Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

DOMESTIC VIOLENCE AS A CAUSE OF DIVORCE: A LEGAL ANALYSIS OF THE SIDIKALANG RELIGIOUS COURT CONSIDERING LAW NUMBER 23 OF 2004 Limbong, Abdul Kalam; Abd. Mukhsin
Al-Risalah VOLUME 24 NO 2, NOPEMBER (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-risalah.vi.51737

Abstract

Domestic violence is a prevalent issue within families, often leading to divorce and posing challenges for resolution. This research investigates the factors contributing to divorce due to domestic violence in the Sidikalang Religious Court, in relation to Law Number 23 of 2004 on the Elimination of Domestic Violence. The study aims to explore the causes of domestic violence, its impact on marriages, and efforts to mitigate its occurrence. Employing a descriptive qualitative methodology, data was collected through interviews with key informants and analyzed within the framework of empirical juridical research. The findings reveal that domestic violence is defined by Law No. 23 of 2004 as any act causing physical, sexual, psychological harm, or neglect, including threats or coercion within the household. Key factors contributing to domestic violence include the husband's temperamental behavior, infidelity, arranged marriages, and external influences such as alcohol and gambling. Efforts to minimize domestic violence involve legal reforms, preventive measures, and both legal and non-legal interventions. This research provides an empirical understanding of domestic violence within the context of Indonesian law and highlights the importance of comprehensive strategies for its prevention. The originality of this study lies in its focus on case study legal research at the Sidikalang Religious Court, contributing valuable insights into the intersection of law and social phenomena. The findings underscore the need for a multi-faceted approach to address domestic violence, with implications for legal reform and policy development.
Between Religious Guidance and Shariah Legal Reform: Rethinking Indonesia’s Premarital Guidance for School-Age Adolescents (BRUS) program Nadhrah, Fatiya; Abd. Mukhsin; Hashemi , Shoaleh
DIKTUM: Jurnal Syariah dan Hukum Vol 23 No 2 (2025): DIKTUM: Jurnal Syariah dan Hukum
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/diktum.v23i2.12987

Abstract

Background: Early marriage continues to be a prevalent issue in Indonesia, notwithstanding the Ministry of Religious Affairs' implementation of the Premarital Guidance for School-Age Adolescents (BRUS) program. The deficiency of legal understanding among youngsters, inadequate communication tactics, and feeble institutional coordination hinder the program's efficacy Purpose: to evaluate the implementation of BRUS at KUA Rambutan, analyzing its effects on legal knowledge and the prevention of early marriage, while also identifying policy and structural deficiencies Methods: This study employed an empirical legal research methodology, gathering primary data via interviews with KUA officials and adolescents involved in the BRUS program. Secondary data were acquired from law papers, policy reports, and scholarly literature. The data were examined through the lenses of Legal Communication Dysfunction Theory and Legal Responsiveness Theory to assess the deficiencies in BRUS implementation Results: The findings demonstrate that BRUS has a negligible effect on decreasing underage marriage rates, attributed to inadequate communication between KUA and adolescents, insufficient youth-oriented outreach initiatives, and the lack of legal enforcement measures. Implication: This study enhances legal awareness and policy evaluation research by illustrating the necessity for religious institutions to align their programs with legal and social frameworks for efficacy. It proposes integrating Maslahah evaluations into judicial rulings on marital dispensations, improving multisectoral cooperation, and updating BRUS communication techniques Originality: This research offers a comparative analysis between Indonesia and Algeria, illustrating how an integrated approach that combines religious counseling, legal enforcement, and community engagement can markedly enhance premarital education and mitigate underage marriage
Pemenuhan Nafkah Istri Yang Ditinggal Suami Untuk Menjadi TKI Syahputra Sitorus, Ria Ganda; Abd. Mukhsin
Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development Vol. 6 No. 5 (2024): Ranah Research : Journal Of Multidisciplinary Research and Development (Juli 20
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/rrj.v6i5.1063

