Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Between Culture, Space, and Urban Identity: A Sustainable Cultural Approach for Revitalizing Dang Anom Park in Batam City Nursyamsu, Lathifa; Venita Christine; Suwarlan, Stivani Ayuning
Journal of Civil Engineering and Planning (JCEP) Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Program Studi Sarjana Teknik Sipil Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jcep.v6i1.10366

Abstract

This study explores the revitalization of Dang Anom Park in Batam City through a sustainable cultural approach that integrates local identity, ecological sensitivity, and inclusive urban design. Rapid infrastructure-driven development in Batam has led to the neglect of public spaces, raising concerns over the loss of urban identity and diminished community interaction. The research aims to address this gap by developing a design strategy that reconnects cultural values with spatial functionality. Employing a qualitative descriptive method, the study includes literature review, field observations, and a SWOT analysis to assess the site’s conditions and potential. The proposed design is guided by three principles: sustainable nature, interactive public space, and accessibility for the elderly and disabled. Design interventions include strategic vegetation to mitigate pollution, cultural elements to enhance identity, and inclusive facilities to support diverse community engagement. The masterplan reimagines the park as an environmentally responsive and socially vibrant public space. The findings demonstrate that culturally grounded design can restore vitality to underused spaces while reinforcing urban identity. While the study offers a valuable conceptual framework, it is limited by its qualitative scope and single-site focus. Future research should incorporate community participation, implementation trials, and broader comparative studies across similar urban contexts. This research contributes to the discourse on sustainable urban development by offering a replicable model for culturally responsive park revitalization in rapidly urbanizing cities.
Optimizing Coastal Tourism at Biru Sehati Beach, Tanjung Piayu through Development Facility Nursyamsu, Lathifa; Murtiono, Hendro; Savana, Julfa Sindy; Willy, Willy; Laada, Arnita Fetiyani Sangadji; Belinda, Raden Indri Atika
Conference on Business, Social Sciences and Technology (CoNeScINTech) Vol. 5 No. 1 (2025): Conference on Business, Social Sciences and Technology (CoNeScINTech)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/conescintech.v5i1.10470

Abstract

Biru Sehati Beach is a coastal tourist destination located in the Kampung Tua of Tanjung Piayu. This area has a unique characteristic with a hill in the middle of its land. However, there are several natural tourism potentials that have not been developed, and existing facilities are only provided functionally and do not have added value as a tourist attraction. This study aims to determine what facilities are already available in the coastal tourist area of Kampung Tua of Tanjung Piayu and what facilities are expected and need to be provided in the future based on tourist needs. The research method used is a qualitative-descriptive method with an observational approach to collect data related to what facilities are already available and a semi-structured direct interview method to determine the needs of tourists who are not yet available. The results of the study indicate that the shaded area on the beach which is a favorite area for tourists when visiting is not yet sufficient to meet the increasing demand of tourists during peak times, there is no dedicated area for parking, and the hilly area is not yet developed. Based on the results of the study, researchers found that the number of shaded areas with the addition of trees is needed to maintain the natural impression of the beach, the construction of a dedicated parking area, and the hilly area is developed to be used as a place to relax.spot photos, andactive movement areaas an additional variation of recreational activities.
BEHAVIORAL ARCHITECTURE FOR EARLY CHILDHOOD DEVELOPMENT: A CASE STUDY OF A KINDERGARTEN IN BATAM Aldinata, Michel; Aguspriyanti, Carissa Dinar; Nursyamsu, Lathifa
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol. 6 No. 2: December 2025
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v6i2.11354

