Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengaruh Metode Guided Discovery Learning Dalam Tarian Kalimantan Tengah Terhadap Kemampuan Saintifik Anak Kelompok B Tk Santo Yosef Palangka Raya: Septy Theresia Lelony, Rayne Praticia, Rusmaladewi Rusmaladewi septy, septy; Rayne Praticia; Rusmaladewi
Jurnal Pendidikan dan Psikologi: Pintar Harati Vol. 20 No. 1 (2024): Jurnal Pintar Harati Volume. 20, Nomor. 1, Juni 2024
Publisher : Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/jph.v20i1.15039

Abstract

Guided discovery learning adalah model pembelajaran, dimana guru membimbing siswa melalui kegiatan-kegiatan open ended untuk mendorong siswa menemukan suatu konsep. Tari tradisional merupakan suatu tarian yang berkembang di suatu daerah tertentu yang berpedoman luas dan berpijak pada adaptasi kebiasaan secara turun temurun yang dipeluk/dianut oleh masyarakat, salah satunya tarian tradisional Kalimantan Tengah yang sampai sekarang masih dilestarikan oleh masyarakat suku Dayak. Kemampuan saintifik adalah suatu proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa secara aktif mengonstruk konsep, hukum, atau prinsip melalui pendekatan ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode guided discovery learning dalam tarian Kalimantan Tengah terhadap kemampuan saintifik anak kelompok B TK Santo Yosef Palangka Raya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif menggunakan metode eksperimen dengan desain penelitian ‘One Group Pre-Test And Post-Test Design’. Dengan populasi anak kelompok B di TK Santo Yosef Palangka Raya yang berjumlah 20 orang anak yang ditetapkan sebagai sampel dalam penelitian ini. Lembar observasi digunakan sebagai instrumen untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Kemudian data dianalisis dengan menggunakan rumus uji t. Ketentuan bila thitung lebih kecil (<) dari ttabel maka Ho diterima Ha ditolak, tetapi sebaliknya bila thitung lebih besar (>) dari ttabel maka Ho ditolak Ha diterima. Hasil penelitian menunjukkan bahwa thitung adalah (2,737), dan ttabel dengan taraf signifikan yaitu 5% adalah (2,0930), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode guided discovery learning dapat meningkatkan kemampuan saintifik anak kelompok B di TK Santo Yosef Palangka Raya.
EDUKASI PEMBENTUKAN MENTAL ANAK USIA DINI MELALUI PROGRAM TRANSISI PAUD KE SD MENGUNAKAN PENDEKATAN BUDAYA DAERAH Rusmaladewi; Kamala, Intan; Praticia, Rayne; Sundari, Ana; Rifani, Anjela
Jurnal Pengabdian Kampus Vol 11 No 2 (2024): Jurnal Pengabdian Kampus
Publisher : LPPM Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52850/jpmupr.v11i2.16591

Abstract

Bonus Demografi Indonesia yang dimaksud adalah masa dimana usia produktif (15-64 tahun) akan lebih besar dibandingkan dengan usia non produktif ( 65 tahun keatas ) dengan proporsi lebih dari 60% dari total jumlah penduduk Indonesia. Momentum tersebut tentu saja di hadapi dengan perencanaan yang matang. Maka dari itu pemerintah mempersiapkan generasi bangsa dari mulai sejak dini Di banyak analisis, para ahli menyatakan bahwa Gen Z memiliki sifat dan karakteristik yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi ini dilabeli sebagai generasi yang minim batasan (boundary-less generation). Jika fenomena ini berlanjut, maka ke depannya, Gen Z akan menjadi generasi yang paling stres sepanjang sejarah. Kondisi ini juga berkaitan dengan karakter Gen Z yang tidak memiliki batasan dengan individu lain, sehingga memungkinkan mereka mudah labil karena menerima terpaan informasi dan kondisi yang cepat berubah dan serba acak. Berdasarkan hal inilah  pemerintah sangat memperhatikan perkembangan generasi selanjutnya guna mewujudkan program pemerintah indonesia membentuk generasi emas indonesia  tahun 2024.  Dengan memeperhatikan permasalahan yang muncul pada generasai Z, membuat pemerintah melakukan tindakan preventif pada generasi berikutnya atau kita kenal sebagai generasi Alpha. Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah meluncurkan program yang mendukung pembentukan mental sejak usia dini melalui Program Transisi PAUD-SD. Proses ini juga dapat mempengaruhi keberhasilan anak dalam melakukan penyesuaian di jenjang pendidikan dasar.  Proses ini membutuhkan kesinambungan stimulasi sosial emosional, bahasa, fisik motorik dan kognitif sampai kegiatan pembelajaran di jenjang berikutnya. Transisi PAUD ke SD pada rentang usia 0-8 tahun, pelaksanaan kegiatan ini membantu kesiapan anak bersekolah dengan pelaksanaan proses yang berkesinambungan sejak PAUD hingga SD kelas awal.
PENGUKURAN KEMANDIRIAN ANAK USIA DINI DI TK ADHYAKSA XVIII PALANGKA RAYA: Relakontesa, Rusmaladewi Rusmaladewi, Rayne Praticia Kontesa, Rela; Rusmaladewi; Rayne Praticia
Jurnal Pendidikan dan Psikologi: Pintar Harati Vol. 21 No. 1 (2025): Jurnal Pintar Harati Volume. 21, Nomor. 1, Juni 2025
Publisher : Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/jph.v21i1.22088

