview and Documentation. The source of the data is direct observation with the performers of the tulo-tulo art in the city of Sabang. To help collect data in this study, the researcher used an ethical and emic approach. Where the results of this study will discuss the origin of the art of Tulo- tulo; the concept and form of presentation of the Tulo-tulo art performance; and Tulo-tulo as a result of cultural diffusion. Thus, the diffusion process in the art of tulo-tulo which is seen in the concept of the performance is a blend of the culture of the people of Nias and Aceh. The occurrence of this combination in acculturation can be seen from the performers of the arts, the use of language, and the accompaniment of music.Keywords: tulo-tulo, cultural diffusion, Sabang city. AbstrakTulo-tulo merupakan sebuah kesenian yang diciptakan oleh masyarakat Nias yang bertransmigrasi ke Kota Sabang. Masyarakat Nias menetap dan tinggal di wilayah tersebut dan kemudian menghadirkan kebudayaannya dalam bentuk kesenian Tulo-tulo. Tulo-tulo menjadi kesenian yang diadopsi oleh masyarakat Kota Sabang dan mampu bertahan di wilayah yang baru. Keberadaan Tulo-tulo menjadi atribut budaya yang mampu berperan sebagai unsur pembangun identitas masyarakat Kota Sabang. Terjadinya hal tersebut tidak luput dari proses difusi kebudayaan di mana kemungkinan karena adanya sekelompok masyarakat membawa budayanya ke wilayah yang baru. Proses tersebut dapat dilihat melalui sejarah lahirnya kesenian tulo-tulo, hingga keberadaannya di tengah-tengah masyarakat Kota Sabang, hal tersebut dapat diidentifikasi melalui konsep pertunjukan dan bentuk penyajian kesenian Tulo-tulo. Untuk membedah proses difusi pada kesenian Tulo-tulo, peneliti menggunakan teori difusi menurut Koentjaraningrat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi proses difusi kebudayaan dalam kesenian Tulo-tulo sebagai bentuk identitas masyarakat di Kota Sabang. Cara kerja dari penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tahapan antara lain: Studi Pustaka, Observasi, Wawancara dan Dokumentasi. Sumber data yang dilakukan adalah pengamatan lansung dengan pelaku kesenian tulo-tulo yang berada di kota Sabang. Untuk membantu pengumpulan data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan Etik dan Emik. Di mana hasil dari penelitian ini akan membahas asal usul kesenian Tulo-tulo; konsep dan bentuk penyajian pertunjukan kesenian Tulo-tulo; dan Tulo-tulo sebagai hasil difusi kebudayaan. Dengan demikian, proses difusi pada kesenian tulo-tulo yang terlihat pada konsep pertunjukannya merupakan perpaduan kebudayaan masyarakat Nias dan Aceh. Terjadinya perpaduan ini secara akulturasi terlihat dari pelaku kesenian, penggunaan bahasa, dan musik iringan.Kata Kunci: tulo-tulo, difusi kebudayaan, kota Sabang. Authors:Haria Nanda Pratama : Institut Seni Budaya Indonesia AcehNadra Akbar Manalu : Institut Seni Budaya Indonesia AcehAbdul Rozak : Institut Seni Budaya Indonesia Aceh References:Koentjaraningrat, K. (1990). Pengantar Ilmu Antrologi (Edisi Baru). Jakarta: PT. Penerbit Rineka Cipta.Maghfirah, A. M., & Erlinda, E. (2019). Transformasi Pencak Silat Parian Menjadi Tari Garigiak di Istano Tuan Gadang Batipuah Kecamatan Batipuah Kabupaten Tanah Datar. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 8(1), 137-142. https://doi.org/10.24114/gr.v8i1.12931.Manalu, N. A., & Sukman, F. F. (2020). Tari Seudati Inong sebagai Wujud Representasi Kesetaraan Gender Dikabupaten Aceh Besar. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(2), 367-376. https://doi.org/10.24114/gr.v9i2.20673.Moleong, J. L. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya.Rahayu, T. (2022). “Kebudayaan Masyarakat Nias”. Hasil Wawancara Pribadi: 15 Juli 2022, Medan.Safitri, W. (2022). “Asal-usul Kesenian Tulo-tulo”. Hasil Wawancara Pribadi: 26 Juli 2022, Kota Sabang.Siswantari, H., & Setyaningrum, F. (2018). Rampak Kendang Patimuan Cilacap Sebagai Wujud Difusi Kesenian Jawa Barat. Jurnal Kajian Seni, 4(2), 103-113. https://doi.org/10.22146/jksks.46449.Ulfa, M. (2021). Rekonstruksi Tari Tulo-tulo di Kota Sabang. Skripsi tidak diterbitkan. Banda Aceh: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala.