Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Representasi Masyarakat Malang dalam Karakter Abdi Topeng Malangan Afriansyah, Teddy; Rizal, Maulfi Syaiful; Harfian, Lalita Sasa; Salsabila, Azizah Hana
Jurnal Sastra Indonesia Vol 12 No 3 (2023): November
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jsi.v12i3.57137

Abstract

Indonesia adalah negara dengan ragam kebudayaan dan suku bangsa. Di balik ragamnya kebudayaan yang dimiliki Indonesia, tidak luput juga terdapat permasalahan yang dijumpai. Salah satunya terjadi pada topeng Malangan, salah satu masalahnya yaitu kurangnya pelestarian akibat kesalahpahaman dalam memaknai topeng Malangan yang dijadikan hanya sebatas sebuah seni yang dipajang saja. Dari permasalahan tersebut, ditarik tujuan diadakannya penelitian ini yaitu, 1) Mendeskripsikan tahapan-tahapan tari topeng Malangan, 2) Mendeskripsikan makna karakter abdi dalam tari topeng Malangan, dan 3) Mendeskripsikan representasi karakter arek Malang dalam karakter abdi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi, studi pustaka, dan studi dokumentasi. Hasil dari penelitian ini yaitu, 1) Tahapan-tahapan dalam tari topeng Malangan, yaitu belajar bentuknya, cara memakai topeng, dan melakukan puasa. Kemudian dilanjut dengan gending giro, lalu tahapan tari pembuka yakni beskalan patih, 2) Terdapat karakter abdi yaitu, Raden Patra Jaya, Demang Mones, Demang Mundu, Demang Tirto Yuda, Bambang Painem, Emban Dawulo, Emban Ono Ini, Jarodeh, dan Prasonto, 3) Keterkaitan antara karakter abdi yang setia dengan masyarakat Malang tergambarkan seperti masyarakat mendukung adanya kebijakan pemerintah Kota Malang dengan salah satunya, yaitu pembatasan sosial karena meningkatnya kasus covid-19. Topeng Malangan menjadi salah satu kebudayaan yang sampai kini masih dilestarikan tidak hanya berunsur tarian saja, namun juga karakter dalam topeng Malangan menjadi icon. Salah satu karakter yang disebut yaitu abdi memiliki sifat setia terhadap atasannya yang merepresentasikan karakter arek Malang dan sekitarnya yang selalu mendukung kebijakan pemerintah Malang dalam hal apapun, salah satunya terkait kasus pandemi.
Temu Manten as Power Relation and Cultural Negotiation of Wedding Organizer: Surabaya Public Perspective Afriansyah, Teddy; Riyanto, Edi Dwi; Afdholy, Nadya
Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora Vol 16, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j-psh.v16i1.88624

Abstract

Wedding organizer who has been arranged in the role of organizing a meet and greet event are very important. It showed up from a cultural power and cultural negotiations that are owned between wedding organizer and the couple's family. So, the objectives of this research are 1) Explaining the form of power that can be exercised by the wedding organizer in the success of temu manten event and 2) Explaining the form of negotiation with cultural context that can be done by the Surabaya public to the wedding organizer. The method used in this research is descriptive qualitative. The results of the study found that 1) there is a form of power relations of the wedding organizer for temu manten event; a) Holding events/exhibitions for promotional events, b) Coordinating between the wedding organizer and the couple's family in depth, c) Preparing human resources from the wedding organizer by forming a committee, d) The wedding organizer must have flexibility and be able to adapt to the couple's family, and e) As an intercultural link from families with different cultural backgrounds. In addition, 2) there is a form of cultural context negotiation by the wedding organizer for temu manten event; a) Negotiating with a specific cultural approach, b) Conducting communication in rotation, c) Conducting negotiations based on consensus, and d) Giving appreciation to experts/professionals from the wedding organizer. So, the presence of forms of power and negotiations that arise, temu manten event is able to run as expected.
VARIASI BAHASA DALAM TUTURAN JAWAKARTA OLEH CONTENT CREATOR ANDAZA: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Afriansyah, Teddy; Ardhian, Dany
Bahtera Indonesia Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/bi.v9i1.606

Abstract

Konsep tuturan Jawakarta merupakan inovasi baru dalam sebuah penelitian kebahasaan, yang tentunya menjadi sebuah peluang untuk mengembangkan variasi bahasa Jawakarta. Maka dari itu, tujuan dalam penelitian ini yaitu, 1) Mendeskripsikan variasi bahasa dalam tuturan Jawakarta oleh content creator Andaza dan 2) Mendeskripsikan makna dari variasi bahasa dalam tuturan Jawakarta oleh content creator Andaza. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, teknik simak, dan teknik catat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sosiolinguistik. Sumber data berasal dari akun TikTok Andaza, seorang yang tinggal di Jakarta dengan keunikan bisa berbicara bahasa Jawa dan dicampurkan dengan dialek Jakarta. Hasil dari penelitian ini ditemukan 8 data dialek Jawa standar dicampur dialek Jakarta, 3 data dialek Jawa Malang dicampur dialek Jakarta, 3 data dialek Jawa standar dicampur dialek Jaksel, dan 1 data dialek Jawa Madura dicampur dialek Jakarta. Makna tuturan Jawakarta ditemukan dengan data paling banyak yaitu makna informatif karena tuturan yang disampaikan hanya sekedar untuk hiburan dan memberikan informasi tentang sesuatu hal yang terlintas sembari belajar variasi bahasa yang menarik untuk dipelajari lebih mendalam. Variasi bahasa memang memiliki ragam dialek tertentu dan menjadikan suatu fenomena tersebut diimplementasikan kepada media sosial yang semakin maju.
Metaphor of Transformation: Symbolic Representation of Tragedy in Loro Jonggrang Folklore and Pyramus-Thisbe Afriansyah, Teddy; Kurniawan, Abimardha; Afdholy, Nadya
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Vol 11, No 2 (2025): CaLLs, December 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i2.20953

Abstract

As in the Greek story of Pyramus-Thisbe and the Javanese folklore of Loro Jonggrang which symbolize a physical transformation as the concept of love tragedy. By using comparative literature studies, this research aims to 1) Analyze and describe the symbol of physical transformation in the stories Loro Jonggrang and Pyramus-Thisbe representing the concept of tragedy and 2) Analyzing and describing the cultural values underlying the symbols of tragedy that appear in Loro Jonggrang and Pyramus-Thisbe. The method used in this research is qualitative with a text analysis approach and refers to Clifford Geertz's symbolic anthropology theory. The results of the study found that, 1) There are several elements analyzed using several aspects of form comparison consisting of aspects of literary genre, narrative structure, language style, poetic form, theme & motif, and adaptation and intertextuality in the stories Loro Jonggrang and Pyramus-Thisbe. Then, 2) there is a cultural meaning behind the physical transformation of the two stories. In the Greek story Pyramus-Thisbe represent the concept of tragedy symbolized by the fruit of the mulberry tree. Meanwhile, the folk tales of Loro Jonggrang represent the concept of tragedy symbolized by the statue of Prambanan Temple.