Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Culture Shock pada Mahasiswa Aceh Perantau Padang Atiqah Mufidah; Nur Aisyah; Alycia Safana Milanda; Bunga Dinda Permata; Fadilla Saputri; Delmira Syafrini; Hanafi Saputra
Social Empirical Vol. 2 No. 1 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i1.98

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor-faktor penyebab terjadinya culture shock yang dialami oleh mahasiswa Aceh perantau di Kota Padang Sumatera Barat. Penelitian ini menarik untuk di kaji karena fenomena culture shock merupakan tantangan nyata yang dihadapi mahasiswa perantau dalam proses penyesuaian diri di lingkungan baru yang berbeda secara sosial dan budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik pemilihan informan yang digunakan yaitu teknik purposive sampling dengan jumlah informan 7 orang. Adapun kriteria informan berupa mahasiswa Aceh perantau Sumatera Barat. Observasi dilakukan untuk mengamati langsung terhadap apa saja faktor-faktor penyebab terjadinya culture shock pada mahasiswa perantau Aceh di padang Sumatera Barat. Wawancara digunakan untuk menggali informasi mengenai alasan terjadinya culture shock dan faktor penyebabnya. Dokumentasi juga dilakukan dengan mengumpulkan dokumen terkait seperti foto, video, laporan kegiatan, dan data lain yang mendukung. Analisis data menggunakan teknik analisis kualitatif, meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan empat hal utama penyebab terjadinya culture shock diantaranya pertama, perbedaan bahasa. Kedua, cara berpakaian bagi perempuan. Ketiga, perbedaan makanan. Keempat, tradisi dan adat istiadat.
Nagari Website Content Production Training to Increase Digitalization and Openness of Information Dissemination Means in Nagari Koto Laweh Tanah Datar Hanafi Saputra; Annisa Citra Triyandra; Sri Oktika Amran
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 7 No 2 (2025): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v7i2.1345

Abstract

Website banyak dimanfaatkan oleh instansi pemerintahan sebagai upaya digitalisasi informasi dan keterbukaan informasi publik. Namun, pengelolaan website oleh instansi belum bergerak progresif dalam mencapai keterbukaan informasi publik. Nagari Koto Laweh pun sebagai instansi pemerintahan yang telah memiliki website resmi sejak tahun 2017 belum dikelola dengan baik, sehingga informasi belum tersedia sebagaimana mestinya. Maka, perlu adanya produksi konten website nagari sebagai sarana informasi publik sehingga informasi tentang nagari dapat diakses khalayak luas. Kegiatan produksi konten website dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dengan metode partisipatif. Program pelatihan ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2024 dengan tahapan metode pelaksanaan pre-program, program, dan post-program. Program pengabdian ini diikuti oleh perangkat nagari di Koto Laweh Kabupaten Tanah Datar. Hasil dari program pengabdian ini adalah konten website berupa foto dan caption yang telah diunggah pada website serta kelengkapan data dan informasi nagari pada website sebagai keterbukaan informasi. Dengan pengabdian tersebut turut menerapkan prinsip learning by doing, dimana peserta langsung melaksanakan proses pelatihan secara langsung untuk menghasilkan output sesuai target pengabdian yang dilakukan.
COVID-19 AND TOURISM: A DESCRIPTIVE STUDY OF THE STRATEGIES OF YOUTH MARINE TOURISM BUSINESS ACTORS ON DERAWAN ISLAND DURING THE COVID-19 PANDEMIC: COVID-19 DAN PARIWISATA: STUDI DEKSRIPTIF STRATEGI PEMUDA PELAKU USAHA WISATA BAHARI PULAU DERAWAN KETIKA PANDEMI COVID-19 Ahmad Hidayah; Hanafi Saputra; Kamilah Dwi Kurniawati; Agung Prajulianto; Ziya Ibrizah; Yuhelna
SOSIOEDUKASI Vol 14 No 4 (2025): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v14i3.5613

Abstract

This paper aims to analyze the strategies of young entrepreneurs in the marine tourism industry on Derawan Island in facing the challenges of the COVID-19 pandemic. The study employs a qualitative approach using purposive and snowball sampling techniques for informant selection. Data collection was carried out through interviews and field observations. The research applies James C. Scott’s survival strategy theory to analyze the phenomena under investigation. The results of the study indicate that young entrepreneurs in the marine tourism sector on Derawan Island were a vulnerable group during the COVID-19 pandemic. To address these challenges, the young entrepreneurs engaged in several survival strategies, including returning to fishing and adjusting the pricing of tourism packages during the new normal period.
Transformasi Birokrasi Berbasis Digital di Nagari Koto Laweh Sebagai Wujud Implementasi SDGs Hanafi Saputra; Annisa Citra Triyandra; Putri Febri Wialdi
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 8 No 2 (2026): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v8i2.1900

