Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

KONSEP PAYANGO PADA RUMAH TINGGAL TRADISIONAL DI GORONTALO Umar; Emil Fatra; Thiara Tri Funny Manguma
KIRANA : Social Science Journal Vol. 1 No. 3 (2024): KIRANA : Social Science Journal
Publisher : Yayasan Sagita Akademia Maju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61579/kirana.v1i3.175

Abstract

Gorontalo, a province located in the north of the island of Sulawesi, has a form of cultural custom regarding the procedures for making a building which has a very important meaning in development, called the concept of "payango". This research aims to find out how the payango concept is applied to traditional houses in Gorontalo.. The method used in this research is qualitative analysis using an ethnographic approach. The results of research on the Payango concept in Gorontalo people's houses regulate determining the basic size of the house (length and width), determining the placement of Pulo Payango (starting point), digging foundations or pillars, determining 5 points for placing Payango materials, determining the orientation/direction of the building, and determining the position of the doors and windows of the house
KONSTRUKSI IDENTITAS DAN PERILAKU BARU DI MEDIA SOSIAL: POTRET SOSIOLOGIS MASYARAKAT KOTA MAKASSAR Rusli Rusli; Emil Fatra
Komunika : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 3 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Komunika : Jurnal Ilmiah Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/komunika.v3i2.1613

Abstract

Era digital telah membawa perubahan signifikan dalam cara manusia berinteraksi, mengekspresikan diri, dan membangun identitas sosial. Penelitian ini mengkaji pembentukan identitas diri Generasi Z melalui media sosial di Kota Makassar, yang dikenal sebagai kota metropolitan dengan masyarakat urban yang heterogen dan penetrasi teknologi tinggi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi digital, kemudian dianalisis secara tematik berdasarkan teori konstruksi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berperan penting sebagai ruang ekspresi diri dan negosiasi identitas, di mana Generasi Z menampilkan versi ideal diri yang disesuaikan dengan norma digital, ekspektasi peer group, dan nilai budaya lokal. Interaksi melalui like, komentar, dan share menjadi umpan balik sosial yang membentuk persepsi diri dan strategi presentasi. Penelitian juga menemukan adanya pergeseran praktik budaya tradisional, seperti tradisi Mappaisseng dalam pernikahan, yang kini banyak menggunakan undangan digital, menciptakan perilaku budaya hibrida antara tradisi lokal dan budaya digital global. Selain itu, keberhasilan pembentukan identitas digital dipengaruhi oleh kecakapan digital, yang mencakup kemampuan teknis dan simbolik, serta strategi konten yang kreatif, estetis, dan relevan secara sosial. Fenomena FoMo mendorong generasi muda untuk tetap aktif, mengikuti tren, dan menampilkan pencapaian agar tetap diterima oleh komunitas online. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pembentukan identitas Generasi Z di Makassar merupakan hasil interaksi kompleks antara media sosial, budaya lokal, peer group, dan praktik sosial tradisional, menciptakan ruang negosiasi identitas yang kreatif dan dinamis di era digital.
FENOMENA FEAR OF MISSING OUT (FOMO) DALAM PERILAKU KOMUNIKASI DIGITAL GENERASI Z Rusli Rusli; Emil Fatra
Komunika : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 3 No. 3 (2026): APRIL
Publisher : Komunika : Jurnal Ilmiah Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/komunika.v3i3.2190

