Parlin Dwiyana
Universitas Mohammad Husni Thamrin

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Uji Coba Pembuatan Kue Kering Sagu Dengan Penambahan Tepung Tulang Ikan Dan Daya Terimanya Parlin Dwiyana; Elfa Siregar
Jurnal Kesehatan Masyarakat Perkotaan Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Kesehatan Masyarakat Perkotaan
Publisher : LPPM Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jkmp.v1i1.1184

Abstract

Latar belakang : Salah satu jenis kue kering adalah Kue kering sagu yang  dibuat dengan bahan dasar tepung sagu. Penelitian ini dilakukan untuk memanfaatkan limbah tulang ikan yang masih memiliki zat gizi khususnya kalsium yang cukup tinggi yang ditambahkan pada pembuatan kue kering sagu  Tujuan : Mengetahui pengaruh penambahan tepung tulang ikan tongkol terhadap sifat organoleptik (warna, tekstur, aroma dan rasa), daya terima dan kalsium pada kue kering sagu. Metode : Penelitian ini bersifat eksperimental, dengan melakukan penambahan tepung tulang ikan tongkol pada kue kering sagu 0%, 10%, 15% dan 20%. Penelitian ini menggunakan uji Analysis of variance dilanjutkan menggunakan uji Duncan bila p-Value <0,005. Hasil : Ada pengaruh penambahan tepung tulang ikan tongkol terhadap mutu hedonik aspek warna, aroma, rasa dan tingkat kesukaan kue kering sagu,  tidak berpengaruh terhadap mutu hedonik aspek tekstur kue kering sagu. Kue kering sagu terpilih yaitu T2 (10% tepung tulang ikan tongkol) dengan nilai energi total yaitu 368 kkal, protein 10 gram, karbohidrat 68 gram, lemak total 6 gram dan kalsium sebesar 0.1 gram dengan menggunakan metode AAS. Kesimpulan : Penambahan tepung tulang ikan tongkol berpengaruh terhadap aspek warna, aroma, rasa dan tingkat kesukaan secara keseluruhan. Penambahan tepung tulang ikan tongkol tidak berpengaruh terhadap aspek tekstur kue kering sagu. Aktivitas uji kalsium sebesar 0.1 gram dalam 100 gram bahan. Saran: analisis kelayakan usaha pembuatan kue kering sagu dengan penambahan tepung tulang ikan 10% dan dilakukan  diuji daya terima untuk snack pasien ginjal.
Pembuatan Dawet Daun Kelor (Moringa Oleifera L.), Daya Terima dan Peluangnya Sebagai Pangan Bernutrisi Parlin Dwiyana; Fadhillah Miftahul
Jurnal Kesehatan Masyarakat Perkotaan Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Kesehatan Masyarakat Perkotaan
Publisher : LPPM Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jkmp.v1i2.1196

Abstract

Dawet mudah dibuat dan dapat dikreasikan dengan berbagai macam bahan serta modal yang tidak terlalu banyak, sehingga dawet dapat dimodifikasikan dengan bahan yang mempunyai nilai gizi yang akan membuat mutu dawet yang dihasilkan dapat menjadi lebih tinggi. Adapun Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Mengetahui pengaruh penambahan daun kelor terhadap sifat organoleptik dan daya terima dawet. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan daun kelor terhadap sifat organoleptik produk dawet daun kelor dilakukan di Laboratorium Gizi Universitas MH Thamrin. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 2 kali pengulangan. Ada pengaruh penambahan daun kelor terhadap aspek warna, rasa, aroma, dan tekstur pada dawet daun kelor. Penambahan daun kelor pada tingkat kesukaan aspek rasa lebih disukai pada produk dengan penambahan daun kelor sebanyak 35%. Pada tingkat kesukaan aspek warna, aspek aroma, dan aspek tekstur lebih disukai pada produk dengan penambahan daun kelor sebanyak 50%. Produk yang lebih disukai oleh panelis adalah produk dengan penambahan daun kelor sebanyak 50%.
Hubungan Lama Operasi dengan Kejadian Hipotermia pada Pasien Fraktur yang Menjalani Anestesi Spinal di Ruang Bedah Sentral RS Bhayangkara Tk. I Pusdokkes Polri Sri Suryati; Diah Ayu Nurhayati; Nurma Dewi; Dwinara Febrianti; Atikah Pustikasari; Parlin Dwiyana
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 16 No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jik.v16i1.3672