Abstract

Perkembangan teknologi telah memberikan ruang akselerasi di berbagai aspek, termasuk birokrasi. Pengurusan administrasi birokrasi sebagai ranah pelayanan masyarakat dewasa ini cenderung tidak lagi bersifat konvensional melainkan telah beralih pada sistem digitalisasi. Hal itu memberikan kemudahan, fleksibilitas, dan ketepatan waktu dalam pengurusan serta manajemen birokrasi pelayanan publik yang juga menjadi salah satu indikator terciptanya pelayanan E-governance. Nagari Koto Laweh sebagai pusat pemerintahan lokal menghadapi tantangan dalam efektivitas birokrasi, terutama dalam pelayanan publik dan pengelolaan data yang masih banyak dilakukan secara manual dan bersifat konvensional. Sehingga penyediaan data induk nagari cenderung tidak terbarukan dan konvensional. Padahal, Koto Laweh sudah memiliki Website resmi, namun penggunaannya masih belum optimal, jika dilihat hanya 193 pengunjung dari websitenya. Perkembangan teknologi digital seyogyanya membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam birokrasi pemerintahan Nagari. Berangkat dari temuan permasalahan itu, maka kebaruannya terletak pada adanya proses pengembangan lebih lanjut transformasi birokrasi berbasis digital yang terkoneksi dalam data based di Nagari Koto Laweh dengan metode partisipatif dan kolaboratif dalam tiga tahap, yaitu pra program, program, dan pasca program. Tujuan program pengabdian ini untuk mendorong transformasi birokrasi berbasis digital di Nagari Koto Laweh guna meningkatkan kualitas pelayanan publik, efisiensi administrasi, dan partisipasi masyarakat dalam tata kelola pemerintahan. Dengan target dan sasaran tim perangkat nagari, pengelola website nagari, dan masyarakat terjadi peningkatan skill dan keterampilan dalam manajemen data Nagari Koto Laweh dan partisipasi masyarakat melalui layanan mandiri pada website resmi nagari dalam proses birokrasi dan administrasi digital sebagai wujud implementasi SDGs. Hasil menunjukkan adanya peningkatan tranformasi birogkrasi berbasis digital pada objek pengabdian.
Optimalisasi Media Sosial untuk Promosi Kesehatan di Puskesmas Sungai Nanam Kabupaten Solok Muhammad David Hendra; Sri Oktika Amran; Hendri Azwar; Annisa Citra Triyandra; Hanafi Saputra; Nasywa Salsabila Kamal; Ibrahim Akbar
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 8 No 2 (2026): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v8i2.1938

Abstract

Permasalahan penyebaran informasi kesehatan di Kabupaten Solok masih menghadapi berbagai kendala, terutama kondisi geografis yang luas serta keterbatasan pengelolaan media digital di fasilitas kesehatan. Kondisi ini menyebabkan promosi kesehatan terkait pencegahan stunting dan demam berdarah belum berjalan optimal dan belum mampu menjangkau masyarakat secara merata. Di sisi lain, perkembangan media sosial sebagai sarana komunikasi publik menuntut tenaga kesehatan memiliki kemampuan dalam memproduksi konten digital yang informatif, menarik, dan mudah dipahami masyarakat. Namun, kemampuan pengelolaan media sosial di Puskesmas Sungai Nanam masih terbatas, baik dari aspek desain visual, strategi konten, maupun produksi video edukasi kesehatan. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam mengelola media sosial sebagai sarana promosi kesehatan melalui pelatihan desain grafis, strategi pembuatan konten, serta teknik kamera dan editing video. Metode yang digunakan meliputi Focus Group Discussion (FGD), pre-test, sosialisasi, pelatihan teknis, pendampingan, dan post-test dengan pendekatan partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pemahaman dan keterampilan peserta. Pengetahuan dasar promosi kesehatan digital meningkat dari 12,5% menjadi 75%, pemahaman penggunaan platform dan segmentasi audiens meningkat dari 18,8% menjadi 75%, pengetahuan fotografi dan videografi meningkat dari 25% menjadi 75%, serta kemampuan perencanaan konten meningkat dari 6,3% menjadi 75%. Selain itu, kualitas konten media sosial puskesmas mengalami perubahan melalui tampilan visual yang lebih rapi, konsisten, dan meningkatnya engagement masyarakat. Pendampingan lanjutan juga menunjukkan bahwa peserta mampu memproduksi konten digital secara mandiri dengan kualitas yang lebih baik. Temuan ini menegaskan bahwa pendampingan berbasis praktik langsung efektif dalam memperkuat literasi digital tenaga kesehatan dan mendukung optimalisasi promosi kesehatan berbasis media sosial.
Analisis Kasus Sandwich Generation Yang Terdapat dalam Film 1 Kakak 7 Ponakan Intan Afri Yunita; Nadinda Jeehan Frischa; Nazwa Luthfia Maisa; Nadya Komala Firsty; Muhammad Raihan Iwata; Delmira Syafrini; Hanafi Saputra; Rani Kartika; Bunga Dinda Permata
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.242

