Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Journal of Innovation Research and Knowledge

PERILAKU KONSUMSI MAKANAN BERGIZI DAN TABLET TAMBAH DARAH SEBAGAI PENCEGAHAN STUNTING PADA SISWI SMAN 1 MOYO UTARA Yuliastuti, Luh Putu Sri; Ana Lestari; Fitri Setianingsih; Galuh Permatasari
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 3: Agustus 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa remaja adalah periode krusial yang penuh dengan perubahan signifikan, baik secara biologis, kognitif, maupun emosional. Beberapa masalah kesehatan reproduksi yang umum dihadapi remaja antara lain kehamilan di luar nikah yang secara langsung berkontribusi pada peningkatan kasus kehamilan di usia remaja serta anemia zat besi remaja putri. Kehamilan pada usia remaja dan keadaan anemia akan berdampak buruk pada status gizi janin dan bayi, sehingga lebih berisiko mempunyai anak stunting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku konsumsi makanan bergizi dan tablet tambah darah sebagai pencegahan stunting pada siswi SMAN 1 Moyo Utara. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional. Sampelnya adalah 38 siswi SMAN 1 Moyo Utara yang dipilih secara accidental sampling. Data dianalisis dengan menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian sebagian besar responden selalu minum air putih 8 gelas sehari (36,8%), kemudian sering makan teratur 3 kali sehari (34,2%), makan dengan gizi seimbang (52,6%), makan buah (55,3%) dan makan sayur (55,3%) serta tidak pernah membatasi makanan/diet (47,4%), namun kadang-kadang makan protein (47,4%), sarapan pagi (39,5%), minum tablet tambah darah setiap menstruasi (73,7%). Sehingga dapat disimpulkan responden sudah cukup konsisten dalam hal perilaku konsumsi makanan bergizi, namun belum konsisten dalam mengonsumsi tablet tambah darah.
PENURUNAN GEJALA POST PARTUM BLUES MELALUI PEMBERIAN EDUKASI ADAPTASI PSIKOLOGI POST PARTUM PADA IBU NIFAS DI PMB ANNI SATRIANI Setianingsih, Fitri; Galuh Permatasari; Has’ad Rahman Attamimi
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 4 No. 3: Agustus 2024
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jirk.v4i3.8274

Abstract

Latar belakang: Adaptasi psikologis pada ibu postpartum dimulai ketika ibu tersebut memasuki masa setelah melahirkan seperti ibu mulai merawat dan mengurus bayinya, hal ini merupakan peran dan tanggung jawab baru bagi setiap wanita setelah melahirkan (Sylven et al., 2017). Peran baru dan tanggung jawab tersebut lah yang sering membuat ibu merasa tidak percaya diri dan mengalami stress. Yang didasari dengan perasaan ibu yang sedih dan putus asa karena belum mampu untuk merawat bayi dengan baik. Hal tersebut dikenal dengan baby blues atau postpartum blues. Biasanya kondisi tersebut muncul pada minggu pertama sampai kedua setelah ibu melahirkan. Post partum blues adalah gangguan efek ringan yang terjadi setelah melahirkan, pada hari ke 3-5 itu memasuki masa puncaknya dan berlangsung sampai 14 hari (Dahro, 2012 dalam jurnal Darusman dan Sari, 2019). Baby blues mempunyai gangguan efek ringan yang dapat terjadi pada hari pertama setelah pasca salin, hari ke 3-5 cenderung akan memburuk dan berlangsung dalam kurung waktu 14 hari atau 2 minggu pasca salin (Wulansari, et al., 2017)..Tujuan penelitian ini adalah Untuk melihat penurunan Gajala postpartum blues pada ibu nifas setalh diberikannya KIE Adaptasi Psikologi PostPartum .Metode: Desain yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan studi kasus. Sampel pada studi kasus ini adalah ibu postpartum 1 orang. Instrumen dalam penelitian ini menggunkan koesioner Edinburgh postnatal depression scale (EPDS).Hasil Penelitian: Hasil penelitian didapatkan terdapat penurunan gejala postpartum blues pada ibu postpartum. hal ini dapat dilihat dari dari penilaian Edinburgh Postnatal Depression Scala sebelum dan sesudah pemberian edukasi adaptasi psikologi post partum didapatkan nilai EPDS sebelum pemberian edukasi adaptasi psikologi post partum pada kunjungan ke-1 adalah 11 setelah pemberian edukasi adaptasi psikologi post partum nilai EPDS berubah menjadi 10, pada kunjungan ke-2 nilai EPDS meningkat menjadi 12, pada kunjungan ke-3 nilai EPDS menurun menjadi 10, pada kunjungan ke-4 nilai sd kunjungan ke-6 memiliki nilai yang sama yaitu 7 yang berarti klien dikategorikan tidak mengalami baby blues.Simpulan dan saran: terdapat penurunan gejala postpartum blues pada ibu postpartum. Diharapkan bidan/tenaga kesehatan dapat mengenali dan mendeteksi secara dini post partum bluesmampu.