Abstract

The rapid development of social media has transformed the communication behavior of Generation Z, including the emergence of the Fear of Missing Out (FoMO) phenomenon, which refers to the anxiety experienced when individuals feel they are missing out on information, experiences, or ongoing social activities. This study aims to analyze the FoMO phenomenon in the digital communication behavior of Generation Z from a communication studies perspective. The research employed a qualitative approach using a phenomenological design. Informants were selected through purposive sampling based on the following criteria: Generation Z individuals aged 18–27 years, active users of social media, and those who had experienced FoMO. Data were collected through in-depth interviews, non-participant observation, and document analysis, and were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, consisting of data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. The findings identified five major themes: dependence on digital connectivity, anxiety about missing information, changes in interpersonal communication patterns, identity construction and social validation, and the impact of FoMO on digital well-being. The results indicate that FoMO encourages Generation Z to remain constantly connected to social media, intensifies information-checking behavior, accelerates communication responses, and promotes active participation in digital communities. On the other hand, FoMO also has negative consequences, including digital fatigue, decreased concentration, poor time management, and anxiety when access to social media is unavailable. This study confirms that FoMO is a communication phenomenon that influences interaction patterns, digital identity formation, and the quality of communication among Generation Z.
Framing Media TEMPO dalam Membentuk Opini Publik terhadap Amran Sulaiman pada Isu ‘Poles-Poles Beras Busuk’ Emil Fatra; Thiara Tri Funny Manguma
Culture education and technology research (Cetera) Vol. 3 No. 2 (2026): Vol. 3 No. 2 2026
Publisher : FKIP - Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/ctr.v3i2.241

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Majalah Tempo membingkai isu “poles-poles beras busuk” melalui pemberitaan dan ilustrasi yang dipublikasikannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis framing Robert N. Entman yang menitikberatkan pada empat elemen utama, yaitu pendefinisian masalah, diagnosis penyebab, penilaian moral, dan rekomendasi penyelesaian. Data penelitian diperoleh dari 18 item pemberitaan Tempo yang membahas isu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, Tempo secara konsisten menempatkan persoalan beras sebagai isu strategis yang berkaitan dengan tata kelola pangan nasional, pengawasan distribusi, serta perlindungan konsumen. Kedua, Tempo membangun citra kritis terhadap Menteri Pertanian Amran Sulaiman melalui pemilihan diksi, sudut pandang pemberitaan, dan pengaitan dengan relasi kekuasaan yang dianggap memiliki pengaruh dalam pengelolaan sektor pangan. Ketiga, langkah pelaporan balik dan gugatan hukum yang dilakukan Amran Sulaiman terhadap Tempo dibingkai sebagai tindakan yang berpotensi menimbulkan tekanan terhadap kebebasan pers dan ruang kritik publik. Temuan ini menunjukkan bahwa Tempo tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai aktor media yang secara aktif mengonstruksi realitas sosial melalui proses framing terhadap isu pangan dan relasi kekuasaan di Indonesia.
Implementasi Budaya Komunikasi Organisasi Berbasis Kearifan Lokal Pasang Ri Kajang pada Pemerintah Kabupaten Bulukumba Emil Fatra; Thiara Tri Funni Manguma; Rusli
Culture education and technology research (Cetera) Vol. 3 No. 3 (2026): Vol. 3 No. 3 2026
Publisher : FKIP - Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/ctr.v3i3.250

Abstract

Pasang Ri Kajang local wisdom serves as the guiding philosophy of life for the Kajang indigenous community (Keammatoaan) and has been adopted by the Government of Bulukumba Regency as the foundation of its organizational communication culture. This study aims to identify the forms of organizational communication culture categorization and examine the implementation of an organizational communication culture based on the local wisdom of Pasang Ri Kajang within the Government of Bulukumba Regency. The study employed a qualitative descriptive method using a communication ethnography approach. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The findings reveal four main categories of organizational communication culture implemented within the Bulukumba Regency Government. These include the principle of Lambusu na Gattang, which emphasizes honesty, adherence to rules, and discipline; Palampa Paunnu, which promotes openness, particularly in information dissemination and the management of development programs; Assipakatau, which fosters harmony and mutual respect among employees; and Sipatuntung, which encourages mutual support, motivation, and synergy among organizational members. Furthermore, the study found that the implementation of an organizational communication culture based on Pasang Ri Kajang local wisdom is manifested through several practices, including the organization of an annual cultural festival featuring participants dressed in traditional black attire, the application of the Tallasa Kamase-masea principle, which emphasizes simplicity and self-restraint, the Allemo Si Batu principle, which promotes unity and the preservation of cultural values, and the practice of Siri', a cultural value emphasizing shame, self-awareness, and moral responsibility to avoid actions that may harm society.
Framing Media TEMPO dalam Membentuk Opini Publik terhadap Amran Sulaiman pada Isu ‘Poles-Poles Beras Busuk’ Emil Fatra; Thiara Tri Funny Manguma
Culture education and technology research (Cetera) Vol. 3 No. 2 (2026): Vol. 3 No. 2 2026
Publisher : FKIP - Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/ctr.v3i2.241

