Nur Fitriyana
Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

GOD SPOT DAN TATANAN NEW NORMAL DI TENGAH PANDEMI COVID-19 Nur Fitriyana
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 21 No 1 (2020): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v21i1.6147

Abstract

Penyebaran Covid-19 sulit untuk diputus, sebab proses mutasinya begitu cepat dan dapat menimbulkan varian baru. Sehingga sulit untuk membuat vaksin. Banyak orang mengharapkan herd imunity yang diperlukan menuju tatanan new normal. Agama memiliki peran signifikan sebagai penguat bagi manusia dalam menjalani berbagai tantangan kehidupan yang tidak biasa, khususnya di masa pandemi dan menuju tatanan new normal. Jelasnya, muncul beragam sikap dan prilaku masyarakat beragama. Nada pesimis terhadap agama bahkan terhadap Tuhan juga muncul. Jangankan mengatakan wabah sebagai azab Tuhan karena kejahatan sudah merajalela. Bahkan dengan Tuhan pun mereka tidak percaya. Sehingga tulisan ini urgen sebagai bagian dari solusi dalam menghadapi pandemi covid-19 dan menuju new normal. Sebagai manusia yang beragama, sudah seharusnya menghadapi pandemi ini secara holistik, tidak cukup dengan pendekatan parsial dari segi medis, tetapi juga dengan pendekatan agama. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa dalam menuju tatanan new normal perlu mensinergikan kekuatan agama dan sains. Karena agama bertugas menemukan makna dan sains bertugas menemukan fakta. Sehingga bukan hanya menjalankan protokol kesehatan saja tetapi juga perlu mengaktifkan titik God Spot yang mengembalikan manusia kepada kesucian fitrahnya untuk memperkuat mentalitas dan konsep diri dalam menghadapi tatanan new normal. Kepatuhan dan ketaatan kepada Allah, keihklasan, kesabaran dan ketabahan menghadapi pandemi covid-19 bersinergi dengan kesadaran kolektif berbasis keluarga untuk tetap sehat, yaitu mencuci tangan dengan air dan sabun yang mengalir, memakai masker ketika ke luar rumah, menjaga jarak, menjaga pola makan dan berolahraga untuk menjaga imun supaya tetap sehat. Suasana kecemasan, karena ketakutan pada virus corona perlahan mulai hilang seiring dengan doa yang senantiasa dipanjatkan kepada Sang Penguasa Tunggal. Sehingga suasana batin yang tenang ini justru dapat meningkatkan imunitas tubuh. Sejatinya menjalankan protokol kesehatan adalah bagian dari menjalankan ajaran agama.
MAGISTERIUM SEBAGAI OTORITAS TUNGGAL PENGAJAR DAN PENAFSIR KEBENARAN GEREJA KATOLIK Murniat Murniat; Nur Fitriyana; Sofia Hayati
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 22 No 1 (2021): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v22i1.9022

Abstract

Magisterium adalah wewenang mengajar gereja yang terdiri dari para uskup dan paus dalam persekutuannya. Magisterium bertanggung jawab untuk mengajar, menjaga kelestarian iman, menafsirkan dan mewartakan sabda Ilahi. Ajaran Katolik memiliki perbedaan dalam hal otoritas dengan agama-agama lainnya yang menepatkan otoritas tertinggi kepada kitab suci. Namun pada agama Katolik otoritas tertinggi berada di tangan magisterium. Magisterium merupakan wewenang atau kuasa mengajar dan otoritas tertinggi dalam gereja Katolik. Wewenang ini diberikan kepada para uskup di bawah pimpinan paus. Penelitian ilmiah ini secara khusus membahas mengenai: bagaimana tugas magisterium sebagai otoritas tunggal pengajar dan penafsir kebenaran Gereja Katolik. Dari hasil penelitian penulis mengambil kesimpulan bahwa tugas magisterium sebagai pengajar dibagi menjadi dua kategori yaitu magisterium biasa dan magisterium luar biasa. Magisterium biasa yaitu melakukan kerygma/katekese (pengajaran), pastoral (pengembalaan), mengambil keputusan berdasarkan doktrin, episkopal (pengawasan) dan sebagai pengajar melakukan sidang sinode. Magisterium luar biasa yaitu sebagai pengajar melaksanakan konsili ekumenis dan uskup Roma sebagai kepala dari para uskup. Sedangkan sebagai penafsir, tugas magisterium ialah sebagai penafsir yang otentik, penafsir yang definitif dan penafsir yang infalibilitas.
FENOMENA PEMBACAAN KITAB AQIDATUL AWAM DAN RELEVANSINYA TERHADAP NILAI SPIRITUAL SANTRI DI PONDOK PESANTREN SABILUL MUHTADIN DI DESA LANGKAN Dwi Putri; Nur Fitriyana; Ahmad Soleh Sakni
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 22 No 2 (2021): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v22i2.10961