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran generasi sandwich pada film 1 Kakak 7 Ponakan. Generasi sandwich adalah kelompok orang-orang yang menanggung beban ganda, memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya. Hal ini menyebabkan tekanan secara ekonomi, sosial, dan psikologis bagi orang yang mengalaminya. Pada film 1 Kakak 7 Ponakan, tokoh Moko menggambarkan terjadinya kasus generasi sandwich. Moko yang harus menjadi orang tua pengganti untuk ke tujuh ponakannya, bahkan sampai harus mengubur mimpinya untuk menjadi arsitek. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik studi pustaka, yang dimana data diperoleh dari sumber-sumber yang relevan seperti buku, jurnal ilmiah, berita media online, dan penelitian-penelitian terdahulu. Hasil dari penelitian ini menunjukkan kasus generasi sandwich pada film 1 Kakak 7 Ponakan merupakan representasi dari realitas sosial yang terlihat pada data yang ada. Pada film ini karakter tokoh Moko menggambarkan kondisi generasi sandwich pada saat ini. Film ini meningkat kesadaran masyarakat mengenai sulitnya peran generasi sandwich serta pentingnya dukungan sosial dan emosional bagi orang-orang yang berada di kondisi tersebut.
Budaya Penggunaan Tiktok dan Konstruksi Stres Digital di Kalangan Mahasiswa Sosiologi, Universitas Negeri Padang Sandro J.O Tampubolon; Hanafi Saputra; Putri Rahma Dani; Restian Oktavia; Sabrina Asyifa U Nabila; Rahma Okta Rini
Social Empirical Vol. 3 No. 1 (2026): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v3i1.595

Abstract

Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah membawa perubahan terhadap pola komunikasi dan interaksi sosial mahasiswa, terutama melalui penggunaan aplikasi TikTok. Penggunaan TikTok yang intensif tidak hanya membentuk budaya digital baru, tetapi juga memunculkan berbagai tekanan sosial dan psikologis yang dikenal sebagai stres digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis budaya penggunaan TikTok serta konstruksi stres digital di kalangan mahasiswa Prodi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Padang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap enam informan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mahasiswa sebagai media hiburan, sumber informasi, sarana mengikuti tren, dan tempat menghilangkan rasa jenuh. Tingginya intensitas penggunaan TikTok membentuk pola interaksi sosial baru seperti kebiasaan mengikuti tren viral, membahas konten FYP, serta munculnya fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Selain itu, penggunaan TikTok secara berlebihan juga berkontribusi terhadap munculnya stres digital berupa kecemasan, overthinking, insecure, kelelahan mental, dan gangguan fokus akibat tekanan sosial di media digital. Dalam perspektif Teori Konstruksi Sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, stres digital terbentuk melalui proses interaksi sosial dan budaya digital yang terus direproduksi dalam kehidupan mahasiswa sehari-hari.
Budaya Pemberian Hadiah dalam Momen Seminar Proposal: Studi Sosiologi Budaya di Kalangan Mahasiswa Nindya Shafwa; Hanafi Saputra; Mela Yuliana; Rahma Juita; Laras Andira; Siti Faizah Atika Maisyah
Social Empirical Vol. 3 No. 1 (2026): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v3i1.621