Abstract

ABSTRAK pentingnya menumbuhkan kemandirian anak usia dini sebagai bekal menghadapi tantangan kehidupan dan pendidikan selanjutnya. Kemandirian memungkinkan anak untuk menyelesaikan tugas, mengambil keputusan, serta beradaptasi secara sosial tanpa terlalu bergantung pada orang lain. Berdasarkan pengamatan awal di TK Adhyaksa XVIII Palangka Raya, anak-anak menunjukkan capaian kemandirian yang tinggi, namun belum seluruh aspek berkembang optimal secara konsisten. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kemandirian anak usia 5–6 tahun (Kelompok B) di TK tersebut, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung capaian tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik observasi terhadap 21 anak berdasarkan lima indikator kemandirian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemandirian anak berada pada kategori tinggi dengan rata-rata sebesar 92,69%. Secara rinci, capaian masing-masing indikator adalah: menyelesaikan tugas sampai selesai (92,06%), melepas dan memasang sepatu sendiri (100%), merapikan mainan setelah bermain (85,71%), pergi ke toilet sendiri (95,23%), dan membuang sampah pada tempatnya (90,47%). Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan sekolah yang mendukung dan keterlibatan aktif orang tua berperan penting dalam membentuk sikap mandiri pada anak usia dini. Kata Kunci: Kemendirian anak, perkembangan anak,Anak usia dini
STUDENTS’ STRATEGIES IN IMPROVING MASTERY OF NEW VOCABULARY IN THE ENGLISH FOR SPECIFIC PURPOSE (ESP) COURSE Rusmaladewi; Indrawaty Asfah; Andi Kamariah
International Journal of Business English and Communication Vol 3 No 4 (2025): October
Publisher : Bahasa Inggris Program Sarjana Terapan, Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/ijobec.v3i4.6429

Abstract

This research examines the strategies used by Business English communication students in mastering new vocabulary within the English for Specific Purposes (ESP) course. Using a qualitative research design, data were collected through interviews and questionnaires. The findings indicate that cognitive strategies such as constructing sentences or paragraphs, extensive reading, and watching movies or listening to music help students gain a deeper and more natural understanding of vocabulary usage, thereby strengthening long-term retention. As a result, these strategies are employed by the majority of Business English Communication students to master new vocabulary in the ESP course.Meanwhile, memory strategies, such as mnemonics and flashcards, have proven effective in enhancing short-term memory, enabling students to quickly memorize technical terms. Group discussions, as a social strategy, also have a positive impact by providing an interactive learning environment that enhances contextual understanding and builds confidence in using academic vocabulary.Furthermore, this research highlights that the effectiveness of each strategy depends on its alignment with students' individual needs and learning styles. A well-suited combination of strategies can enrich vocabulary learning experiences in the ESP course, improving memory, comprehension, and the application of vocabulary in professional contexts. Ultimately, these strategies prepare students to succeed in future academic and professional environments.