Articles
Perilaku Konsumsi Masyarakat Urban Pada Produk Kopi Ala Starbucks
Afdholy, Nadya
JURNAL SATWIKA Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Cultural Institute University of Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (359.191 KB)
|
DOI: 10.22219/js.v3i1.8681
Kopi Starbucks merupakan produk kopi yang menandakan nilai prestise yang tinggi bagi para penikmatnya karena harganya yang tergolong mahal. Bagi konsumen yang berpendapatan tinggi, tentu bukan hal yang sulit untuk mengonsumsi kopi Starbucks, namun bagi yang berpendapatan rendah mungkin akan berpikir ulang untuk mengonsumsi produk tersebut. Munculnya brand kopi ala Starbucks menunjukkan bahwa saat ini banyak animo masyarakat yang menginginkan kopi tetapi mereka juga melihat keadaan ekonomi mereka yang seutuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pembentukan identitas yang dimunculkan oleh para konsumen pada produk imitasi ala Starbucks dengan memanfaatkan teori simulakrum dari Jean Baudrillard. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan di Kafe Starmug’s, Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya. Sumber data penelitian yaitu hasil wawancara dengan berbagai informan yang merupakan beberapa orang pekerja dan juga mahasiswa di Surabaya yang disebut masyarakat urban. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan interpretasi. Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan dan memaknai data yang telah diperoleh. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa praktik konsumsi kopi ala Starbucks merupakan bentukan konsumerisme postmodern, yakni pola konsumsi yang tidak sesuai dengan arti harfiah dari konsumsi, namun lebih mengarah pada konsumsi simbol-simbol. Kata kunci: imitasi, konsumsi, kopi, posmodernisme, Starbucks.
MENIMBANG SPIRITUALITAS DAN SEKSUALITAS: SIMBOLIK EFISIENSI DALAM PRAKTIK PESUGIHAN KEMBANG SORE DI TULUNGAGUNG
Afdholy, Nadya;
Murti, Ghanesya Hari
JURNAL SATWIKA Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Cultural Institute University of Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (491.658 KB)
|
DOI: 10.22219/SATWIKA.Vol4.No1.34-42
Penelitian ini mengkaji fenomena yang terdapat dalam teks cerita rakyat berjudul Pesugihan Kembang Sore di Tulungagung. Cerita rakyat tersebut hidup sebagai model kepercayaan yang menjadi kode sosial atau parameter moralitas masyarakat Tulungagung. Masyarakat bereaksi pada wacana simbolik tentang kekayaan dan status sosial tertentu melalui apa yang ditawarkan dari wacana lisan yang berkembang di kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan simbolik efisiensi yang terjadi pada mitos pesugihan Kembang Sore. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian berupa cerita rakyat berjudul Pesugihan Kembang Sore di Tulungagung yang berasal dari buku Folklor Lisan sebagai Media Pendidikan Karakter Mahasiswa: Kajian Sosiologi Sastra yang ditulis oleh Supratno dan Darni. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Teknik analisis data berupa pencatatan dan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pesugihan Kembang Sore merupakan simbolik efisiensi karena para pelaku pesugihan melakukan ritual berdasarkan pengalaman yang simbolik demi legitimasi dan verifikasi diri dalam konteks sosial. Pemuja ritus Kembang Sore berkutat pada hal-hal yang menjebak mereka pada wacana simbolik.
WACANA POSKOLONIAL DALAM IKLAN ENFAGROW A+ DI INDONESIA
Afdholy, Nadya;
Andalas, Eggy Fajar;
Thalib, Amirah Anis;
Kamalia, Mirza Fathima Jauhar
Jurnal Bindo Sastra Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Bindo Sastra
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32502/jbs.v4i1.2103
Wacana periklanan tidak hanya dipahami sebagai wacana netral, tetapi wacana periklanan juga memiliki agenda politik di baliknya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana wacana poskolonial yang digambarkan dalam iklan Enfagrow A+ di Indonesia. Penelitian ini memanfaatkan perspektif orientalisme yang digagas oleh Edward Said. Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis model Sara Mills dengan didukung video iklan, buku, dan artikel ilmiah yang relevan dengan penelitian sebagai sumber data. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara mengunduh video iklan untuk dianalisis, menuliskan narasi iklan sebagai data pendukung, mencari informasi produk melalui web resmi, membaca buku tentang teori dan metode yang relevan dengan penelitian. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah mengamati iklan yang berupa narasi dan tindakan model dalam iklan, menangkap video, dan menganalisis iklan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam pembentukan wacana iklan Enfagrow A+ di Indonesia dan di Barat. Proses visualisasi iklan Enfagrow A+ di negara Indonesia vs Barat menggambarkan keadaan Indonesia yang dimarjinalkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa Timur adalah konsumen ilmu pengetahuan Barat.
