p-Index From 2021 - 2026
0.751
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Social Empirical
Nur Aisyah
Universitas Negeri Padang

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Culture Shock pada Mahasiswa Aceh Perantau Padang Atiqah Mufidah; Nur Aisyah; Alycia Safana Milanda; Bunga Dinda Permata; Fadilla Saputri; Delmira Syafrini; Hanafi Saputra
Social Empirical Vol. 2 No. 1 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i1.98

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor-faktor penyebab terjadinya culture shock yang dialami oleh mahasiswa Aceh perantau di Kota Padang Sumatera Barat. Penelitian ini menarik untuk di kaji karena fenomena culture shock merupakan tantangan nyata yang dihadapi mahasiswa perantau dalam proses penyesuaian diri di lingkungan baru yang berbeda secara sosial dan budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik pemilihan informan yang digunakan yaitu teknik purposive sampling dengan jumlah informan 7 orang. Adapun kriteria informan berupa mahasiswa Aceh perantau Sumatera Barat. Observasi dilakukan untuk mengamati langsung terhadap apa saja faktor-faktor penyebab terjadinya culture shock pada mahasiswa perantau Aceh di padang Sumatera Barat. Wawancara digunakan untuk menggali informasi mengenai alasan terjadinya culture shock dan faktor penyebabnya. Dokumentasi juga dilakukan dengan mengumpulkan dokumen terkait seperti foto, video, laporan kegiatan, dan data lain yang mendukung. Analisis data menggunakan teknik analisis kualitatif, meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan empat hal utama penyebab terjadinya culture shock diantaranya pertama, perbedaan bahasa. Kedua, cara berpakaian bagi perempuan. Ketiga, perbedaan makanan. Keempat, tradisi dan adat istiadat.
Resiliensi Masyarakat terhadap Perubahan Sosial Pasca Bencana Galodo di Lubuk Minturun Adellia Mutiara Putri; Delmira Syafrini; Nora Susilawati; Elsa Putri Hardyanti; Fara Aisyah Zalma; Nur Aisyah; Aget Sapriadi; Tommy Adam
Social Empirical Vol. 3 No. 1 (2026): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v3i1.575

Abstract

Bencana galodo tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga mempengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat terdampak. Pascabencana, masyarakat dihadapkan pada perubahan kondisi lingkungan, terganggunya aktivitas ekonomi, serta munculnya rasa takut dan kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya bencana kembali. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memahami resiliensi masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial pascabencana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resiliensi masyarakat terhadap perubahan sosial pascabencana Galodo di Lubuk Minturun.. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resiliensi masyarakat terhadap perubahan sosial pascabencana Galodo di Lubuk Minturun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus. Pemilihan informan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah tujuh orang informan masyarakat terdampak Galodo. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan  dokumentasi. Teknik analisis data  menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat mengalami perubahan sosial pada kondisi lingkungan, aktivitas ekonomi, dan kehidupan sosial pascabencana Galodo. Meskipun masyarakat mengalami ketakutan, kerugian material, dan penurunan aktivitas ekonomi, masyarakat tetap mampu membangun resiliensi sosial melalui kegiatan gotong royong, solidaritas sosial,  mempertahankan mata pencaharian, serta dukungan dari pemerintah dan  relawan dalam proses pemulihan pascabencana. Penelitian ini menunjukkan bahwa resiliensi masyarakat pascabencana Galodo tidak hanya terlihat dari kemampuan masyarakat bertahan menghadapi krisis, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan solidaritas sosial dan keberlangsungan kehidupan sosial di tengah perubahan sosial akibat bencana.Bencana galodo tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga mempengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat terdampak. Pascabencana, masyarakat dihadapkan pada perubahan kondisi lingkungan, terganggunya aktivitas ekonomi, serta munculnya rasa takut dan kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya bencana kembali. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memahami resiliensi masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial pascabencana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resiliensi masyarakat terhadap perubahan sosial pascabencana Galodo di Lubuk Minturun.. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resiliensi masyarakat terhadap perubahan sosial pascabencana Galodo di Lubuk Minturun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus. Pemilihan informan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah tujuh orang informan masyarakat terdampak Galodo. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan  dokumentasi. Teknik analisis data  menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat mengalami perubahan sosial pada kondisi lingkungan, aktivitas ekonomi, dan kehidupan sosial pascabencana Galodo. Meskipun masyarakat mengalami ketakutan, kerugian material, dan penurunan aktivitas ekonomi, masyarakat tetap mampu membangun resiliensi sosial melalui kegiatan gotong royong, solidaritas sosial,  mempertahankan mata pencaharian, serta dukungan dari pemerintah dan  relawan dalam proses pemulihan pascabencana. Penelitian ini menunjukkan bahwa resiliensi masyarakat pascabencana Galodo tidak hanya terlihat dari kemampuan masyarakat bertahan menghadapi krisis, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan solidaritas sosial dan keberlangsungan kehidupan sosial di tengah perubahan sosial akibat bencana.
Eksistensi Pendidikan Surau dalam Pembentukan Karakter di Sumatera Barat Ratu Fitri Aisyah; Gusmira Wita; Nur Aisyah; Ratih Haifa Putri; Atiqah Mufidah; Zuama Furgani
Social Empirical Vol. 3 No. 1 (2026): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v3i1.583