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berkembangnya budaya pemberian hadiah pada momen seminar proposal dan ujian komprehensif di kalangan mahasiswa Universitas Negeri Padang yang telah menjadi bagian dari praktik sosial dalam lingkungan kampus. Fenomena ini tidak lagi dimaknai sebagai tindakan sukarela semata, tetapi juga sebagai simbol apresiasi, dukungan sosial, dan penanda hubungan pertemanan yang memengaruhi pola interaksi antarmahasiswa. Di sisi lain, budaya tersebut berpotensi menimbulkan tekanan sosial berupa rasa sungkan dan kewajiban tidak tertulis untuk memberikan atau membalas hadiah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna budaya pemberian hadiah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Informan penelitian berjumlah 7 mahasiswa yang pernah memberikan maupun menerima hadiah pada momen seminar proposal dan ujian komprehensif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya pemberian hadiah dimaknai sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan akademik, simbol perhatian dan dukungan emosional, serta penanda kedekatan hubungan sosial. Keberlangsungan budaya ini dipengaruhi oleh lingkungan sosial kampus, pewarisan kebiasaan antarangkatan, media sosial, dan hubungan timbal balik dalam pertemanan. Meskipun memperkuat solidaritas dan relasi sosial mahasiswa, praktik ini juga dapat menimbulkan tekanan sosial berupa rasa sungkan dan kewajiban tidak tertulis untuk membalas pemberian. Implikasi penelitian menunjukkan pentingnya membangun budaya apresiasi yang lebih menekankan ketulusan, dukungan emosional, dan kehadiran sosial daripada nilai material hadiah.
Budaya Outfit di Kalangan Mahasiswa sebagai Simbol Identitas dan Makna Sosial Sofi Yolita; Hanafi Saputra; Yaserli Amelia; Waviatul Tanzila; Yulia Yulia; Tila Tila
Social Empirical Vol. 3 No. 1 (2026): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v3i1.624

Abstract

Perkembangan teknologi digital dan tingginya penetrasi media sosial telah mengubah fungsi pakaian di kalangan mahasiswa dari sekadar kebutuhan utilitarian menjadi medium komunikasi nonverbal yang sarat makna sosial, sebagaimana tercermin dalam fenomena Outfit of The Day (OOTD) yang marak di platform Instagram dan TikTok. Kajian yang secara mendalam menganalisis fenomena ini melalui kerangka teori interaksionisme simbolik masih sangat terbatas, sehingga penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menganalisis bagaimana mahasiswa memaknai budaya outfit sebagai simbol identitas dan makna sosial di lingkungan kampus menggunakan perspektif Interaksionisme Simbolik Herbert Blumer. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam terhadap 6 informan yang dipilih secara purposive, dan studi dokumen, serta dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama: pertama, outfit berfungsi sebagai simbol sosial yang maknanya disepakati bersama dan digunakan mahasiswa untuk berkomunikasi secara nonverbal baik dalam interaksi langsung di kampus maupun di ruang digital; kedua, outfit menjadi arena pembentukan identitas diri yang dinamis melalui mekanisme self-indication, di mana identitas mahasiswa terus dinegosiasikan antara ekspresi individual dan respons sosial dari lingkungan; ketiga, outfit dimaknai sebagai instrumen pembangunan kepercayaan diri, penanda status sosial, dan wahana pemerolehan pengakuan sosial yang maknanya terus bergeser mengikuti dinamika tren media sosial. Penelitian ini memberikan implikasi teoritis berupa perluasan teori Blumer ke arena digital, sekaligus implikasi praktis bagi institusi perguruan tinggi untuk merespons budaya outfit sebagai ekspresi kebutuhan identitas mahasiswa melalui program literasi media yang lebih inklusif.
Flexing di Kalangan Mahasiswa FIS UNP: Strategi Mencari Pengakuan Sosial di Era Media Sosial Riva Nasrila; Hanafi Saputra; Fauzanah Fauzan El Muhammady; Hafid Pradana; Ratih Haifa Putri; Nur Aisyah; Marwatil Husna
Social Empirical Vol. 3 No. 1 (2026): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v3i1.625

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah pola interaksi sosial masyarakat dan melahirkan berbagai fenomena baru, salah satunya adalah flexing. Di kalangan mahasiswa, flexing tidak hanya berkaitan dengan tindakan memamerkan kepemilikan materi atau gaya hidup, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun citra diri dan memperoleh pengakuan sosial di ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna flexing di kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang (FIS UNP) sebagai strategi memperoleh pengakuan sosial. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya dalam  menjelaskan fenomena flexing secara lebih komprehensif sebagai tindakan sosial yang berkaitan dengan pengakuan sosial, identitas diri, status sosial, dan eksistensi, bukan semata-mata sebagai perilaku konsumtif sebagaimana banyak dibahas dalam penelitian sebelumnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus dengan melibatkan delapan informan yang dipilih melalui teknik purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen,  kemudian diolah menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berangkat dari perspektif teori Interaksionisme Simbolik oleh George Herbert Mead hasil penelitian menunjukkan bahwa flexing dimaknai mahasiswa sebagai sarana memperoleh pengakuan sosial, membangun identitas diri, menunjukkan status sosial, serta mempertahankan eksistensi di era digital. Media sosial menjadi arena penting bagi mahasiswa untuk menampilkan simbol-simbol sosial yang membentuk citra diri dan memperoleh legitimasi dari lingkungan sekitarnya. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena flexing perlu dipahami sebagai bentuk interaksi sosial yang mengandung makna simbolik dalam proses pembentukan identitas dan relasi sosial mahasiswa di era digital.