Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Journal of Social Development Studies

Glorifikasi Kecantikan di Media Sosial: Studi Kasus Isu Eksploitasi Mahasiswi pada Akun Instagram @ugmcantik Maulidya Indah Mega Saputri; Milda Longgeita Pinem
Journal of Social Development Studies Vol 3 No 1 (2022)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.4446

Abstract

Bahasan praktik eksploitasi perempuan yang terselubung pada kelompok sosial mahasiswa seringkali tersingkirkan dari diskursus pembangunan sosial. Akun instagram @ugmcantik sebagai produk digitalisasi, dipandang sedang menciptakan standar dan tuntutan kecantikan subjektif yang tajam. Terjadi polemik karena admin melakukan komodifikasi produk ekonomi dan taktik politik kekuasaan untuk pelemahan identitas. Dalam mengkaji reaksi dari penyanjungan kecantikan; terkhusus wacana inklusivitas gender, peneliti melakukan wawancara mendalam terhadap lima pemilik foto dan lima pengikut aktif. Dengan basis konsep feminisme Naomi Wolf dan Diskursus Michel Foucault tentang relasi pengetahuan kekuasaan, diketahui terdapat tiga praktik konstruksi perempuan: (1) glorifikasi kecantikan; (2) komodifikasi tubuh; dan (3) pelanggaran privasi. Glorifikasi sejatinya adalah luka karena ini sebuah jebakan untuk mengobjektifikasi perempuan dengan balutan halus dan eksklusif. Kunci untuk mengategorikan praktik eksploitasi adalah berdasarkan persetujuan afirmatif dari keterlibatan kedua pihak. Setiap orang memiliki simpulan yang berbeda. Keberanian dan penalaran kritis sangat dibutuhkan untuk penciptaan lingkungan kampus yang aman dan tidak bias gender. Kata kunci: gender, glorifikasi, eksploitasi, kecantikan, konstruksi perempuan The discussion regarding practices of women's exploitation that are unseen within student social groups are often excluded from social development discourse. The Instagram account @ugmcantik as a digitalization product is seen as creating standards and demands for a steep subjective beauty. There was a polemic because the administrator commodified economic products and political power tactics to weaken identity. In studying the reaction to the adoration of beauty; especially on the discourse of gender inclusivity, the researchers carried in-depth interviews with five photo owners and five active followers. Based on the concept of Naomi Wolf's feminism and Michel Foucault's discourse on the relation of knowledge to power, it is known that there are three practices of women’s construction: (1) glorification of beauty; (2) body commodification; and (3) invasion of privacy. Glorification is, in fact, a violation due to its hidden purpose of objectifying women with smooth, implicit means. The main point of categorizing women exploitation is based on the affirmative agreement between both parties involved. Everyone has a different conclusion. Courage and critical reasoning are needed to create a safe and gender-neutral campus environment. Keywords: beauty, exploitation, gender, glorification, women construction
Menyingkap Kekhasan Pengalaman Perempuan Pekerja Perkebunan Prity Nurpazirah; Br Pinem, Milda Longgeita
Journal of Social Development Studies Vol 5 No 2 (2024)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.11052