Abstract

Early childhood represents a golden phase of human development, characterized by rapid growth across physical and motor, cognitive, language, social, and moral domains. While research on the influence of physical and non-physical environments on child development continues to expand, limited attention has been given to the systematic application of behavioral architecture in early childhood education settings that potentially support early childhood development. This study addresses this gap by examining the implementation of behavioral architecture principles at Christian Kalam Kudus 2 Kindergarten in Batam City, Indonesia. Using a qualitative approach that combined literature review, field observation, and semi-structured interviews. The study points out the implementation of five key elements of behavioral architecture that contribute to developmental outcomes. Spatial function and furniture (including their arrangement) emerged as the most influential factors, whereas spatial size and form, colour, and environmental conditions (sound, temperature, and lighting) provided partial contributions. Several design shortcomings were also identified, notably thermal discomfort and insufficient artificial lighting. Overall, the study emphasizes that kindergartens are not merely functional spaces but active agents in shaping behavior, learning processes, and development of young children through behavioral architecture that responds to user needs and environmental conditions.
INTEGRASI SISTEM HIDUP (MIKROALGA) PADA FASAD BANGUNAN GEDUNG GRAHA PENA KOTA BATAM SEBAGAI STRATEGI MITIGASI POLUSI UDARA Jaksen; Suwarlan, Stivani Ayuning; Lathifa Nursyamsu
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol. 6 No. 2: December 2025
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v6i2.10499

Abstract

Permasalahan kualitas udara di kawasan urban memicu dampak kesehatan yang signifikan, sehingga diperlukan strategi mitigasi yang bekerja pada skala arsitektural. Selain itu, tekanan dari aktivitas lalu lintas, industri, dan tingginya kepadatan permukiman turut mempercepat akumulasi polutan di lingkungan perkotaan. Dalam konteks ini, fasad mikroalga menawarkan pendekatan nature-based yang mampu menurunkan konsentrasi CO₂ dan partikulat, menyediakan shading pasif, serta menambah nilai edukatif dan estetika bagi ruang publik. Graha Pena Batam dipilih sebagai studi kasus karena lokasinya berada di kawasan aktivitas tinggi, sehingga potensi reduksi polutan dapat dievaluasi secara jelas, tipologi fasadnya memungkinkan penerapan sistem sebagai secondary façade pada bangunan eksisting, serta perannya sebagai pusat media memberi nilai strategis bagi penyebaran pengetahuan dan pengaruh sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi mikroalga sebagai sistem hayati yang diintegrasikan ke dalam fasad Gedung Graha Pena Batam guna mereduksi polusi udara. Metode yang diterapkan mencakup simulasi berbasis literatur, meliputi pengukuran kebutuhan media tanam, intensitas pencahayaan, dan sistem sirkulasi udara, serta kajian visual terhadap kondisi fasad eksisting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem fasad mikroalga mampu menyerap polutan udara serta menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis. Integrasi mikroalga pada fasad tidak hanya berperan sebagai elemen estetis, melainkan juga sebagai solusi ekologis yang adaptif terhadap karakteristik iklim tropis Kota Batam. Dari perspektif kebijakan, implementasi sistem fasad mikroalga selaras dengan upaya pemerintah dalam mendorong pembangunan berkelanjutan dan pengurangan emisi karbon di kawasan perkotaan. Adopsi teknologi ini berpotensi menjadikan Gedung Graha Pena Batam sebagai studi kasus representatif bagi penerapan kebijakan bangunan ramah lingkungan serta pengembangan infrastruktur hijau di wilayah tropis.
Desain Pojok Literasi Ramah Anak untuk Mendukung Edukasi Mangrove di Ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu Lathifa Nursyamsu; Stivani Ayuning Suwarlan; Ariel Hutapea; Fauziah Eriza
Social Engagement: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/se.v4i3.12213