Abstract

Marriage is about mutually obtaining rights and obligations and aims to establish a social relationship based on mutual help because marriage includes the implementation of religion, so it contains this. The goal/intent is to hope for the pleasure of Allah SWT, but sometimes in the household the economic situation becomes an obstacle in itself so that the husband decides to go as a migrant worker and leave his wife. The aim of this research is to find out what the law is regarding fulfilling the livelihood of a wife whose husband left her to become a migrant worker in the sense of fulfilling non-material (mental) livelihood which cannot be distributed. This research method uses a qualitative research method with a descriptive approach. The results in this study show that a TKI who leaving his wife with the obligation to provide non-material support. This can be circumvented by TKI who work abroad by taking leave rights in accordance with article 73 paragraph (1) of Law no. 39 of 2004 concerning Placement and Protection of Indonesian Workers Abroad. In addition, from the results of the interview as a whole, it can be concluded that they have worked as husband and wife to meet their inner needs, namely by being open to each other about the needs of intimate relationships, as well as understanding and accepting each other the situations that occur as part of the journey of life through intense communication, either through telephone, video call, or text
PANDANGAN ULAMA KOTA MEDAN TERHADAP HUKUM PELAKSANAAN LEMPAR BUKET BUNGA PADA WALIMATUL ‘URS DI KOTA MEDAN Syalwa Deswita; Abd. Mukhsin
JAS : Jurnal Ahwal Syakhshiyyah Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS)
Publisher : Fakultas Agama Islam UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jas.v7i1.23737

Abstract

Kehadiran ulama ditengah-tengah masyarakat muslim memiliki peranan sangat penting. Ulama adalah sosok yang mengetahui dan memahami ilmu pengetahuan yang luas tentang agama Islam, serta pendapatnya dapat dipercaya dan diyakini oleh masyarakat muslim. Sudut pandangnya dibutuhkan untuk menjawab permasalahan umat, apalagi yang bersinggungan dengan syari’at. Seperti, tradisi dalam pernikahan yang berkembang saat ini adalah tradisi lempar buket. Penelitian ini membahas pandangan ulama kota Medan terhadap pelaksanaan lempar buket pada walimatul ‘urs di kota Medan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hukum boleh atau tidak pelaksanaan lempar buket pada walimatul ‘urs. Penelitian ini menggunakan penelitian empiris, yaitu penelitian lapangan. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara yang mendalam sebagai penyempurna utama, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan dua pandangan hukum, yaitu hukum diperbolehkan dan ditinggalkan/ditiadakan. Dari kedua pandangan hukum tersebut, penelitian ini condong kepada hukum ditinggalkan/ditiadakan. Meskipun pelaksanaan lempar buket pada walimatul ‘urs hanya sebagai suatu hiburan, tetapi secara tegas bahwa antara haq dan bathil tidak bisa dicampuradukan. Hal ini agar tidak menjadi kebiasaan yang dilakukan terus-menerus. Pandangan ini didasarkan bahwa pelaksanaan lempar buket dikhawatirkan mengarah pada perbuatan tasyabbuh, khurafat, mubazir, serta dapat mendatangkan mudarat
Reformasi Kebijakan Pidana dalam Penanggulangan Perdagangan Organ Manusia: Kajian Komparatif Hukum Positif dan Hukum Pidana Islam Harahap, Yuli Astri Khorvica; Abd. Mukhsin
Nomos : Jurnal Penelitian Ilmu Hukum Vol. 5 No. 4 (2025): Volume 5 Nomor 4 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/nomos.v5i4.3575