Dekonstruksi Makna Jihad dalam Novel Laskar Mawar Karya Barbara Victor
Nadya Afdholy
Lingua Franca:Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 3 No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (921.753 KB)
|
DOI: 10.30651/lf.v3i1.2586
Penelitian ini berfokus pada analisis novel yang berjudul Laskar Mawar karya Barbara Victor dengan memanfaatkan teori dekonstruksi dari Jacques Derrida. Penelitian ini bertujuan mendekonstruksi makna jihad dalam novel Laskar Mawar karya Barbara Victor. Anjuran untuk mencintai tanah air, membela, dan menegakkan agama mendorong masyarakat Palestina untuk berjihad, namun jihad yang dimaksud bermakna sempit, yaitu dengan melakukan bom bunuh diri. Pembongkaran makna jihad yang dimunculkan dalam novel terlihat melalui para jihadis yang terlibat dalam tindakan bom bunuh diri di Palestina. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data yang digunakan adalah novel Laskar Mawar karya Barbara Victor. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan pencatatan dan menggunakan teknik analisis data dengan pembacaan secara menyeluruh. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pembongkaran terhadap makna jihad sehingga melahirkan makna jihad yang baru, yaitu jihad bom bunuh diri. Pemaknaan baru mengenai jihad tersebut jika ditinjau dari sisi humanisme berpotensi menyesatkan karena bertentangan dengan nilai dasar kemanusiaan dan nilai universal agama.
MENGHALAU DOMESTIFIKASI DAN FEODALISME: DAYA SUBJEKTIVITAS NH. DINI DALAM NOVEL JALAN BANDUNGAN
Nadya Afdholy;
Tengsoe Tjahjono
Puitika Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/puitika.16.1.29--47.2020
The journey of Nh. Dini in fighting symbolicism can be examined through the relationship between Nh. Dini as a writer and her work sentitled Jalan Bandungan. Actions again symbolicism are categorized as effort stoliberate the subject to achieve the autonom ous. This study aim storeveal the subjectivity of Nh. Dini as the author of the novel Jalan Bandungan by utilizing the concep to subjectivity that was conceived by SlavojŽižek. This research uses a qualitative method and Todorov's point of view analysis approach. The object o fthis research is the novel by Nh. Dini entitled Jalan Bandungan. This study uses data collection techniques with comprehensive reading anduses data analysis techniques by recording. The results of this study indicate that the subjectivity of Nh. Dini in writing the novel Jalan Bandungan is a radical actagainst the symbolic prisons of domestification and feudalism. The entireprocess of writing the novel Jalan Bandungan shows radicalactions Nh. Dini. The action gave rise to symbolic changes that surrounded Nh. Dini and simultane ously attract subjectivity Nh. Dini to return to the symbolic. Keywords: Jalan Bandungan, Nh. Dini, subjectivity, symbolic, Žižekian.
NEGOSIASI HETERONORMATIVITAS PADA PERFORMATIVITAS TRANSGENDER DALAM FILM LOVELY MAN
Nadya Afdholy
PARAFRASE : Jurnal Kajian Kebahasaan & Kesastraan Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (248.274 KB)
|
DOI: 10.30996/parafrase.v19i1.2368
This study aims to reveal heteronormativity in the Lovely Man movie by director Teddy Soeriaatmadja by using narrative structure theory from Tzvetan Todorov and the concept initiated by Judith Butler. Heteronormative values that appear in the film directed by Teddy Soeriaatmadja are seen through dialogue between characters in each scene that are divided into three; (1) equilibrium/plenitude, (2) disruption, disequilibrium/disrupting force, and (3) opposing force. This research uses qualitative method by using approach of narrative analysis of model Tzvetan Todorov. The data used for this research is the film of Lovely Man by director Teddy Soeriaatmadja itself. This study uses data collection techniques with observation and literature study, as well as using data collection techniques with data reduction, interpretation, and conclusions. The results of this study indicate that there is a concept of heteronormative values reflected through heterosexuals who are considered to damage the stability of transvestite life, so that heterosexuals are considered as 'the other' heteronormative. Keywords: Film, Lovely Man, Heteronormativity, Other.
LESBIAN MARGINALIZATION CONSTRUCTION IN SURABAYA PAGI DAILY NEWSPAPER
Nadya Afdholy;
Eggy Fajar Andalas;
Dody Irawan;
Arif Fatchur Rochmaniyah
Anaphora : Journal of Language, Literary, and Cultural Studies Vol 2 No 2 (2019): DECEMBER
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Prodi sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (963.038 KB)
|
DOI: 10.30996/anaphora.v2i2.3370
Power not only operates through formal channels, law, and state institutions but also operates through a series of discourse to define something or a group as incorrect or bad. This study aims to describe the process of paralleling the construction of the Surabaya Pagi newspaper by using a critical analysis of Theo Van Leeuwen's model. This study uses a descriptive qualitative method to see the formation of an opinion on a newspaper text entitled "Narkoba Jaringan Lesbian: Dua Cewek Lesbian Bratang Gede di Pasok Bandar Dinoyo". The data in this study are news excerpts related to exclusion and inclusion. The data source in this study is the Surabaya Pagi newspaper. Data collection techniques in this research are by reading, understanding, and marking relevant quotations in the newspaper text. Data analysis techniques in this research are by identifying, classifying, analyzing, interpreting, and concluding. The results of this study indicate that lesbians are an easy target to build a bad image in the eyes of the public by forming a discourse that excludes the role of drug dealers (who are actually perpetrators of crime) and explores the role of users (lesbians) with a portion of the coverage that further builds the community's image of the group lesbians as a group that is truly wrong and a source of social problems increasingly corner the group's position in society.