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Majalah Tempo membingkai isu “poles-poles beras busuk” melalui pemberitaan dan ilustrasi yang dipublikasikannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis framing Robert N. Entman yang menitikberatkan pada empat elemen utama, yaitu pendefinisian masalah, diagnosis penyebab, penilaian moral, dan rekomendasi penyelesaian. Data penelitian diperoleh dari 18 item pemberitaan Tempo yang membahas isu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, Tempo secara konsisten menempatkan persoalan beras sebagai isu strategis yang berkaitan dengan tata kelola pangan nasional, pengawasan distribusi, serta perlindungan konsumen. Kedua, Tempo membangun citra kritis terhadap Menteri Pertanian Amran Sulaiman melalui pemilihan diksi, sudut pandang pemberitaan, dan pengaitan dengan relasi kekuasaan yang dianggap memiliki pengaruh dalam pengelolaan sektor pangan. Ketiga, langkah pelaporan balik dan gugatan hukum yang dilakukan Amran Sulaiman terhadap Tempo dibingkai sebagai tindakan yang berpotensi menimbulkan tekanan terhadap kebebasan pers dan ruang kritik publik. Temuan ini menunjukkan bahwa Tempo tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai aktor media yang secara aktif mengonstruksi realitas sosial melalui proses framing terhadap isu pangan dan relasi kekuasaan di Indonesia.
Implementasi Budaya Komunikasi Organisasi Berbasis Kearifan Lokal Pasang Ri Kajang pada Pemerintah Kabupaten Bulukumba Emil Fatra; Thiara Tri Funni Manguma; Rusli
Culture education and technology research (Cetera) Vol. 3 No. 3 (2026): Vol. 3 No. 3 2026
Publisher : FKIP - Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/ctr.v3i3.250

Abstract

Pasang Ri Kajang local wisdom serves as the guiding philosophy of life for the Kajang indigenous community (Keammatoaan) and has been adopted by the Government of Bulukumba Regency as the foundation of its organizational communication culture. This study aims to identify the forms of organizational communication culture categorization and examine the implementation of an organizational communication culture based on the local wisdom of Pasang Ri Kajang within the Government of Bulukumba Regency. The study employed a qualitative descriptive method using a communication ethnography approach. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The findings reveal four main categories of organizational communication culture implemented within the Bulukumba Regency Government. These include the principle of Lambusu na Gattang, which emphasizes honesty, adherence to rules, and discipline; Palampa Paunnu, which promotes openness, particularly in information dissemination and the management of development programs; Assipakatau, which fosters harmony and mutual respect among employees; and Sipatuntung, which encourages mutual support, motivation, and synergy among organizational members. Furthermore, the study found that the implementation of an organizational communication culture based on Pasang Ri Kajang local wisdom is manifested through several practices, including the organization of an annual cultural festival featuring participants dressed in traditional black attire, the application of the Tallasa Kamase-masea principle, which emphasizes simplicity and self-restraint, the Allemo Si Batu principle, which promotes unity and the preservation of cultural values, and the practice of Siri', a cultural value emphasizing shame, self-awareness, and moral responsibility to avoid actions that may harm society.