Abstract

Perkembangan teknologi digital dan perubahan gaya hidup masyarakat saat ini membawa pengaruh terhadap kehidupan generasi muda, terutama dalam kebiasaan berinteraksi dan mengikuti kegiatan keagamaan di lingkungan sekitar. Anak-anak dan remaja mulai lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget sehingga keterlibatan mereka dalam aktivitas sosial dan pendidikan agama mengalami penurunan. Kondisi tersebut turut memengaruhi pembentukan karakter, seperti kedisiplinan, sopan santun, dan kepedulian sosial. Dalam masyarakat Minangkabau, surau sejak dahulu bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi tempat belajar agama dan pembinaan akhlak bagi generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana keberadaan pendidikan surau tetap bertahan dalam membentuk karakter generasi muda di tengah perkembangan zaman modern. Penelitian dilakukan di Masjid Raya Gantiang Kota Padang dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Informan penelitian terdiri dari pengurus masjid, guru mengaji, santri, orang tua, dan alumni surau yang dipilih secara purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan surau masih memiliki peran penting dalam menanamkan nilai religius dan sosial kepada anak-anak dan remaja melalui kegiatan mengaji, hafalan doa, pembelajaran akhlak, salat berjamaah, serta kegiatan remaja masjid. Proses pembelajaran yang dilakukan secara rutin membuat anak-anak terbiasa bersikap disiplin, menghormati orang tua dan guru, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial. Walaupun penggunaan gadget menjadi tantangan bagi keberlangsungan kegiatan surau, masyarakat dan pengurus masjid tetap mempertahankan kegiatan pendidikan surau sebagai bagian penting dalam menjaga nilai agama dan budaya Minangkabau di tengah kehidupan modern saat ini.
Flexing di Kalangan Mahasiswa FIS UNP: Strategi Mencari Pengakuan Sosial di Era Media Sosial Riva Nasrila; Hanafi Saputra; Fauzanah Fauzan El Muhammady; Hafid Pradana; Ratih Haifa Putri; Nur Aisyah; Marwatil Husna
Social Empirical Vol. 3 No. 1 (2026): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v3i1.625

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah pola interaksi sosial masyarakat dan melahirkan berbagai fenomena baru, salah satunya adalah flexing. Di kalangan mahasiswa, flexing tidak hanya berkaitan dengan tindakan memamerkan kepemilikan materi atau gaya hidup, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun citra diri dan memperoleh pengakuan sosial di ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna flexing di kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang (FIS UNP) sebagai strategi memperoleh pengakuan sosial. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya dalam  menjelaskan fenomena flexing secara lebih komprehensif sebagai tindakan sosial yang berkaitan dengan pengakuan sosial, identitas diri, status sosial, dan eksistensi, bukan semata-mata sebagai perilaku konsumtif sebagaimana banyak dibahas dalam penelitian sebelumnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus dengan melibatkan delapan informan yang dipilih melalui teknik purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen,  kemudian diolah menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berangkat dari perspektif teori Interaksionisme Simbolik oleh George Herbert Mead hasil penelitian menunjukkan bahwa flexing dimaknai mahasiswa sebagai sarana memperoleh pengakuan sosial, membangun identitas diri, menunjukkan status sosial, serta mempertahankan eksistensi di era digital. Media sosial menjadi arena penting bagi mahasiswa untuk menampilkan simbol-simbol sosial yang membentuk citra diri dan memperoleh legitimasi dari lingkungan sekitarnya. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena flexing perlu dipahami sebagai bentuk interaksi sosial yang mengandung makna simbolik dalam proses pembentukan identitas dan relasi sosial mahasiswa di era digital.