Ridho Fidrajaya
Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kerjasama Tim Dalam Kegiatan Praktek Pengungsian Medik Udara Fidrajaya, Ridho; Wardaya; Sri Wahyuni; Nellyta
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 1: Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/0parcp83

Abstract

Pendidikan merupakan suatu proses penyadaran yang terjadi karena interaksi berbagai faktor yang menyangkut manusia, lingkungan, dan potensinya, pada praktek pengungsian medik udara tidak hanya menghadapi simulasi kasus - kasus darurat yang realistis, tetapi juga belajar mengenali dan menanggapi dinamika kerja tim dalam situasi tegang, didalam praktek pengungsian medik udara seringkali ada kendala di tiap tim saat melakukan kerjasama dari tim satu ke tim lainnya, faktor – faktor yang mempengaruhi diantaranya : kurangnya komunikasi yang efektif dan rendahnya motivasi didalam kerja sama tim, upaya - upaya yang dapat dilakukan diantaranya : melakukan peningkatan komunikasi serta motivasi dalam berkoordinasi dalam kerjasama tim, kesimpulan bahwa kerjasama tim yang baik merupakan kunci keberhasilan dalam penyelenggaraan praktek pengungsian medik udara.
ANALISIS PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG PENDIDIKAN SEKS ANAK USIA DINI PADA ORANG TUA Luluk Eka Meylawati; Fitri Anggraeni; Ridho Fidrajaya
Afiat Vol 11 No 1 (2025): Jurnal Afiat : Kesehatan dan Anak
Publisher : Jurnal Afiat : Kesehatan dan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/afiat.v11i1.4604

Abstract

Fenomena di masyarakat sekarang ini adalah maraknya kasus pelecehan seksual pada anak usia dini seperti kekerasan dan penyimpangan seks, hal tersebut terjadi salah satunya karena kurangnya pendidikan seks dari orang tua pada anak, jika orang tua mendidik anaknya dengan baik maka anak tersebut akan tumbuh menjadi pribadi yang baik maupun sebaliknya dan hal tersebut harus dibarengi oleh sikap dan tingkat pengetahuan orang tua yang baik pula. Tujuan Penelitian untuk untuk mengetahui analisis pengetahuan dan sikap tentang pendidikan seks anak usia dini pada orang tua. Metode Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Jumlah sampel sebanyak 49 responden orang tua anak yang diambil dengan teknik total sampling. Analisis yang digunakan univariat untuk mengetahui frekuensi variabel yang tekait. Hasil Penelitian uji statistik didapatkan hasil analisis univariat jumlah responden terbanyak dengan umur 30-34 tahun (30,61%), pendidikan terakhir didominasi lulusan sarjana (51%), jenis media yang sering digunakan media elektronik (61,22%), sikap positif yang dimiliki responden sebanyak (51%) dan negatif (49%). Tingkat pengetahuan responden yang baik sebanyak (95,9%), cukup sebanyak (4,1%) dan (0%) untuk yang kurang. Simpulan sebagian besar orang tua memiliki sifat yang positif dan mayoritas orang tua memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai pendidikan seks anak usia dini.
ANALISIS PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG PENDIDIKAN SEKS ANAK USIA DINI PADA ORANG TUA Meylawati, Luluk Eka; Anggraeni, Fitri; Fidrajaya, Ridho
Afiat Vol. 11 No. 1 (2025): Jurnal Afiat : Kesehatan dan Anak
Publisher : Jurnal Afiat : Kesehatan dan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/afiat.v11i1.4604