Abstract

Kawasan Ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu memiliki potensi sebagai sarana edukasi lingkungan berbasis konservasi mangrove, namun masih memiliki keterbatasan fasilitas edukasi yang ramah anak. Kondisi tersebut menyebabkan proses pembelajaran mengenai lingkungan mangrove belum berjalan secara optimal, khususnya dalam meningkatkan minat baca dan kepedulian lingkungan anak-anak. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan Pojok Literasi Ramah Anak sebagai fasilitas edukasi pendukung di kawasan ekowisata. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui tahapan persiapan, observasi lapangan, identifikasi kebutuhan, perancangan desain, implementasi awal, serta evaluasi kegiatan. Mitra terlibat aktif dalam seluruh proses pelaksanaan, mulai dari identifikasi permasalahan hingga pembangunan fasilitas. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa Pojok Literasi Ramah Anak berhasil diwujudkan sebagai ruang baca dan edukasi lingkungan yang lebih nyaman, menarik, dan interaktif bagi anak-anak. Kehadiran fasilitas ini memberikan dampak positif terhadap aktivitas edukasi di kawasan wisata serta meningkatkan kesadaran pengelola mengenai pentingnya penyediaan fasilitas pembelajaran berbasis literasi lingkungan. Selain menghasilkan fasilitas fisik, kegiatan ini juga mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif tentang pentingnya pendidikan lingkungan dan literasi anak sejak usia dini melalui pendekatan desain partisipatif dan edukatif.
TRANSFORMASI MORFOLOGI PERMUKIMAN PESISIR: PERTUMBUHAN DAN DINAMIKA SPASIAL KAMPUNG TUA TANJUNG RIAU, KEPULAUAN RIAU Stivani Ayuning Suwarlan; Lathifa Nursyamsu
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v8i4.3881

Abstract

Abstract: Kampung Tua Tanjung Riau, located in the Riau Islands, has experienced significant settlement growth due to shifting livelihoods of its coastal population. Traditionally, residents of Kampung Tua Tanjung Riau were primarily fishermen, but over time, many have transitioned to land-based occupations. This shift has led to a rapid increase in settlement distribution, with unregulated housing development creating a more densely populated and irregular urban fabric. This morphological study aims to analyze the growth and transformation of these coastal settlements using a qualitative approach. The methodology involves two key stages: (1) processing aerial photographs into graphic maps using Autocad, and (2) identifying and shading building masses based on morphological changes. The analysis focuses on three primary components: road network patterns, open space transformations, and changes in building units. The findings reveal significant morphological shifts in Tanjung Riau’s settlement structure, driven by evolving economic activities and spontaneous settlement development. Keywords: Tanjung Riau, morphology, patterns Abstrak: Kampung Tua Tanjung Riau, yang terletak di Kepulauan Riau, telah mengalami pertumbuhan permukiman yang signifikan karena pergeseran mata pencaharian penduduk pesisirnya. Secara tradisional, penduduk Kampung Tua Tanjung Riau sebagian besar adalah nelayan, tetapi seiring waktu, banyak yang beralih ke pekerjaan berbasis daratan. Pergeseran ini telah menyebabkan peningkatan pesat dalam distribusi permukiman, dengan pembangunan perumahan yang tidak diatur menciptakan struktur perkotaan yang lebih padat penduduknya dan tidak teratur. Studi morfologi ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan dan transformasi permukiman pesisir ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metodologi ini melibatkan dua tahap utama: (1) memproses foto udara menjadi peta grafis menggunakan Autocad, dan (2) mengidentifikasi dan mengarsir massa bangunan berdasarkan perubahan morfologi. Analisis difokuskan pada tiga komponen utama: pola jaringan jalan, transformasi ruang terbuka, dan perubahan unit bangunan. Temuan tersebut mengungkapkan pergeseran morfologi yang signifikan dalam struktur permukiman Tanjung Riau, didorong oleh kegiatan ekonomi yang berkembang dan pembangunan permukiman spontan.Kata Kunci: Tanjung Riau, morfologi, pola
Eksplorasi Makna Simbolis dalam Arsitektur Tradisional Kampung Tua Nongsa dan Bakau Serip di Kota Batam Lathifa Nursyamsu; Chris Hardiansyah; Elen Nurjanah; Yulias Hidayah; Misnawati; Junior Ikhlas; Carissa Dinar Aguspriyanti
SARGA: Journal of Architecture and Urbanism Vol. 20 No. 2 (2026): July 2026
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/sarga.v20i2.3449