Abstract

Abstrak Perempuan terlibat dalam berbagai sektor pekerjaan formal maupun informal, tetapi sering dianggap sebagai pekerja kelas dua. Di PT Perkebunan Teh Harum Melati, pengalaman perempuan pekerja jarang dibahas secara mendalam. Dengan menggunakan teori Feminist Standpoint dari Nancy Hartsock, penelitian ini mencoba memahami pengalaman unik perempuan yang bekerja di pabrik teh. Selain menghadapi tantangan di tempat kerja, mereka juga berperan dalam rumah tangga sebagai ibu dan istri, serta dalam komunitasnya. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode studi kasus tunggal, dengan pengumpulan data berlangsung sejak Juni hingga Agustus 2023 di pabrik teh dan perumahan karyawan di Simalungun, Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman perempuan di tiga arena kehidupannya (rumah, kerja, dan komunitas) saling terkait dan membentuk pengalaman khas. Pengalaman bekerja bertahun-tahun meningkatkan rasa percaya diri dan keberanian mereka dalam merencanakan masa depan. Kekuatan mereka juga didukung oleh hubungan keluarga dan pertemanan. Kata Kunci : pekerja perempuan, pengalaman, keluarga, tempat kerja Abstract Women are involved in various sectors of both formal and informal work, but they are often regarded as second-class workers. At PT Perkebunan Teh Harum Melati, the experiences of female workers are rarely explored in depth. By using Nancy Hartsock's Feminist Standpoint theory, this study seeks to understand the unique experiences of women working in the tea factory. In addition to facing challenges at work, they also play roles at home as mothers and wives, as well as within their communities. This qualitative study employs a single case study method, with data collection conducted from June to August 2023 at the tea factory and employee housing in Simalungun, North Sumatra. The findings show that women's experiences across the three spheres of life (home, work, and community) are interconnected and shape a distinctive experience. Years of work experience have enhanced their self-confidence and courage in planning for the future. Their strength is also supported by family and social relationships. Keywords: working women, experiences, family, workplace
Diskursus Alternatif Hak Kesehatan Menstruasi: Menganalisa Keterlibatan Biyung Indonesia dalam Permasalahan Kemiskinan Menstruasi melalui Advokasi Pembalut Kain Salsabila Laily Maulina; Pinem, Milda Longgeita
Journal of Social Development Studies Vol 6 No 2 (2025)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.21043

Abstract

Abstrak Penelitian ini menganalisis wacana menstruasi dalam masyarakat dengan menggunakan perspektif Michel Foucault mengenai kekuasaan, wacana, dan pengetahuan. Melalui metode studi kasus, penelitian ini menelaah peran Biyung Indonesia dalam membangun wacana alternatif di tengah dominasi wacana arus utama. Wacana arus utama didominasi oleh norma sosial yang menstigmatisasi menstruasi sebagai hal tabu, sehingga membatasi percakapan terbuka dan melanggengkan praktik manajemen menstruasi yang mengabaikan hak kesehatan perempuan. Dominasi ini diperkuat oleh kebijakan negara dan kontrol industri yang cenderung mendorong penggunaan pembalut sekali pakai tanpa menyediakan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Sebagai respons, Biyung Indonesia mendorong keterbukaan, menyelenggarakan edukasi kesehatan menstruasi, dan mempromosikan pembalut kain sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan. Wacana menstruasi memiliki peran krusial dalam isu kesetaraan gender, hak atas kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan, yang menjadikannya sebagai agenda penting dalam pembangunan sosial. Penelitian ini mengisi kesenjangan literatur dengan mengeksplorasi bagaimana Biyung Indonesia mendorong perubahan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan perempuan. Kata kunci: Advokasi Perempuan; Kemiskinan Menstruasi; Hak Kesehatan Menstruasi; Diskursus Abstract This study analyzes the discourse surrounding menstruation in society through the lens of Michel Foucault's theories on power, discourse, and knowledge. Using a case study method, the research explores how Biyung Indonesia constructs an alternative discourse to challenge the dominance of mainstream narratives. Mainstream discourse often stigmatizes menstruation as taboo, limiting open conversation and perpetuating practices that neglect women's health rights. This is reinforced by state policies and industry control, which tend to prioritize disposable pads while overlooking more sustainable alternatives. In response, Biyung Indonesia challenges this dominant narrative by advocating for open dialogue, promoting menstrual health education, and championing cloth pads as an environmentally friendly solution. The discourse on menstruation is crucial for advancing gender equality, health rights, and environmental sustainability, making it a vital issue in social development. This research fills a gap in the literature by examining how grassroots movements like Biyung Indonesia can foster policy changes that are more responsive to women’s needs. Keywords: Women's Advocacy; Period Poverty; Menstrual Health Rights; Discourse