Abstract

Kitab Aqidatul Awam is one of the books of tauhid, which explains the oneness and essence of Allah swt, the angels, the prophets and messengers. In this case, the Aqidatul Awam book is not only studied as a subject but also practiced by reading it every day after the midday call to prayer and before performing the midday prayer by the students of the Sabilul Muhtadin Islamic Boarding School. This is what makes the writer interested in examining the phenomenon of the relationship between the practice of the Aqidatul Awam book and the spiritual values ​​felt by the students when reading the Aqidatul Awam book. The type of research used is field research using qualitative methods. The primary data source in this case is the Aqidatul Awam book and the students of the Sabilul Muhtadin Islamic Boarding School. While secondary sources are various relevant sources such as theses, articles, journals, books, documentation. Data analysis techniques include data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results showed that the phenomenon of the practice of reading the book of Aqidatul Awam was carried out by the students of the Sabilul Muhtadin Islamic Boarding School after the call to prayer for midday. This is done because the time of dzuhur is understood as a good time and afdhal to do good deeds. The relevance of the practice of reading the book of Aqidatul Awam to the spiritual value of students who practice it istiqamah, namely they can feel peace of mind, feel closeness to Allah swt and remind them to always do good.
Tradisi Mitoni Pada Masyarakat Katolik: Studi Kasus Di Desa Harjowinangun Kecamatan Belitang Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Eka Riani; Nurfitriyana Nurfitriyana; Nugroho Nugroho
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 23 No 1 (2022): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v23i1.13021

Abstract

This thesis is titled “MITONI TRADITION IN CATHOLIC COMMUNITY (Case Study in Harjowinangun Village, Belitang District, Ogan Komering Ulu Timur District)”. The background to this is that many Catholic communities still follow the biennial tradition with Genduren, specifically the biennial rite (mitoni). The Catholic community has abandoned the traditional ritual of bathing seven wells with roses, jasmine and ylang-ylang, changing clothes seven times. The form of the problem is as follows: is the Mitoni tradition in the Catholic community of Harjowinangun village?. What is the role of child prodigies in mitoni worship in Harjowinangun village?. The purpose of the study was to better understand mitoni tradition Catholic community of Harjowinangun and the role of child prodigies in the process of mitoni worship in Harjowinangun village. The result of this study is that the implementation of the mitoni tradition Catholic community in Harjowinangun village starts with the preparation, performing the gendurenan and mitoni cults and takes about an hour. Beginning with the opening rite, introduction to the priest, proclamation of repentance, opening prayer, proclamation of the word, Bible reading, homily, prayer, and after the Our Father, concluding with a prayer willing to end. After the mitoni service is over, the mitoni service participants immediately leave the room. Then everyone enters the dining room to taste the dishes that have been prepared by the host. After the meal, the Catholic community returned to their own homes.
PENERJEMAHAN AL-QUR’AN KE DALAM BAHASA PALEMBANG : PENGUATAN BAHASA DAERAH DAN KEARIFAN LOKAL Nur Muhammad Fatih Al-Badri; Nurfitriyana Nurfitriyana
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 23 No 2 (2022): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v23i2.15072

Abstract

The study of Translating the Qur'an into Palembang Language: Strengthening Regional Languages and Local Wisdom has never been studied. The phenomenon of the extinction of regional languages in Indonesia seems to have become a problem that has attracted the attention of many scientists, especially linguists, including the extinction of the Palembang regional language. This is marked by the construction of the smooth Palembang language both in speech and in writing so far many speakers have forgotten it. So it is natural that the absorption of Palembang language into Indonesian is only 28 vocabularies or around 077% and ranks 17th. Meanwhile, the five regional languages that are mostly absorbed by Indonesian are Javanese, Minangkabau, Jakarta Malay, Sundanese and Madurese. Therefore this research is important for elaborating the Translation of the Qur'an into Palembang Language: Strengthening Regional Languages and Local Wisdom. This type of research is literature study with a qualitative descriptive approach. The primary data source is the Al-Qur'an and its translation (Palembang language) and the dynamics of translating the Koran into the regional language of Palembang. Secondary data is sourced from relevant articles, journals and books. Data collection techniques through data collection techniques used heuristics and interpretation, namely collecting various data sources related to the problem being studied. Technical data analysis, namely data reduction, data presentation and conclusions. This research resulted in the finding that the Al-Qur'an and its translation in the Smooth Language of Palembang are a form of strengthening the Palembang language and efforts to preserve local wisdom. Through translating the Koran, the team has attempted to reproduce the almost extinct Pelembang flower. Recommendations to the authorities to appreciate the vocabulary of Merdeka Pelembang in translating the Koran into Indonesian vocabulary absorption.