Abstract

Fenomena di masyarakat sekarang ini adalah maraknya kasus pelecehan seksual pada anak usia dini seperti kekerasan dan penyimpangan seks, hal tersebut terjadi salah satunya karena kurangnya pendidikan seks dari orang tua pada anak, jika orang tua mendidik anaknya dengan baik maka anak tersebut akan tumbuh menjadi pribadi yang baik maupun sebaliknya dan hal tersebut harus dibarengi oleh sikap dan tingkat pengetahuan orang tua yang baik pula. Tujuan Penelitian untuk untuk mengetahui analisis pengetahuan dan sikap tentang pendidikan seks anak usia dini pada orang tua. Metode Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Jumlah sampel sebanyak 49 responden orang tua anak yang diambil dengan teknik total sampling. Analisis yang digunakan univariat untuk mengetahui frekuensi variabel yang tekait. Hasil Penelitian uji statistik didapatkan hasil analisis univariat jumlah responden terbanyak dengan umur 30-34 tahun (30,61%), pendidikan terakhir didominasi lulusan sarjana (51%), jenis media yang sering digunakan media elektronik (61,22%), sikap positif yang dimiliki responden sebanyak (51%) dan negatif (49%). Tingkat pengetahuan responden yang baik sebanyak (95,9%), cukup sebanyak (4,1%) dan (0%) untuk yang kurang. Simpulan sebagian besar orang tua memiliki sifat yang positif dan mayoritas orang tua memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai pendidikan seks anak usia dini.
Effectiveness of Cognitive Behavioral Therapy with In Vivo Exposure on Anxiety Levels in Elderly Stroke Patients Ridho Fidrajaya; Tria Astika Endah Permatasari; Lily Herlinah
Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Indonesia Vol 14 No 03 (2024): Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Indonesia (JIIKI) Volume 14 Number 03 September
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jiiki.v14i03.3471

Abstract

Background: Stroke is a serious condition that can have a significant psychological impact on patients, including anxiety. Cognitive Behavioral Therapy (CBT) is a therapy that can influence attitudes and behaviors as well as cognitive changes, resulting in the desired attitude changes. Objectives: The objective of this study is to determine the effect of CBT on anxiety levels in elderly individuals diagnosed with stroke. Methods: This study employed a quasi-experimental design with a nonequivalent control group design. The sample consisted of 36 elderly stroke patients. The analysis in this study used the dependent T-Test. Results: The average anxiety level decreased by 14.89, and the statistical test results showed a P-Value of 0.000, indicating that the intervention had a significant effect. Conclusion: This study concludes that Cognitive Behavioral Therapy (CBT) using in vivo exposure techniques is significantly effective in reducing anxiety levels in the intervention group compared to the control group. Although there are other influencing variables such as education, these variables are not statistically significant.
Optimalisasi manuver valsalva untuk mengurangi nyeri telinga akibat perubahan tekanan udara Fitri Anggraeni; Luluk Eka Meylawati; Suroso Suroso; Ridho Fidrajaya
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.3935