Abstract

Arsitektur tradisional memiliki peran penting dalam melestarikan identitas budaya suatu komunitas. Di Kota Batam, Kampung Tua seperti Nongsa dan Bakau Serip merupakan contoh nyata dari pelestarian arsitektur tradisional Melayu yang masih dijaga oleh Masyarakat di tengah derasnya arus modernisasi dan industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna simbolis yang terkandung dalam elemen arsitektur tradisional di dua Kampung Tua tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, melibatkan observasi dan wawancara mendalam dengan penduduk lokal serta ahli budaya. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi simbolisme yang ada dalam arsitektur tradisional. Elemen seperti bentuk atap, ornamen, dan warna bangunan dianalisis untuk mengungkap makna yang lebih dalam dari perspektif budaya lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen-elemen arsitektur di Kampung Tua Nongsa dan Bakau Serip memuat makna simbolis yang kuat, yang merefleksikan nilai-nilai religius, sosial, dan filosofi hidup masyarakat Melayu. Meskipun modernisasi membawa perubahan, simbolisme dalam arsitektur tradisional ini tetap dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur. Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa arsitektur tradisional di Kampung Tua tidak hanya berfungsi sebagai ruang fisik tetapi juga sebagai media penting dalam menjaga dan mengkomunikasikan identitas dan nilai budaya Melayu di Batam.
INTEGRASI SISTEM HIDUP (MIKROALGA) PADA FASAD BANGUNAN GEDUNG GRAHA PENA KOTA BATAM SEBAGAI STRATEGI MITIGASI POLUSI UDARA Jaksen; Stivani Ayuning Suwarlan; Lathifa Nursyamsu
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol. 6 No. 2: December 2025
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v6i2.10499

Abstract

Permasalahan kualitas udara di kawasan urban memicu dampak kesehatan yang signifikan, sehingga diperlukan strategi mitigasi yang bekerja pada skala arsitektural. Selain itu, tekanan dari aktivitas lalu lintas, industri, dan tingginya kepadatan permukiman turut mempercepat akumulasi polutan di lingkungan perkotaan. Dalam konteks ini, fasad mikroalga menawarkan pendekatan nature-based yang mampu menurunkan konsentrasi CO₂ dan partikulat, menyediakan shading pasif, serta menambah nilai edukatif dan estetika bagi ruang publik. Graha Pena Batam dipilih sebagai studi kasus karena lokasinya berada di kawasan aktivitas tinggi, sehingga potensi reduksi polutan dapat dievaluasi secara jelas, tipologi fasadnya memungkinkan penerapan sistem sebagai secondary façade pada bangunan eksisting, serta perannya sebagai pusat media memberi nilai strategis bagi penyebaran pengetahuan dan pengaruh sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi mikroalga sebagai sistem hayati yang diintegrasikan ke dalam fasad Gedung Graha Pena Batam guna mereduksi polusi udara. Metode yang diterapkan mencakup simulasi berbasis literatur, meliputi pengukuran kebutuhan media tanam, intensitas pencahayaan, dan sistem sirkulasi udara, serta kajian visual terhadap kondisi fasad eksisting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem fasad mikroalga mampu menyerap polutan udara serta menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis. Integrasi mikroalga pada fasad tidak hanya berperan sebagai elemen estetis, melainkan juga sebagai solusi ekologis yang adaptif terhadap karakteristik iklim tropis Kota Batam. Dari perspektif kebijakan, implementasi sistem fasad mikroalga selaras dengan upaya pemerintah dalam mendorong pembangunan berkelanjutan dan pengurangan emisi karbon di kawasan perkotaan. Adopsi teknologi ini berpotensi menjadikan Gedung Graha Pena Batam sebagai studi kasus representatif bagi penerapan kebijakan bangunan ramah lingkungan serta pengembangan infrastruktur hijau di wilayah tropis.
BEHAVIORAL ARCHITECTURE FOR EARLY CHILDHOOD DEVELOPMENT: A CASE STUDY OF A KINDERGARTEN IN BATAM Michel Aldinata; Carissa Dinar Aguspriyanti; Lathifa Nursyamsu
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol. 6 No. 2: December 2025
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v6i2.11354