Abstract

Hipotermia merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien yang menjalani tindakan pembedahan dengan anestesi spinal. Durasi operasi yang semakin lama diduga meningkatkan risiko kehilangan panas tubuh sehingga berkontribusi terhadap terjadinya hipotermia. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan lama operasi dengan kejadian hipotermia pada pasien fraktur yang menjalani anestesi spinal di Ruang Bedah Sentral RS Bhayangkara Tk. I Pusdokkes Polri. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 175 pasien fraktur yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan melalui lembar observasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% serta dihitung Odds Ratio (OR) dan 95% Confidence Interval (95%CI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menjalani operasi dengan durasi ≥60 menit (70,3%) dan mengalami hipotermia pascaoperasi (85,1%). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara lama operasi dengan kejadian hipotermia (p=0,007; OR=3,408; 95%CI=1,450–8,009). Usia juga berhubungan dengan kejadian hipotermia (p=0,047; OR=2,544; 95%CI=1,090–5,938), sedangkan jenis kelamin, indeks massa tubuh, dan suhu ruang operasi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna (p>0,05). Disimpulkan bahwa lama operasi merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian hipotermia pada pasien fraktur yang menjalani anestesi spinal. Oleh karena itu, pemantauan suhu tubuh secara berkala serta penerapan tindakan pencegahan hipotermia perlu dilakukan, terutama pada pasien yang menjalani operasi dengan durasi lebih dari 60 menit.
Inovasi Abon "Corenil" Tinggi Serat melalui Substitusi Ampas Kelapa dengan Daya Terima Optimal Shabrina Nurul Izzati; Dhea Marliana Salsabila; Parlin Dwiyana
Jurnal Sains Kesehatan Vol 33, No 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37638/jsk.33.1.48-54

Abstract

Abon merupakan pangan olahan yang banyak diminati, namun umumnya memiliki kandungan serat yang rendah. Ampas kelapa sebagai hasil samping industri memiliki potensi sebagai sumber serat pangan, sementara ikan nila merupakan sumber protein hewani yang terjangkau dari segi harga dan kemudahan memperoleh. Penelitian ini bertujuan menguji daya terima serta kandungan energi dan zat gizi produk ‘Corenil’. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga formulasi dengan perbedaan proporsi bahan, yaitu F1 (20:80), F2 (40:60), dan F3 (60:40) antara ampas kelapa dan ikan nila. Uji karakteristik sensori dilakukan untuk mendapatkan formulasi terpilih yang selanjutnya diuji kandungan energi dan zat gizinya. Hasil menunjukkan proporsi ampas kelapa tertinggi menjadi formulasi terbaik (F3) yang menghasilkan daya terima optimal dengan kandungan zat gizi yang lengkap meliputi energi total 510 kkal/100 g, lemak total 26,6 g/100 g, protein 16 g/100 g, karbohidrat 61,6 g/100 g, dan serat pangan 25,2 g/100 g.  Abon “Corenil” berpotensi sebagai pangan fungsional tinggi serat dengan daya terima optimal serta mendukung pemanfaatan limbah pangan secara berkelanjutan. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengkaji umur simpan, keamanan pangan, serta kandungan mikronutrien produk.Abon merupakan pangan olahan yang banyak diminati, namun umumnya memiliki kandungan serat yang rendah. Ampas kelapa sebagai hasil samping industri memiliki potensi sebagai sumber serat pangan, sementara ikan nila merupakan sumber protein hewani yang terjangkau dari segi harga dan kemudahan memperoleh. Penelitian ini bertujuan menguji daya terima serta kandungan energi dan zat gizi produk ‘Corenil’. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga formulasi dengan perbedaan proporsi bahan, yaitu F1 (20:80), F2 (40:60), dan F3 (60:40) antara ampas kelapa dan ikan nila. Uji karakteristik sensori dilakukan untuk mendapatkan formulasi terpilih yang selanjutnya diuji kandungan energi dan zat gizinya. Hasil menunjukkan proporsi ampas kelapa tertinggi menjadi formulasi terbaik (F3) yang menghasilkan daya terima optimal dengan kandungan zat gizi yang lengkap meliputi energi total 510 kkal/100 g, lemak total 26,6 g/100 g, protein 16 g/100 g, karbohidrat 61,6 g/100 g, dan serat pangan 25,2 g/100 g.  Abon “Corenil” berpotensi sebagai pangan fungsional tinggi serat dengan daya terima optimal serta mendukung pemanfaatan limbah pangan secara berkelanjutan. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengkaji umur simpan, keamanan pangan, serta kandungan mikronutrien produk.Kata Kunci: abon, ampas kelapa, daya terima; ikan nila, serat pangan