Abstract

Background: Rapid changes in air pressure can create a pressure imbalance between the middle ear cavity and the external environment, often resulting in ear pain, a sensation of fullness, ringing in the ears (tinnitus), temporary hearing impairment, and other forms of discomfort. This condition, known as ear barotrauma, occurs due to environmental pressure changes such as during aircraft takeoff or landing, diving activities, or while inside pressurized environments like hyperbaric chambers. The Valsalva maneuver is a method used to alleviate this issue; it involves closing the nose and mouth and attempting to exhale, thereby increasing air pressure within the nasal cavity and Eustachian tubes. Purpose: To optimize the Valsalva maneuver technique as a non-invasive intervention for reducing ear pain caused by air pressure changes in patients undergoing hyperbaric chamber therapy. Method: This activity consisted of interactive education and practical training conducted at the Hyperbaric Unit of Dr. Mintohardjo Naval Hospital (RSAL). The target audience comprised patients at high risk of developing ear pain (ear barotrauma) due to air pressure fluctuations during hyperbaric therapy. Twenty-eight patients participated in the activity. Respondents' knowledge and understanding were assessed using a "one-group pretest-posttest" design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Practical proficiency was evaluated through observation of the respondents performing the Valsalva maneuver during a simulation. Evaluation involved comparing pretest and posttest results to measure knowledge gains and observing the practical skills demonstrated during the maneuver. The data were analyzed descriptively to assess the success of the education and training regarding the Valsalva maneuver in patients prone to ear pain. Results: The study showed that the mean age of participants was 52.9 years, with the majority (11 participants or 39.3%) falling within the 45–59 age range. Most participants were male (17 participants or 60.7%). Pre-test and post-test results indicated an improvement in category distribution, rising from 8 individuals (28.6%) to 23 individuals (82.1%) an increase of 53.5%. Conclusion: Community service activities comprising education via standing banners, demonstrations, and hands-on practice were highly effective in enhancing the knowledge and understanding of patients undergoing hyperbaric therapy regarding the application of the Valsalva maneuver. Improved proficiency in performing the maneuver also reduced anxiety associated with confined spaces (claustrophobia), prevented panic caused by ear pain or ringing resulting from pressure changes, and fostered the confidence needed for the procedure to proceed smoothly and without injury. Suggestion: It is recommended that RSAL dr. Mintohardjo specifically the hyperbaric unit provide standing banners and offer ongoing education to support the dissemination of health information regarding the Valsalva maneuver to the wider community. Keywords: Air pressure changes; Ear barotrauma; Hyperbaric therapy; Valsalva maneuver Pendahuluan: Perubahan tekanan udara yang terjadi secara cepat dapat menimbulkan tekanan tidak seimbang antara rongga telinga tengah dan lingkungan luar, sehingga sering menyebabkan nyeri telinga, rasa penuh, berdengung, gangguan pendengaran sementara dan ketidaknyamanan lainnya. Kondisi ini dikenal sebagai barotrauma telinga yang terjadi karena ada perubahan lingkungan seperti saat pesawat lepas landas atau mendarat, aktivitas menyelam dan juga saat berada di dalam ruang bertekanan seperti hyperbaric chamber. Manuver valsalva merupakan salah satu metode untuk mengurangi masalah tersebut dengan menutup hidung dan mulut lalu mencoba menghembuskan napas sehingga tekanan udara di rongga hidung dan tuba eustachius meningkat. Tujuan: Mengoptimalkan teknik manuver valsalva sebagai intervensi non-invasif untuk mengurangi nyeri telinga akibat perubahan tekanan udara pada pasien yang menjalani terapi di ruang hyperbaric chamber. Metode: Kegiatan ini merupakan edukasi interaktif dengan intervensi pelatihan yang dilaksanakan di Ruang Hyperbarik RSAL dr. Mintohardjo. Sasaran kegiatan ini adalah pasien yang memiliki risiko tinggi terjadinya nyeri telinga (ear barotrauma) akibat perubahan tekanan udara selama proses terapi hiperbarik. Kegiatan ini melibatkan 28 pasien untuk menjadi partisipan. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Untuk tingkat kemampuan responden di evaluasi berdasarkan observasi dari simulasi ketika melakukan praktik manuver valsalva. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil pretest dan posttest untuk melihat peningkatan pengetahuan dan pengamatan dari keterampilan praktik menerapkan manuver valsalva. Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk menilai keberhasilan kegiatan edukasi dan pelatihan manuver valsalva pada pasien dengan terjadinya nyeri telinga. Hasil:  Menunjukkan bahwa usia rata-rata partisipan adalah 52.9 tahun dan mayoritas berada direntang usia 45-59 tahun yaitu sebanyak 11 partisipan (39.3%). Sebagian besar partisipan berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 17 partisipan (60.7%). Dengan hasil pretest dan posttest menunjukkan adanya perubahan distribusi kategori menjadi lebih baik dari 8 orang (28.6%) menjadi 23 orang (82.1%), atau mengalami peningkatan sebesar 53.5%. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi menggunakan media standing banner, demonstrasi, dan praktik langsung sangat efektif meningkatkan pengetahuan serta pemahaman pasien yang sedang menjalani terapi hiperbarik dalam menerapkan manuver valsalva. Peningkatan kemampuan pasien dalam menerapkan manuver valsalva juga mengurangi rasa cemas pasien di ruang sempit (klaustrofobia), mencegah kepanikan saat telinga terasa sakit atau berdengung akibat perubahan tekanan, serta membangun rasa percaya diri agar prosedur berjalan lancar tanpa cedera.  Saran: Diharapkan kepada RSAL dr. Mintohardjo khususnya di ruang hiperbarik untuk menyediakan standing banner dan memberikan edukasi keberlanjutan sebagai upaya mendukung penyebaran informasi kesehatan tentang manuver valsalva agar dapat diterima kepada masyarakat yang lebih luas.