DISMANTLING THE MEANING OF LOVE: A DECONSTRUCTION IN THE NOVEL CINTA TERAKHIR BY VINCENTIUS J. BOEKAN
Vincentius Mauk;
Nadya Afdholy
Anaphora : Journal of Language, Literary, and Cultural Studies Vol 3 No 1 (2020): JULY
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Prodi sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/anaphora.v3i1.3611
This study aims to deconstruct the meaning of love in the novel Cinta Terakhir by Vincentius J. Boekan. The novel Cinta Terakhir by Vincentius J. Boekan tells the romance of two human beings, Armando and Rosalia whose meaning is different from love in general. The method used in this research is descriptive qualitative. The results showed that (1) the main character of Armando was a betrayer of love who appeared when Indonesian political conditions were influenced by international politics, then Armando's characters betrayed their love by choosing the NKRI ideology as a fixed price, (2) the nature of patriotism was so inherent in the character's characteristics Armando is very strong towards the ideology of the Republic of Indonesia so Armando prefers to flee with hundreds of thousands of East Timorese people to the West Timor of the Republic of Indonesia and leaves his beloved wife and only daughter in Timor Leste, but Catholic marriage remains husband and wife until death separates.
Perilaku Konsumsi Masyarakat Urban Pada Produk Kopi Ala Starbucks
Nadya Afdholy
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v3i1.8681
Kopi Starbucks merupakan produk kopi yang menandakan nilai prestise yang tinggi bagi para penikmatnya karena harganya yang tergolong mahal. Bagi konsumen yang berpendapatan tinggi, tentu bukan hal yang sulit untuk mengonsumsi kopi Starbucks, namun bagi yang berpendapatan rendah mungkin akan berpikir ulang untuk mengonsumsi produk tersebut. Munculnya brand kopi ala Starbucks menunjukkan bahwa saat ini banyak animo masyarakat yang menginginkan kopi tetapi mereka juga melihat keadaan ekonomi mereka yang seutuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pembentukan identitas yang dimunculkan oleh para konsumen pada produk imitasi ala Starbucks dengan memanfaatkan teori simulakrum dari Jean Baudrillard. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan di Kafe Starmug’s, Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya. Sumber data penelitian yaitu hasil wawancara dengan berbagai informan yang merupakan beberapa orang pekerja dan juga mahasiswa di Surabaya yang disebut masyarakat urban. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan interpretasi. Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan dan memaknai data yang telah diperoleh. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa praktik konsumsi kopi ala Starbucks merupakan bentukan konsumerisme postmodern, yakni pola konsumsi yang tidak sesuai dengan arti harfiah dari konsumsi, namun lebih mengarah pada konsumsi simbol-simbol. Kata kunci: imitasi, konsumsi, kopi, posmodernisme, Starbucks.
Menimbang Spiritualitas dan Seksualitas: Simbolik Efisiensi dalam Praktik Pesugihan Kembang Sore di Tulungagung
Nadya Afdholy;
Ghanesya Hari Murti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/satwika.v4i1.11623
Penelitian ini mengkaji fenomena yang terdapat dalam teks cerita rakyat berjudul Pesugihan Kembang Sore di Tulungagung. Cerita rakyat tersebut hidup sebagai model kepercayaan yang menjadi kode sosial atau parameter moralitas masyarakat Tulungagung. Masyarakat bereaksi pada wacana simbolik tentang kekayaan dan status sosial tertentu melalui apa yang ditawarkan dari wacana lisan yang berkembang di kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan simbolik efisiensi yang terjadi pada mitos pesugihan Kembang Sore. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian berupa cerita rakyat berjudul Pesugihan Kembang Sore di Tulungagung yang berasal dari buku Folklor Lisan sebagai Media Pendidikan Karakter Mahasiswa: Kajian Sosiologi Sastra yang ditulis oleh Supratno dan Darni. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Teknik analisis data berupa pencatatan dan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pesugihan Kembang Sore merupakan simbolik efisiensi karena para pelaku pesugihan melakukan ritual berdasarkan pengalaman yang simbolik demi legitimasi dan verifikasi diri dalam konteks sosial. Pemuja ritus Kembang Sore berkutat pada hal-hal yang menjebak mereka pada wacana simbolik.