Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Enhancing Waste-to-Energy Conversion Efficiency and Sustainability Through Advanced Artificial Intelligence Integration Melinda, Vivi; Williams, Tane; Anderson, James; Davies, J George; Davis, Christopher
International Transactions on Education Technology (ITEE) Vol. 2 No. 2 (2024): International Transactions on Education Technology (ITEE)
Publisher : Pandawan Sejahtera Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33050/itee.v2i2.597

Abstract

Artificial intelligence (AI) has emerged as a pivotal tool in optimizing waste-to-energy conversion technology, addressing critical environmental issues while promoting sustainable energy sources. This study delves into the multifaceted role of AI in enhancing the efficiency and effectiveness of waste-to-energy processes. By leveraging AI, significant improvements can be achieved in automated waste sorting, process monitoring, and energy production forecasting. The integration of AI into these domains not only streamlines operations but also enhances the accuracy of data management, analysis, and processing. This results in a more efficient conversion of waste into energy, mitigating adverse environmental impacts and fostering sustainable energy practices. The research highlights the practical applications of AI in optimizing the entire waste-to-energy workflow, underscoring its potential to revolutionize this sector. Moreover, the study addresses the inherent challenges and discusses future prospects for AI implementation in waste-to-energy technologies. Through comprehensive analysis and case studies, the findings reveal that AI can significantly contribute to reducing environmental footprints and promoting a circular economy. This exploration provides valuable insights into how AI-driven innovations can lead to more sustainable and efficient waste management and energy production systems, paving the way for future advancements in this critical field.
Deglobalisasi dan Kesejahteraan Negara Berkembang di Era Fragmentasi Ekonomi Global Nurhaliza, Nurhaliza; Dwi Putri Pramesti, Ginna Novarianti; Amelia, Amelia; Melinda, Vivi
Cakrawala Repositori IMWI Vol. 8 No. 3 (2025): Cakrawala Repository IMWI
Publisher : Institut Manajemen Wiyata Indonesia & Asosiasi Peneliti Manajemen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52851/cakrawala.v8i3.806

Abstract

Deglobalisasi telah menjadi fenomena ekonomi global yang semakin menonjol pasca pandemi COVID-19, ditandai dengan pergeseran rantai pasok, meningkatnya proteksionisme, dan fragmentasi perdagangan internasional. Kondisi ini membawa tantangan serius bagi negara berkembang yang selama ini sangat bergantung pada pasar global untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan sosial. Beberapa laporan lembaga internasional menunjukkan bahwa fragmentasi ekonomi dunia berpotensi memperlebar ketimpangan kesejahteraan antar negara, serta memicu stagnasi ekonomi di kawasan berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak deglobalisasi dan fragmentasi ekonomi global terhadap kesejahteraan negara berkembang, khususnya di kawasan Asia Tenggara, serta merumuskan strategi ketahanan ekonomi yang adaptif dalam menghadapi perubahan pola perdagangan dan investasi global. Metode yang digunakan adalah mixed-method dengan pendekatan sequential explanatory. Data kuantitatif diperoleh dari laporan UNCTAD, World Bank, dan ASEAN Statistics terkait perdagangan, investasi asing langsung (FDI), dan indeks kesejahteraan sosial periode 2018–2024. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pakar ekonomi dan pembuat kebijakan di Indonesia dan Malaysia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deglobalisasi menyebabkan penurunan signifikan nilai ekspor negara berkembang hingga 18% dalam tiga tahun terakhir, disertai pelemahan daya beli masyarakat. Selain itu, terjadi peningkatan ketimpangan kesejahteraan akibat terbatasnya akses pasar internasional bagi UMKM dan tenaga kerja sektor informal. Studi ini merekomendasikan diversifikasi pasar domestik, peningkatan konektivitas antar-negara berkembang, serta reformasi kebijakan ketenagakerjaan sebagai strategi adaptif menghadapi era fragmentasi ekonomi global.