Abstract

Perdagangan organ manusia merupakan bentuk kejahatan transnasional yang tidak hanya melanggar hak asasi manusia, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa, khususnya kelompok rentan secara ekonomi. Namun, hingga kini belum terdapat pengaturan yang spesifik dan komprehensif dalam sistem hukum pidana nasional mengenai delik ini, sehingga diperlukan pembaruan hukum yang adaptif dan berkeadilan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan hukum pidana Indonesia dalam penanggulangan tindak pidana perdagangan organ manusia dan menelaah kontribusi hukum pidana Islam dalam mendukung reformasi hukum tersebut. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, melalui analisis peraturan positif dan prinsip hukum Islam berdasarkan maqashid syariah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun KUHP baru (UU No. 1 Tahun 2023) mulai memuat pengaturan terkait, regulasi tersebut masih bersifat umum dan belum menjadikan perdagangan organ sebagai delik tersendiri. Sebaliknya, hukum pidana Islam secara tegas menempatkan perlindungan jiwa sebagai tujuan utama hukum. Temuan ini menunjukkan perlunya integrasi nilai-nilai hukum Islam dengan sistem hukum nasional sebagai terobosan normatif yang lebih humanistik dan responsif terhadap kejahatan perdagangan organ.
Marriage Postponement in the Mandailing Community: A Maqasid al-Shari'ah-Based Socio-Legal Analysis of Bujing-Bujing Tobang and Poso-Poso Tobang in Sibual-Buali Village Sunnah warisah Hasibuan; Abd. Mukhsin
Al-Adalah: Jurnal Hukum dan Politik Islam Volume 10 No.2 2025
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah dan Hukum Islam IAIN Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/ajmpi.v10i2.10259

Abstract

This study examines the phenomenon of marriage postponement among bujing-bujing tobang (unmarried adult women) and poso-poso tobang (unmarried adult men) in Sibual-Buali Village, Padang Lawas, through the lens of maq??id al-shar??ah. Employing a qualitative design with an empirical-juridical approach, data were collected through semi-structured interviews with 12 informants across three age groups (25–27, 27–30, and 30+), alongside local customary leaders and religious scholars, complemented by library research on the Qur’an, Hadith, the Compilation of Islamic Law, and classical fiqh literature. Findings indicate that the dominant factors contributing to delayed marriage include economic instability, caregiving responsibilities, prior emotional experiences, and aspirations for education and career development. Analysis through the maq??id al-shar??ah framework reveals that these reasons align with the preservation of religion (?if? al-d?n), life (?if? al-nafs), intellect (?if? al-?aql), lineage (?if? al-nasl), and wealth (?if? al-m?l). Thus, marriage postponement is understood not merely as an individual preference but as a strategy to balance personal, familial, and spiritual obligations. The study recommends strengthening premarital education grounded in maq??id, refining marriage dispensation mechanisms, and applying the maq??id cum-mub?dalah approach. These findings provide actionable insights for policymakers, religious leaders, and scholars to integrate Islamic legal principles with contemporary social realities.
ANALISIS NORMA HUKUM TERHADAP POLEMIK PENGANGKATAN KEPALA LINGKUNGAN DALAM PERSPEKTIF SIYASAH DUSTURIYAH (Studi Kasus di Lingkungan IX Kelurahan Sidorame Timur, Medan Perjuangan) Emi Mulyani; Abd. Mukhsin
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 4 No. 1 (2025): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v4i1.922

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis norma hukum yang mengatur pengangkatan Kepala Lingkungan (Kepling) dalam perspektif Siyasah Dusturiyah, dengan studi kasus di Lingkungan IX, Kelurahan Sidorame Timur, Medan Perjuangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif-empiris, yakni menelaah Peraturan Wali Kota Medan No. 21 Tahun 2021 secara normatif, serta mengkaji praktik lapangan melalui wawancara dengan warga, Kepling terpilih dan kandidat yang mencalonkan menjadi Kepling. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan serius antara regulasi dan implementasi. Mekanisme pengumpulan dukungan minimal 30% Kepala Kelurga sebagaimana diatur dalam Pasal 7 Perwal tidak disertai dengan prosedur verifikasi yang jelas, sehingga melemahkan legitimasi hasil pengangkatan. Kondisi ini juga mengkibatkan krisis legitimasi, di mana Kepling yang dilantik tidak sepenuhnya memperoleh penerimaan sosial. Dari perspektif Siyasah Dusturiyah, hal ini bertentangan dengan prinsip syura (musyawarah), keadilan, dan ridha al-ummah ( persetujuan masyarakat). Penelitian ini merekomendasikan pembenahan berupa mekanisme verifikasi yang transparan, pembentukan panitia independen, serta kemungkinan penerapan pemilihan langsung agar pengangkatan Kepling berlangsung adil, demokratis, dan akuntabel