Abstract

Early childhood represents a golden phase of human development, characterized by rapid growth across physical and motor, cognitive, language, social, and moral domains. While research on the influence of physical and non-physical environments on child development continues to expand, limited attention has been given to the systematic application of behavioral architecture in early childhood education settings that potentially support early childhood development. This study addresses this gap by examining the implementation of behavioral architecture principles at Christian Kalam Kudus 2 Kindergarten in Batam City, Indonesia. Using a qualitative approach that combined literature review, field observation, and semi-structured interviews. The study points out the implementation of five key elements of behavioral architecture that contribute to developmental outcomes. Spatial function and furniture (including their arrangement) emerged as the most influential factors, whereas spatial size and form, colour, and environmental conditions (sound, temperature, and lighting) provided partial contributions. Several design shortcomings were also identified, notably thermal discomfort and insufficient artificial lighting. Overall, the study emphasizes that kindergartens are not merely functional spaces but active agents in shaping behavior, learning processes, and development of young children through behavioral architecture that responds to user needs and environmental conditions.
DAMPAK URBANISASI TERHADAP ARSITEKTUR PERMUKIMAN PESISIR: STUDI KASUS KAMPUNG TUA TANJUNG UMA, BATAM Lathifa Nursyamsu; Julfa Sindy Savana; Anggi Dwi Purwanti; Arnita Fetiyani Sangadji Laada; Fransiskus Bryan Slash; Gladies Imanda Utami Rangkuty
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol. 7 No. 1: June 2026
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v7i1.12248

Abstract

Kampung Tua Tanjung Uma di Batam merupakan kawasan bersejarah yang mencerminkan kehidupan tradisional masyarakat pesisir yang menjadi representasi arsitektur lokal. Namun, urbanisasi yang pesat telah membawa perubahan signifikan pada visual dan struktur fisik permukiman di kawasan ini. Pergeseran dari rumah panggung tradisional berbahan kayu menuju bangunan permanen dengan material modern seperti beton dan kaca tidak hanya mengubah karakter visual kampung, tetapi juga mengancam identitas arsitektur pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh urbanisasi terhadap visual dan struktur fisik bangunan di Kampung Tua Tanjung Uma serta menilai dampaknya terhadap identitas lokal dan keberlanjutan lingkungan kawasan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi langsung, dan studi dokumentasi untuk memperoleh pemahaman mengenai perubahan fisik bangunan serta persepsi masyarakat terhadap modernisasi kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tradisional mengalami transformasi visual melalui penggunaan material modern, perubahan bentuk fasad, dan berkurangnya elemen arsitektur lokal seperti kolong rumah, ventilasi alami, dan struktur panggung. Urbanisasi juga menyebabkan terjadinya homogenisasi visual yang mengurangi karakter khas permukiman pesisir. Selain itu, akumulasi sampah domestik dan penurunan vegetasi mangrove memperburuk kondisi lingkungan kawasan. Kesimpulannya, urbanisasi di Kampung Tua Tanjung Uma membawa dampak signifikan terhadap aspek fisik, visual, sosial-budaya, dan keberlanjutan lingkungan kawasan pesisir. Oleh karena itu, diperlukan strategi pelestarian arsitektur lokal, pengelolaan lingkungan yang lebih baik, dan kebijakan pembangunan berkelanjutan agar tercipta keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian identitas budaya pesisir.